FAP: Mahdiisme dan Tantangan Kontemporer

FAP: Mahdiisme dan Tantangan Kontemporer

Mahdiisme dan Tantangan Kontemporer

Mahdiisme, mesianisme, ratu adil, apokalipstik, armagedon, adalah sederet narasi tentang nasib masa depan manusia dan dunia. Bagaimana semestinya kita bersikap dan merespon jalanya masa depan ?. Informasi mahdiisme menawarkan jawaban “pasti”, awal dan akhir sejarah dunia diciptakan dengan campur tangan Tuhan. Manusia akan menghadapi puncak bencana ketidakadilan global, Tuhan sudah memberi jalan untuk menghirinya. Bagaimana caranya menarasikan isu ini di tengah kaum tak beriman?bagaimana caranya merespon  ketidakadilan global? Farum Antar Pakar (FAP) mengundang seorang penulis tentang Imam Mahdi dari Madagascar, Dr. Zhoulfikar Vasram untuk memberi bahan diskusi dan inspirasi. Selamat menyimak!.

FAP. Kamis, 19/09/2019 STFI Sadra. Setelah cukup lama vakum, akhirnya tim Forum Antar Pakar (FAP)  menemukan gregetnya lagi untuk menggalakkan diskusi tukar pikiran di bulan Muharram. Bulan ini terasa wingit (sakral) untuk dilewatkan begitu saja tanpa even diskusi sebagai bentuk cara menangkap “ngalap” berkah. Sengaja kami menangkah berkah itu dengan membahas tema “Kemahdian dan Keghaiban”.

Mahdisime, Imam Mahdi, Ratu, Mesianisme, adalah aneka ungkapan yang bersumber dari agama langit dan bumi, menunjuk eksisnya isu Mahdiisme.

Tema kemahdian bagi sebagian kaum rasional sekuler dianggap sebagai bentuk ketidakberdayaan irrasional dalam merespon aneka tantangan zaman (ketidakadilan). Bagi kaum rasional religius merupakan bantuan Tuhan yang maha dahsat dalam rangka memperkuat rasional manusia yang sering rapuh, lemot, oleng, kehilangan fokus dalam merespon tantangan zaman.

Kemahdian adalah bimbingan pasti dari Tuhan, sebuah janji Tuhan untuk mengakhiri ketidakadilan dunia ini dengan tatanan penuh keadilan yang dipimpin sosok “person” Imam Mahdi. Olehkarena itu hadirnya sang juru selamat adalah “keniscayaan mekanisme” demi terwujudnya janji Tuhan. Tuhan yang memulai, Tuhan pula yang menunjukan cara mengakhiri narasi dan praktek ketidakadilan dunia. Di puncak keadilan dunia yang dinantikan itu semua harapan para pecinta keadilan bisa terobati.

Meski demikian, isu ini tak luput dari persoalan. Dikarenakan berita ini dari langit, maka aspek “kepercayaan/iman” tidak bisa dihindari, isu mahdiisme biasanya dibahas dalam rumpun teologi. Meski dibangun dengan rasionalitas, sumber mahdiisme adalah mutlak berasal dari Tuhan. Bagaimana dengan kaum yang tidak beriman?.

Bagi kaum beriman yang rasional tentu relatif lebih mudah menerima dibanding kaum rasional dengan iklim sekuler. Dari sinilah timbul tantangan untuk menarasikan isu mahdiisme agar bisa diterima semua kalangan.

Tentang sumber kepastian Imam Mahdi; siapa, dimana, kapan dan bagaimana Imam Mahdi muncul bisa dikatakan cenderung relatif, karena sumber referensi yang beragam.  Namun adanya kepastian kehadiran dan datangnya Imam Mahdi sang juru selamat, semua agama mempercayainya.

Persoalana lainya, bahwa domain pembahasan Imam Mahdi yang dibahas dalam teologi seringkali juga mengalami kesulitan untuk diseberangkan (diperluas) kedalam tema-tema filsafat,  ilmu sosial dan dunia sosial. Akademisi formal jarang (tidak populer) membahas problem sosial (ketidakadilan) dengan sudut pandang mahdisime. Padahal senyatanya,  Mahdiisme adalah jawaban bagi kaum beriman menghadapi problem ketidakadilan global yang tidak berujung pangkal. Hanya energi super iman dan setia pada fitrah rasionalitas, ketidakadilan global itu bisa di sudahi. Karena karakter garis gerak sejarah ketidakadilan mengglobal, maka dibutuhkan iman yang global dan kerangka rasionalitas lintas batas.

Berangkat dari keterangan pendahuluan diatas, maka tim kreatif FAP sengaja mengundang seorang penulis khusus tentang Imam Mahdi berkebangsaan Madagascar untuk menjadi nara sumber utama diskusi. Dia adalah Dr. Zhoulfikar Vasram. Sebagai perespon, tim FAP mengundang intelektual lokal Dr. Nano Warno, dosen Filsafat Islam, STFI Sadra.

Disamping menulis buku, Zhoulfikar  juga salah satu pengajar di Universitas Internasional Al Mustafa Madagaskar, Ketua Asosiasi AIWAH-Madagaskar. Zhoulfikar adalah pria keturunan Gujarat, India, generasi keempat komunitas Kodja yang bermigrasi dari India ke Madagaskar. Lahir di Madagascar dan mengenyam pendidikan master akutansi di Prancis, mengajar dan meneliti kemahdian di beberapa institusi Madagascar.

Secara khusus Zhoulfikar mengadakan perjalanan kunjungan 7 negara (Banglades, Malaysia, Viatnam, Philipina, Thailand, Myanmar dan pada perjalanan terakhir di Indonesia bersedia memenuhi undangan FAP, Riset STFI Sadra.

Zhoulfikar sudah menulis tujuh buku tentang Imam Mahdi, semua dalam bahasa Prancis. Diantaranya yang sudah terbit;  le Rassembleur des Musulmans, Ghaybat-e-asoughra et Ghaybat-e-Khoubra de I’Imam Mahdi, I’Imam actuel!, La Ghaybt de I’lmam Mahdi; facon, raisons et responsabilities!, La reunion du Saqifah; le coup d’etat contre ‘Ali.

Zhoulfikar mengantar diskusi dengan mengatakan, “saya mendapatkan undangan diskusi  FAP ditengah perjalanan pada saat di Viatnam, jadi maklum saya tidak membawa materi buku yang akan dibahas, olehkarena itu pidato saya ini untuk para mahasiswa SI bukan untuk level doktor”.

Siapa Imam Mahdi

Zhoulfikar memberi beberapa poin pendahuluan diskusi. Dikatakanya, hal yang paling penting, atau basic teaching kemahdian dan keghaiban untuk mahasiswa S1 adalah;

Pertama, mengenal sumber kemahdian. Dengan sengaja Zhoulfikar memilih sumber itu dari ahlulbayt, jadi dikatakanya, jika ada pertentangan informasi maka itu berasal dari sumber yang berbeda.

Kedua, harus bisa menjawab pertanyaan, siapa, kapan, dimana,  kapan dan bagaimana Imam Mahdi Muncul.

Siapa itu Imam Mahdi?.

Dia adalaha Muhammad bin Hasan (bahasa Arab: محمد بن الحسن )  terkenal dengan Imam Mahdi, Imam Zaman dan Hujjah ibnu al-Hasan adalah imam Syiah yang kedua belas. Imam Mahdi lahir pada 15 Sya’ban 256 H/870, ada yang menyebut 15 Sya`ban 255 H/29 juli 869 di kota Samarra, Irak utara. Imam Mahdi mendapatkan tampuk imamah, 260 H/873. Lahir seorang ibu bernama Nargis Khatun, berayah bernama Imam Hasan bin Ali al-Askari as.

Memiliki julukan, Mahdi, Qaim, Baqiyatullah, Muntazhar, Hujjat,  Khalaf al-Shaleh, Shahib al-Amr, Shahibuz Zaman, Wali al-Ashr  dan Manshur.

Berdasarkan literatur-literatur Ahlulbayt, kelahiran Imam Zaman terjadi secara tersembunyi dan selain beberapa orang dari sahabat khusus Imam Hasan al-Askari as tidak seorang pun melihat imam kedua belas ini. Menurut keyakinan Imamiyah, Imam Mahdi af adalah juru penyelamat di akhir zaman dan dialah Mahdi Mau’ud (yang dijanjikan kemunculannya). Ia memiliki umur panjang dan akan hidup dalam kegaiban yang panjang. Kelak, ia akan muncul dan bangkit atas kehendak Allah swt serta akan memimpin dunia dengan keadilan. Mengalami dua kali masa kegaiban kecil dan besar.

Pertanyaan mendasar mengenai kegaiban Imam Mahdi adalah dimana, kapan dan bagaimana. Dalam tradisi ahlulbayt, sekitar lima tahun setelah kelahiran Imam Mahdi mengalami kegaiban di Samarra, Irak utara, mulai 01/01/874 tepat pada saat ayahnya Imam Hasan Al-Askhari meninggal dunia.

Pada umur 5 tahun Imam Mahdi dighaibkan, bersamaan dengan syahid ayahnya Hasan Al-Askhari di Samarra, 8 Rabiul Awal tahun 260 H pada usia 28 tahun di Samarra dan dimakamkan di samping pusara ayahandanya. Pusara mereka berdua terkenal dengan Haram Askariyain dan menjadi tempat ziarah orang Syiah di Irak. Imam Hasan Askari (232-260 H) adalah Imam kesebelas bagi para pengikut Syiah Itsna Asyariyah yang memimpin selama 6 tahun. Dia adalah anak Imam Hadi as dan ayah Imam Zaman as (Imam Mahdi).

Berdasarkan mayoritas sumber-sumber Syiah, satu-satunya anak Imam Hasan Askari as adalah Imam Zaman as yang bernama “م ح م د” (Muhammad). Dari kalangan ulama Ahlusunnah terdapat pula beberapa sosok seperti Ibnu Atsir, Syablanji dan Ibnu Shabbagh Maliki mnyebutkan bahwa nama “Muhammad” adalah nama untuk putra Imam Askari as.

Imam Mahdi adalah imam keduabelas. Berurutan setelah Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Sajjad, Imam Baqir, Imam al-Shadiq, Imam al-Kazhim, Imam al-Ridha, Imam al-Jawad, Imam al-Hadi, Imam al-Askari.

Ketiga, berkenaan dengan fenomena Kegaiban. Kegaiban biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris occultation tetapi saya lebih memilih non accessibility, ujar Zhoulfikar. Lalu kalau pengertian kegaiban dimaknai sebagai ketidakmudahan mengakses, bagaimana kita bisa mengakses Imam Mahdi?. Jawabanya, kita bisa mengakses Imam Mahdi, dan Imam Mahdi bisa mengakses kita, didasarkan atas izin Allah semata. Jika kita diijinkan Allah maka kita bisa mengakses Imam Mahdi, kita bisa berkomunikasi dengan Imam Mahdi,  begitu juga ketika Imam Mahdi diberi ijin Allah untuk mengakses manusia tertentu, akses itu bisa terjadi.

Terkusus berkenaan dengan kegaiban (ghaibah), terdapat beberapa macam jenis “ghaibah”;

Pertama, ghaibah yang terjadi pada Nabi Muhammad. Terjadi pada malan hijrah, dengan mukjizat Allah, orang Qurais tidak bisa melihat Nabi.

Kedua, peristiwa di gua tzur, nabi Muhammad yang disertai sahabat Abu Bakar disembunyikan Allah dengan cara menyuruh laba-laba membut sarang, sehingga nabi tidak terlihat oleh orang-orang Qurais yang ingin membunuhnya. Kegaiban ini bermakana to hide (menyembunyikan) di gua. “Sarang laba-laba paling rapuh di seluruh dunia”  menjadi hujjah  kenabian nabi.

Ketiga,  “ghaibah” yang terjadi pada nabi Isa. Allah menyuruh nabi Isa pergi ke langit.

Keempat, “ghaibah identitas. Terjadi pada nabi Yusuf. Saudara-sadara nabi Yusuf tidak mengenal nabi Yusuf lagi,  ketika menjadi pejabat Mesir.

Dalam pandangan Zhoulfikar, kegaiban Imam Mahdi lebih dekat “pengertianya” dengan kegaiban nabi Yusuf dari sisi saudaranya yang tidak mengenal nabi Yusuf. Kita persis seperti saudaranya nabi Yusuf yang tidak mengenal Imam Mahdi. Inilah yang dimaksud ghaibah identitas. Bukan dari sisi  kejelasan nabi Yusuf yang tinggal di Mesir yang semua orang bisa melihatnya.

Ada juga pandangan yang mengatakan kegaiban Imam Mahdi seperti kegaiban nabi Isa, yang diangkat (dighaibkan) oleh Tuhan. Imam Mahdi dighaibakan untuk menyelamatkan dunia. Imam Mahdi menunggu al-muntazir, sementara umat manusia berkewajiban menyongsongnya. Menurut Tabatabai, Imam Mahdi mengalami waktu kasar dan halus, seseorang yang mampu mengakses Imam Mahdi artinya dia masuk dimensi waktu halus.

Jika ghaibah identitas terjadi, bagaimana “dhuhur/kehadiran” Imam Mahdi. Imam Mahdi tentu akan memperkenalkan identitasnya. Tuhan ingin melindungi hujjahnya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, pada 10 muharram, Imam Mahdi akan berdiri di depan ka’bah, dia akan berkata “ saya Imam Mahdi, Imam yang kalian tunggu”. Ujar Zhulfiqar.

Berkenaan dengan tanda-tanda kehadiran Imam Mahdi, Dr. Zulfikar mengatakan, meski sumber  ini relatif, kita bisa memanfaatkan tanda-tanda tersebut sebagi bahan refleksi melihat kondisi zaman. Ada sumber yang mengatakan datangya (zhuhur) Imam Mahdi pada hari jumat 10 Muharrom (asyuro), akan tetapi sebelum datang, akan ada lima tanda-tanda yang akan terjadi;

Pertama, munculnya kelompok Sufyani yang akan melawan ajaran ahlul bayt. Kedua, munculnya kekompok Yamani, menjadi pelopor ajaran ahlulbayt, 1 tahun sebelum muharram, pada bulan dan hari yang sama dengan kelompok sufyani. Ketiga, adanya seruan dari langit, pada 23 ramadhan (malam lailatul qadr), Tuhan akan memerintahkan tangisan malaikat dari langit. Keempat, dengan mukjizat Tuhan, tentara Sufyani akan tersedot ke bumi, dan tidak ada yang tersisa. Peristiwa itu terjadi di Baidhoh. Diantara Mekkah dan Madinah. Kelima, syahidnya nafs zakkiyah (alim) pada 25 zulhijah, 2 minggu sebelum datangnya Imam Mahdi dan  darahnya akan mengalir di sekitar ka’bah.

Pada saat kelompok Sufyani akan muncul nanti, akan ada reaksi balik dan setimpal dari kelompok Yamani. Kelompok Yamani tidak akan tinggal diam. Olehkarena kelompok Yamani bergerak, maka Allah akan menolong dengan jalan menyedot seluruh tentara sufyani ke perut bumi. Sebelum zuhur (hadirnya) Imam Mahdi, ada kelompok orang alim (nafs zakiayah) yang bertemu dengan Imam Mahdi dan akan menjadi martir.

Penanggap

Setelah kurang lebih 30 menit Dr. Zhoulfikar Vasram menyampaikan materi, giliran Dr. Nano Warno sebagai penanggap memberi poin-poin komentar;

Pertama, seharusnya isu Mahdiisme dibicarakan dalam Interdisipliner ilmu, agar lebih bisa mengangkat wilayah teologi menjadi lebih luas dan mendalam. Terkait dengan tema global mahdiisme, seharusnya bisa dibincangkan dalam kontek program aksi berbasis ideologi yang nyata.

Kedua, terdapat sinkronitas, paralelitas, isu Mahdiisme dengan tema Insan kamil dalam irfan, juga dalam kultur kepercayaan orang awam yang mengenal mahdisime sebaga ratu adil. Olehkareana itu perlu bersinergi dengan wacana lokal sehingga masyarakat terkena imbas menemukan semangat dan optimisme baru (membangkitkan semangat mahdiisme dengan wadah kepercayaan lokal).

Ketiga, mahdiisme sangat penting, karena kiamat tidak akan terjadi tanpa kehadiran sosok Imam Mahdi. Hal ini memberi gambaran kepastian kosmologi eskatologis, bumi tidak akan kosong dari hujjah Allah dan bahwa jika keimamahan terputus niscaya urusan-urusan Tuhan akan terbengkalai dan bahwa hujah Allah di muka bumi merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang beriman, yang dengan petunjuk ini Ia memuliakan mereka.

Keempat, isu mahdisime secara sosiologis menjadi penyeimbang wacana tentang konsep ideologi kapitalisme,  komunisme  dan sosialisme. Masyarakat tanpa kelas, kesejahteraan tanpa batas adalah bentuk-bentuk perwujudan cita-cita masyarakat (utopi). Hanya saja cita-cita itu berbasis material, sedang mahdiisme adalah mekanisme eskatologis rasional religius berbasis cita-cita masyarakat spiritual yang mendambakan keadilan total dan pasti akan terjadi.

Kelima, isu mahdiisme meski berdimensi eskatologi akan selalu menemukan pijakan rasional, relevansi dan kepastian karena masa depan dibaca terarah dan rasional. Pengelolaan masa depan masyarakat bersifat vertikal dan bukan sebaliknya, masyarakat horisontal sekuler (flat rasionalism).

Keenam, tradisi keghaiban adalah tradisi para nabi, juga kepercayaan lokal. Namun seringkali narasi eskatologi ini seringkali dimanipulasi, dibelokkan untuk tujuan politik sekuler, sebagai contoh pemanfaatan narasi apokalipstik George Bush untuk menjustifikasi invasi ke Irak. Olehkarena itu isu mahdiisme harus dinarasikan secara rasional dan berbasis religiusitas untuk mencounter stereotype narasi “mitos”.

Dari komentar Dr. Nano dan Dr. Zholfiqar dapat di tarik benak merah. Mahdiisme adalah bekal kaum beriman dalam menghadapi kezaliman global, berdimensi rasional (karena rapuhnya rasionalitas manusia, butuh kepastian bimbingan Tuhan). Mahdiisme membuat jalanya sejarah manusia terarah, membangun optimisme pergerakan, wadah iman sosial. Dunia adalah ciptaan Tuhan dan segala puncak kezaliman adalah perbuatan manusia, bahan ujian kaum beriman dari Tuhan. Mahdiisme adalah jalan “irfan” sosial, sistem berpikir bagaimana cara menyudahi sejarah umat manusia. Membangun surga keadilan dunia yang mirip dengan surga keadilan akherat yang paling sempurna, karena akherat dan dunia adalah dua keping koin, satu wajah, satu realitas.

Setelah diskusi berlangsung kurang lebih 2.5 jam, tepat pukul 12.00 wib, FAP di tutup. Kurang lebih dua puluh peserta hadir, terdiri dari mahasiswa dan para dosen STFI Sadra.  Acara diskusi rutin ini diselenggarakan oleh Departemen Riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra.(ditranskip dan ditulis oleh Muhammad Ma’ruf)

 

HAM Islam VS HAM PBB

HAM Islam VS HAM PBB

HAM Islam VS HAM PBB
(oleh M. Ma’ruf)

Umat Islam seolah ketiban dua kutukan sekaligus-pertama harus menerima HAM PBB yang konsepnya hanya terbatas di dunia, kedua umat Islam paling banyak mengalami korban HAM. (ma’ruf)

Muncul dalam sebuah diskusi HAM Islam di Paramadina 8/07/2017 beberapa poin masalah. Pipip Ph.D (Direktur PIC-Paramadina Institute of Ethics and Civilization) membuka diskusi mengatakan, pentingya membahas HAM versi Islam serta urgensi penentuan sikap terhadap permasalahan genocide terhadap 300.000 warga muslim rohingnya oleh pemerintah militer Mynmar. Dr. Husain Heriyanto, mempertanyakan keengganan sebagian umat Islam bicara HAM-menandakan lemahnya pemahaman konsep manusia sehingga terkesan persoalan HAM menjadi eklusif. Zubaidah, MA mempertanyakan dimana letak masalah, bukankah setiap agama mengajarkan HAM dan terjadinya jarak pemahaman umat Islam masa nabi dan era sekarang. Dr. Zainal Maarif menggugat ketertinggalan umat Islam, bukankah barat telah maju karena telah berbicara pada hak binatang, tumbuhan dan alam. Sedangkan saya sendiri fokus pada pembedaan konsep HAM Islam dan HAM PBB. Mulai dari pengertian Hak, asasi dan manusia.

Dr. Safakhah sebagai pembicara tunggal memaparkan tentang konsep HAM Islam dengan menggali kasanah Alquran dan Najhul Balghah. Dikatakanya, fondasi HAM Islam dibangun dari posisi manusia sebagai hamba (makhluk) dan Tuhan sebagai pencipta. Hak dan kewajiban berlaku baik hubungan sesama manusia, dan Tuhan. Tiga unsur penting HAM Islam; pertama pengenalan terhadap Allah SWT (makrifatullah), kedua mengiringi Tuhan dalam setiap tindakan, ketiga saling mencintai dan mengasihi sesama manusia.

Dr. Safakhah juga menjelaskan secara detil hak anak, hak pemimpin dan hak Istri. Perlakuan yang adil dari seorang pemimpin menjadi syarat mutlak-dimana keadilan seorang pemimpin seharusnya dimulai dari keadilan seorang suami dalam menunaikan hak istri, hak anak kemudian terefleksikan dalam diri seorang pemimpin pada rakyatnya. Memimpin rakyat tak ubahnya memimpin keluarga- kasih sayang seorang istri dan anak menjadi sumber energi yang memancar dalam kepemimpinan seorang suami. Seolah mengatakan menyakiti istri, sama dengan menyakiti rakyat.
HAM Islam berkebalikan dengan HAM PBB. Posisi HAM PBB hanya memberi posisi hubungan manusia dengan manusia. Dibuat untuk kepentingan di dunia. Sehingga pentingnya hubungan kasih sayang suami, istri dan anak bersifat individual (non publik) terpisah dan tidak berhubungan dengan domain (publik) HAM PBB. HAM Islam lebih luas daripada HAM PBB-karena Tuhan paling tahu kebutuhan manusia. Demikian dikatakan Dr. Safakhah.

Tulisan berikut merupakan pengembangan lebih lanjut dari diskusi dan refleksi pribadi penulis dengan menfokuskan pada pembedaan konsep dan implikasi HAM PBB dan HAM Islam. Pembedaan ini bukan bermaksud tidak mengakui HAM PBB, tapi ketiadaan akomodasi pada agama sebagai sumber HAM dunia adalah pelanggaran HAM itu sendiri-karena hanya membatasi pada keterbatasan sumber akal profan manusia.

Pengantar
HAM, disingkat Hak Asasi Manusia. Sebuah deklarasi pernyataan tentang eksistensi sebagai warga manusia di dunia-bahwa manusia mempunya hak yang asasi yang harus dipenuhi dan tidak boleh dilanggar. Asasi adalah sesuatu yang menempel, jika dihilangkan maka esensi manusia bisa segera berpindah statusnya menjadi binatang.

Pertanyaanya kemudian muncul bagaimana konsep HAM PBB (dunia) dirumuskan berikut implementasinya. Selanjutnya, bagaimana sebuah konsep HAM PBB yang diresmikan pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) bisa diterapkan dan di implementasikan dengan tuntas sedangkan konsep tersebut tidak menampung aspirasi pandangan hidup seluruh warga manusia di dunia- dalam hal ini pandangan hidup warga manusia beragama terutama umat Islam.

Kita ketahui, meski pemisahan agama Kristen di Barat mulus seiring dengan perkembangan humanisme, liberalisme dan demokrasi, akan tetap bukan berarti dapat berlaku universal seolah menjadi keniscayaan akhir dari hukum sejarah manusia hingga kiamat. Bagaimana dengan pemeluk agama Islam- apakah bisa menerapkan konsep HAM PBB yang didesain hanya fokus pada dunia sedangkan umat Islam berikut ajaranya tidak memisahkan kehidupan dunia dan akherat. Bukankah setiap titik dinamika proses sejarah peradaban Islam selalu ditarik dari ujung dari kehidupan hakiki paska kematian. Awal (mabda’) dan akhir (maa’d) satu kesatuan. Jika teologi dan eskatologi terpisah selamanya dengan HAM PBB, akan tetapi bukankah setiap detik tindakan HAM oleh manusia berimplikasi pada kehidupan akherat?.

Bukankah kapitalisme dan demokrasi liberal yang dianggap menjadi puncak perjalanan manusia ternyata secara faktual membuat Islam itu sendiri nampak lentur dan beradaptasi, dan selalu berusaha menjadi tuan bagai masa depanya sendiri karena dorongan kefitrahan agamanya. Pertanyaan urgen berikutnya- sejauhmana dan apakah para pemegang mandat PBB bisa melindungi secara fair (adil) hak asasi manusia yang beragama Islam. Mengingat banyak korban HAM di era kontemporer adalah umat Islam.

Jawabanya adalah sulit. Kenapa demikian? Karena konsep HAM yang tertera dalam piagama PBB berbeda dan tidak mengakomodasi konsep HAM versi Islam. Konsep HAM PBB dibuat oleh manusia dan untuk kepentingan (elit anggota PBB?). Sedang konsep HAM Islam dibuat oleh Tuhan 1400 tahun lewat melalui wakilnya untuk kepentingan manusia di dunia dan akherat. Demikian ditekankan Dr. Safhakah.

Olehkarenanya wajar jika terjadi konsistensi antara konsep dan implementasi HAM PBB. Karena diperuntukkan untuk manusia, maka bisa direduksi sesuai dengan “humanisme” yang tunduk kepada elit pemegang kekuasaan HAM PBB.

Olehkarenanya pula, implementasi HAM PBB sebagai deklarasi warga manusia dunia bersifat pilih kasih dan kepentingan. Berikut contoh pelaksanaan implementasi piagam HAM PBB yang pilih kasih dan kepentingan. Kita tahu, umat Islam justru telah dan menjadi tarjet korban dari 30 pasal HAM PBB. Banyak warga manusia beragama Islam telah banyak kehilangan hak hidup, hak kemerdekaan dan hak perdamaian persis sebagaimana yang tertera dalam mukadimah piagam HAM Dunia. Coba kita perhatikan.

PBB tidak menyatakan George Bush melanggar HAM karena kebijakanya menginvasi Irak dan telah menghilangkan hak hidup 1 juta umat Islam-PBB tidak menyatakan Obama sang peraih hadiah nobel perdamaian melanggar HAM karena telah menghilangkan hak hidup 3000 manusia beragama Islam akibat kebijakan dronenya di Afganistan dan Pakistan. Obama juga tidak dinyatakan melanggar HAM karena kebijakanya memimpin dunia mengganti pemerintahan legal Bassar Assad Suriah dan telah mengakibatkan hak hidup 240.000 umat Islam dan Kristen hilang terhitung sejak 2012 berikut kerusakan infrastrukturnya. PBB juga tidak menyatakan pemerintahan junta militer Myanmar melanggar HAM karena telah mengusir dan menghilangkan kewarganegaraan 300.000 umat Islam hingga menjadi pengungsi di berbagai negara termasuk Banglades terhitung sejak 2012.

PBB melalui hak veto para anggotanya juga tidak segera menerapkan 30 pasal piagam HAM Dunia dengan menginvasi secara legal pemerintahan Israel yang tidak sah karena telah menjajah bangsa Palestina yang muslim dan Kristen. Perlakuan diskriminatif PBB ini membuktikan, banyak umat Islam tidak dianggap warga manusia, sedangkan kita tahu, warga Israel diperlakukan sebagai ras manusia yang memilik hak eklusif seolah mendapat mandat PBB boleh menjadi negara penjajah yang sah. Inilah yang dimaksud pilih kasih (humanisme) dan pilih kepentingan. Data implementasi piagam HAM PBB yang pilih kasih dan kepentingan ini bisa terus di cari.

Jawaban lain kenapa konsep piagam HAM PBB, implementasinya pilih kasih dan pilih kepentingan. Pertama piagam HAM PBB dibuat dan didesain oleh kepentingan para pemenang perang dunia 2 terutama peran AS dan hak eklusif pemegang hak veto dan hak kepemilikan senjata nuklir. Nuansa kemenangan telak sekutu dengan menaklukkan NAZI dan pengeboman Herosima dan Nagasaki jelas tidak menjadikan piagam HAM PBB steril dan 100% beraroma humanis. Kepentingan sekutu paska perang dunia 2 tentu menghasilkan akumulasi modal berlimpah-digerakkan oleh industrial military complex, menjadikan piagam HAM PBB sebagai tameng suci (humanisme). Kemerdekaan, keadilan dan perdamaian dalam mukadimah HAM PBB yang menjadi nafas humanisme dilindungi oleh kekuasaan yang mengatasnamakan masyarakat Internasional di sokong oleh penyebaran kapal induk merata di seluruh permukaan bumi. Rasa takut warga manusia di bumi inilah menjadi puncak kemenangan kepentingan fana. Sebuah perwujudan semangat pencerahan dari rasio instrumental- kemandirian dan puncak pencapaian manusia yang bisa mengurus kepentingnya sendiri tanpa bantuan Tuhan (sekulerisme kolonial).

Kedua, piagam HAM PBB dibuat tidak menampung aspirasi konsep yang ada dalam agama. Konsep yang ada dianggap begitu saja sebagai kesepakatan dan mewakili seluruh cita-cita humanisme yang menjadi penopang dunia modern (para anggota PBB).

Lalu bagaimana dengan umat Islam yang tersebar di berbagai negara, apakah nasib konsep dan implementasi HAM Islam selamanya tunduk dan dipasrahkan pada HAM PBB, harus menerima hingga hari kiamat. Bukankah kesuksesan mendapatkan kehidupan hakiki di alam akherat adalah hak asasi umat Islam. Bukankah pelaksanaan keadilan dalam HAM di dunia ini tidak hanya terbatas pada konsekueansi di dunia saja. Bukankah kita tidak sedang menukar tujuan perantara (dunia) menjadi tujuan hakiki?. Inilah pertaanyaan asasi manusia dimana umat Islam harus bisa menjawab dengan tegas tanpa rasa takut- apa bedanya konsep manusia menurut Islam, apa bedanya konsep manusia menurut pandangan HAM PBB?.

Bagaimana desain HAM PBB yang memang sekuler (untuk kepentingan dunia) dan HAM Islam yang memandang alam, manusia dan Tuhan sebagai satu kesatuan. Jika selamanya umat Islam enggan menjawab. Maka umat Islam selamanya tidak akan mendapatkan hak kemerdekaan sebagai manusia rasional dan spiritual, hak mendapatkan keadilan di dunia dan akherat, serta hak mendapatkan perdamaian yang benar-benar hakiki.

HAM PBB dan HAM Islam
Seorang peserta diskusi mengatakan. Bukankah barat lebih maju dibanding Islam, mereka berbicara tentang hak asasi pada binatang dan alam. Kemudian di sanggah oleh peserta lain, bukankah Barat juga ragu untuk mengatakan junta militer Mynmar telah melanggar HAM PBB. Bukankah Aung San Suu Kyi sebagai sang peraih hadiah nobel ikut bertanggung jawab?

Kekuatan dunia seolah menggiring-jangan campur adukan kemanusiaan dan agama, karena kekuatan teroris menungganginya. Semua itu dinyatakan ketika 300.000 muslim rohingnya telah dihilangkan kewarganegaraanya secara sistematis. Kertas suci HAM PBB seolah sengaja tidak mengakui status legal muslim rohingnya sebagai manusia, sehingga layak memperoleh kemerdekaan, keadilan dan perdamaian.

Olehkarenanya setelah diteliti lebih lanjut, tidak adanya kata “Tuhan” dalam Piagam PBB membuktikan sejak awal memang tidak ada desain untuk menampung pandangan dunia agama. Manusia dipahami hanya dalam kontek modern. Spirit HAM PBB tidak bisa dilepaskan dari perkembangan lebih lanjut dari pandangan humanisme yang berkembang di barat-esensi dan kepentinganya dibatasi di dunia saja. Sedangkan pandangan dunia akherat warga manusia di seluruh dunia diserahkan pada masing-masing individu. Manusia modern dalam HAM PBB mencukupkan diri pada cita-cita sebatas cakrawala akal teoritis dan praktis manusia. Produk filosofis ini bila runut pararel dengan temuan dan perenungan terjauh kekristenan dalam diri Imanuel Kant-bahwa Tuhan dan Metafisika tidak bisa dijangkau oleh akal. Tuhan dan Metafisika adalah “nomena” dan yang bisa ditangkap hanya fenomena (12 kategori).

Dalam perkembanganya, konsep Kant tentang manusia, alam dan Tuhan telah membangun dinamika dan pengerucutan paham humanisme, sekaligus mengawali proyek pemberlakuan proyek sekulerisme barat untuk diterapkan bagi seluruh umat manusia. Sementara ajaran Kristen dengan konsep dosa asalnya yang berkembang di Barat dan Eropa memperoleh justifikasi filosofis dari Immanuel Kant. Kenapa demikian, karena hampir seluruh tokoh humanisme dan liberalisme baik di Barat dan Eropa merujuk pada Immanuel Kant. Diantara tokoh liberal; Mill, Locke, Rousseau, Smith Bayle, Voltaire, Rawl dan Friedman dn Hume.

Dengan demikian Kant berperan menjadi seperti nabi, dan seolah filsafatnya menstatuskan sekulerisme mirip agama-dikatakan nabi karena pemikiranya menampung dan menjadi wadah seluruh cita-cita umat beragama, ateis, agnostik relatifis, serta posmodernis.

Bahkan upaya membangun humanisme para filsuf Filsafat Sosial Kontinental dengan cara mengkritik Filsafat Sosial Anglo Amerika yang positifis, empiris dan kuantitatif tidak banyak membantu menanggulangi gerak ekonomi kapitalis yang ditopang oleh dua dua benteng sekaligus, ilmu eksak (teknokrat instrumental) dan ilmu sosial (antropolog, sosiolog berpaham positifis).

Hermeunetika, Historisisme dan Filsafat Kritis sebagai fondasi membangun humanisme mengalami hambatan. Wacana yang dibangun” selalu takluk dibawah payung elit-elit penguasa sentra-sentra “humanisme positif” dibawah lindungan HAM PBB.
Dengan demikian hasil bersih perkembangan demokrasi dan HAM di Barat adalah hasil dari perjalanan pemikiran humanisme barat yang telah memperoleh momentum yang empuk berbarengan dengan ekpansi kolonialisme Barat.

Meskipun kaum humanisme menyerukan dan memisahkan perilaku kolonial Barat dan ide humanisme, bukti dilapangan membuktikan humanisme tidak cukup ampuh bisa menghentikan perilaku dehumanusime (Hitler, Lenin, George Bush, Obama, Junta militer Mynmar). Para pegiat HAM di seluruh dunia, membatasi untuk tidak mengadvokasi dan mendesain pada dirinya sendiri untuk tidak mengajukan (aktor elit) ke Mahkamah Internasional. Kenapa demikian, jawabanya, karena para aktor dehumanisme tingkat Internasional yang memegang kunci kitab suci HAM PBB berlaku pilih kasih dan pilih kepentingan. Artinya pemberlakuan cita-cita “humanisme positifis” ada ditangan para pemegang kekuasaan dunia (PBB). Humanisme positifis artinya humanisme yang diberlakukan sesuai dengan kepentingan pemegang elit HAM Dunia.

Lalu bagaimana dengan pemberlakuan konsep HAM versi Islam dimana kitab suci HAM PBB ditangan para elit aktor aristek pemenang perang dunia 2?. Bukankah membicarakan HAM Islam sekedar pelipur lara saja, bukankah sebagai warga manusia Islam harus patuh pada PBB.

Tentu saja jika Islam memiliki konsep HAM, menurut penulis, pertama, umat Islam harus mengajukan agar menjadi “diskursus publik”, alasanya simpel, karena umat Islam itu manusia bukan binatang. Hak intelektualnya sejajar dengan pengikut (nabi) Imanuel Kant.

Sebagian umat Islam memang enggan melaksanakan piagam HAM PBB karena bukan hanya keterbatasan cita-cita HAM yang terbatas di dunia saja. Juga karena pemegang elit HAM Internasional memberlakukan secara diskriminatif terhadap warga muslim. Umat Islam seolah ketiban dua kutukan sekaligus-pertama harus menerima HAM PBB yang konsepnya hanya terbatas di dunia, kedua umat Islam paling banyak mengalami korban HAM.

Konsep Manusia HAM Islam
HAM dalam Islam dibangun tidak memisahkan bangunan pandangan sekuler dan sakral. Alam dunia (fisik) dan alam dunia akherat (metafisik) ada dalam satu pandangan bernama pandangan dunia Islam. Sedangkan HAM PBB memisahkan dan bahkan tidak menyebut kata “Tuhan” menandakan hanya mengakui pandangan dunia (fisik) saja. Humanisme yang menjadi spirit pelaksanaan HAM PBB secara legal hanya mengukuhkan dan mengakui bahwa hak warga manusia; kemerdekaan, keadilan dan perdamaian dalam mukadimahnya hanya mencita-citakan versi sekuler sebatas di dunia ini. Sekalipun ada warga manusia di dunia mencita-citakan untuk tujuan akherat mustahil bisa maksimal karena tidak dipayungi oleh hukum Internasional.

HAM Islam memandang manusia adalah fitrah (suci) berbeda dengan pandangan barat yang menopang sistem politik Internasonalnya bahwa manusia cenderung berbuat jahat (Hobbes)-manusia adalah serigala bagi manusia lain. Konsep Islam berimplikasi pada kooperasi dan persaingan sehat-kasih sayang dan kompetisi di akui sekaligus. Sedang konsep manusia Barat gabungan (Hobbes dan Machiavelli) dengan konsep dosa asal Kristen berbaur dan campur aduk dengan konsep kasih Yesus.

Dengan demikian, sebenarnya konsep manusia Islam dan Kristen sama-sama dalam kontek konsep “kasih sayang” sesama manusia, tetapi dosa asal Kristen telah menjustifikasi konsep Hobbes. Meski tidak secara tertulis- ajaran Kristen bisa dikatakan tertampung dalam HAM PBB dari sisi konsep dosa asal manusia (pada dasarnya manusai berdosa/jahat) akan tetapi dalam praktek hukum internasional PBB berpengaruh, terbukti pelaksanaanya pilih kasih (humanisme) dan kepentingan.

Akan tetapi, konsep fitrah manusia dalam Islam jelas tidak tertampung dalam piagam HAM PBB. Kenapa? Karena konsep fitrah adalah ciptaan Tuhan, HAM Islam di desain oleh Tuhan. Hak manusia di dunia bisa gugur tetapi tanggung jawab terhadap Tuhan tidak bisa gugur. Manusia terikat kontrak bukan hanya pada sesama mansuia tetapi juga pada Tuhan.

Menurut HAM Islam, hak hidup para pembunuh (elit pemegang kitab suci HAM PBB) bisa diambil karena telah membuhuh 1 juta orang dalam kasus invasi Irak. Tapi seorang pastur Indonesia mengatakan tidak bisa disamakan antara Hitler dan George Bush. Hukuman mati dalam HAM Islam menghormati hak hidup generasi umat manusia, tetapi HAM PBB dan ajaran dosa asal Kristen menentang hukuman mati karena bertentangan dengan doktrin bahwa ruh suci yang diberi Tuhan kepada manusia tidak bisa diambil.

Artinya HAM dalam Islam tidak bisa lepas dari posisi manusia sebagai makhluk-hamba (khalifah) dan Tuhan sebagai pencipta. Manusia di ciptakan dari Tuhan yang suci dan akan kembali pada Tuhan yang suci. Cara memandang arti dan penghargaan kehidupan dan kematian antara HAM PBB, Kristen dan Islam tidak mudah di samakan. Akan tetapi teologi dosa asal Kristen ajaibnya seiring dengan kengototan penghapusan hukuman mati, seolah dunia agama Kristen menjustifikasi secara teologis HAM PBB. Padahal sejak semula kesuksesan sekulerisme adalah hasi dinamika agama Kristen dengan negara dalam sejarah barat. Hal ini tentunya lepas dari debat- tidak ada jaminan hukuman mati akan mengurangi kejahatan.

Tujuan penciptaan
Dalam HAM Islam, tujuan diciptakan manusia agar menjadi seperti Tuhan, bukan sama dengan Tuhan (musrik), dengan cara menyerap asma-asma Tuhan. Horison diciptakan manusia mengarah pada sesuatu yang tidak terbatas (unlimited) secara eksistensial (Insan Kamil). Olehkarenanya independensi dan kreatifitas pembuatan hukum-hukum hasil inovasi manusia dalam rangka bingkai menuju yang unlimited dan illahiyah (progress).

Pada HAM PBB karena tidak tertulis kata “Tuhan” maka posisi manusia tercipta dengan sendirinya dan mencita-citakan dirinya menjadi manusia yang otonom dan independen-persis seperti semangat konsep manusia Immanuel Kant. Hubunganya sebatas antar manusia. Oleh karenanya progresifitas dan kreatifitas pembuatan dan pelaksanaan sistem politik dan hukum humanisme jangkauan terjaunya bersifat fana (terbatas).

Karenanya konsep dan pelaksanaan HAM PBB pilih kasih dan pilih kepentingan sesuai dengan pemegang otoritas HAM dunia. Berbeda dengan HAM Islam, salah satu fondasi sumber HAM Islam berasal dari Nabi Muhammad melalu Ali bin Abi Thalib dalam Najhul Balagah yang telah berumur 1400 tahun. Dinyatakan bahwa fondasi HAM adalah pertama, mengenal Allah (makrifat), mengiringi Tuhan dalam setiap tindakan, saling mencitai sesama manusia, menyingkirkan kepentingan sendiri dan mengutamakan Allah. Allah telah menitipkan kasih sayangnya pada makhluk perempuan. Dalam diri perempuan sumber kasih sayang. Barangsiapa laki-laki menyakiti perempuan, maka akan masuk neraka.

Dengan demikian dapat disimpulkan, pertama, kemerdekaan, keadilan dan perdamaian sebagai pengikat cita-cita HAM PBB dari sisi konsep bukanlah konsep final. Asumsi yang melandasinya adalah kepercayaan pada otonomi akal-hukum keniscayaan sejarahnya adalah demokrasi liberal-alatnya berupa teknologi instrumental, humanismenya positifis (empiris). Olehkarenanya tidak adanya “Tuhan” sebagai sumber humanisme bukanlah perkara sepele. Jika saja HAM Islam diberi tempat, maka manusia tidak hanya terdorong memenuhi hak sesamanya di dunia tetapi juga di akherat, dibawah kewajiban dan pertanggungjawaban penuh di dunia dan akherat.

Kedua, pelaksanaan HAM PBB selama ini ternyata tidak steril dari arah kepentingan elit penguasa PBB, sehingga tidak aneh kemerdekaan, keadilan dan perdamaian warga manusia di dunia syarat dengan kepentingan elit PBB. Bahkan pelaksanaan HAM PBB sering menjadi justifikasi kebijakan standar ganda. Olehkarena itu, dengan diakomodasinya HAM Islam maka, kepentingan itu bisa di redam, karena Tuhan menjadi tujuan objektif bersama.

Ketiga, pandangan hidup (word view) agama pada umumnya, dan Islam khususnya harus diakomodasi menjadi sumber HAM Dunia, karena posisi jumlah pemeluk agama dan agama itu sendiri di dunia menjadi bagian dari elemen demokrasi.

 

Keputusan Zolfaqar dan Kebebasan

Keputusan Zolfaqar dan Kebebasan

Keputusan Zolfaqar dan Kebebasan

Oleh: M.Ma’ruf

Paska kekalahan kekhalifahan Ottoman sejak Perang Dunia I, telah mengubah wajah Eropa dan Amerika mendominasi dunia Islam. Kolonialisasi seolah menjadi panen hasil Revolusi Industri abad 17. Sebaliknya, penurunan kekuatan politik hingga kini terjadi merata di dunia Islam. (more…)

Filsafat Menggugat

Filsafat Menggugat

Oleh; Ammar Fauzi

Catatan Pembuka Buku “Menggugat Manusia dalam Konstitusi” karya Daniel Zuchron

Ghalibnya, kendati filsafat Islam kerap ditarik gugus kronologisnya dari nama Abu Ya’qub Al Kindi dan, selanjutnya, Abu Nashr Al Farabi, tonggak lahirnya mazhab pertama filsafat Islam dimulai dari Ibnu Sina, ditandai dengan konstruksi gagasan filosofis yang secara sistematis terdisiplinkan dalam karya monumentalnya, al-Syifa’. Sebagai bagian dari tradisi Yunani, tentu akan mudah dijumpai pengaruh dan bekas kasar filsafat Platonik, Aristotelian juga Neoplatonik dalam filsafat Ibnu Sina atau yang dikenal dengan al-Masysya’iyyah. (more…)

Forum Antar Pakar (FAP): Dilema Hukuman Mati

Forum Antar Pakar (FAP): Dilema Hukuman Mati

Dilema Hukuman Mati hanyalah dua kata yang, bila salah memahami “hukuman” dan “mati”, kita terancam gagal memahami frase “hukuman mati”. Ketidakpararelan bentuk hukuman dan efek jera, juga menjadi pertimbangan bahwa secara empiris, hukuman mati mutlak ditiadakan. Namun, secara teologis, minimal dua agama Islam dan Kristen, menerima hukuman mati. Dalam perkembangan terakhir, gereja Katolik menolak hukuman mati. Ada lagi berpendapat, bukan menolak atau menerima secara mutlak, yang penting pembatasan. Hukuman mati juga tidak bebas syarat untuk diberlakukan – tiga syarat material minimal harus terpenuhi: sistem peradilan yang menghasilkan produk hukum yang adil, pelaku hukum yag bersih (antropologi) dan keadilan untuk semua, tidak tebang pilih (sosiologi). Demikian kesimpulan singkat diskusi Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra berjudul “Dilema Hukuman Mati Prespektif Filsafat dan Hukum”, 27/3 STFI Sadra. (more…)

Free WordPress Themes, Free Android Games