Lockdown Akal Sehat

Lockdown Akal Sehat

 Oleh, Ammar Fauzi Heryadi

NGABUBURIT BERSAMA Dinas Kepemudaan Pemda Purwakarta dan Komunitas Welas Asih, IndonesiaBerfilsafat (IBF) melalui program Logika Literasi Publik (L2P) mendapat kepercayaan memandu forum diskusi online dengan tema “LOGIKA CORONA DAN CORONA LOGIKA” pada Senin (17/05/2020). Hadir sekaligus sebagai pemandu, maka banyak hal yang dirasa penulis masih relevan untuk dibincangkan.

Selama masa pandemi dua bulan ini, sudah banyak reaksi dan respon sosial, politik, moral, bahkan intelektual dan, tentu saja, keagamaan yang berkembang antara mengagumkan dan memprihatinkan. Kurva dinamika berikut kesan-kesan antagonisnya kemungkinan akan terus berjalan sebesar kemungkinan yang diberikan ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo bahwa orang Indonesia akan hidup selamanya dengan virus ini (Kompas.com 18/05/2020).

Sejak pertama kali Corona diangkat berita, banyak nama yang timbul-tenggelam: mulai dari nama kota, nama negara, nama orang, nama tumbuhan, nama obat, nama program, nama organisasi, nama binatang, sampai nama doa, nama nasi dan jenis telur. Apa lagi yang tidak disinggung; nyaris semua dibicarakan seilmiah dan seemosional mungkin. Reaksi dan perdebatan tidak berhenti bahkan ketika nama Tuhan dilibatkan, justru semakin genting dan seru.

Di Iran, misalnya, pemikir ternama Abdulkareem Shoroush tampak jengkel mengamati wabah corona di negaranya tidak membuat posisi Tuhan di sana tergugat. Bagi kalangan ateis seperti Richard Dowkins di Eropa, situasi kacau ini dianggap memuaskan klaim mereka selama ini bahwa Tuhan itu memang tidak ada! Sebaliknya, beredar tayangan penganut agama yang memaki tuhannya sambil mengobrak-abrik altar persembahannya. Sementara di kita, orang yang mengenakan masker atau bertemu-sapa dengan tangan di dada masih dipandang kurang imannya pada Allah.

Beda reaksi karena beda di kepala. Sepanjang hidup bersama virus ini, manusia Indonesia mencari dan menerima kebenaran mereka dari dua sumber: sains dan agama. Karena arus data sains, berbagai protokol dan kebijakan publik dibuat. Karena keterangan agama, corona dan penderitanya dinisbatkan kepada murka Tuhan dan Akhir Zaman. Ada juga yang menghubung-hubungkan dengan Imam Mahdi sambil menghitung prosentase tanda-tanda kedatangannya.

Selain ada kerja keras meyakinkan keseutuhan sains dan agama kepada publik, jangan juga dilupakan dua sumber lain kebenaran yang sama pentingnya bagi orang Indonesia: kekuasaan dan tradisi-budaya takhayul. Selain sains dan agama, aparatur negara menguasai instrumen instimewa hingga “berwenang” dan “mengatur” kebenaran.

Dalam kasus corona, pengaturan ini tampak dari upaya pemerintah memusatkan informasi Covid-19 di Kemenkes. Belakangan, oleh media nasional dipublikasikan pengakuan kepala pemerintah yang telah mengatur informasi fakta karena pertimbangan tertentu. Di tangan kekuasaan pula mudik dan pulang kampung yang asalnya sama bisa lantas jadi beda.

Ajaibnya, dengan segenap dukungan dua sumber sebelumnya: sains dan agama, masih saja terjadi ketimpangan kebijakan dan penanganan yang berasal dari berbedaan data di dalam lingkungan kekuasaan sendiri. Kericuhan dan ketegangan yang paling segar terjadi lantaran beda persepsi dan klaim antara data bansos di pusat dan di pemprov DKI.

Betapapun telitinya data sains, wibawanya pesan agama, dan ketatnya protokol negara, tidak sedikit warga yang lebih nyaman diatur oleh budaya takhayul. Di akhir Maret, ada pedagang sembako ketiban rezeki, telurnya diserbu warga untuk direbus dan harus dimakan antara 00:00 s/d 03:00 agar kebal corona hanya berdasarkan informasi yang viral, konon, dari anak yang baru lahir dan langsung bisa berbicara lalu berpesan demikian. Gegara informasi itu pula ada anak dan ibunya bertengkar.

Entah bagaimana data sains itu menggelembung dan mengalir deras hingga tak jarang membuat chaos dalam kebijakan dan penanganan. Entah bagaimana pemahaman agama ditempuh dan dituntaskan hingga, tidak boleh tidak, harus ditemukan nama corona dalam kitab suci. Dan entah bagaimana takhayul mendadak jadi ilham hingga ada perintah agar menggundul kepala bersama jajaran.

Perlu juga disinggung, dan barangkali ini paling menarik, hingga kini dan kemungkinan besar masih akan berlanjut entah sampai kapan ialah semangat ilmiah yang didorong, di antaranya, oleh tanggung jawab terlibat dalam menyelamatkan masa depan manusia. Hari-hari ini kita masih mudah menjumpai forum online yang membahas dunia pasca corona; isu seksi yang menggairahkan sejak Yuval Noah Harari dan Bill Gates membicarakannya.

Pada gilirannya, aneka reaksi, respon dan konsekuensi multidimensi di atas ini, entah karena faktor-faktor penyimpangan seperti alternative blindness ataukah magic bullet, kerap menjadi gejala post truth yang ditandai dengan dominasi emosi atas rasio, perasaan atas pikiran. Di sinilah “Corona Logika” tiba gilirannya melengkapi sepenggal tema di awal diskusi.

Corona logika sejenis virus yang menyerang pikiran dan nalar. Dengan ciri-ciri yang sama dengan COVID-19, virus pikiran makhluk gaib yang lebih tidak kasatmata, menular cepat dan menyebar massif sekalipun segenap protokal telah dipatuhi seketat-ketatnya, dan bisa mematikan korban meski tetap hidup bernapas senang; korbannya tidak sadar kalau jiwanya, pikirannya dan ruhnya sudah mati.

Dalam bahasa puitis Khalil Gibran, “Lihat pembunuh raga itu digantung, saat pembunuh ruh tak lagi disinggung.” Virus logika jauh lebih ganas dari sekedar COVID-19. Di tangan pembuat, pengendali juga pembawa corona logika, virus Corona bahkan firman Tuhan bisa tidak lagi berarti apa-apa sebelum akhirnya dijadikan komuditas sindiran dan lucu-lucuan.

Benar kata pepatah, satu peluru hancurkan satu kepala, satu kebohongan hancurkan seribu kepala. Seperti corona yang bermutasi dan beranak-pinak, kebohongan adalah spektrum yang menghimpun banyak varian, dari yang tipis hingga kental. Kejahatan virus bohong ini sudah tampak dari sekedar menyembunyikan atau mengalihkan fakta. Yang lebih ganas lagi tatkala menyampur kebohongan dengan fakta hingga tampak seolah-olah kebenaran sepenuhnya. Ini kian krusial bila seseorang memegang segenap sumber kebenaran.

Ketika tehnik berbohong semakin canggih dan spektrumnya kian luas serta halus, protokol perlindungan logika dan akal sehat bukan lagi karantina, isolasi diri, physical distancing, bukan juga semacam PSBB, melainkan lockdown dalam arti yang seketat-ketatnya. Dalam filsafat Ibnu Sina, orang yang menelan apa saja yang didengar sudah keluar dari kemanusiaan.

Lockdown akal sehat yaitu menjaga emosi tetap imbang; tidak berlebihan dalam ketakutan hingga tidak mau tahu atau putus asa, tidak mudah tersinggung hingga panik atau marah, gegabah dan tergesa-gesa, tidak pula gampang senang dan suka cita hingga membela diri dan kubu mati-matian. Lockdown akal sehat juga proteksi diri dari kepolosan menerima informasi dan kemalasan menguji berita. Keseimbangan emosi dan akal akan berdampak pada ketenangan, keterbukaan dan kesabaran.

Terhadap corona akal sehat, setiap orang adalah tenaga medis. Antivirus, vaksin dan cara berpikir benar sudah tertanam dalam diri masing-masing. Selanjutnya perlu alat pelindung diri yang supermurah berupa SOP berpikir, yaitu AAK: apakah, adakah dan kenapa? APD logika tradisional ini hanya bisa digunakan sesuai size orang yang, setidaknya, punya kemauan untuk tidak sudi malas atau polos. Jika masih saja terinveksi, tidak ada yang patut dicela dan disesali selain diri sendiri.

FAP; Tantangan Filsafat Pendidikan di Indonesia

FAP; Tantangan Filsafat Pendidikan di Indonesia

SALAH SATU tantangan dunia pendidikan di Indonesia adalah bagaimana memperkuat fondasi filsafatnya. Fondasi adalah bangunan yang menopang konten kurikulum dan tujuan akhir dari anak didik. Pendidikan yang diselenggarakan di bumi Indonesia semestinya selaras dengan ideologi Negara Pancasila. Berakar kepada agama karena secara faktual, dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari, karena itu misi pendidikan Indonesia sebisa mungkin keluar dari misi pendidikan sekuler.

Bagaimana memahami tantangan Filsafat Pendidikan di Indonesia. Forum Antar Pakar (FAP) Riset Sadra bekerjasama  dengan Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan Seminar bertema ” Tantangan Filsafat Pendidikan di era Kontemporer”. Hadir sebagai pembicara, Dr. Agus Sutono mewakili PGRI dan Ammar Fauzi, Ph.D dari Riset STFI Sadra. Kamis, 31/10/2019, jam 09.30-12.00 wib di kampus 4 PGRI Semarang .

Dalam pemaparanya Ammar menjelaskan pentingnya posisi dan kontribusi Filsafaf Islam dalam dunia pendidikan di Indonesia. Filsafat dikatakan Ammar bukan satu-satunya elemen, tetapi salah satu alat yang efektif  bisa berkolaborasi dengan elemen lain. Filsafat ibarat kepala, pendidikan tanpa filsafat seperti orang berjalan tanpa kepala. Tapi kepala berjalan juga perlu kaki yakni ilmu-ilmu terapan yang lain.

Dalam dunia pendidikan versi Islam, relasi murid dan guru menjadi penting dan bisa bertukar tempat. Murid bisa menjadi guru dengan bidang keahlian yang berbeda, jadi intinya saling belajar. Etika dalam Islam membina sedemikian rupa sehingga kita berdosa jika kita merasa memberi ilmu, merasa memiliki ilmu. Dalam riwayat disebutkan “Aku diberi ilmu kecuali sedikit”. Sumber ilmu bisa berasal dari alam, guru dan Tuhan itu sendiri.

Kata ilm memiliki bentuk jamak ‘ulum, alim (orang berilmu); tidak saja memilik konten pengetahuan tetapi berperilaku sebagai orang alim. Akan tetapi dalam tradisi sekuler, science tidak memiliki bentuk plural, dan memiliki muatan motif yang berbeda, semata duniawi. Tujan dari pendidikan di Indonesia adalah mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan pembukaan UUD 1945, dengan sila 5, keadilan sosial sebagai alat. Ammar berpendapat keadilan adalah alat mencapai kebahagiaan bukan sebagai tujuan.

Sosialisasi filsafat menjadi penting di Indonesia karena sebagian masih menolak. Padahal sejatinya bagi seorang muslim, filsafat mampu memperkokoh iman, dan membangun kekuatan argumentasi dalam beragama dan memperkuat fondasi dunia pendidikan. Olehkarena itu posisi Filsafat Islam menjadi penting untuk berkontribusi dalam dunia Pendidikan.

Pendidikan di Indonesia adalah kombinasi unsur-unsur tradisi, agama dan ideologi Negara. Ketiganya memberi karakter bagi pembentukan Filsafat Pendidikan di Indonesia. Dalam budaya jawa, dikenal dengan martabat tujuh (tangga-tangga alam spiritual). Kata kayu berasal dari bahasa arab, alhayyu, salah satu nama Tuhan. Artinya tujuan dari Filsafat Pendidikan di Indonesia bisa mengadopsi kazanah Indonesia, yakni dalam tradisi tasawuf jawa menjadi seperti Tuhan, bukan menjadi Tuhan beneran dan selamanya memang tidak bisa, artinya  menyerap nama-nama Tuhan. Menyerap nama-nama Tuhan agar menjadi manusia utuh, manusia sempurna (Insan Kamil), itulah tujuan pendidikan di Indonesia.

   

Karakter Dasar Filsafat Islam

Lebih lanjut Ammar menjelaskan bahwa karakter dasar Filsafat Islam dapat menjadi identitas Filsafat Islam. Filsafat Islam memiliki tiga elemen; filsafat, Islam dan tradisi. Kegiatan penelitian Filsafat, terdiri pencarian makna leksikologis, etimologis, fenomen.  Islam memiliki elemen metodologis dan fenomenologis. Sementara  itu dilihat dari sisi relasi subjeknya, terdiri dari  a. Prinsip Ada, b. Prinsip tahu, c. Prinsip Prilaku. Ketiganya memiliki relasi metode. Memiliki dimensi intelektual, moral dan teknikal.

Dari sisi Intelektual,  terbagi menjadi dua, teoritis dan aplikatif. Teoretis terdiri dari elemen realisme, metafisika, teologi, rasionalisme, fundasionalisme dan prespektivisme. Sementara aplikatif,  berorientasi wahyu, irfan, etika, hukum, politik, interdisiplin.

Dari sisi moral, terdiri dari elemen cinta, fanatisme-radikal, substantif-fundamental, universal, holistik, akomodatif dan tanggung jawab. Sedangkan dari sisi teknikal, terdiri dari  dalektik, dan memiiki SOP Penelitian. Diantaranya dialogis, variatif, kreatif, spiral dan konjungtif.

Tantangan Fislafat Pendidikan Kontemporer

Secara filosofis menurut Ammar, dunia pendidikan mengahadapi berbagai tantangan. Diantaranya fenomena positivisme, pragmatisme dan relatifisme. Dari sisi etis, tantanganya dalam dari aspek nilai-nilai dan budaya. Dari sisi politis, menghadapi fenomena monolopoli (anti demokrasi), embargo (anti kebebasan). Dari sisi hukum menghadapi fenomena pembatasan penelitian pada kasus tertentu seperti holocous dan inkuisisi.

Anggaran juga menjadi persoalan. Dari mana anggaran berasal, dengan  apa digerakkan dan kita berada dimana.

Dunia pendidikan juga menghadapi tantangan berupa globalisasi sebagai proses yang alamiah, non final dan objektif. Globalisasi artinya juga sebagai proyek karena diupayakan mansia, dijadikan agenda manusia, bersifat final dan objektif.

Proses globalisasi juga terjadi alamiah, artinya proses perubahan itu diarahkan menuju tujuan pendidikan yakni kesempurnaan manusia sesuai dengan fitrahnya, tetapi terkadang tejadi konflik, pembedaan, pembiaran dan pengecualian. Seperti prediksi Giddes (1998), ketika terjadi pembedaan dan marginalisasi.

Globalisasi berlangsung sebagai proses sekaligus proyek melalui media sains, teknologi, kemudian ditandai dengan percepatan waktu, perluasan ruang dan pendalaman.

Dr. Agus Sutono; Pendidikan Berbasis Kultural

Sementara itu Dr. Agus Sutono dengan judul presentasi “Kontektualisasi Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Filsafat Pendidikan Kontemporer.” memaparkan pentingya filsafat pendidikan berbasis tradisi.

Agus menjelaskan latar belakang masalah pendidikan Indonesia yang masih berpegang kepada link and match (skema kapitalisme) yang hanya cocok untuk ilmu alam terapan bukan ilmu sosial sehingga memiliki dampak;

  1. Terjadi pergeseran pendidikan (proses pencerdasan manusia) menjadi komoditas
  2. Fokus pada penguasaan scientia. Mengarahkan ke hal yang bersifat pragmatis dan materialis, minus  semangat kebangsaan,  keadilan sosial, dan humanis sebagai warga negara
  3. Padahal sejatinya hakikat pendidikan, suatu usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh jiwa dan rohaninya.

Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara menurut Agus layak untuk dikontektualisasikan dan masih relevan. Menurut Ki Hajar, pendidikan memilik tiga pusat (tripusat), yakni pendidikan keluarga, pendidikan dalam alam perguruan/sekolah; dan pendidikan dalam alam  masyarakat

Sejak dini Ki Hajar menganjurkan anak didik untuk belajar Tri No, yaitu  nonton (melihat), niteni (menandai) dan nirokke (mempraktekkan).

Nonton (cognitive) lebih bersifat pasif, menggunakan intrumen inderawi. Niteni (affective)  dengan cara menandai, mempelajari, mencermati apa yang diindera.Nirokke (psychomotoric) menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan. Tiga konsep Pendidikan ini dimulai dari kelas Dasar dan Menengah dengan istilah lain Ngerti (memahi), Ngroso (merasakan) lan Nglakoni (mempraktekkan).

Model pendidikan ini dimaksudkan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (cognitive), ‘ngerti’, melainkan harus ada keseimbangan dengan ngroso (affective) serta nglakoni (psychomotoric).

Pada akhirnya anak didik akan mengerti dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan  pengetahuan yang sudah didapat dalam kehidupan masyarakat.

Seorang pendidik harus memiliki sistem among (membimbing) dengan berjiwa kekeluargaan bersendikan:

  1. Kodrat alam sebagai syarat kemajuan, batas perkembangan potensi sesuai dengan progresivisme
  2. Kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan dan menggerakkan potensi pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka sesuai dengan progresivisme

Pendidikan dimaknai sebagai usaha kebudayaan,  membangun prinsip kemajuan dalam kehidupan,  bagian dari kesenian yang diadopsi kedalam kurikulum

Pendidikan adalah salah satu usaha pokok untuk memberikan nilai-nilai kebatinan yang ada dalam hidup rakyat yang berkebudayaan kepada tiap-tiap turunan baru (penyerahan kultur), tidak hanya berupa “pemeliharaan” akan tetapi juga dengan maksud “memajukan” serta “memperkembangkan” kebudayaan, menuju ke arah keseluruhan hidup kemanusiaan .

Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan bangsa sendiri, diajarkan membuat pekerjaan tangan, misalnya: topi, wayang, bungkus ketupat, atau barang-barang hiasan dengan bahan dari rumput atau lidi, bunga dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar anak jangan sampai hidup terpisah dengan masyarakatnya.

Olah gendhing bagi sekolah Dasar dan Menengah dengan cara memperkuat dan memperdalam rasa kebangsaan, beorientasi keindahan dan keluhuran budi.

Hakikat pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah memasukkan kebudayaan ke dalam diri anak dan memasukkan anak ke dalam kebudayaan supaya anak menjadi makhluk yang insani.

Agus menutup presentasinya dengan mengatakan, kontribusi Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan di Indonesia masih relevan untuk diaktualisasikan, baik dalam jalur formal dan nonformal. Munculnya model-model pendidikan pesantren modern yang sering dikenal dengan MBS (Modern Boarding School) adalah satu contoh. Seminar dihadiri sekitar 300 mahasisw/wi dan para dosen PGRI diakhiri sesi Tanya jawab.

Ditranskip oleh Muhammad Ma’ruf

 

Filsafat Pendidikan Islami

Filsafat Pendidikan Islami

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Islami
Penulis : Prof. Ahmad Tafsir
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan ke : 6, 2014
Halaman : 342 halaman
Resensi oleh : Nurhasanah Munir

Filsafat yang dikenal sebagai mother of science telah dijadikan sebuah sumber yang berperan untuk meliputi semua ilmu. Dengan filsafat, maka semua ilmu akan memiliki akar yang bermuara pada satu titik, yakni titik dimana manusia dapat menemukan asal muasal ilmu pengetahuan. (more…)

Membangun Karakter Melalui Pendidikan Ruhani

Membangun Karakter Melalui Pendidikan Ruhani

 

Nurhasanah, M.Ud, Staf Peneliti dan Sekretaris Riset STFI Sadra, email: salikamunir@gmail.com

 Abstract 

Nowadays, the government of Indonesia just informs to carry the nation into a transformation system, and well known as a mental revolution or character building. Government said that our nation have to focus on generation’s character. Furthermore, they confirm that this nation needs a new movement in education.  Generally, education has different process with any other fields, such as: industry, economic, medical, politic, and so on. Education is defined as development process which has purpose to actualize potentials inside of a man. Education is only used for human beings, because it is impossible to educate medal or stone as we can educate human or animal. The main thing that we have to realize in education process is educating soul, and that is why education must be connected to fitra (nature). Actually, education is also oriented to the development of man’s soul. As long as education has a focus to soul’s development, so human being could be as well as creature which living in awareness. Human being understand their life’s purpose, especially how to interact with another creatures; man to man, man to animal, animal to man, and so on. 

Thus, in the theme of Islamic character building, we must concern on educating soul before going to educate mind. Al-Qur’an has an obligation to educate rȗh (soul), that means Allah subhanahu wa ta’ala through Al-Qur’an also educate human‘s soul. Unlike body, soul is immaterial and educating soul will have challenges, but it can make a better change in the world. So we cannot be afraid of any damage situation, because of educated soul will actualize a lot of positive influences.

Keywords: Mental revolution, character building, soul.

Pendahuluan

Islam sejak kemunculannya adalah sebagai pengubah keadaan, dan juga sebagai pembuka jalan bagi zaman kejahiliyahan menuju era pencerahan ilmu pengetahuan. Adapun Rasulullah Saw juga diutus oleh Allah Swt sebagai agen perubahan tersebut. Rasulullah Saw mendapat amanat untuk mendidik masyarakat menjadi manusia yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah Saw juga mendidik ummatnya secara bertahap dan melalui dua metode dakwah; sirr (rahasia) dan jahran (terang-terangan). Rasulullah menerapkan beberapa bidang pokok dalam mendidik mereka, yaitu: pendidikan tauhid, pengajaran Al-Qur’an, pendidikan sosial masyarakat. Ketiga hal tersebut menjadi konsentrasi Nabi dalam pembinaan ummat, sehingga ummat mendapatkan pengajaran langsung dari utusan Allah, sebagian ummat ada yang mengikuti dan sebagian yang lain ada juga yang mengingkari, demikian keadaan awal pendidikan Islam yang dimulai oleh Nabi Saw di kota Makkah dan Madinah.

Dalam tradisi tasawuf, ruh adalah wujud manifestasi Tuhan. Ruh merupakan substansi manusia, karena tanpa ruh manusia tak berwujud apa-apa. Ruh memiliki peran sebagai penyempurna manusia, oleh karena itu ruh bernilai sangat mulia. Hakikat manusia dibentuk oleh ruhnya, sedangkan jasad adalah alat pelengkap, tanpa ruh jasad tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Namun ruh juga menjadi media tranformasi ilmu pengetahuan dari Tuhan kepada manusia. Sebagaimana Allah Swt berfirman: “Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” Dan ketika Allah ta’ala menjadikan Al-Qur’an sebagai sebuah metode belajar dan menyatakan bahwa Diri-Nya sebagai guru. Allah Swt berfirman: “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” Dengan begitu, kini menjadi jelas bahwa Al-Qur’an mengajarkan manusia melalui tiga cara: 1) pengetahuan inderawi (hissi), 2) pengetahuan nalar (‘aqli), 3) pengetahuan ruhani (syuhudi). Dan pendidikan ruhani adalah asal dari pendidikan manusia. Hal ini disebabkan karena hanya manusia yang mampu dan layak mendapatkan pengajaran serta pendidikan ruhani. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak untuk mendapatkan keduanya, karena peran ruh dalam diri mereka adalah sama. Al-Qur’an menegaskan bahwa hakikat manusia adalah ruhnya. Ruh manusia juga disebutkan sesuai dengan keadaanya, ruh memiliki nama-nama tertentu yang disebabkan oleh beberapa hal, ruh disebut qalb atau fu’âd, dalam keadaan yang lain ruh dikatakan sebagai nafs (jiwa) ataupun shadr. Sebutan-sebutan tersebut mengindikasikan bahwa ruh memiliki nilai. Ruh sebagai wujud murni yang diberikan Allah kepada manusia, karena ruh terbebas dari beban apapun yang bersifat materi. Tugas dan tanggungjawab ruh adalah sebagai perantara antara Tuhan dan manusia, saat Tuhan memberi hak dan kewajiban kepada manusia, sesungguhnya yang menerimanya adalah ruh bukan jasad. Jasad hanya bekerja melaksanakan apapun yang diterima oleh ruh. Ruh tidak memiliki identitas ataupun gender, karena ruh bersifat immaterial dan independen.

Manusia diciptakan Allah ‘azza wa jalla sebagai khalifah-Nya di muka bumi, manusia dikhususkan sebagai penerima dan pembawa amanat Tuhan, dihadapan Allah manusia adalah makhluk yang sempurna, makhluk yang dapat memikul beban yang tidak dapat dipikul oleh makhluk-makhlukNya yang lain. Manusia akan menggunakan nalar dan panca inderawinya untuk memperoleh pengetahuan dalam perjalanan kehidupan. Manusia telah dibekali hal-hal yang luar biasa karena hal ini tidak diberikan Allah kepada selain manusia. Manusia memiliki fitrah tauhid, karena ruhnya terikat janji kepada Tuhan. Ruh manusia menyaksikan kebenaran Allah sebagai Tuhannya. Selanjutnya, Allah juga memberikan manusia ilham ketakwaan dan kefasikan, disaat yang sama manusia juga diberikan kemampuan untuk bertanggungjawab atas apa-apa yang dia perbuat. Untuk menegaskan hal ini, Allah Swt berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kelapangan (kesanggupan)-nya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami atas kaum yang kafir.

Hakikat karakter adalah kecenderungan hati (sikap, attitude) dalam mereaksi sesuatu secara bentuk perilakunya (behavior). Dan kecenderungan hati yang ditindaklanjuti oleh perbuatan itulah yang disebut karakter.

Pengembangan Akal

Akal dalam riwayat-riwayat Islam ditegaskan sebagai kekuatan atau daya untuk menganalisis. Dengan akal, manusia dapat berpikir rasional dan sistematis. Sebuah sistem pendidikan selalu dapat kita temui di seluruh bidang ilmu pengetahuan, baik itu ilmu ekonomi, politik, kedokteran, filsafat, teknik, sastra, psikologi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pendidikan menjadi satu-satunya unsur yang mencakup seluruh bidang ilmu. Dengan pendidikan, semua orang dapat memperoleh keahlian apapun, tapi belum tentu seseorang yang ahli politik dapat memberikan pendidikan yang ideal, seorang yang ahli teknik belum dapat  mendidik seseorang yang lain dan menjadikannya seorang ahli mesin juga, sebagaimana yang dilakukan seorang guru yang mampu mendidik murid-muridnya yang di kemudian hari menjadi seorang insinyur, dokter, ekonom, psikolog, dan seterusnya. Maka dalam hal ini, pendidikan membutuhkan objek sebagai penerima pendidikan, yaitu manusia secara indvidu maupun masyarakat.

Manusia dinilai sempurna karena memiliki akal untuk berpikir, namun akal tidak mampu bekerja sendiri, akal membutuhkan partner untuk menciptakan kondisi yang dinamis dan harmonis. Akal membutuhkan ruh untuk menggerakkan anggota tubuh sehingga manusia mampu berlaku baik. Manusia tidak dituntut karena memiliki akal dan pengetahuan, tapi manusia akan diminta tanggungjawabnya sebagai makhluk yang memiliki kesempurnaan akal dan kemurnian ruh. Jika pemerintah Indonesia yang sekarang sibuk mengkampanyekan “pendidikan berbasis karakter” namun tidak demikian dengan para penggiat pendidikan. Bagi mereka dalam dunia pendidikan terdapat tiga komponen dasar, yaitu pendidikan, pengajaran, dan pengasuhan. Setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan, pengajaran, dan pengasuhan. Seorang guru misalnya, harus memiliki jiwa pendidik, pengajar dan pengasuh. Ia mampu mendidik anak-anak didiknya dengan ilmu pengetahuan, dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan, namun ia juga mampu mengasuh anak-anak didiknya dengan kasih sayang sebagaimana ia mengasuh anak kandungnya.

Akal manusia memiliki potensi yang luar biasa, setiap potensi memiliki batas maksimal, hal ini berkaitan dengan kemampuan setiap individu untuk mengerahkan tenaga dan pikirannya agar mendapatkan sesuatu yang berguna, minimal untuk dirinya sendiri, kemudian ia berpikir untuk berbuat bagi orang lain. Seorang pendidik hanya berkewajiban untuk memberi tranformasi ilmu kepada anak-anak didiknya, dan memotivasi mereka untuk mengembangkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jika otak sebagai media untuk menyimpan dan menyerap ilmu pengetahuan, maka pengembangannya adalah mengaktualisasikan ilmu pengetahuan tersebut menjadi hal yang bersifat praktis, sehingga dapat dirasakan manfaatnya. Dalam tradisi bangsa Arab disebutkan bahwa “Al-‘ilmu bila ‘amalin kasyajari bila tsamarin” maksudnya adalah ilmu pengetahuan yang tidak diamalkan akan seperti pohon tiada berbuah, dengan kata lain ilmu pengetahuan tersebut tidak banyak manfaat yang dapat diberikan pada diri individu maupun orang lain.

Pengembangan Fisik

Fisik memiliki peran penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ada didalam diri manusia. Melalui fisik, manusia dapat menyerap pengetahuan diluar dirinya. Tidak semua manusia dapat menggunakan panca inderanya dengan sangat baik, karena dari mereka ada yang tidak memiliki fisik secara lengkap atau utuh, namun bagi mereka yang memiliki kepekaan akan mampu mengoptimalkan seluruh kekuatan fisiknya, Tanda-tanda orang yang sempurna akalnya adalah mereka yang mampu menggunakannya untuk memperoleh banyak manfaat, akalnya memberi instruksi kepada anggota tubuh untuk melakukan hal-hal positif sebagai bukti bahwa akalnya terus berkembang dan menjadi kreatif. Dengan begitu, ilmu pengetahuannya akan bertambah dan ruh juga berperan sebagai pengawas segala tindakannya.

Dalam pendidikan, tidak ada pembatasan untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada didalam diri manusia. Seluruh manusia diharuskan untuk mengaktualkan potensi yang mereka miliki, maka dari itu, mereka yang mampu memberikan banyak ruang untuk potensinya agar menjadi aktual adalah mereka yang berpikir dan berilmu. Islam mengajarkan agar seluruh potensi dapat berkembang secara seimbang, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani. Pendidikan identik dengan proses pengembangan yang bertujuan untuk membangkitkan sekaligus mengaktifkan potensi-potensi yang terkandung dalam diri manusia. Sebuah pendidikan tidak sama dengan konstruksi bangunan. Pendidikan adalah proses mendidik manusia untuk menjadi makhluk yang beradab dan berpengetahuan. Setiap manusia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya, ia akan memiliki kecondongan-kecondongan pada pengetahuan yang mampu menjadikannya sebagai makhluk hidup yang bertanggungjawab. Para ulama akhlak mengatakan bahwa setiap esensi manusia adalah akhlaknya, jadi tidak salah jika pendidikan sudah dimulai sejak usia dini, karena anak-anak usia dini bisa menerima pendidikan dan pengajaran lebih besar daripada anak-anak yang berusia remaja dan dewasa.

Fisik memiliki elemen yang diketahui sebagai panca indera, dan perkembangan panca indera telah dimulai sejak manusia berusia 0 tahun, seorang bayi akan terlatih untuk dapat mengembangkan potensi panca inderanya secara alamiah. Ia juga memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan agar dirinya mampu beradaptasi dengan dunia diluar rahim ibunya. Ia akan bersentuhan dengan lingkungan sekitarnya, seperti mengerahkan tenaga untuk menangis, tangannya bergerak untuk menyentuh tangan ibunya, lidahnya mengecap rasa air susu ibunya untuk pertama kali, dan seterusnya. Pengembangan ini adalah pengembangan yang dilalui tahap demi tahap perkembangannya. Sehingga sang bayi bisa menjadi manusia dewasa yang sempurna karena usaha dan pengetahuannya.  Seorang manusia dapat memaksimalkan potensi dalam dirinya dengan mengoptimlakan fisik, sehingga memberikan keluasan berekspresi dan menggali lebih dalam kualitas dirinya.

Keindahan jiwa dan akal tidak dapat dilihat jika fisik hanya diam. Tugas fisik adalah mengaktualkan apa yang dirasakan didalam jiwa dan yang dipikirkan oleh akal. Pembinaan fisik pada masyarakat muslim tentunya menjadi hal penting, sebagai pelengkap pendidikan. Masyarakat muslim harus siap ditempa supaya menjadi masyarakat yang unggul dan ideal, sehingga dapat menjadi teladan bagi masyarakat muslim lainnya, bukan hanya dalam satu lingkungan, tapi bisa menjadi teladan antar bangsa.

Pengembangan Spiritual

Salah satu tujuan pengajaran dan pendidikan adalah membangun kepribadian manusia. Diantara yang lain, aspek spiritual adalah pengembangan yang jarang diperhatikan dalam sistem pendidikan di Indonesia sekarang. Para pemangku kebijkan hanya berorientasi pada prestasi dan pencapaian anak didik, tapi lupa menelaah dan memperhatikan pengembangan spiritual. Pada kenyataannya, anak-anak didik hanya dipacu untuk melaksanakan hak dan kewajiban untuk menunjang pendidikan, sementara hak ruhaninya terabaikan.

Ruh merupakan poros bagi seluruh aktifitas manusia, karena ruh akan saling terkait dan terhubung dengan segala sesuatu diluar diri manusia. Dalam pengembangan spiritual, ruh dididik untuk senantiasa mengingat kepada Sang maha Pencipta, untuk itulah ruh bertugas untuk mengawasi akal dan anggota tubuh dalam menjalankan tugas masing-masing. Pendidikan dan pengembangan spiritual (ruhani) dalam Islam diatur sedemikian tertib dan rasional, sebab hal ini yang menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan yang harus dijaga dan dikembangkan. Dan belum ditemukan sistem pendidikan yang seperti ini di dunia Barat. Islam juga menekankan pada ketinggian nilai jiwa dan ruhani manusia, serta menjaga kemuliaannya dari hal-hal yang bisa merusak kemurnian jiwa itu.

Bersumber dari kemurnian jiwa dan ruhani, maka manusia akan mengaktualkan potensi tersebut dengan akhlak karimah. Seseorang yang berakhlak baik akan mampu menghalau segala macam bentuk pengaruh negatif, karena alat pengawasnya adalah kemurnian jiwa. Dalam pandangan Islam, akhlak digunakan sebagai alat untuk mendidik manusia agar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan, keduanya disebut sebagai potensi. Jadi manusia memiliki dua poros potensi, yaitu yang berupa hal-hal yang membuatnya lemah dan hal-hal yang membuatnya merasa cukup bermanfaat untuk berbagi pengetahuan kepada sesamanya. Saat ini, umat Islam seperti kekurangan metodologi untuk mendidik para generasinya, tapi hal ini adalah mustahil karena Rasulullah Saw telah memberikan contohnya ribuan tahun yang lalu. Beliau menyatakan bahwa dirinya diutus Allah Swt untuk menyempurnakan akhlak. Kaitannya dengan masalah yang sedang dihadapi umat Islam adalah para pemeluknya terlupakan oleh metodologi tersebut. Penyempurnaan akhlak merupakan metodologi yang selalu akan menjadi pekerjaan rumah bagi para orangtua, guru, atau praktisi pendidikan lainnya untuk sama-sama memberikan konsentrasi untuk memperbaiki sistem pendidikan yang semakin lama semakin tidak beraturan. Manusia merupakan cerminan akhlaknya, dalam beberapa keadaan akhlak diidentikkan dengan  moral, tingkah-laku, sikap, atau etika. Dalam pengembangan spritual harus diperhatikan juga etika terhadap Allah dan Rasul-Nya, setiap  insan memiliki fitrah tauhid, yakni mengEsakan Dzat Allah, dan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Spiritualitas tidak akan berarti sama sekali tanpa ada sikap ketundukan dan kepatuhan terhadap Sang Pencipta alam semesta dan segala isinya. Dzat Maha Tinggi yang telah memberikan manusia beragam macam potensi untuk diaktualkan sehingga dapat membawa manfaat bagi diri dan lingkungannya. Tauhid juga merupakan intisari peradaban, sedangkan peradaban melahirkan pendidikan, dari pendidikan akan muncul generasi-generasi yang kuat spiritual, mental, dan karakter.

Murtadha Muthahhari juga memaparkan beberapa faktor internal dalam pendidikan Islam, yaitu:

a. Al-muraqabah (mawas diri)

Manusia diharuskan untuk mawas diri, agar ia senantiasa menyadari setiap tingkah laku dan perkataan yang dilakukannya. Segala yang dilakukan tidak merugikan diri dan orang lain.

b. Al-muhasabah (intropeksi diri)

Dalam setiap hal yang telah dilakukan, manusia memiliki kewajiban pula untuk dapat mengevaluasi agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik lagi.

c. Al-musyarathah (persyaratan bagi diri sendiri)

Seyogyanya manusia memiliki syarat-syarat tertentu untuk bisa melakukan hal yang memberi manfaat untuk dirinya, sehingga ia menjadi terarah dan fokus dalam melakukan aktifitas.

d. Al-mu’atabah (menyesali kesalahan)

Penyesalan memang selalu datang terlambat, namun hal terbeut juga tetap memberikan manfaat positif, dan menjadikannya motivasi untuk bisa melakukan banyak hal yang lebih baik lagi.

e. Al-mu’aqabah (memberi sanksi)

Manusia harus berani bertanggung jawab atas diri dan perbuatannya. Jika melakukan kesalahan sebaiknya ia dapat memberikan konsekuensi hukuman untuk dirinya sendiri, paling tidak ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Pada kesimpulannya, dalam Islam setiap manusia diajarkan untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik secara lahir maupun batin dalam ketakwaan kepada Allah Swt. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut diharapkan menjadi pondasi untuk membentuk karakter yang muliapendidikan karakter tidak dapat terlepas dari kerangka ajaran Islam yang kâffah (komprehensif), seperti akidah, syariah, dan akhlak. Akidah menanamkan tauhid serta iman, syariah memberikan arahan untuk mengamalkan kebajikan, dan akhlak menjadi perisai bagi tauhid dan syariah atau dengan kata lain sebagai pelopor untuk beramar ma’ruf nahi munkar, serta dengan akhlak, manusia menjaga hubungannya dengan Allah, dan sesama makhluk-Nya. Hubungan-hubungan yang terjaga dengan baik inilah yang menjadikan kehidupan lebih harmonis dan dinamis, kemudian dapat mencetak generasi-generasi muslim yang bertauhid, berpengetahuan, dan berakhlak mulia.

Free WordPress Themes, Free Android Games