FAP; Debat Demokrasi Sekuler vs Religius Abdolkarim Soroush

FAP; Debat Demokrasi Sekuler vs Religius Abdolkarim Soroush

Salah satu tugas utama sekulerisme adalah memisahkan agama dari politik. Pekerjaan ini relatif  sukses dikerjakan di Barat. Capaian ini berefek pada kemandirian etika, budaya, hukum, bahkan cara berpikir tentang apapun  fokus pada dunia (wordly minded). Kristen sebagai agama yang tumbuh besar di Barat meski berasal dari timur setelah kalah bersaing dengan ilmuan Barat selebihnya menyesuaikan sebagian besar proposal politik yang diajukan sekulerisme. Dampaknya peneguhan agama suci Kristen di turunkan ke Bumi menyesuaikan agenda ruang dan waktu kebutuhan dunia sekuler (profan). Selanjutnya, demokrasi sekuler lambat laun selaras dan di dukung masyarakat sekuler (Kristen).  (more…)

Corona, Sains dan Otentisitas

Corona, Sains dan Otentisitas

                                                                                             Musa Kadzim

SELAMA INI, kita belum pernah mengalami penderitaan dalam waktu yang lama. Sedangkan di tempat lain, mungkin ada negeri yang setiap hari menderita dan malah mati warganya karena penindasan. Kita mendengar peristiwa kemanusiaan itu hanya sebagai berita biasa hanya karena kita tidak pernah mengalaminya.

Meninjau ke belakang, saat PD I dan PD II, Indonesia tidak merasakan dampak langsung karena bukan di wilayah konflik. Saat ada wabah seperti: pes, kolera, TBC, berdampak begitu luas hingga menelan banyak korban mati di banyak negara, Indonesia pun relatif tidak separah yang lain. Tetapi, kini dengan Covid-19, kita mengalami hal yang sama.

Kita jumawa bebas dari wabah; sikap yang harus dibayar mahal. Faktanya, Indonesia tidak cukup kapasitas dalam menangani wabah dengan cara yang profesional dan rasional. Kita tampak tidak begitu beduli saat Corona mulai merambah jiran dengan klaim absurd: negeri kita ada di khatulistiwa, kita makan nasi kucing, dan kita banyak berdoa.

Kita tidak begitu saja bisa menjadikan aspek semata-mata spiritual sebagai landasan kebijakan publik. Perjalanan ruhani itu pengalaman personal, sedangkan membangun masyarakat itu ada ukuran, standar, dan akuntabilitas objektif. Orang yang tidak mengakui pengetahuan tersebut cenderung tidak mau bertanggung jawab.

Mistisisme dan pengalaman spiritual tak bisa dibawa ke ranah sosial karena sifatnya, sekali lagi, personal dan tak bisa diverifikasi asli atau palsunya. Pejabat yang memakai dalih mistik sebenarnya tidak bertanggung jawab. Kalau demikian, dia harus kembalikan dana publik, sebab dunia mistik tak butuh dana publik; cukup baca mantra.

Fenomena ini, di antaranya, akibat dari negara dipersonalisasi menjadi milik elite. Rakyat harus melayani negara, bukan sebaliknya. Saat musibah, rakyat harus turun tangan. Saat aman, uang rakyat dipikirkan. Tidak ada hak rakyat saat #tetapdirumahaja#. Tarif internet justru jadi mahal, sedangkan di negara lain malah cenderung gratis.

Untuk mengaburkan kewajiban negara, rakyat digiring bertindak di luar nalar dan umum. bisa dimengerti bila muncul narasi: kalau kita selamat dari Corona, maka itu pertolongan dari Tuhan karena kasih sayang-Nya. Kita seperti bayi yang sering kali selamat entah bagaimana dalam banyak bencana saat semua orang dewasa tewas.

Seharusnya pandemi Corona memberi kita, individu dan negara, banyak pelajaran. Biasanya, banyak orang tak mau belajar karena memang melelahkan sehingga butuh kesabaran dan menyakitkan sehingga butuh kesungguhan. Tapi wabah ini memaksa kita harus dan harus belajar. Apa pelajaran terpentingnya? Otentisitas!

Kata Ali Syariati, ada tiga kondisi orang menjadi diri sendiri: saat menderita, saat sakit, dan saat menghadapi kematian. Dalam tiga kondisi ini, siapa diri kita yang sesungguhnya akan terungkap. Kita tak bisa pasang topeng lagi. Tak juga ada klaim, sebab segalanya menjadi terbuka.

Krisis Covid-19 memperlihatkan perilaku hidup kita yang sebenarnya. Contoh, Uni Eropa yang dikatakan solid ternyata tidak mau saling bantu untuk atasi Corona. Bahkan, kini mereka saling berebut masker dengan Amerika dengan cara yang tidak terbayangkan di kondisi damai.

Dalam tradisi tasawuf, kita dianjurkan meluangkan waktu untuk khalwat, isolasi diri. Tujuannya agar kita menjadi otentik, menjadi diri kita sendiri. Kejujuran lebih penting dari kenikmatan yang menipu. Itu yang kita butuhkan saat ini. Musibah itu pintu menapaki perjalanan menuju Allah tanpa batas.

Dalam pandangan Filsafat Hikmah, tak ada segala sesuatu yg buruk. Covid-19 mengajarkan banyak hal kepada kita, juga membuka siapa kita. Nah, bagaimana kita manfaatkan momentum ini? Jangan sampai kita seperti bayi yg tak dapat pelajaran apa-apa dari wabah ini; terjadi begitu saja di depan mata tanpa daya.

Perlu juga diingat kembali bahwa selama 1000 tahun terakhir, yang berjaya mempengaruhi kehidupan manusia adalah sains karena kompetensinya memenuhi kebutuhan dasar manusia. Bahkan agamawan pun belakangan mematuhi sains, seperti tidak merokok dan tidak poligami, padahal menurut agama boleh. Maka, perlu keseimbangan antara ruhani dan jasmani, antara agama dan sains, antara personal dan sosial–(ANDITO, 06/04/2020).

Penjajahan Palestina, Aib Kemanusiaan Abad ini

Penjajahan Palestina, Aib Kemanusiaan Abad ini

                                                                                   

Oleh, Darmawan Rasidi, Pengurus Nurwala

“KETIKA ANAK-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka’’, bunyi potongann bait puisi Taufik Ismali yang berjudul ‘’Palestina Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu’’. Inilah gambaran derita Palestina di bawah penjajahan hingga kini.

Di tengah pusaran informasi yang berlalu begitu cepat, real time, setiap orang di belahan dunia mana pun, bisa menyaksikan kejadian- kejadian yang menimpa Palestina. Tindakan kasar  tentara-tentara Israel terhadap warga Palestina; seharusnya dengan atau tanpa bait menohok Taufik Ismail, video- video  dan informasi yang beredar, bisa menyentak nurani terdalam warga dunia. Sayangnya, seperti dipandang angin lalu, kejahatan kemanusiaan  yang bertubi-tubi mendera warga Palestina, terus saja terjadi.

Ada yang bersimpati bahkan berempati, ada juga yang berdemo di negara masing-masing. Tetapi, seruan dan dukungan warga dunia tak ada artinya, tanpa didukung langkah- langkah politik luar negeri dari negara mereka. Mungkin iya, banyak negara yang sudah melancarkan seruan kedamaian dan penghentian penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina, lewat Perserikatan Bangsa-bangsa. Tetapi, realitas yang ada, Israel tetap kokoh dan tidak bergeming.

Di mana ihwal kemanusiaan yang selalu dilantangkan? Hak asasi manusia yang dielu-elukan untuk menopang kedamaian manusia. Hak untuk hidup, bependidikan, berpendapat, berpikir, dan lain- lain, dibungkam apa mulut warga dunia? Tertutup apa mata warga dunia? Dikotori apa nurani warga dunia?  Sebegitu dahsyatkah bala tentara zionis menebar ramuan kebisuan, kebutaan dan kekerasan hati.

Lalu, muncul juga anggapan bahwa permasalahan Palestina  dianggap konflik agama. Padahal apa yang menimpa Palestina sangat jelas,  ini realitas kebiadaban terhadap kemanusiaan. Tidak perlu menjadi negara Muslim atau _muallaf_ dulu untuk mendukung kemerdekaan Palestina, cukup memahami diri yang juga butuh dihormati nilai-nilai kemanusiaannya. Bukankah, setiap agama menjunjung kemanusiaan? Bahkan  orang yang tidak beragama pun menjunjung kemanusiaan!

Sejarah Keterjajahan Palestina
Menelisik sejarah awal, kronologis kejadian yang akhirnya menjadikan Palestina terjajah, adalah hasil keputusan konvensi yang dilakukan para zionis. Keinginan mendirikan sebuah tanah air atau negara untuk warga Yahudi. Awalnya memilih Uganda sebagai lokasi pendirian _homeland_ itu. Namun, setelah kematian tokoh  berpengaruh Yahudi, Theodor Herz (1860- 1904), lalu diadakan konvensi ulang, terpilihlah Palestina, tanah yang dalam doktrin agama Yahudi, adalah tanah yang dijanjikan Tuhan.

Keluasan langkah untuk menjadikan tanah Palestina sebagai negara, semakin besar, setelah Daulah Islamiyah, Turki Utsmani, akhirnya kalah melawan Inggris dan para sekutunya. Palestina yang berada di bawah Daulah Islamiyah Turki Utsmani, masuk kepada daerah taklukan, berdasar kebijakan, bahwa daerah yang berada dalam payung Turki Utsmani, juga dikuasai Inggris dan sekutunya. Hal ini memuluskan Israel untuk mendirikan tanah air mereka di Palestina.

Gerak mudah tangan  Israel  untuk mendirikan negara di tanah Palestina diakibatkan Deklarasi  Balfour pada 2 Nopember 1917, yang berisi pernyataan publik otoritas Britania Raya terkait dukungannya untuk pendirian tanah air bagi Yahudi di Palestina. Kronologis kejadian demi kejadian pun berlanjut, yang terpopuler peristiwa perang antara Arab dan Israel pada tahun 1948. Pada perang ini, negara- negara Arab kalah oleh Israel, demikian tahun 1948 menandai kemenangan dan kemerdekaan Israel, dan dimulainya jeritan penjajahan bagi warga Palestina, bahkan Arab yang juga harus dicaplok daerahnya.  Tahun 1948, awal mula caplokan demi caplokan tanah Palestina berada di bawah kekuasaan Israel. Wilayah Palestina yang awalnya besar, dari masa-masa, hingga saat ini semakin mengecil.

Langkah diplomatis dan negosiasi sudah sangat sering dilakukan, perjanjian demi perjanjian dicatat dengan baik oleh dunia. Ada perjanjian Perjanjian Madrid  (1991), Perjanjian Oslo I (1993), Kesepakatan Kairo (1994), Perjanjian Oslo II, Perjanjian  Hebron 1997, Memorandum Wye River (1998), dan langkah- langkah diplomatis negara yang peduli dengan Palestina di kancah dunia sudah sangat sering. Namun, tetap tidak bergeming. Lebih parahnya dengan keputusan Amerika di bawah pemerintah Donald Trump yang  mendukung pendudukan Yerusallem sebagai ibu kota Israel, dan lokasi kedutaan Amerika, menambah pilu warga Palestina. Anggapan yang muncul, Amerika seperti mendukung keterjajahan Palestina oleh Israel.

Sejarah mencatat dengan baik kumpulan- kumpulan kronologis langkah dan sikap negara-negara pendukung Israel, dan penolak penjajahan Israel. Kecanggihan teknologi membawa warga dunia bisa merasakan penderitaan keterjajahan warga Palestina. Jika ditarik pada kasus Indonesia, kurang lebih, derita keterjajahan, sama dengan apa yang dirasakan Palestina kini. Secara substantif sama, meski secara teknis, peralatan penjajahan, dan informasi terhadap warga dunia lebih canggih zaman ini. Namun, penjajahan tetaplah penjajahan, aib kemanusiaan yang sangat keji.

Sikap Lantang Indonesia
Indonesia sebagai bangsa yang pernah terjajah, kokoh untuk berada di garda terdepan penentang penjajahan terhadap negara mana pun. Sebagaimana yang telah tertuang pada pembukaan UUD 1945, “Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri- kemanusiaan dan peri- keadilan.”

Terkait hal ini, langkah- langkah perjuangan kemerdekaan Palestina pun terus dilakukan Indonesia. Publik Indonesia selalu memberikan bantuannya untuk warga Palestina. Indonesia selalu lantang meneriakkan kemerdekaan Palestina di PBB. Hal ini dilakukan Indonesia bukan hanya karena pernah merasakan pahitnya keterjajahan, tapi sebuah konsistensi dari sikap yang tertuang pada pembukaan UUD 1945. Belum lagi, ada kedekatan sejarah, ada keharmonisan yang pernah dibangun Palestina dulu, saat negara-negara lain abai dengan kemerdekaan Indonesia, Palestina malah menjadi salah satu negara awal yang mengakui kemerdekaan Indonesia, bebas dari penjajahan.

Kini, saat Palestina dikekang penjajahan oleh Israel, Indonesia sebagai bangsa yang arif, memiliki sejarah panjang, dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia akan terus lantang meneriakkan kemerdekaan untuk warga Palestina. Warga negara Indonesia akan selalu menyisihkan rezeki, tenaga, untuk membantu kehidupan seluruh warga Palestina.  Teriakan lantang Indonesia akan terus bergema, untuk menghilangkan aib dunia ini.
Apa yang menimpa Palestina bukanlah aib yang dirahasiakan, inilah aib yang tersebar merata dan diketahui oleh penduduk dunia. Anehnya aib ini terjaga sudah berpuluh- puluh tahun. Inilah aib kemanusiaan abad ini. Peristiwa kejadian demi kejadian yang merusak dan  menginjak kemanusiaan. Padahal dunia tengah berada pada masa penghormatan hak asasi manusia.

Negara-negara di dunia selain Indonesia sudah semestinya mengikuti jejak langkah Indonesia. Atas nama kemanusiaan, negara-negara  harus turut serta mendesak dan mengambil langkah tegas terhadap Israel. Gencarkan  kebijakan- kebijakan politik luar negeri setiap negara untuk kebebasan dan kemerdekaan Palestina. Agar tidak ada lagi penjajahan dan kolonialisme yang mencederai nilai- nilai kemanusian.  Demi kedamaian dan ketentraman dunia, seluruh wilayah muka bumi harus disterilkan dari aib-aib kemanusiaan. Sumber: Harian Pelita, Kamis 7 Juni 2018

Free WordPress Themes, Free Android Games