Identitas dan Karakter Filsafat Islam

Identitas dan Karakter Filsafat Islam

Ammar Fauzi, Ph.D. Kabid Riset STFI Sadra

 

Sudah cukup lama filsafat Islam dikenalkan dan dikembangkan di berbagai forum serta media di tanah air. Tanpa menampik pengaruhnya, masih ada pesimisme kuat tentang eksistensi dan identitas filsafat Islam hingga memunculkan pertanyaan: adakah filsafat Islam?

Gejala itu tampak krusial dengan adanya keraguan terhadap studi dan telaah filosofis yang kerap dilapisi muatan wahyuni sehingga dinilai bukan filosofis lagi dan memunculkan pertanyaan: apa bedanya dengan Kalam dan teologi?

Ini belum lagi belakangan menguat gugus keraguan terhadap pembumian filsafat Islam hingga memunculkan keputusasaan dan penilaian atas kegagalan kalangan yang selama ini membuka pembelajaran formal atau informal filsafat Islam di tanah air, lantas muncul pertanyaan: apakah filsafat Islam diperlukan dan efektif?

Pertanyaan-pertanyaan ini sudah lama bermunculan, sudah lama pula difokus dan direspon secara teoretis maupun praktis. Salah satunya, di sini akan didudukkan relasi antara filsafat dan Islam dengan cara meninjau kembali filsafat dan Islam melalui dua pertanyaan: apakah filsafat dan apakah Islam. Pertanyaan ini disoroti sepintas sambil meninjau realitas filsafat dalam tradisi Barat dan peradaban Islam.

 

Apakah filsafat?

Secara leksikologis, filsafat dipadankan oleh para filosof Muslim dengan kata al-hikmah atau kebijaksanaan. Masih oleh para filosof Muslim, ia juga dipadankan dengan ilāhiyyāt, yakni ketuhanan.

Secara etimologis, filsafat dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab (al-falsafah). Kata Arab ini serapan dari bahasa Yunani Yuno, philasophia, yaitu kata bentukan dari dua kata dasar: phila yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Kebijaksanaan di sini mencakup kenyataan, kebenaran dan kebaikan; nilai ontologis, epistemologis dan aksiologis.

Karena itu, dalam Metaphysics, Aristoteles memfokuskan semua studi di dalamnya pada tiga poros utama: asal Ada, dasar pengetahuan, dan motif tindakan. Ini selari dengan pembagian filsafat (teoretis dan praktis) juga sistem kausalitas yang dibangunnya dalam kerangka Empat Sebab. Karena meneliti asal Ada hingga Tuhan (to theon) sebagai Asal segala adaan, ilmu ini juga dinamai Aristoteles dengan theologike, yakni ketuhanan.

Entah siapa yang pertama kali memadankan, para filosof Muslim sudah cukup memadankan philasophia (cinta kebijaksanaan) dengan salah satu makna dasarnya saja, yaitu al-hikmah atau kebijaksanaan, dengan meninggalkan makna dasar lainnya, yakni cinta. Ini dapat dimengerti mengingat dalam hikmah sudah terdapat cinta dan, lantaran seakar kata, hikmah itu pula menjadi dasar hukm (kebijakan) serta asas hukm (kekuasaan dan pemerintahan). Jika tidak demikian, maka filsafat tanpa politik seperti kepala melayang tanpa badan, dan politik tanpa filsafat seperti badan berjalan tanpa kepala. Sama-sama mengerikan, bukan!

Maka sejak awal kali digagas, filsafat dan hikmah sesungguhnya merupakan alat, bukan tujuan, untuk membina diri dengan pengetahuan dan cinta, dengan nalar dan hati, dengan kemanusiaan dan ketuhanan, dengan realitas dan idealisme, dalam rangka menghasilkan kebijakan dan keutamaan untuk pengelolaan jiwa serta kehidupan politik dan kekuasaan.

 

Apakah Islam?

Sederhananya, Islam yaitu ajaran-ajaran Tuhan berupa wahyu yang diterima utuh oleh Nabi Muhammad SAW dan tertuang dalam kitab suci bernama Alquran dan hadis shahih.

Dalam klasifikasi umum, ajaran Islam terbagi kepada tiga kategori: akidah, akhlak dan syariat (hukum-hukum praktikal).

 

Apakah relasi antara filsafat dan Islam?

Perbandingannya dengan subjek-subjek filsafat, akidah berelasi langsung dengan asal Ada, akhlak berelasi langsung dengan motif tindakan, dan syariat dengan kebijakan dan pengelolaan kehendak di tingkat personal, sosial hingga politik (kekuasaan). Adapun asal pengetahuan dan nilai kebenaran tampak dalam falsafah (tujuan diturunkannya) Alquran sebagai sumber hidayah (pemberi petunjuk kebenaran dan kebaikan) serta pengungkap kehendak Tuhan.

Setiap orang bisa saja meneliti subjek-subjek filsafat dan ajaran-ajaran Islam itu dengan metode dan pendekatannya yang khas. Namun, filosof akan menelitinya berdasarkan metode rasional dan demonstrasi dalam silogisme logis yang berbasis di atas swanyata-swanyata primer (al-awwaliyyat).

 

Adakah Filsafat Islam?

Dengan pembandingan tadi, setidaknya ada relasi antara filsafat dan Islam. Frasa “Filsafat Islam” sudah dapat dibenarkan secara kebahasaan dengan sekedar adanya kohesi antara dua sesuatu sehingga yang satu dapat berelasi atau direlasikan dengan yang lain. Maka, filsafat Islam yaitu filsafat yang, dari satu atau lain sisi, berelasi dengan Islam.

Selain ada relasi dalam subjek, Islam juga dalam metodenya menekankan rasionalitas (penggunaan akal), juga dalam prakteknya mengaplikasikan cara menggunakan akal untuk mengajarkan keimanan pada banyak ajarannya. Kuatnya ajaran rasionalitas dalam Islam seolah-olah agama ini identik dengan akal sehingga tidak bernilai keberagamaan seseorang bila tidak didasarkan pada argumentasi akal.

Ajaran ini selanjutnya menjadi tradisi dan budaya di kalangan umat Islam, terutama filosof Muslim. Mereka terbuka menyerap dan aktif mengalihkan budaya asing, yakni Barat (Yunani), ke dalam tradisi keberagamaan mereka. Upaya ini, selain dihadang oleh berbagai tantangan internal awam dan elite umat Islam, merupakan kontribusi besar filosof Muslim membangun abad keemasan peradaban Islam. Kesungguhan mereka bertahan kokoh meski beresiko terancam berbagai intimidasi, persekusi, pemenjaraan, pembunuhan jiwa hingga pembunuhan karakter.

 

Karakter Dominan Filsafat Islam

Mengacu latar belakang leksikologis, etimologis, metodologis, historis dan fenomenologis filsafat Islam serta filosof Muslim, identitas Filsafat Islam sebagaimana adanya dapat diartikulasikan sepanjang karakter-karakter dominan berikut ini:

 

  1. Realisme

Filsafat Islam menampakkan identitas awalnya dari perlawanannya terdahap sofisme dan skeptisisme, termasuk pluralism kebenaran. Buku-buku klasik Filsafat Islam ghalibnya membuka pembahasan mereka dengan mendiskusikan posisinya di hadapan klaim-klaim sofistik dan skeptisistik.

 

  1. Ontologi

Yakni, fokus pada Ada sebagai Ada. Pada mulanya, sejak era awal kehadirannya dalam tradisi Islam, filsafat identik dengan ilmu. Maka, filosof yaitu ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu. Pengembangan dan evolusi filsafat Islam berikut pembidangan dan interdisiplin di dalamnya tidak mereduksi fokusnya pada subjek utama Ontologi atau Metafisika, yakni Ada sebagai Ada.

 

  1. Teologi

Yakni, berorientasi ketuhanan dan keimanan. Semua filosof muslim adalah teolog dan mutakallim yang juga menelaah isu-isu teologi dengan nalar filosofis. Kini, penyebutan “teologis” terkesan stigma dan cara menyusut nilai ketelitian filosofis seolah-olah bukan filosofis lagi, bahkan dalam rangka menunjukkan tidak ada filsafat dalam Islam; yang ada hanyalah teologi dan Kalam, atau seolah-olah filsafat Islam itu dogmatis dan tidak rasionalis.

 

  1. Rasionalisme

Filsafat Islam berlandaskan pada nalar dan akal budi dalam metode penelitian masalah sebagaimana . diatur dalam Logika Silogisme. Pengembangan filsafat ke berbagai arus utama (Filsafat Kepejalanan, Filsafat Pencerahan, Kebijaksanaan Utama) dalam tradisi Islam tidak mengganggu, kalau bukan malah mengokohkan, keutuhan karakter rasionalistik para filosof semua arus tersebut.

 

  1. Foundasionalisme

Konstruksi rasionalisme filosof muslim terbangun dalam pola fondasionalis. Koherentisme dianut sejauh berada dalam pola fondasionalisme. Identitas ini dapat ditarik dari identifikasi pengetahuan ke dalam dua macam: hudhuri dan hushuli, lalu badihi (swanyata) dan nadzari (non-swanyata).

 

  1. Konsistensi dengan agama

Yakni, komitmen pada teks agama. Bagi filosof Muslim, kaidah filsafat tidak bertentangan dengan ajaran agama dan, karena itu, dalam tradisi Filsafat Islam, isu relasi antara agama dan akal tidak menemukan signifikansi dan urgensitasnya secuali sebatas kebutuhan mereaksi kekuatiran sebagian kalangan. Dalam tradisi para filosof, konsistensi ini tampak sepanjang komitmen dan kesalehan diri mereka pada hukum agama sebagai hafidz Alquran hingga menjadi mujtahid (mufti agung).

 

  1. Kecenderungan tafsir

Dalam karya-karya filsafat Islam sudah biasa dijumpai ayat-ayat suci. Para filosof Muslim menafsirkan ayat dalam karya filsafat mereka. Bahkan vase terakhir dari pengalaman intelektualnya dinyatakan dalam bentuk karya tafsir atas satu ayat atau surah atau keseluruhan Alquran.

 

  1. Teosis

Yakni kecenderungan tasawuf. Dalam salah satu definisinya yang paling tua, filsafat yaitu serupa dengan Tuhan (al-tasyabbuh bi al-Ilah). Filosof muslim, bila tidak jadi sufi (irfan amali), setidaknya jadi peneliti tasawuf (irfan nadzari). Setiap filosof adalah sufi, tetapi tidak sebaiknya; tidak setiap sufi itu filosof. Karakter ini yang paling berpotensi mengejawantahkan muatan cinta dari dalam filsafat.

 

  1. Absolutisme

Yakni, keyakinan pada adanya kebenaran mutlak; manusia bisa mengetahui kebenaran mutlak. Ini sebagai kontradiktif dengan klaim skeptisisme bahwa tidak ada kebenaran mutlak, semua kebenaran itu relatif. Absulutisme ini sebangun dengan karakter realisme.

Absolutisme ini boleh jadi terkesan radikal dan ekstrem dalam menganut nilai pengetahuan, namun kesan itu tidak muncul apalagi menjadi pola filosof dalam bertindak dan berinteraksi sosial. Sebaliknya, para filosof selain sukar dijumpai berperilaku radikal, justru kerap menjadi korban radikalisme dari awam maupun elite ilmu pengetahuan dan kekuasaan.

 

  1. Perspektivisme

Yakni, mengamati masalah dari sudut pandang tertentu yang diungkapkan dengan kata-kata min haytsu (dari segi) atau bi ma huwa (qua/sebagai). Dalam bidangnya yang paling fundamental, paling umum dan paling abstrak, Metafisika atau Ontologi mengamati subjek utamanya dengan menggunakan frasa tersebut, al-mawjud bi ma huwa mawjud, atau tentang kuiditas, misalnya, al-mahiyyah min haytsu hiya hiya. Karena itu, dalam adagium Syahid Muthahari dinyatakan, law la al-haytsiyyat la bathalat al-falsafah. Ini juga dikuatkan dengan penggunaan konsep-konsep filosofis (ma‘qulat tsaniyah falsafiyyah) yang bercirikan komparatif, relasional, dan gradasional.

Mengamati dan memilah aspek pada suatu masalah (subjek) menghasilkan ketelitian dengan lima kualitas:

  1. Detail dan analitis
  2. Komprehensif
  3. Adil dan objektif
  4. Akomodatif
  5. Toleran

 

  1. Interdisiplin

Karakter ini sejak awal telah menjadi implikasi praktis dari pembagian dan telos filsafat. Sementara pada prakteknya, para filosof Muslim, seperti pada pendahulunya dalam tradisi Yunani, menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk seni, sastra bahasa hingga kedokteran. Kini, dalam studi interdisiplin, filsafat Islam kontemporer menemukan medan aplikatifnya, maka ada filsafat etika, filsafat politik, filsafat jiwa, filsafat logika, filsafat ilmu, filsafat kedokteran, filsafat dengan anak-anak, ada juga filsafat-nya filsafat.

 

  1. SOP Penelitian

Studi atas masalah-masalah dalam filsafat Islam ditempuh sesuai prosedur standar yang mentradisi di kalangan para filosof Muslim. Prosedur itu dirumuskan secara indah oleh Mulla Hadi Sabzawari dalam seutas bait puisi di awal bagian Logika Al-Manzhumah:

Pokok masalah itu tiga

apakah, adakah, mengapa.

Tiga pertanyaan kunci ini selanjutnya diurai, minimal, masing-masing kepada dua pertanyaan hingga, totalnya, ada enam pertanyaan kunci: (1) apakah pertama dan (2) apakah kedua (esensial), (3) adakah sederhana dan (4) adakah ganda, (5) mengapa ontologis dan (6) mengapa teleologis.

 

Bagaimana Penerapan Filsafat Islam di Tanah Air?

Tentu ada saja kendala internal yang, entah sengaja atau tidak, dibuat oleh kalangan para filosof dan peminat filsafat hingga menghambat laju penerapan yang dimaksud. Namun juga ada banyak alasan dan peluang yang cukup luas mengadaptasikan filsafat Islam sebagai unsur penting peradaban Islam yang beridentitas unik di tengah palagan pengembangan berbagai arus filsafat di Indonesia.

Peluang-peluang itu dapat digali dari sejarah Islam di Indonesia, peran dan karya ulama yang berorientasi kesufian, perkembangan khazanah filsafat Barat dan filsafat Islam berbahasa Indonesia, perkembangan ilmu-ilmu Alquran, kearifan lokal dalam skala Nusantara dan, tentu saja, Pancasila. Dalam ideologi negara ini, hikmah digabungkan sekaligus dengan kebijaksanaan sebagai pemimpin yang mengatur hubungan permusyawatan antar elemen bangsa, termasuk antara kerakyatan dan kekuasaan.

Filsafat Islam, idealnya dan dalam tradisinya, bersentuhan secara langsung terutama dengan isu-isu sosial dan politik, tentunya dengan mendudukkan filsafat kembali ke raison d’etre dan elan vital-nya, yaitu sebagai upaya rasional dan intuitif meneliti kedalaman fundamental masalah: asal Ada, dasar pengetahuan, dan motif tindakan. Seperti dikutip Mulla Sadra di pembukaan karya agungnya, al-Hikmah al-Mutal’aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, fundamentalitas ini terumuskan dalam kata-kata Ali bin Abi Thalib:

Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada orang yang menyiapkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk kematiannya serta dia tahu: dari mana, di mana dan akan ke mana.”

Antara Malang-Guilan: Sebuah Kisah Perjalanan Peneliti

Antara Malang-Guilan: Sebuah Kisah Perjalanan Peneliti

Antara Malang-Guilan, Ahmad Kholil, UIN Maliki Press, 2018

 

Sebuah karya memoar traveling, hasil pengalaman Dr. Ahmad Kholil, dosen pengajar dan peneliti, sepanjang kunjungannya ke negeri Persia. Bergaya diary style, buku ini dibubuhi pengantar dari sejumlah nama, di antaranya, Ammar Fauzi, Ph.D., kabid riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jakarta. Berikut pengantar selengkapnya.

Bahagia sekali saya mendapat kepercayaan penulis untuk membubuhkan kata pengantar di salah satu ruang terdepan dari karya ini. Rasanya seperti tuan yang hanya tinggal menunggu terima hasilnya. Buku ini adalah pengalaman ketiga saya menyertai tahap awal persiapan para pecinta traveling dari kalangan peneliti dan pengajar perguruan tinggi berkunjung ke Negeri Mullah. Dua karya sebelumnya adalah Potret Islam di Tanah Persia: Catatan Sortcourse (2017), karya Dr. M. Zainal Abidin, dan A Note from Tehran: Refleksi Perempuan Indonesia tentang Kebangkitan Islam (2013), karya sejumlah peneliti perempuan Indonesia diedit oleh Dina Y. Sulaiman dan Sirikit Syah.

Sekali lagi, saya katakan mereka para pecinta traveling dari kalangan peneliti dan pengajar perguruan tinggi. Kang Kholil dan para menulis dua buku lainnya melakukan traveling ke negeri Mullah, secara khusus, dalam kapasitas mereka sebagai peneliti dan dosen pengajar. Seperti dibubuhkan di pengantarnya, buku ini refleksi dari dua kunjungan penulis ke Iran: undangan Universitas Guilan pada 2014 dan pastisipasi dalam forum dialog Asia di Universitas Tehran pada 2018. Kalau bukan karena tujuan riset, tidak ada alasan berkunjung dan berwisata jauh-jauh ke sana. Tidak berlebihan bila karya-karya ini lahir dari pengamatan peneliti, meski dituangkan dengan ragam bahasa populer. Terutama buku ini lebih menonjolkan diary style dalam tradisi travel literature, aroma risetnya cukup kuat menyengat sensitivitas naluri penasaran pembaca.

Bergenre diary dan berisi memoar traveling, buku ini unik dengan detail informasi objektif sekaligus emosi subjektif. Karakter ini yang begitu saja mengingatkan, setidaknya, saya pribadi pada Prince of Moslems Travellers berkebangsaan Maroko, Muhammad bin Abdillah bin Muhammad al-Lawati al-Thanji (1304 – 1368), atau popoler dengan Ibnu Bathutha, nama yang sudah tidak asing dalam sejarah peradaban Islam. Ia menghabiskan sebagian besar usianya dalam perjalanan malang melintang ke berbagai belahan dunia. Tidak berhenti di benua negaranya dan negeri-negeri tetangga, ia bahkan berhasil menjangkau Indonesia. Tepatnya, pada tahun 1345, Ibnu Bathutha menginjakkan kaki di tanah Jawa dan Sumatera.

Setelah malang melintang “melipat jagad” selama nyaris 30 tahun, Ibnu Bathutha menuangkan rinci perjalanannya atas permintaan Sultan Abu Annan al-Marini dalam buku berjudul, “Hadiah Pemerhati Keunikan Negeri-negeri dan Keajaiban Perjalanan” (Tuhfat al-Nazdzdār fī Gharā’ib al-Amshār wa ‘Ajā’ib al-Asfār), atau lebih populer dengan nama “Pengembaraan Ibnu Bathutha” (Rihlat Ibn Bathūthah). Di kalangan ahli Antropologi, buku ini dikenal dengan gelar kehormatan “Mahkota Sastra Embara” (Tāj Adab al-Rahalāt).

Di dalamnya, Ibnu Bathutha membeberkan laporan serba-serbi sejarah, budaya dan tradisi penduduk, penguasa, tokoh masyarakat lokal, hingga bahkan remeh-temeh dapur setiap negeri seperti: jenis pakaian, ragam masakan dan cara memasak. Belum lagi cerita yang aneh-aneh. Sepertinya membuang-buang waktu! Dalam karya ini malah tidak ada detail angka nominal dan kalkulasi biaya perjalanan yang dihabiskan. Namun begitu, termasuk bagian krusial bagi Ibnu Bathutha adalah pengalaman mengembara itu sendiri. Pembaca dibuat merinding merasakan aneka jenis tantangan, ketegangan, termasuk ancaman kematian sepanjang perjalanan. Sebuah koleksium dari pengalaman yang sangat langka, seru dan pembelajaran.

Antara Malang-Guilan, Ahmad Kholil, UIN Maliki Press, 2018, sampul belakang

 

Catatan yang tampaknya juga tidak begitu penting ialah laporan Ibnu Bathutha tentang seberapa jarak yang dia tempuh dalam setiap perjalanan. Kesan ini segera berubah bila jarak-jarak itu dikalkulasi. Hasilnya, perjalanan Ibnu Bathutha mencapai 121.000 km. Ini, sekali lagi, dalam rentang waktu nyaris 30 tahun. Jarak tempuh satu orang ini baru dipecahkan rekornya oleh kendaraan bermesin uap 450 tahun kemudian. Bila dihitung oleh jarak tempuh pesawat Jakarta-Jeddah, orang sudah bolak balik naik haji 15 kali. Mungkin ini biasa-biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Tetapi, kalau kita hari gini diajak umroh setiap dua tahun sekali dengan kapal atau angkutan darat, lebih mungkin lagi jawaban kita hanya dua kata, insya-Allah!

Terlampau banyak dan besar resiko perjalanan Ibnu Bathutha, seharga dengan nilai hidupnya di dunia. Wajar bila kita menjumpai testimoninya terselip di pertengahan buku, “Saya telah mencapai, dengan puji syukur kepada Allah, cita-cita saya di dunia, yaitu mengembara di bumi, sehingga saya berhasil mencapai apa yang tidak dicapai oleh orang lain sejauh yang saya ketahui. Sisanya adalah harapan kuatku akan rahmat Allah dan maksud utama masuk surga.”

Testimoni ini dicatatkan Ibnu Bathutha dalam menguraikan perjalanannya dari Basrah (Iraq) ke Isfahan. Ia menggambarkan kota Iran ini sebagai salah satu kota terbesar dan terindah yang pernah dijumpainya. Di kalangan masyarakat Iran sendiri, Isfahan populer dengan nama Persia, Nishfe Jahān, Separuh Dunia, saking banyaknya artifek monumental dan dokumental peradaban serta kebudayaan Persia di situ. Kini, di era Iran Islam, kota ini dikategorikan UNESCO sebagai satu situs dari Warisan Dunia. Sementara ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organisation) mengukuhkannya sebagai Ibukota Kebudayaan Islam untuk tahun 2006.

Sebelum Ibnu Bathutha, ada nama besar lain seperti: Ibnu Jubair. Kebiasaan mereka ini sudah biasa dilakukan oleh kalangan ulama Muslim. Yang terkemuka dari antara mereka adalah imam-imam hadis, filosof dan sufi. Khususnya bagi sufi, perjalanan (safar) bukan sekedar doktrin esoterik, tetapi juga ajaran eksoterik para guru (syaikh mursyid) mencari murid dan, sebaliknya, murid mencari guru. Karena itu, lazim bila di kalangan sufi dikenal suatu strata elite sufi sebagai budalā’ atau abdāl, artinya kurang lebih para swaduplikator. Mereka ini para sufi yang punya kemampuan mengkopi-paste dan menggandakan diri. Mereka melakukan ini, di antaranya, saat mereka akan meninggalkan suatu negeri dan melanjutkan perjalanan sementara warga setempat tidak ingin kehilangan mereka.

Kendati belum berdialog langsung dengan penulis, saya bisa mengira-ngira dia akan keberatan disebut guru sufi. Dengan kerendahan hati yang sama, dia sangat mungkin menolak disebut murid sufi. Tetapi, terlepas dari sekedar masalah penyebutan, buku ini satu ekspresi serius dari kemauan kuat penulis melihat fakta dari dekat tentang kota Guilan. Kemauan kuat itulah murid, melihat fakta itulah musyahadah, dan Guilan itulah satu dari sekian kota Iran paling produktif melahirkan sufi besar.

Dalam peribahasa Persia, Syenīdan key buvad manande dīdan, sejak kapan mendengar itu sama dengan melihat. Betapapun tidak akan sama, melihat lebih terbatas ruang jangkaunya dari mendengar. Tentang hal-hal yang tak terjangkau mata, telinga lebih dahulu menyimak. Pribahasa Persia bermuatan ‘pedas’ bagi telinga yang hanya mendengar fakta yang bisa dilihat, atau bagi mata yang asal melihat. Meneruskan pendengaran ke mata berarti mengurangi sampai meniadakan perantara. Melihat berarti menyaksikan langsung tanpa media, tanpa intervensi, tanpa interpretasi, tanpa opini.

Meniadakan perantara dan melihat langsung, meski difasilitasi oleh berbagai alternatif tehnologi transportasi dan informasi, bukan tanpa biaya kecil. Terutama sekarang ini, dalam situasi keruh informasi dan pengaburan fakta, biaya moral justru lebih besar dan paling menentukan keputusan dan pilihan, apalagi kaitannya dengan Iran. Seolah gajah di pelupuk mata, negeri ini tampaknya bagi sebagian masyarakat Indonesia tidak sepopuler nama-nama Syah, Bakhtiar, Mardani, atau kata-kata serapan dari Persia seperti: anggur, bandara, bius, pahlawan. Lantaran framing media dan sumber berita di dalam atau dari luar negeri, Negeri Mullah ini justru jadi populer dengan pemberitaan aneh-aneh dan aneka kesan negatif, dari isu-isu politik, ilmu pengetahuan, teknologi sampai urusan keyakinan.

Kesan buruk ini sebenarnya juga tidak kuat-kuat amat, hanya beredar di kalangan terbatas. Apa pun nantinya, setiap keputusan ada resikonya yang, oleh buku ini, dapat diimbangi dengan kontribusinya bagi mereka yang ingin mencoba pengalaman penulis melihat dari dekat, tentu saja dengan kesiapan biaya moral standar yang sama ditegakkan Ibnu Bathutha: keberanian dan kejujuran. Hanya dengan dua komitmen ini, penulis mengungkap fakta dan pengalamannya seolah-olah sufi yang, sesuai kapasitasnya, menjadi badal yang berupaya menduplikasi pengamatan langsungnya dalam wujud tulisan, menggandakan Iran seidentik mungkin dengan realitasnya ke hadapan masyarakat Indonesia.

ICIPh: Konferensi Internasional Pertama Filsafat Islam Di Indonesia

ICIPh: Konferensi Internasional Pertama Filsafat Islam Di Indonesia

Sambutan di Pembukaan ICIPh, Gedung DPR RI, 18/01/19

 

INTERNATIONAL Conference on Islamic Philosophy (ICIPh) terselenggara dengan sukses dan diikuti oleh berbagai kalangan dalam dan luar negeri, pakar, peneliti, dosen pengajar, pelajar, institusi pendidikan formal, pusat penelitian, hingga lembaga negara setingkat kementerian (agama dan pemuda olahraga). Bekerja sama dengan Asosiasi Akidah dan Filsafat Islam (AAFI), Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra memaksimalkan segenap dukungan, khususnya dari Dewan Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Kementerian Agama dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, dalam dua hari penyelenggaraan, 18-19 Januari 2019.

Berikut ini catatan awal Ketua Bidang Riset STFI Sadra, Ammar Fauzi, Ph.D., sekaligus selaku ketua panitia penyelenggara, mengenai konferensi ini.

Relevansi tema utama konferensi ini dapat ditinjau dari dua sisi: internal dan eksternal Filsafat. Sebelumnya perlu saya pertebal nama filsafat di sini sebatas Filsafat Islam. Sebagai salah satu fitur menonjol dari peradaban Islam, filsafat telah berkontribusi konkret dalam perubahan. Para filosof Muslim, mulai dari Abu Ishaq al-Kindi, terutama Farabi, Ibnu Sina, hingga Suhrawardi dan Mulla Sadra, berperan besar dalam pembangunan era keemasan sejarah Islam. Keberadaan mereka bermain dua kaki di dua bidang yang tidak jarang terlibat konflik interlektual bahkan sosial, yakni Kalam dan Tasawuf, membuat filsafat mengakomodasi isu-isu dua bidang ini. Namun, lantaran bermain dua kaki inilah filsafat kerap sejak dahulu menjadi sasaran kecurigaan bahkan kecaman dari dua arah sekaligus.

Di Indonesia sendiri, kendati filsafat Islam sudah cukup lama dikenal dan diadaptasikan terutama di lingkungan perguruan tinggi dan elite ilmu pengetahuan, pernah mengalami vase kevakuman atau mungkin juga ketegangan. Salah satu dampaknya, filsafat di sebagian komunitas dan pusat pembelajaran Islam bukan hanya disalahartikan, bahkan juga disalahfungsikan sehingga pengembangan filsafat Islam tertuduh sebagai faktor potensial penyimpangan pemikiran dan keimanan.

Gejala ini tidak sepenuhnya keliru bila juga ditimbang peran terbatas dan kurang maksimal dari para pengajar filsafat Islam. Dan dinamika ini sudah lama disadari. Berdirinya Asosiasi Akidah dan Filsafat Islam (AAFI) ini saya rasa bagian dari solusi akal kolektif dari para penguasa filsafat Islam di tanah air. Untuk itu pula filsafat kembali diangkat di sini, pertama-tama, dalam rangka mendudukkan posisinya secara jernih dan, kedua, menjernihkan fungsinya sebagaimana digagas dan diwarisi oleh peradaban ilmu keislaman. Ini dari sisi internal.

Dari sisi eksternal, sejak awal kali diinisiasi dan diwanacakan, isu-isu folosofis secara langsung menyoroti transformasi di tingkat negara dan bangsa. Filsafat di Yunani merupakan instrumen penanganan masalah dasar berbangsa dan bernegara, yaitu dengan kembali ke inti persoalan yaitu realitas manusia itu sendiri sebagai pelaku transformasi dan jantung masalah. Sebangun dengan ini, filsafat mendudukkan peta realitas untuk membaca posisi dan relasi manusia di dalamnya.

Karena itu, salah satu definisi klasik filsafat yang juga masih bertahan dalam tradisi Filsafat Islam ialah mengenal manusia. “Apakah manusia?” sesungguhnya menggali persoalan fundamental manusia, entah sebagai individu ataupun masyarakat, entah dari aspek etika ataupun negara dan bangsa.  Jadi, tema “Filsafat dan Kemanusiaan” seolah-olah frasa redundant yang mengulang secara tautologis filsafat dan kemanusiaan.

Adapun tema ini diangkat hari-hari ini di sini mengingat, pertama, tema filsafat tidak mengenal kelekangan dan kadarluarsa, karena subjeknya bersifat fundamental, maka akan selalu segar, dibutuhkan atau disadari. Berbagai isu moral dalam perilaku di berbagai ruang privat ataupun sosial datang saling menumpuk yang senyatanya juga mendesak kita sebagai insan akademisi sekadar kapasitas dan spesialisasi kita terlibat serta dalam memberikan alternative-alternatif untuk melengkapi solusi yang diperlukan.

Sebagai panitia pelaksana, STFI Sadra sadar akan identitas dan fungsi utamanya bergerak di bidang spesialisnya, yakni filsafat dan tasawuf Islam. Dalam kaitannya dengan riset Sadra, konferensi ini sendiri dengan temanya secara langsung mamanggil komitmen untuk terlibat langsung di dalamnya. Karena itu, kepercayaan mutual antara AAFI dan STFI Sadra sangatlah berharga dan patut disyukuri sebagai peluang pengembangan program-program riset di masyarakat umum, khususnya di lingkungan akademisi Filsafat Islam.

Bagi riset Sadra, terselenggaranya pertemuan dan terjalinnya komunikasi dan perkenalan secara langsung merupakan momentum unik untuk perencanaan pengembangan filsafat Islam, berbagi pengalaman dan gagasan, sehingga ke depan dapat diharapkan terbangunnya sinergi potensi dan kapasitas masing secara lebih konkret.

FTP: Sikap Terbuka bagi Tradisi Kritis-Radikal dalam Ilmu Hadis

FTP: Sikap Terbuka bagi Tradisi Kritis-Radikal dalam Ilmu Hadis

Departemen Riset STFI Sadra kembali menyelenggarakan FTP (Forum Temu Pakar) di tahun 2018. Forum diskusi ilmiah yang diselenggarakan pada Kamis, 22 Maret yang lalu ini mengangkat hasil penelitian Dr. Babul Ulum, dosen ilmu hadis STFI Sadra, terkait studi kritis terhadap prinsip keadilan perawi di generasi sahabat. Penelitian tersebut merupakan disertasi penulis di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang telah dinyatakan lulus pada tahun 2015.

Sebagaimana dikatakan oleh penulisnya, disertasi ini berangkat dari semangat untuk memikirkan ulang hal-hal besar dan mendasar dalam suatu bangunan disiplin ilmu. Tentu saja bangunan disiplin ilmu apapun hanya akan bisa dibangun secara kokoh jika memiliki fondasi yang kokoh pula. Ilmu hadis tak terkecualikan dari hal ini.

Dalam konteks ilmu hadis Dr. Babul Ulum melihat ada suatu prinsip dasar yang telah menjadi traveling theory, namun sebenarnya sangat rapuh, dan—tentu saja, perlu diperbaiki. Prinsip tersebut adalah prinsip keadilan (seluruh) sahabat Nabi saw. Dr. Babul Ulum memilih sejalan dengan sejumlah peneliti, seperti Prof. Dr. Kamaruddin Amin (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Dr. Maya Yazigi (Simon Fraser University), yang melihat adanya kepentingan politik tertentu di balik kemunculan dan kristalisasi prinsip tersebut. Ia sendiri mencoba mengajukan suatu interpretasi baru terhadap sejumlah kategori hadis yang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik itu, yang ia sebut dengan Mu’awiyat (merujuk ke raja pertama pada Dinasti Umayyah, yaitu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan).

Hadir sebagai penanggap utama, Dr. Abdelaziz Abbaci, direktur Sadra International Institute, seorang pakar filsafat Islam dan tasawuf. Sejumlah pakar lainnya, seperti Abdullah Beik, M.A. (pakar ilmu akidah) dan Muhammad Shodiq, M.A. (pakar Ilmu Al-Quran dan Tafsir), juga ikut hadir menjadi penanggap dalam diskusi ini, selain para mahasiswa.

Di awal diskusi, Direktur Departemen Riset STFI Sadra, Ammar Fauzi, Ph.D, dalam sambutannya menjelaskan pentingnya penelitian-penelitian baru yang serius di bidang ilmu hadis, terutama melihat kaitan eratnya dengan ilmu al-Qur’an dan tafsir yang menjadi salah satu program studi yang dimiliki STFI Sadra. Ia juga menjelaskan adanya sejumlah topik lain yang tak kalah penting untuk diteliti. Contohnya adalah masalah Isrāʽīliyyāt, yang serupa dengan topik disertasi Dr. Babul Ulum dari sisi kemendasaran dan kekurangan perhatian terhadapnya.

Diskusi berjalan baik dan menyuguhkan perdebatan hangat nan beradab. Sejumlah kritik dari penanggap seperti tentang sensitifitas topik juga muncul ke permukaan, namun tetap bisa ditanggapi secara elegan oleh pemateri dengan membatasi semangat dan ranahnya pada dunia ilmiah. Di sisi lain, sejumlah masukan, seperti pentingnya rekonstruksi aspek dirāyah (pemaknaan) dibanding riwāyah (transmisi) dalam ilmu hadis, juga hangat didiskusikan. Masukan lainnya, seperti tentang pentingnya klarifikasi konsep keadilan, sahabat, dan politik, termasuk tentang pentingnya kerangka pendekatan yang lebih komprehensif tentang analisis konteks dalam ilmu hadis, juga ikut mengemuka.

Dato’ Dr. Ahmad Farouk Musa

Dato’ Dr. Ahmad Farouk Musa

Data Diri

Dato’ Dr Ahmad Farouk Musa is a Chairman and Director of the Islamic Renaissance Front, an intellectual movement and think-tank promoting reform and renewal in Islam, democracy, good governance, and human rights. He is actively involved in civil society and the emerging discourse on post-Islamism. (more…)

Free WordPress Themes, Free Android Games