FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

Hubungan Kristen dan Islam dengan filsafat memiliki dialektika yang unik dan khas. Masing-masing memiliki basis dan doktrin berbeda meski sama-sama sebagai agama ibrahimik. Respon dan perkembangan keduanya berbeda sesuai zaman dan kontek. Dari zaman klasik, modern dan posmodern baik Kristen dan Islam memiliki idealitas yang berbeda dan fenomena yang beragam-menggembirakan sekaligus mencemaskan.

Bagaimana Kristen dan Islam dilihat dari dalam dan sejauh mana filsafat berinteraksi dengan kedua agama tersebut. Bagaimana Kristen dan Islam merespon tantangan di dunia modern dan posmodern.

Inilah pokok pertanyaan fundamen yang mencoba di jawab dalam Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI, 16 mei 2016. Menghadirkan Prof. Dr Bambang Sugiharto dan Ammar Fauzi, Ph.D.

Setelah rombongan STFI Sadra dijamu makan siang di kafe mungil dan asri Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Filsafat Bandung. Angin Bandung yang hangat dan sejuk membawa umat dua agama besar berdiskusi, terlihat akrab dan senyap.

Prof. Dr Bambang Sugiharto
Dr. Bambang langsung pada statmen penting. Kristen sejak awal, oleh para muridnya, dalam mengespresikan pengalaman iman, banyak dipengaruhi oleh tradisi Yunani. Sejak awal Kristen telah menggunakan konsep-konsep Yunani, kemudian juga pada abad pertengahan. Olehkarena itu, hingga sekarang para pastor didik di seminari, salah satu materinya filsafat dan teologi. Banyak teologi yang sangat filosofis dan filsafat yang cenderung teologis.

Akan tetapi menurut Dr. Bambang, banyak unsur-unsur destruktif dalam agama-sesuai dengan judul presentasinya ”Unsur-unsur Destruktif agama”. Kenapa demikian?. Karena dalam agama terdapat banyak paradok.

Pertama, agama pembawa perdamaian sekaligus penyebab konflik dan separatis. Klaim agama, bahwa semua manusia sederajat akan tetapi faktanya terjadi superioritas yang diskriminatif, rasistik, chauvinistik. Agama menawarkan model ideal kematangan manusia, tapi banyak orang bermental kekanak-kanakan. Fokus agama adalah spiritualitas yang mendalam, tapi banyak fenomena agama hanya fokus pada hal material-simbol fisik. Agama dikenal memiliki sumber peradaban luhur, akan tetapi banyak fenomena agama justu sebagaia penghancur peradaban.

Agama di dunia modern dalam pandangan Dr. Bambang, banyak mendapat kritik dari kaum posmodernisme. Dalam dunia modern terjadi epistemologisasi agama, dibanding agama sebagai iman. Muncul pengetahuan yang benar, objektif, impersonal terhadap doktrin agama (R.Bellah, H.Smith). Persoalanya adalah, de facto agama tak selalu sejajar dengan ilmu, ada dimensi personal dan experiensial yangg hilang dalam ‘iman kognitif’. Dalam kenyataannya, ‘iman’ lebih tepat dilihat sebagai trust faith “percaya kepada/setia terhadap” soal sikap batin, bukan perkara ‘Pengetahuan’. Soal makna terdalam dalam pengalaman hidup konkrit dan personal.

Kedua, Agama-agama besar bersifat logosentrisme (berpusat pd ‘Firman’), kerap terkecoh, terperangkap dalam kerangka epistemologisasi, menjadi wacana besar, yang bersaing dengan science dan berbagai ideologi lain.

Masalahnya, ketika orang-orang intelektual menemukan bahwa sebagai ‘logos’ ternyata doktrin agama-agama justru sering tidak ‘logis’; dan sebagai wacana besar, ia sama opresif, manipulatif dan diskriminatifnya dengan ideologi-ideologi besar lainnya, maka dampaknya justru kontrapoduktif, yaitu terjadi fenomena atheisme.

Ketiga, dalam dunia modern, orientasi nilai dan perilaku individu dikelola oleh pribadi masing-masing. Istilah R. Bellah: Exoskeleton (pengawasan eksternal-sosial) bergeser ke Endoskeleton (pengelolaan internal-privat). Efek negatifnya: over self-consciousness –terjadi inflasi mental dan individu.

Olehkarena itu, agama-agama yang berorientasi kosmik secara psikologis menurut Bambang mungkin lebih sehat: agama :‘religio’/’religare’; mengembalikan keterkaitan primordial individu dengan alam semesta, dengan jagat yang tak sepenuhnya kita pahami, dengan misteri, dengan ‘ketakmungkinan’ (Derrida, Caputo), dengan ‘yang sublim’ (Kant). Pusat gravitasinya bukan individu, melainkan: alam semesta. Ranahnya bukan ‘kesadaran intelektual’ melainkan: supra-kesadaran, ranah pengalaman keterikatan yang sublim.

Keempat, akibat banyak tendensi kontradiktif menyangkut agama-agama besar, maka perspektif Postmodern mengubah pendekatan atas agama.

Kelima, agama-agama besar rentan menjadi sumber kecemasan dan kekerasan. Karena masalah: identitas, yang kehilangan batasan kekuasaan yang dalam globalitas jadi tak seimbang heterodoksi, yang mengakibatkan disorientasi. Maka spiritualitas yang non-dogmatik, dan non-logosentris, kini berpeluang memberi pencerahan, asalkan tetap berfokus pada kedalaman pengalaman spiritual otentik yang menggaris bawahi kesatuan dasar antar segala/ “ultimate belonging” (Huston Smith).

Manusia dan Agama
Agama menurut Dr. Bambang adalah ‘sistem’ (unsur: nilai inti, kitab suci, doktrin, pola ritual, pola organisasi, habitus). Nilai Inti dan kitab suci, nukleus. Doktrin, Pola ritual, organisasi, habitus. Artikulasi sistemik. Sistem ini dibentuk oleh manusia (sekurang-kurangnya sebagian), tapi juga membentuk manusianya, membentuk tendensi praksis khas.

Kontradiksi bisa terjadi antara tendensi praksis, artikulasi sistemik dan nukleusnya. Sejauh menyangkut kontradiksi, bila hal-hal inti dalam sistem tak perlu/ tak bisa diubah, maka faktor manusia/ praksisnya yang perlu dibenahi.

Dalam praktisnya, agama-agama menurut Bambang terdapat unsur-unsur destruktif
Pertama, agama menekankan berlebihan pada kebenaran doktrinal–proposisional, ‘Apa yang anda percaya’, bukan ‘apa yang anda lakukan’, apologetis, superioritas-diskriminatif. Sehingga mengakibatkan egosentrisme kelompok agama, akhirnya menjadi sumber konflik: shallow religion (Ken Wilber/Danah Zohar), “until there is peace between religions, there can be no peace in the word” (Thich Nhat Hahn).

Kedua, spiritualisme atau simbolisme berlebihan. Seakan keselamatan hanyalah urusan ibadah/sembahyang/simbol saja tidak berefek signifikan, tidak mengubah kualitas kehidupan nyata. Malah menjadi oversensitif dan ribut memerkarakan hal-hal yang tidak esensial (konflik soal rumah ibadah, pakaian simbolik, perusakan barang keramat, dll).

Terjadinya kekerasan dianggap sebagai kesalehan, heroisme, membela Tuhan. Sehingga kekerasan dibalas kekerasan. “An eye for an eye will make the word blind” (Mahatma Gandhi). Atau kata Dalai Lama, “ to bring peace to all, one must first dicipline and control one’s own mind’. Atau kata Martin Luther King, “darkness cannot drive out darkness; inly light can do that”

Ketiga, muncul image Tuhan yang judmental diskrimatif, hitam-putih, menuntut, mudah tersinggung, dan menakutkan, muncul spiritualitas ketakutan, hitam-putih, juga over-judgmental, sikap kekanak-kanakan & rawan kekerasan. Kata Jallaludin Rumi, “out beyond out ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I’ll meet you there’.

Keempat, agama fous pada surga-neraka dan keselamatan individual. Orientasi beriman yang hanya mencari jaminan agar diri sendiri masuk surga, mudah sekali membuat orang tak peduli pada keselamatan orang lain, atau justru menaklukan orang lain, mudah dimanipulasi oleh kekuasaan, agama menjadi alat penguasa yang menghimpun, kekuasaannya dari ‘ketaatan’/’voluntary slavery’/’control of the mind’/’corruption of the will’ para anggotanya (Alexander Herzen).

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena berharap masuk surga, tetapi karena cintaku kepadanya” (Rabi’ah Al-Adawiyah). Atau kata Mahatma Gandhi “when the power of love overcomes the love of power the word will know peace’.

Kelima, kesempitan wawasan agama de facto sering merupakan wilayah yang paling tidak dipikirkan. Maka berpikir dan berdiskusi menjadi takut teracuni pihak lain. Menyimpang dari dogma sama dengan dosa, akhirnya tidak menyadari praksis yang kontradiktif dan terbalik-balik, hingga seolah agama menjadi jahat/satanik. “Men never commit evil so fully and joyfull as when as when they do it for religions convictions’. (Blaise Pascal).

Deep Religion
Sebagai tawaran solusi, Bambang menimbang, bahwa seyogyanya agama-agama konsisten dengan nilai inti yang dijunjungnya: perdamaian. Perlu perubahan paradigma ke arah:deep religions. Pusat gravitasinya nilai-nilai inti. Kebenaran dokrinal-proposisional, ritual, dan simbol penting untuk ‘ke dalam’: sebagai bermacam cara khas kita untuk mendekati Tuhan dan meningkatkan kualitas rohani pribadi.

Image tradisional tentang Tuhan yang menghakim, maupun orientasi ‘Surga-Neraka’–yang menimbulkan sumber konflik-bukanlah satu-satunya pola penghayatan iman, dan bukan tak bisa diubah. Pengalaman iman yang matang dari pemeluk tiap agama memberi isyarat lain, yang seringkali lebih sehat, lebih konsisten dengan nilai-inti agama-agama tersebut, sekaligus lebih menjunjang perdamaian.

Untuk sikap ‘ke luar”, perlu perluasan wawasan dan melihat identitas secara relasional (bukan territorial), saya tumbuh dan memahami diri dan agama saya, hanya melalui relasi dengan pihak lain, dengan begitu, jiwa pun dibebaskan, diri diperluas agama. Sehingga “enlargement of the self/soul”. Tumbuh ke arah “universal compassion” (damai). Seperti kata Nelson Mandela “If you want to make peace, you have to work with your enemy”.

Ammar Fauzi, Ph.D
Giliran pada sesi kedua, Ammar melihat filsafat dalam dunia Islam. Filsafat dikatakan Ammar dalam posisi mazlum (tertindas). Ada semacam resistensi baik dari pihak teolog dan kaum fiqih terhadap filsafat. Tapi anehnya, tidak ada penolakan pihak filsof terhadap teologi. Filsafat tidak pernah menghancurkan teologi. “Bapak-bapak akan mendapati informasi di perguruan tinggi di tanah air, apa kata Imam Ghozali, tetapi jarang apa kata Ibnu Sina, Shuhrowardi, dan Mulla Sadra”. Ammar memberi contoh.

Mutakallim (teolog) adalah orang yang suka bicara, yang membentengi agama dengan teologi. Namun kalau filsafat dan teologi bertentangan dengan agama tidak segan-segan di kafirkan. Kata “sahid” yang biasanya di kenal dalam perang, dalam dilingkungan filsafat dan mistisisme juga ada. Shurowardi dalam dunia filsafat terkenal dengan si Maqtul (yang terbunuh/teraniaya). Atau Al-Hallaj, dalam dunia mistisisme, dikenal si “sahid”. Di Indonesia juga ada, Syekh Siti jenar.

Kenapa mereka menjadi martir tanya Ammar, karena sepertihalnya dalam teosis (Kristen), mereka ingin menjadi mirip Tuhan. Filsafat oleh Shurowardi dibawa-bawa ke tingkat kekuasaan. Menyerap ide-ide Plato, akan tetapi Shuhrowardi pada akhirnya dibunuh oleh Shalahuddin Ayubi. Di tulis oleh para fuqoha waktu itu, bahwa filsafat Shuhrowardi bisa mengancam kekuasaan Salahudin Al-Ayubi.

Jika dilihat secara strata menurut Ammar, teologi berada di bawah filsafat, dan filsafat dibawah tasawuf. Sering para teolog ditanggapi secara sinis oleh para filsof. Tapi dari bawah (kalam) para teolog mengkafirkan filsafat. Dari sisi paling atas (tasawuf), seperti Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi selalu mencemoh filsafat. Olehkarena itu hemat Ammar, jika ada filsafat berkembang di dunia Islam di era kontemporer, berarti ada keajaban.

Menanggapi fenomena agama dan relasinya manusia dan Tuhan, Ammar mengatakan, subjek Al-Quran ada dua. Pertama, berbicara tentang Tuhan (ayat tuhan), olehkarena itu Al-Quran mengajak bagaimana manusia agar misi hidupnya menjadi mirip Tuhan.

Kedua, Alquran berbicara pada dimensi manusia. Manusia sebagai ciptaan atau fitrah (bahasa arab), baqara (membelah), membelah biji, yaitu biji cinta. Sehingga menjadi cinta sempurna. Olehkarena itu manusia dikarunia cinta sekaligus benci terhadap kekurangan. Manusia juga sebagai anak hasil dari Tuhan (ciptaan Tuhan). Kemanapun gerak manusia maka selalu dalam kontek gerak cinta sempurna (nukleus).

Menurut Ammar, terdapat tiga karakter yang mirip antara manusia dan Tuhan.
Pertama, sifat otoriter-sebagai tahap awal, manusia ingin sempurna, olehkarena itu sifat otoriter dapat membawa ke diri sendiri. Kedua, manusia memiliki sifat liberal-maunya bebas. Ketiga, kecenderungan manusia ingin menikmati sepuas-puasnya, sifat hedonis. Inilah tiga sifat bawaan fitrah manusia.

Persoalan konflik (paradok) yang timbul seperti yang dipaparkan Dr. Bambang ketika tiga sifat karakter manusia itu diterapkan di dunia yang terbatas. Sehingga terlihat menjadi utopis dan seperti tidak relevan dalam dunia yang terbatas (dunia materi).

Olehkarena itu tantanganya adalah, dalam kontek Islam, bagaimana manusia dalam memenuhi kebutuhanya disesuaikan idealitas Islam. Bagaimana keterbatasan manusia menjangkau ketidakterbatasan Tuhan. Olehkarena itu dalam Islam, fokusnya ada di kehidupan setelah kematian.

Sebagai ilustrasi solusi, Ammar memberi contoh konkrit, bagaimana seorang Imam Khumaini memberi solusi pada problem kapitalisme dan sosialisme. Problem kapitalisme adalah menganggap dunia terbatas (SDA terbatas), sehingga solusinya siapa yang kuat dialah yang menang. Atau sosialisme, bagaimana semua orang mendapatkan makanan yang sama di satu piring.

Imam Khomeini memberi surat ke Gorbachev, dengan mengutus Jawadi Amuli. Dikatakan Imam Khomeni masalah anda bukan ekonomi. Jalan keluar yang anda tawarkan, seperti keluar dari mulut singa pindah ke mulut buaya. Problem anda bukan dari kapitalisme menuju sosialisme-komunisme. Problemnya ada pada pandangan hidup anda. Olehkarena itu, Imam Khomeini menawarkan dua kitab yakni filsafat Hikmah Mutaaliyah Mulla Sadra dan tasawuf Futtuhat al-Makkiyah Ibnu Arabi untuk dipelajari.

Menanggapi Dr. Bambang sebagai statemen terakhir Ammar, dalam agama memang ada unsur takut, harap, dan cinta. Ada orang beribadah seperti budak (takut), pedagang (harap) dan ada orang beribadah karena cinta. Semua ada pelakunya, tapi bergradasi, dan tuntutan Islam beribadah semata karena cinta.

Dari sekian banyak problem agama di dunia modern yang digugat kaum posmodernisme, Ammar memberi dua catatan. Agama memiliki masa depan cerah jika mengakui dua karakter sekaligus. Pertama, mengakui kompleksitas manusia, kedua mengakui seluruh potensi manusia. Tujuan tertinggi manusia versi Islam menjadi makhluk sempurna (insan kamil).

Setelah senja menjadi gelap diskusi ditutup. Rombongan dari STFI Sadra akhirnya pamit dan kembali pulang ke Jakarta. (ma’ruf)

 

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

Filsafat adalah salah disiplin ilmu tua yang berkembang lintas negara dan benua. Jika filsafat Barat dibicarakan, biasanya mengacu Yunani sebagai titik awal dan berkembang pesat di dunia Barat hingga menyatu dengan dinamika masyarakat. Sedang filsafat Timur berkembang secara menonjol di dunia Islam dengan hikmah dan di India, Cina dan Korea melalui Budhisme, Taoisme dan Konfusianisme. Filsafat Timur dalam Islam ditandai, utamanya, oleh Farabi dan Ibnu Sina. Nama yang belakangan ini meninggalkan kecenderungan ke arah mistisisme dan wahyu melalui karyanya, Manthiq Al-Masyriqiyyin. Kecenderungan ini menguat jadi aliran baru oleh Magaguru Pencerahan (Syaikh Al-Isyraq) Suhrawardi dengan Filsafat Pencerahan (hikmah isroqiyah) yang menggabungkan metode peripatetisme, neoplatonisme, dan wahyu.

Bagaimana dinamika perkembangan dan penyebaran filsafat Timur yang merujuk pada geografi, antara Persia dan Korea, dua negara yang sama-sama di belahan asia, adalah pertanyaan yang diupayakan jawabannya secara sekilas di Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra 14/1/2016 di STFI Sadra. Forum dwibulanan ini menggelar diskusi dan menghadirkan Dr. Mukhtasar Syamsuddin (Fakultas Filsafat UGM) mewakili Filsafat Korea dan Ammar Fauzi Ph.D mewakili Filsafat Persia (STFI Sadra).

Dr. Mukhtasar Syamsuddins; Sekilas Filsafat Korea
Dr. Mukhtasar Syamsuddin memulai diskusi dengan berbagi pengalamnya sewaktu di Korea Selatan. Ia mengatakan, “Saya tidak akan membahas filsafat Korea Selatan secara mendalam; hanya sekilas berupa informasi umum. Tahun 2001, Korea Selatan belum menarik bagi pelajar Indonesia; mahasiswa di sana hanya tujuh orang. Saya kebetulan menjadi salah satu pendiri organisasi pelajar di Korea Selatan, tahun 2002, dan alhamdulliah sekarang berjumlah kurang lebih 1800.

Belakang Korea Selatan memang atraktif dalam memperkenalkan dan mengglobalkan kebudayaan Korea Selatan. Jika Indonesia ada Trisakti yang digagas Sukarno, di Korea ada Saemaul Undong (Sebuah Gerakan Kampung Baru/gotong royong) yang dinspirasi oleh Pak Chun Hee.

Presiden Park Chung Hee dikenal sebagai seorang presiden yang tegas. Melihat kondisi yang masyarakatnya yang miskin, maka Presiden Park Chung Hee menyusun program kebudayaan yang efektif demi meningkatkan taraf hidup penduduk Korea Selatan. Tanggal 22 April 1970 dikenalkan gerakan yang disebut Saemaul Undong (새마을 운동).

Saemaul Undong (새마을 운동) berasal dari kata 새 (se) yang berarti baru 마을 (maeul) yang berarti desa/komunitas dan 운동 (undong) yang berarti gerakan. Saemaul Undong merupakan suatu gerakan perubahan dan reformasi pedesaan menuju kehidupan yang lebih baik.

Landasan dari Saemaul Undong adalah pertama, gerakan bagi pembangunan nasional untuk keluar dari jerat kemiskinan. Kedua, gerakan reformasi spiritual yang berkontribusi terhadap modernisasi masyarakat Korea. Ketiga, gerakan bagi pengembangan masyarakat lokal dimulai dan berpusat di sekitar masyarakat pedesaan. Keempat, gerakan untuk persatuan rakyat memberikan kontribusi untuk mengatasi perpecahan dan konflik di antara kelas-kelas sosial yang telah dibawa sejak berdirinya negara. Kelima gerakan bagi masyarakat untuk mewarisi dan mewariskan tradisi masyarakat.

Belakangan ini, menurut Mukhtasar, UGM melalui Fakultas Filsafat mencoba mengembangkan gagasan Semaul Undong Korea Selatan dan gerakan Trisakti, Nawacita presiden Joko Widodo.

Mukhtasar memberi penekanan bahwa, sekali lagi, presentasinya umum saja, berasal dari bahan kuliah. Oleh karena kebanyakan kita belum tahu banyak tentang Korea. Di Korea Selatan, ada namanya legenda Kang Gen, yakni seorang perempuan yang mendapat suami yang menjelma menjadi seorang beruang di Korea, dimana ayahnya seekor beruang, ibunya manusia, anaknya menjadi titisan sang Dewa,” ungkapnya.

Di Korea Selatan, terdapat pulau Jeju (Jeju-do), pulau terbesar di Korea dan terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Pulau Jeju adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus Korea Selatan. Terletak di Selat Korea, sebelah barat daya Provinsi Jeolla Selatan, yang dahulunya merupakan satu provinsi sebelum terbagi pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah Kota Jeju (Jeju-si).

Di Pulau tersebut terdapat tradisi matrenial seperti di Minang. Tradisi matrenial ini bernama mudang (intelektual perempuan). Mudang adalah anak dari Shamanisme. Shamanisme sendiri adalah kepercayaan asli rakyat Korea yang menggabungkan berbagai kepercayaan dan praktik yang dipengaruhi agama asli Korea, Buddha dan Taoisme. Dalam bahasa Korea, Shamanisme disebut mu [ 무 ] dan sang pemraktik disebut mudang [ 무당 (Korea) ; 巫堂 (China) ].

Menurut Mukhtasar, salah satu kecanggihan Korea Selatan adalah mengembangkan originalitas (katagana, hage atau hanja) dari adaptasi pengaruh ekternal. Sebuah sintesis antara Budhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Buddhisme yaitu budaya yang dikembangkan oleh raja-raja dahulu dan masyarakat luas sejak Dinasti Joseon Lama. Kebudayaan ini dikembangkan dan membuat kerajaan-kerajaan dahulu berkembang pesat. Dengan budaya Buddhisme, maka kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi memperkaya kebudayaan di Korea.

Konfusianisme yaitu bentuk dari konfusianisme yang berkembang di Korea yang telah memengaruhi sejarah intelektual dan pemikiran tradisional orang Korea modern. Paham Konfusianisme yaitu sebagai pembentuk sistem moral, pola kehidupan dan hubungan sosial antar-generasi masyarakat Korea. Sedang Taoisme telah dikenal sejak jama dahulu, tetapi kebudayaan ini kini sudah kurang berkembang di Korea Selatan.

Jika kita lacak, originalitas filsafat Korea berasal dari Raja Sejong yang berupaya menyederhanakan karakter filsafat Cina. Dalam kontek bahasa, seperti kita ketahui secara gramatikal, bahasa Cina tidak memakai gramatika, tapi keahlian bahasanya tergantung dari seberapa banyak menghapal karakter kosa kata. Menjadi kewajiban Anak SD di Korea Selatan untuk menghapal 5000 karakter-huruf Hanja. Terdapat satu contoh karakter gabungan antara bahasa unsur Cina dan Korea, misalnya kata kamsie sebagai gabungan Cina dan Korea.

Pengembangan Budhisme di Korea, merupakan sejenis shamanisme Korea; hasil adaptasi budaya luar, tapi orang Korea mengklaim sebagai orginalitas. Yang semua berasal dari Hanisme. Akan tetapi Hanisme tidak berkembang karena tertutupi Budhisme dan Konfusianisme, sejenis shamanisme bergaya feminisme.

Karakter budaya Korea Selatan modern bersifat individualistik. Oleh karena itu, negaranya gandrung privatisasi. Berbeda dengan Korea Utara yang fokus pada kebersamaan. Korea Utara disatukan oleh sabda Presiden Kim Jong-un.

Kim Jong-un, lahir 8 Januari 1983, usia 34 tahun, pemimpin tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea atau yang lebih dikenal dengan Korea Utara. Ia putra Kim Jong-il (1941–2011) dan cucu dari Kim Il-sung (1912–1994). Sebelum menjadi pemimpin Korea Utara, ia pernah menjabat sebagai sekretaris pertama Partai Buruh Korea, ketua pertama Komisi Militer Sentral, panglima tertinggi Tentara Rakyat Korea, dan anggota presidium Politbiro Partai Buruh Korea.

Hal yang menarik dari budaya yang Korea Selatan adalah budaya musik anak muda. Budaya ini khas bernama musik K-pop. Budaya ini, menurut Mukhtasar, bagian dari tradisi kritik terhadap kapitalisme (pejabat-pejabat Korea Selatan) yang dikendalikan seperti kuda oleh AS.

Ada hal berkembang bagus di Korea Selatan, meski ada pengaruh individualisme dari budaya Kapitalisme. Di sana masih menjaga nilai-nilai kebersamaan, apapun yang terjadi meskipun menjamur kota megapolitan dimana-mana. Budaya Semaul Undong, yakni rasa kebersamaan, belum luntur di lapisan bawah seperti di pedesaan. Di pedesaan, penduduk Korea mengembangkan buah-buahan menjadi permen dan kosmetik. Gingseng digunakan sebagai bahan operasi plastik, dimana bahanya lebih awet dibanding silikon.

Jika di Cina medical oriental mulai luntur, justru medical oriental atau kedokteran timur berkembang di Korea Selatan. Demikian presentasi perkenalan sekilas tentang Filsafat Korea Selatan-yang diakui Dr. Mukhtasar tidak bermaksud membicarakan filsafat secara mendalam.

Ammar Fauzi, Ph.D; Sekilas Filsafat Persia
Jika di sesi pertama, Dr. Mukhtasar memperkenalan filsafat secara umum yang berkembang di Korea Selatan, pada sesis kedua, Ammar memperkenalkan filsafat yang berkembang di tanah Persia secara umum.

Dikatakan Ammar, yang dapat mewakili filsafat yang berkembang di Persia Klasik dan setelahnya adalah Filsafat Suhrawardi. Filsafatnya terkenal sebagai aliran pencerahan merujuk pengertian originalnya berasal, di antaranya, dari Pahlevi.

Jika filsafat Yunani yang dimaksud sebagai pengetahuan dan di dalamnya sophia kemudian bertranformasi menjadi cinta di tangan Socrates, maka di Persia, para filsuf lebih banyak memakai kata hikmah untuk menunjuk yang dimaksud filsafat tadi. Hikmah sebenarnya berasal dari bahasa Arab, sepadan dengan farzanegi  dalam bahasa Persia. Tetapi para filsuf muslim lebih suka memakai kata hikmah daripada filsafat. Hikmah jika dipadankan yang paling dekat dengan bahasa Indonesia, artinya kebijakan dan kebijaksanaan. Di Persia kata hikmah adalah hikmah, sementara cinta menjadi sumber lain.

Jika Socrates menyelamatkan dengan cinta, sementara di Persia dengan darah. Maksudnya seseorang tidak akan berkorban dengan darah kecuali berkat cinta. Pengorbaan al-Hallaj dan Suhrawardi adalah dua tokoh contoh di sini.

Suhrawardi seorang filsuf Persia, lahir di Zanjan, Iran, besar di Maragheh, di antara dua kota ini ada kota Siz, tempat peribadatan para penyembah api hingga Islam datang. Apinya sudah mati tapi peribadatan itu masih terjaga hingga sekarang, karena dijaga isfandyar, atau pengawal perbatasan Iran-Azerbaijan.

Karena masih banyak dokumen Zoroaster, filsafat Zarastus, filsafat Pahlevi, Suhrawardi dapat mengakses dan membangkitkan kembali filsafat Timur. Ibnu Sina sendiri sebenarnya sudah berusaha keluar dari pola pikir Aristotelian dengan membawakan filsafat Timur melalui karyanya, Mantiq al- Masyriqiyyin (Logika Orang-orang Timur). Dikatakan Ibnu Sina, “Ketika masa-masa mudaku aku banyak mempelajari buku-buku orang terdahulu, kini aku mendapatkan satu ilmu, satu jalur di luar Yunani. Maka Al-Syifa’ dan Al-Isyarat wa Al-Tanbihat telah aku pelajari sebagai bentuk filsafat umum, tapi aku mendapatkan filsafat baru yang sangat khusus.”

Oleh Suhrawardi, Ibnu Sina dianggap tidak berhasil menuntaskanya, karena tidak punya kesempatan mengakses tradisi Khusrawani atau Pahlevi. Karena itu, Suhrawardi mengajukan kritik terhadap Ibnu Sina yang, dalam kerangka tradisi Aristotelian, ingin dituntaskan oleh dirinya sendiri. Dari sinilah kemudian fisafat tumbuh di Persia mengarah ke pencerahan (isyraq).

Menurut Ammar, seorang filsuf muslim dalam tradisi klasik dipanggil hakim. Hukama adalah para filsuf, bukan majusi, tapi filsuf yang sedang membangun keyakinan dengan cahaya tanpa kegelapan. Suhrawardi membangun filsafat cahaya (nur) seperti terbitnya cahaya matahari, setelah sebelumnya dia melihat kegelapan (malam) dalam filsafat Ibnu Sina atau filsafat yang sebelumnya. Maka, filsafat pencerahan (hikmat al-isyraq) Suhrawardi sesungguhnya aliran pengetahuan yang berawal dari kritik kegelapan peripatetisme dan berlanjutnya dengan menerbitkan mentari dan mencerahkan cahaya ke semua titik realitas dan wujud manusia.

Tugas seorang hakim atau filsuf klasik muslim, menurut Ammar, ada dua: menyehatkan penyakit pikiran dan penyakit jasmani. Dalam bagian akhir bukunya, Hikmat al-Isyraq, Suhrawardi berpesan untuk berpuasa 4O hari sebelum membaca bukunya. Dikatakan, kosongkanlah lambung Anda, pikiran Anda sehingga curahan-curahan rahmat Tuhan menghampiri jiwa Anda.

Jika kita bertanya tentang perjuangan Suhrawardi, filsafatnya akan dibawa kemana, apakah bisa dibawa keluar seperti halnya dalam Alegori Gua dalam tradisi Plato. Ternyata Suhrawardi membawa filsafatnya pada kepemimpinan dan kekuasaan. Hakim yang tercerahkan adalah seorang filsuf yang menyerupai (tasyabbuh) Tuhan dan dapat mendeskripsikan kedekatannya dengan Tuhan. Filsuf yang seperti ini pantas menjadi pemimpin, mirip dengan idealisme Plato; filsuf- raja. Pada titik ini, cinta dan ilmu berdialektika.

Suhrawardi ingin menegaskan bahwa “hikmah” dari Yunani dan Pahlevi seharusnya bisa diterapkan dalam bentuk konkret. Minimalnya menunjang orang jadi filsuf muta’allih (theosis), meski tidak kurang maksimal secara teori. Namun, karena filsafat kepemimpinan ini mengancam kekuasaan dan mendapat penentangan dari para fuqoha, maka Shuhrowardi dihukum mati oleh Salahudin Al-Ayubi di Aleppo.

Sekali lagi Ammar menyatakan harga hikmah itu nyawa. Ketika al-Hallaj dipenggal tangan dan kakinya secara bersilang, dia masih tersenyum dan memerahkan mukanya dengan darah dari tangan buntungnya. Tatkala ditanya kenapa Anda memerahkan muka, ia mengatakan, “Dua rakaat dalam cinta yang tidak akan sah wudhunya kecuali dengan darah.”

Ammar berpendapat dalam perkembangan sejarah filsafat dan tasawuf di dunia Islam relatif stabil, seperti perkembangan filsafat wujud dan relasinya dengan Islam. Akan tetapi kegonjangan dan gejolak tampak menonjol jika melihat perkembangan filsafat di Barat.

Secara global, dapat dikatakan filsafat yang berkembang di Persia atau, secara umum, di dunia Islam adalah filsafat kekuasaan dan kepemimpinan yang memiliki corak yang khas, seolah bisa dikatakan kebanyakan filsuf muslim menulis relasi filsafat dan kepemimpinan. Tentu saja, hikmah ini hasil kombinasi dari filafat Socrates, Plato dan ajaran Islam. Kemudian diteruskan Farabi, Ibn Sina, dan sedikit redup di tangan Mulla Sadra hingga mendapatkan tempat kembali di tangan Imam Khomeini. Kata Hairi Yazdi, bapak revolusi Islam di Iran ini, jika mengajar Asfar (Al-Hikmah Al-Muta’aliyah), seperti sedang meng-Ibnu-Arabi-kan Mulla Sadra. Tetapi, melalui ide Wilayatul Faqih, Imam Khomeini kemudian memberi sentuhan merealisasikan ide Plato.

Terakhir dikatakan Ammar, corak filsafat yang berkembang di Persia berkaitan erat dengan tradisi seni kaligrafi, ornamen dan sastra (puisi). Banyak karya filsafat tehnis ditulis dengan menggunakan bahasa puisi yang dipengaruhi oleh tasawuf.
Diskusi berjalan kurang lebih tiga jam, setelah diawali dengan penandatanganan MoU dan dilanjutkan dengan ramah tamah pihak STFI Sadra dan Fakultas Filsafat UGM.[m.ma’ruf]

FAP: Post-Sekulerisme, Tantangan dan Peluang Agama

FAP: Post-Sekulerisme, Tantangan dan Peluang Agama

Usia dunia profan dan sakral mungkin sudah ada sejak manusia terlahir kedunia. Namun sebagai konsep yang matang dan rumit, di barat dimulai sejak abad pencerahan, bersamaan dengan kepercayaan akan kedewasaan akalnya dalam mengurus semua urusan dunia.

Kristen berhasil dan mulus tersekulerkan sejak abad pertengahan hingga abad modern. Namun di Eropa kontemporer Islam masuk terutama di jantung Eropa membawa sebuah pertanyaan- akankah Islam mengalami nasib yang sama dengan Kristen yang terlebih dulu tersekulerkan oleh modernitas. Bagaimana peluang dan tantangan relasi agama dan sekulerisme di era post sekulerisme.

Muncul beberapa masalah dalam sebuah diskusi “Post-Sekularisme, Tantangan dan Peluang Agama”. Pertama, fenomena arus pengungsi Suriah ke Eropa yang justru ditolak oleh negara-negara Muslim tapi malah diterima negara-negara sekuler–seolah mengafirmasi kebaikan kaum sekuler dibanding Islam. Kedua, tantangan kontemporer dinamika Islam di negara Eropa sebagai fenomena gagalnya prediksi bahwa agama sudah punah di ruang publik. Ketiga, kecurigaan kemunculnya Islam yang belum berhasil tersekulerkan akan berpotensi menimbulkan masalah di ruang publik. Keempat, akankah kesuksesan Sekularisme Kristen di Barat begitu saja bisa diadopsi oleh Islam. Kelima, bagaimana Kristen dan Islam berbicara tentang Sekulerisme dan post-Sekulerisme.

Post sekulerisme diandaikan sebagai perjalanan setelah sekulerisme. Bagaimana sebenarnya relasi Kristen dan sekulerisme. Apa makna sekulerisme?. Bagaimana relasi Islam dan sekulerisme. Dapatkah Islam dibaca dengan prespektif sekulerisme, sebagaimana kesuksesan Kristen yang terlebih dulu tersekulerkan.

Seluruh pertanyaan tersebut mencoba dijawab dalam program Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra, senen 24/10/2016 di STF Driyakarya. Hadir sebagai pembicara Dr. Budi Hardiman (STF Driyarkarya), dan Ammar Fauzi, Ph.D (Riset STFI Sadra)

Dr. Budi Hardiman (STF Driyarkarya), sebagai pembicara pertama memaparkan tentang fenomena sekulerisme di Eropa dan relasinya dengan Kristen. Dikatakanya, tahuan 2015, di himpunlah sebuah buku di Jerman berisi diskusi-diskusi seputar tema post sekulerisme. Buku tersebut berisi wacana diskusi filsafat dan sekulerisme. Isu kontemporer yang diangkat diantaranya, serangan teror atas nama agama-dimana Islam distigmasisasi sebagai aktor. Juga disinggung tentang fenomena banjir pengungsi Suriah di Eropa.

Fenomena relasi agama Kristen dan sekularisme menurut Budi sudah lama terjadi di Eropa, hingga muncul anggapan bahwa agama pada abad modern dianggap tidak relevan untuk persoalan publik. Jikapun terdapat teologi dalam Kristen, tentu teologi yang sudah menyesuaiakan diri dengan dunia modern.

Masyarakat Eropa juga telah mengalami konflik (perang) selama 30 tahun-antara Kristen dan Protestan. Kemudian diselesaikan dengan perjanjian Westphalia (sekularisasi). Namun sekarang Islam hadir dan bersentuhan langsung dengan Eropa di masa post sekulerisme.

Istilah post sekulerisme, menurut Budi sudah pernah ada sebelumnya-tapi menjadi populer setelah Habermas. Fenomena ini terlihat sebagai gejala yang terjadi di Eropa, baik di arena intelektual dan sosial- menguatnya kembali agama dalam kehidupan publik.

Tesis sekularisasi mengatakan, bahwa melalui rasionalisasi dan teknologi, peran ilmu pengetahuan (rasionalitas) lebih dominan dalam masyarakat. Agama mengalami desakralisasi atau sekularisasi. Agama menjadi punah dalam sistem pengetahaun masyarakat. Agama tidak up to date. Ditandai oleh keengganan orang-orang tidak mau ke gereja, dan kenyataan tumbuhnya kaum atheis yang shaleh di Eropa.

Tesis ini pernah di dukung oleh Berger, juga kaum yang beraliran Materialis Marxis serta kaum rasionalis Barat. Namun pada abad 21 sekarang, secara sosiologis, ternyata tesis ini justru gugur, agama makin menguat. Kristen di Cina menguat, di Amerika latin juga menguat. di AS, Islam juga menguat. Bisa dikatakan, sulit menyatakan bahwa masyarakat sama sekali bebas dari agama.

Untuk dapat memahami sekularisme dengan baik. Budi mengacu pada enam pengertian beserta contoh kontradiksi di dalamnya.

Pertama, sekulerisme dimaknai sebagai pengosongan wilayah sosial dari hal-hal yang religius (sekularitas publik).

Akan tetapi faktanya terjadi fenomena, menguatnya kembali peran agama sejak 9/11, kemudian adanya anggapan asal usul konsep modern berasal dari agama. Dengana kata lain, apa yang dimaksud sekularisme itu adalah Kristen.

Kedua, sekularisme artinya menghilangkan hal yang imanen dari praktek religius (Sosiologis). Tapi faktanya, dunia sakral kembali muncul. Banyak pemimpin berasal dari agama. Sehingga yang terjadi gabungan antara sekuler sekaligus religius.

Ketiga, sekulerisme dipahamai sebagai, kondisi-kondisi tehnis dimana, kepercayaan pada Allah hanya salah satu saja (immanent frame)-teologis.

Keempat, sekulerisme dipahami sebagai hal yang netral, sekulum, orientasi pada waktu normal. Konsep waktu-berorientasi pada waktu normal (filosofis). Faktanya, terjadi religius term dalam filsafat. Sehinggga muncul minat kembali pada agama. Terjadi pendekatan agama secara fenomenologi (Iman yang melampaui iman).

Kelima, sekulerisme bermakna politis. Artinya melacak kaitan sistem hukum modern (dimana asal-usul Kristiani sangat kuat) dengan term religius. Sebagai contoh, paham demokrasi tidak bisa lepas dari konsep chauvinisme. Calt smith mengatakan bahwa dalam teori modern terdapat pre-teologi tertentu. Sekurang-kurangnya deisme.

Keenam, sekularitas geneologis. Mencari batas antara yang sekular dan religius, antara publik vs privat. Talal Aat menganggap terjadi dominasi biner khas pendekatan barat. Sekularisme dilihat sebagai hegemoni.

Menurut Budi, banyak fenomena post sekulerisme membuat tantangan tersendiri terhadap agama untuk meresponya. Dimensi metafisika agama tetap tidak akan kehilangan pesonanya. Banyak kaum atheis tetap meminta dibuatkan acara pemakaman untuk agama tertentu. Inilah contoh situasi keterbatasan yang bersifat antroposentris.

Postsekularisme menurut Budi membawa tantangan bagi pihak agama. Pertama, meski susah-agama ditantang untuk berlaku universal dan lentur-tapi hal demikian sulit karena agama bersifat narsis. Agama di tantang untuk menerima universal nilai.

Kedua, agama ditantang untuk sakral di tempat lain, sehingga mencegah intrumentalisme agama untuk kuasa politik. Fenomena ini sebenarnya proses yang sudah lama di Kristen. Tapi kalau agama belum mengalami sekularisasi –maka agama mudah dipakai untuk tujuan-tujuan politik (dimanipulasi). Agama ditantang untuk tidak mencampur adukan dengan naluri kuasa

Ketiga, agama ditantang untuk mengembangkan teologi-teologi yang lebih kompatebel untuk masyarakat majemuk.

Keempat, meskipun tidak mencampuri dalam sistem politik, agama berpeluang untuk terlibat dalam deregulasi publik. Misalnya kasus pelarangan burka, yang justru malah menjadi isu publik

Kelima, agama di tantang lebih kosmopolitan, moderat dan menghargai HAM.

Keenam, agama makin tertantang menjadi bentuk agama baru (esoterisme, gerakan-gerakan new age, Kristelam (Kristen-Islam )

Dr. Budi pada akhirnya mengakui, apakah pola-pola pemetaan ini bisa membantu memahami relasi bentuk agama dan politik di Indonesia. Uniknya di Indonesia, agama sudah lama menjadi elemen membangun nasionalisme, kebangsaan, dan kemajemukan. Sehingga membicarakan sekulerisme di Indonesia seolah seperti membawa problem Eropa ke Indonesia. Tapi yang jelas, ditekankan Budi-kearifan Post sekularisme yang terjadi di Eropa bisa kita pelajari untuk membangun di Indonesia- apakah itu bernama Pancasila atau Islam Nusantara, atau kerukunan umat beragama.

Ammar Fauzi, Ph.D
Pembicara kedua, Ammar Fauzi, Ph.D, melihat dari sisi prespektif Islam dalam melihat sekulerisme sejauh yang bisa dipahaminya. Dikatakanya, agama itu sendiri sudah rumit, apalagi jika direlasikan dengan post sekularisme, tapi Dr. Budi membantu kita.

Apakah mungkin melihat relasi agama (Islam) dan Sekulerisme. Mengingat dalam Filsafat Agama sendiri-terdapat lebih dari 100 definisi lebih banyak dibandingkan definisi terorisme dimana kita tidak tahu ujungnya sampai dimana. Saya tidak berani menggenarilis semua agama memiliki repon yang sama terhadap sekulerisme. Apakah Islam seperti halnya Kristen mengalami fase, sekulerisme, post sekulerisme bahkan ultra sekulerisme. Saya ragu apakah agama Islam yang saya alami mengalami fase tersebut.

Berkenaan dengan Sekulerisme, Ammar mengutip dalam buku Leviathan, bab 2 dan 3 karya Thomas Hobbes-abad 17. Terdapat tiga pola bentuk agama dan politik.

Pertama, satu bentuk menformalisasi kebijakan-kebijakan pemerintah, yakni agen agamawan menjadi aktor meformalkan kebijakan publik. Sebagai contoh di Indonesia, MUI memiliki otoritas legalisasi halal/haram baik produk dari dalam dan luar, sedang pemerintah tidak campur tangan. Terlepas dari aspek baik atau buruknya.

Kedua, menempatkan agama sebagai alat, misalnya untuk menanamkan patriotisme. Biasanya pemerintah menggandeng ulama, padahal dalam konstitusi tidak ada.

Ketiga, aspek hermeneutik agama, yaitu demokratisasi teks. Siapapun bisa menafsirkan teks sehingga akan timbul banyak penafsiran. Sebagai contoh, penafsiran surat Al-Maidah, bahkan di luar orang Islam bisa menafsirkan.

Menurut Ammar, agama tidak hanya memiliki dimensi teori tapi juga pengalaman. Islam menekankan adanya pengetahuan sebelum beriman. Sedang Kristen beriman dulu baru mengetahui. Oleh karena itu jangkauan relasi agama dan sekulerisme tergantung definisi kita agama itu apa?. Sebagai ilustrasi, Ammar memberi contoh bagaimana Driyarkarya sangat tepat menerjemahkan kata “being” di antara ada, adaan, eksistensi dan pengada, maka yang dipilih pengada. Terjemahan “Pengada” mengandaikan pre pengetahuan serta pengalaman mengalami ada atau being (existence) sebagaimana tafsir Heidegger.

Begitu juga bila kita menerjemahkan suatu agama. Akan lebih tepat dan dekat bila dipakai kata “pengagama”, agar agama yang kita bicarakan sedekat mungkin dengan pengalaman kita. Agama tidak berubah, selama kita tidak terlibat aktif. Dalam Islam, ada quran natiq (bicara), ada quran somiq (diam). Jika merujuk pada pola ketiga Hobbes, maka masing-masing individu memilik hujjah (argumen) bagi diri sendiri dalam menafsirkan agama-sehingga bahanya terjadi chaos, karena semua berhak, sederajat bisa menafsirkan.

Ammar berpendapat, Islam tidak masuk dalam post sekularisme karena Islam itu sendiri tidak tertampung dalam sekularisme. Dalam sebuah hadis yang cukup terkenal “Dunia ini adalah ladang akherat”. Dalam pengertian agama, didefinisikan sebagai mazra’ah (ladang) untuk akherat. Ladang tidak terpisah dari hidup kita, kalau ada ladang yang terpisah, maka itu bukan ladang. Maka kapan saja satu ladang untuk diri kita sendiri, maka dunia ini adalah menjadi bagian dari hidup kita sendiri.

Ammar juga melihat pertikaian Sosialisme dan Kapitalisme dikarenakan sempitnya definisi dunia. Keduanya menganggap kehidupan hanya di dunia ini saja. Energi alam sama-sama dianggap sebagai sumber terbatas. Hanya cara memperlakukan saja yang berbeda. Kalau Sosialisme menganggap, bagaimana benih padi dalam satu piring bisa kebagian semua. Sedang Kapitalisme menganggap, siapa yang kuat dia yang menang. Kata Henry Kessinger, Timur Tengah sebagai jantungnya dunia, ini membuktikan pandangan dunia yang terbatas (dalam konteks potensi). Padahal sebenarnya dunia ini tidak terbatas. Sebagai contoh, kalau dikembangkan energi nuklir saja, justru makin tidak terbatas-kuncinya ada di SDM.

Oleh karenanya, terdapat hubungan dunia dan akherat, kita harus mengoptimalkan; kalau sekuler diartikan berarti zaman maka seorang muslim harus paling sekuler, karena paling berusaha mengoptimalkann dunia ini. Alam ini sebagai manifestasi Tuhan, sejarah bagai cermin. Seperti kata Iqbal, sejarah adalah bagaimana melihat rangkaian peristiwa ini, untuk memprediksi masa depan. Sejarah adalah obor masa depan.

Oleh karenanya Islam tidak terdefinisikan dalam post sekularisme. Bahkan menurut Herbert Marcuse, sekulerisme dapat menanamkan absolutisme

Selanjutnya, Ammar mengajak mengingat kembali ajaran Socrates, kenali diri kita. Akan tetapi seringkali terjadi paradoks, antara iman dan ilmu. Dengan demikian, “diri” dibagi dua, “diri” kita pribadi dan “diri sosial” yang dapat mengantarkan pada Tuhan.

Kemudian terakhir Ammar memberi makna positif sekulerisme sebagai alat dan tahap penyempurnaan diri manusia. Ijtihad diperlukan bagi manusia untuk bisa menyeberang fakta, berita, ruang dan waktu sehingga bisa mengambil pelajaran. Di dalamnya terjadi dialektika antara yang profan dan sakral, sekuler dan religius, absolut dan relatif, yang tetap dan berubah, rekonstruksi dan dekonstruksi.

Oleh karenanya, menurut Ammar, orang banyak salah paham mengenai Islam. Padahal Islam itu datang untuk melengkapi, menyempurnakan apa yang sudah ada; Ada hukum ta’sisi (penetapan hukum baru) dan imdha’i (pengesahan hukum yang sudah ada) tujuan Islam adalah mendapatkan hidayah. Sehingga relasi Islam dengan agama yang lain sangat indah, seperti kata Imam Ali kepada Malik Astar yang di kutip PBB, “ Perlakukan rakyatmu sebagaimana saudaramu seiman atau jika bukan Islam, saudara satuciptaan”.

Sebagai penutup Ammar memberi penekanan kembali bahwa sekulerisme harus dibaca dengan Islam bukan sebaliknya, sehingga sekulerisme adalah alat menuju penyempurnaan- baik “diri” individu dan sosial. Ammar tidak setuju sekulerisme sebagai pandangan hidup mendekte dan menafsirkan agama secara absolut, justru sekulerisme harus dibaca dengan Islam, karena Islam jangakauan cakrawala sebagai pandangan hidup lebih luas daripada sekulerisme. (ma’ruf)

 

FTP; Aspek Kuantitatif dan Kualitatif Matematika

FTP; Aspek Kuantitatif dan Kualitatif Matematika

Matematika. Sebuah disiplin ilmu yang telah berumur ribuah tahun. Telah dibahas mulai dari Pythtagoras dan para Filsuf India klasik, diteruskan oleh ilmuan muslim abad keemasan. Kemudian masuk zaman modern diantarkan secara sempurna oleh Decartes dan Immanuel Kant. Masalahpun timbul, mulai dari pergeseran aspek kualitatif Matematika zaman klasik kemudian perkembangan teknis (teknologi) menjadikan Matematika makin kuantitatif, seiring dengan penurunan dan penghilangan aspek ketuhanan dan kemanusiaan.

Debatpun kemudian muncul-benarkah krisis ketuhanan dan kemanusiaan selalu menjurus pada problem dan menyalahkan aspek kuantifikasi sebuah ilmu, sedangkan pada saat yang sama penemuan status kualitas Matematika menjadi tak terelakan dan serba menggantung. Benarkan maudu’ matematika, “kam”yang mengacu pada aspek kuantitatas bisa sekaligus memiliki aspek kualitas. Jikapun terdapat “kualitas” dimanakah letaknya; dalam ilmu Matematika, atau orang yang sedang bermatematika. Lalu apa manfaatnya membicarakan debat tersebut, bukankah aspek manfaat praktis ilmu terkadang lebih penting daripada mencari status epistemologi dan ontologi sebuah ilmu. Jawabanpun beragam, mulai dari pengembalian pada rigisitas ilmu (maudu’, masail, mabadi), Filsafat Matematika, relevansi dengan Filsafat Wujud dan aspek kemanfaatan yang ditarik dari maad.          

Riset STFI Sadra, mencoba mencari jawaban debat tersebut dengan menggelar Forum Temu Pakar (FTP) dengan mengundang para peneliti matematika; Dr. Teguh dan Ayu, SA.g, ditemani empat perespon sekaligus, Dr. Benny, Cipta, BG, Dr. Abocci dan Ammar Fauzi, Ph.D. Berikut rekaman jalanya diskusi, dipandu oleh moderator-Della.

 Dr. Teguh Slamet Wahyudi

Teguh Slamet Wahyudi, beberapa bulan lalu telah berhasil memperoleh gelar doktor pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam Bidang Agama dan Sains. Disertasinya berjudul; “Dimensi Kemanusiaan dan Ketuhanan dalam Matematika Al-Khawarizmi dan Matematika Modern” dengan promotor: Prof. Dr. Suwito, MA dan Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. Dr. Teguh memperoleh gelar master di  STFI Sadra juga mengangkat tema tentang Matematika Khawarizwi.

Kamis 08/09/2017 atas undangan Riset STFI Sadra menjadi salah nara sumber dalam program Forum Temu Pakar (FTP) menyampaikan hasil disertasinya.

Dr. Teguh berhasil membuktikan bahwa matematika mengajarkan kesederhanaan dalam kontek dimensi kemanusiaan dan ketuhanan.

Dimensi kemanusiaan terdiri dari: a. aspek matematika dan sejarah, b. Aspek matematika dan estetika, c.aspek matematika dan bahasa. Sedang dimensi Ketuhanan terdiri dari: a.aspek ketakberhinggaan dalam matematika,   dan teologi,  b.aspek religiusitas dalam matematika

Menurut Dr. Teguh, terdapat tiga faktor utama yang melatarbelakangi pengangkatan tema disertasinya. Yaitu, sejarah, pemikiran dan kelembagaan.

Aspek Sejarah

Dr. Teguh mengatakan dari sisi sejarah,  Auguste Comte (pelopor positivisme) mengatakan sejarah pengetahuan berkembang melalui tiga tahap, yaitu (1) Tahap teologis, (2) Tahap metafisis, dan (3) Tahap positif (sains). Menurut klasifikasi ilmu Comte: matematika  merupakan disiplin paling abstrak dibandingkan dengan  fisika, kimia, biologi, dan sosiologi. Secara positivis, matematika telah dijadikan alat untuk mengukur suatu besaran; sebagai model metode ilmiah bagi ilmu-ilmu lainnya (alat bagi sains). Bagi Comte, tanpa ilmu pasti/the science of number, yaitu matematika yang bersifat deduktif dan atau statistika yang bersifat induktif, sains akan kembali menjadi metafisika. Dengan kata lain, matematika cenderung bersifat kuantitatif.

Dapat disebut simpulkan, pemikiran Auguste Comte tentang sejarah pengetahuan mengindikasi keterpisahan agama, metafisika, dan sains.

Aspek Pemikiran

Sedangkan dari aspek pemikiran, keterpisahan sains dari teologi dan metafisika ternyata dapat diintegrasikan. Hal ini dapat ditemukan pada sains yang dikembangkan oleh ilmuwan Muslim. Contohnya pada matematika al-Khawārizmī, dengan karyanya Al-Jabr wa al-Muqābalah.

Paradigma tauhid dalam Islam merupakan dasar integrasi pada sains, termasuk matematika. Dalam tauhid terkandung makna kesatuan (unitas), keterpaduan, dan kesalingeratan. Sedangkan dimensi kualitatif matematika dalam Islam, diantaranya adalah peran strategis matematika dalam meningkatkan potensi manusia berupa etos (sikap, semangat, dan mentalitas). Etos itu diantaranya, kejujuran, ketekunan, kedisiplinan, dan kesederhanaan.

Aspek Kelembagaan

Melalui lembaga pendidikan, matematika dapat dipelajari secara sistematis dalam rangka meningkatkan potensi manusia yang terwujud berupa etos (sikap, semangat, dan mentalitas). Ide ini dapat ditemukan pada pemikiran Ibn Miskawaih dalam Tahdhīb al-Akhlāq. Selain itu, dapat dikembangkan dari matematika al-Khawārizmī, terutama karya  Al-Jabr wa al-Muqābalah.

Pengkajian matematika dalam lembaga pendidikan ini, tidak dapat terlepas dari aspek kualitatif matematika, yaitu dimensi kemanusiaan dan dimensi ketuhanan.

Salah satu etos, yaitu kesederhanaan dapat ditumbuhkan kepada orang yang mempelajari matematika. Pemahaman bahwa matematika mengajarkan kesederhanaan dapat dianalisis secara hermeneutika-fenomenologis dari  dimensi kemanusiaan dan ketuhanan dalam matematika al-Khawārizmī dan matematika modern.

Kesimpulan ini menurut  Dr. Teguh ini dikuatkan pernyataan oleh beberapa tokoh dalam dan luar negri.Diantaranya Husain Heriyanto (2011) yang menyatakan bahwa matematika dalam peradaban Islam berguna sebagai sarana penyempurnaan potensi-potensi manusia yang tercermin pada semangat, sikap, dan mentalitas manusia. Seyyed Hossein Nasr (1989) yang menyatakan bahwa matematika dan sains berkaitan dengan aspek kualitatif, yaitu spiritual dalam bingkai Scientia Sacra. Mehdi Golshani (2003) yang menyatakan bahwa sains termasuk matematika dapat menjadi cara dalam memahami Tuhan sekaligus berperan dalam pengembangan masyarakat Islam. Teun Koetsier dan Luc Bergmans (2005), yang menyatakan bahwa pada dasarnya matematika memiliki dimensi ketuhanan.

Dr. Teguh menfokuskan penelitianya pada sumber utama: Al-Kitāb al-Mukhtaṣar fī Ḥisāb al-Jabr wa al-Muqābalah karya al-Khawārizmī  dan buku Liber Abaci karya Leonardo Fibonacci. (Dilakukan kritik eksternal dan internal). Sedangkan pendekatan penelitian: Historis, Teologis, dan Fenomenologis.

Metode penelitianya dengan cara: studi perbandingan, menganalisis persamaan dan perbedaan dimensi kemanusiaan dan ketuhanan antara matematika al-Khawārizmī dan matematika modern. Sedangkan metode hermeneutika-fenomenologis Paul Ricoeur  digunakan dalam menafsirkan data-data untuk mendapatkan kesimpulan penelitian.

Dari penelitianya, Dr Teguh menemukan beberapa hal; Pertama, konteks dimensi kemanusiaan dalam matematika al-Khawārizmī dan matematika modern, meliputi aspek sejarah, estetika, dan bahasa. Aspek sejarah yaitu menjelaskan bahwa terjadi proses penyederhanaan ide-ide matematika, yaitu aljabar. Hal tersebut ditempuh melalui 3 tahap, yaitu retorik (the rhetorical stage) berupa ungkapan pernyataan kalimat sehari-hari, sinkopasi/penyingkatan (the syncopated stage) berupa penggunaan singkatan-singkatan, dan simbolisasi (the symbolic stage) berupa ekspresi ide-ide matematika melalui simbol-simbol abstrak.

Aspek estetika mencerminkan kesederhanaan yang terdapat dalam matematika ditinjau dari prinsip keseimbangan dalam aljabar (al-jabr dan al-muqābalah). Prinsip ini digunakan untuk mencari nilai variabel yang memenuhi suatu persamaan, yang berlaku pula pada matematika modern.

 Aspek bahasa mengungkapkan bahwa matematika merupakan bahasa komunikasi yang berlaku secara universal, karena simbol-simbol yang dipahami oleh para matematikawan merupakan hasil kesepakatan secara internasional. Simbol-simbol digunakan untuk menyederhanakan suatu pernyataan yang biasa diungkapkan dalam bahasa sehari-hari. Penyederhanaan dalam bahasa matematika itu berupa nilai (values), sesuatu yang belum diketahui (variables), fungsi (functions), dan ekspresi (expressions). Bahasa matematika tidak mengandung unsur emosi maupun afeksi sehingga memudahkan proses pembuktian, penurunan rumus-rumus matematika, dan penyelesaian persoalan kontekstual.

Perbedaan matematika al-Khawārizmī dan matematika modern dalam konteks dimensi kemanusiaan adalah ditinjau dari paradigma pengembangan matematika. Al-Khawārizmī mengembangkan matematika berdasarkan paradigma tauhid, sedangkan matematika dikembangkan berdasarkan paradigma matematika sebagai ratu dan pelayan bagi sains. Tauhid ini dapat bermakna kesatuan, kesalingeratan, juga keterpaduan. Paradigma tauhid dalam matematika al-Khawārizmī menunjukkan adanya integrasi antara aspek-aspek kehidupan seorang Muslim dengan agama.

Ayu, S.Ag

Pembicara kedua, Ayu, S.Ag, lulusan S1 STFI Sadra mempresentasikan  makalahnya berjudul “Renungan Spirit Bilangan Matematika Ihwan Al-Safa.” Dari hasil penelitianya, Ayu menarik beberapa kesimpulan dari tiga rumusan masalah yaitu teori bilangan menurut Ikhwān al-Ṣafā’, teori kosmologi menurut Ikhwān al-Ṣafā’, dan harmonisasi teori bilangan dan teori kosmologi. Beberapa poin dapat disimpulkan:

  1. Pemikiran Ikhwān al-Ṣafā’, khususnya pemikiran tentang bilangan dan kosmologi dipengaruhi oleh Pythagoras dan Neoplatonisme. Doktrin bilangan dan karakteristik bilangan yang dapat menjelaskan keseluruhan penciptaan, struktur alam, fenomena material, dan fenomena spiritual dipengaruhi oleh Pythagoras. Sedangkan dalam pemikiran hierarki emanasi yang diawali dari Pencipta, kemudian ke Akal Universal, kemudian ke Jiwa Universal dan Materi Pertama dipengaruhi oleh Neoplatonisme.
  2. Teori bilangan Ikhwān al-Ṣafā’ berada dalam lingkup ilmu matematika dalam kategori ilmu filsafat, yang merupakan ilmu terpenting dan tertinggi menurut Ikhwān al-Ṣafā’. Teori bilangan menjadi basis dari seluruh pemikiran Ikhwān al-Ṣafā’, sehingga teori bilangan menempati risalah pertama. Bilangan dibagi ke dalam bilangan bulat, pecahan, ganjil, dan genap. Setiap bilangan memiliki keunikan masing-masing, antara lain bilangan 1 memiliki keunikan khusus yang menjadi sumber dan asal usul seluruh bilangan setelahnya. Bilangan 1 tidak terbagi dan tidak memiliki bagian. Bilangan 2 memiliki keunikan genap dan menjadi awal dari pluralitas bilangan. Bilangan 3 memiliki keunikan menjadi bilangan ganjil pertama dan penyebab dari bilangan genap dan ganjil secara berselang seling. Bilangan 3 didapat dari hasil pertambahan antara bilangan 1 dan 2. Bilangan 4 yang merupakan bilangan kuadrat pertama, memiliki keunikan khusus, yaitu ilustrasi dari realitas alam yang berjumlah 4. Bilangan 4 adalah hasil penjumlahan dari bilangan 1 dan 3.
  3. Kosmologi Ikhwān al-Ṣafā’ dalam kitabnya mengkaji tentang alam yang di dalamnya mengkaji tentang segala aspek fisik maupun spiritual di alam. Alam adalah keseluruhan maujud, baik wujud spiritual di alam transenden maupun wujud fisik atau material yang mendiami seluruh alam atas dan alam bawah. Semuanya membentuk sebuah sistem kesatuan yang saling meliputi. Alam diibaratkan sebagai manusia besar yang memiliki akal partikular, jiwa partikular, dan badan material. Manusia pun diibaratkan sebagai alam kecil yang berisi kumpulan aspek spiritual berupa akal aktif universal, jiwa universal, dan materi pertama. Ketiganya membentuk sebuah sistem kesatuan yang saling terkait. Dalam kosmologi, khususnya membahas teori emanasi Ikhwān al-Ṣafā’, dimana penciptaan alam dimulai dari Tuhan, kemudian Akal Aktif Universal, Jiwa Universal, Materi Pertama, Materi Universal, dan seluruh maujud-maujud yang terdiri dari materi dan bentuk secara berangsur-angsur.
  4. Teori bilangan sangat berkorelasi erat dengan teori kosmologi Ikhwān al-Ṣafā’. Teori bilangan berhubungan dengan hierarki wujud dalam teori penciptaan. Penciptaan alam keseluruhan dari Tuhan dihubungkan dengan munculnya keseluruhan bilangan dari 1. Sehingga bilangan menjadi dasar hikmah dari tauhid keesaan Tuhan. Misalnya munculnya bilangan 2 dari pengulangan bilangan 1 sebagaimana penciptaan Akal Aktif Universal dari Tuhan. Bilangan 3 munculnya dari 1 dan 2 sebagaimana Jiwa Universal munculnya dari Tuhan dan Akal Aktif Universal. Bilangan 4 munculnya dari 1 dan 3 sebagaimana penciptaan Materi Pertama dari Tuhan dan Jiwa Universal. Tuhan menciptakan pluralitas maujud alam secara bergradasi sebagaimana munculnya pluralitas bilangan secara bergradasi dari pertambahan 1 secara terus menerus. Bilangan memiliki pola interelasi dan interdependensi antar satu dan yang lain. Pola ini menjadikan bilangan-bilangan berhubungan secara harmonis. Pola ini menjadikan seluruh maujud atau elemen alam berhubungan secara harmonis. Satu saja bilangan rusak, maka akan merusak pola seluruh bilangan yang lain. Begitu juga dengan alam, satu maujud atau elemen rusak, maka akan merusak seluruh sistem alam.

 Penanggap

Dr. Beny Susilo

Dr. Beny menanggapi presentasi dari Ayu dan Teguh mengatakan bahwa, matematika subjek matternya adalah “kam”, bersifat kuantitas yang berasal dari aksiden. Kalau ada orang bilang, “kualitas matematika”, pertanyaanya apakah berasal dari dari dalam matematika atau di luar matematika. Kalau dari “dalam matematika” dari arah mana masuk-kualitas ke dalam kuantitas. Ini pertanyaan besar?. Kalau berasal dari  luar, siapa yang memasukkanya?, apakah ilmu itu sendiri atau orang  yang  berilmu memasukkanya. Kalau datang dari luar, kita katakan itu adalah aksiden yang bersifat asing. Inilah problem utama persoalan integrasi atau Islamisasi ilmu.

Dr. Beny lebih condong melihat, kualitas berasal dari orang yang bermatematika yang memasukkan dari luar, dimana orang yang bermatematika tersebut mempunyai pemahaman tertentu tentang  Tuhan maupun manusia. Berkenaan dengan  berelasi dengan Tuhan, akal aktif, jiwa universal dari Ikhwān al-Ṣafā’, pertanyaanya, apakah itu iktibar akal kita atau bukan?.

Sedang “angka” adalah permisalan saja, seperti ditulis oleh Ikhwān al-Ṣafā’ “Mazhab kami ini, saudara-saudara, memikirkan seluruh yang maujudad, baik jauhar maupun arrad, mudorrobat sampai illat mereka, yaitu Allah Azza Wajala, dan kami menjelaskan tersebut dengan permisalan yang bersifat “bilangan”. Juga pembuktian secara geometris seperti yang dilakukan para hukama, Pythagoras.

Jadi ditekankan Dr. Beny sekali lagi, kalau dikatakan Matematika mempunyai kualitas ketuhanan dan kemanusiaan maka bagi yang sudah terlanjur kaku seperti saya (subjek matter Matematika; “kam”-kuantitas) sulit sekali diterima, kecuali dimasukaan dari luar (orang yang bermatematika) yang mempunyai pandangan tauhid dan antropologi tertentu.

Isarat lain, oleh Ikhwān al-Ṣafā’ dikatakan,”tujuan belajar ilmu awalnya mencintai ilmu, setelahnya mengenal, dan terakhir mengamalakan sesuai ilmu tersebut” akan tetapi ini tujuan orang yang belajar ilmu, bukan tujuan ilmu itu sendiri.

Mana lebih dulu, fisika (konkrit) atau matematika yang secara materi ditanggalkan, akan tetapi secara “definisi” masih tertinggal- dari abstraksi secara imajinal (tajarud) kemudian naik ke illahiyat (metafisika). Jadi untuk sampai pada proses dapat melihat  “illat dan maklul”, maka “illat” dalam pedagogi, anak dididik seyognyanya dari fisika menuju matematika kemudian metafisika. Jadi tidak bisa memahami keadilan Tuhan dari benda materi (fisika). Kalau dipaksakan melihat fisika sebagai akibat- kemudian loncat pada sebab (illahiyat) tanpa melalui matematika,maka illat dan maklul tidak bisa ditangkap secara sempurna.

Olehkarenanya seyognya satu disiplin ilmu meggunakan prinsip ilmu itu sendiri untuk melihat dengan jalan (metode) demonstrasi (burhan),” sesuatu bisa diketahui dari sebab itu sendiri- berawal dari sebab menuju akibat-dan tidak bisa melihat dengan menggunakan prinsip disiplin ilmu yang lain. Olehkarena dalam pendidikan anak, karena sudah teralanjur benda-benda di sekelilingnya sudah ada, maka kita mulai mengenalkan dan mengajarkan benda  (jism/fisika/inderawi), yang pada dasarnya berasal dari suatu sebab (illahiyat). Dimana sebenarnya bukan benda itu sendiri yang kita pegang akan tetapi arradnya (aksidenya). Dari “arrad” naik ke level (imajinal) Matematika kemudian menuju Metafsika.

Jika melihat ilmu dari  antar disiplin ilmu (integrasi) maka melihat dari arradnya-kualitas integrasi datang dari luar (orang yang memakai ilmu dengan wawasan tertentu). Jika kita mengajarkan anak dari matematika dulu, maka kita mengajarkan seolah matematika itu jism padahal yang kita ajarkan aksiden-aksiden dari jism tersebut. Sehingga agar terjadi integrasi ilmu pada anak didik, maka membutuhkan peta ilmu yang diarsiteki oleh filsafat, untuk dipahamkan pada anak didik.  Ilmu sebagai ilmu bersifat (rigit) adalah mandiri dalam metodenya, sedang filsafat memberi peta.

Cipta, BG MA

Persoalanan integrasi dan Matematika menurut Cipta terletak pada apakah “maudu’’ ilmu itu apa harus rijid dan khas atau bisa longgar. Mengutip Seyyed Misbah Yazdi, ilmu sekarang memang sudah sangat terdeferensiasi, tapi yang penting adalah wawasan si alimnya bukan  ilmunya. Disamping itu ada beberapa hal yang perlu dicatat.

Pertama, sebuah ilmu katakanlah matematika ketika dilempar ke komunitas matematikawan, maka matematika bukan milik individu lagi, tetapi sudah menjadi komunitas matematikan. Olehkarenanya fokusnya bukan lagi “subjek matter” Matematika yaitu “kam” tetapi para ilmuan Matematika sebagai pengguna Matematika untuk merumuskan progres epistemologi Matematika.

Kedua, persoalan integrasi ilmu menurut Cipta terlalu cair, kurang kaku, sehingga nomenklatur matematika harus diimbangi dengan pandangan hidup matematikawan itu sendiri. Matematikawan harus memiliki peta integratif ilmu- pada saat yang sama rigit pada maudu’, mabadi dan masailnya. Sehingga perkembangan matematika nampak jelas seperti pengembangan matematika dari klasik menuju modern. Matematika sebagai konstruk pemikiran, yang memilik sifat basith (sederhana) sekaligus komplek. Sehingga perjalanan wawasan tauhid matematikawan terus dalam trek integratif.

Ketiga, pentingnya kita menempatkan diskursus Filsafat Matematika, sehingga capaian dan penemuan modern dari matematika tetap progres, bisa terus dimanfaatkan dengan tanpa menghilangkan aspek integratif dari gugus ilmu.

Dr. Abocci sebagai penanggap ketiga, melihat aspek Matematika sebagai alat latihan untuk menyusun relasi dari aspek kesatuan dan keberagaman. Matematika adalah sesuatu yang bersifat iktibari, di dapat dari intiza’ dimana objek tidak ada diluar, tapi dalam diri subjek.

Ammat Fauzi  Ph.D penanggap keempat menekankan pentingnya peninjauan Matematika baik dari tradisi klasik dan modern kearah yang lebih aplikatif. Ibnu Sina sebagai pioner filsuf muslim generasi ketiga yang menguasai berbagai displin ilmu, terutama Kedokteran dan Matematika menekankan aspek kemanfaatan. Bahwa semua disiplin ilmu termasuk Matematika adalah bertujuan bagi kesempurnaan jiwa secara aktual sehingga dapat membentuk kebahagiaan ukhrowi.

Olehkarena itu aspek eskatologi menjadi bahan yang penting untuk mendefinisikan tujuan dan sisi penting dari urgensi suatu ilmu dipelajari. Sehingga baik Matematika Khawarizmi sebagai generasi pertama, dan Ikhwan Shafa sebagai generasi kedua tidak hanya dilihat dari aspek integrasi. Seolah mengatakan bahwa persoalan penting tidak hanya debat kualitas dan kuantitas Matematika tapi lebih dari itu, yaitu aspek faedahnya. Kita tidak hanya fokus pada menjawab pertanyaan dari mana kita berasal akan tetapi lebih penting lagi untuk apa hidup. Aspek keterbatasan manusia tetap saja membuat Matematika tetap saja berkembang meski kita sudah meninggal. Setidaknya terdapat tiga manfaat; lebih sempurna (ifhadoh), sama dengan dirinya (ifhadah), manfaat yang lebih rendah (riasah)-Ihwan Sahafa.

Diskusi berjalan menarik, berbobot, lancar dan inspiratif selama kurang lebih 3 jam. Diluar ruang, ketika tim Riset STFI Sadra mengkonfirmasi Dr. Beny soal kemungkinan aspek kualitatif dan kuantitatif  Matematika sekaligus dari sisi Irfan seperti yang digambarkan Dr. Seyyed Husain Nasr pada saat menganalisa aspek irfan dari seluruh disiplin ilmu zaman abad keemasan Islam, Dr. Beny menghindar dan mengatakan, perlu diskusi secara terpisah. (ma’ruf)

 

Renungan Spirit Bilangan Matematika Ikhwan Al-Safa

Renungan Spirit Bilangan Matematika Ikhwan Al-Safa

RENUNGAN SPIRIT BILANGAN MATEMATIKA
IKHWĀN AL-ṢAFĀ’
(Pendobrak Materialisme Matematika Modern)
Oleh: Ayu Lestari

Dahulu matematika merupakan ilmu yang sangat agung dan penting, yang merepresentasikan makna ketuhanan, kebijaksanaan, spiritualitas, dan kemanusiaan. Misalnya doktrin bilangan 1 yang menjadi sumber segala bilangan, ini merepresentasikan makna tauhid tentang keesaan Tuhan yang menjadi sumber segala ciptaan. Pola antara bilangan merepresentasikan persatuan dan kesatuan semua maujud di alam semesta. Satu saja bilangan hilang, hancurlah pola seluruh bilangan. (more…)

Free WordPress Themes, Free Android Games