FTP; Filsafat dalam Tafsir Surat Al-Ala Mulla Sadra

FTP; Filsafat dalam Tafsir Surat Al-Ala Mulla Sadra

Tafsir Al-Quran bagi sebagian filsuf muslim adalah bagian perjalanan pamungkas intelektual. Semacam peneguhan kesempurnaan setelah sebelumnya menuangkan gagasan filsafat, kalam dan irfan. Filsuf muslim seperti Ibn Sina, disamping menuangkan filsafat peripatetiknya juga menulis tafsir Al-Fatikah, Yasin dan Al-ikhlas.

Mulla Sadra menulis kurang lebih 12 surat; al-Hadid (QS: 57), al-Kursi (Q; 2;255), Al-Nur (QS 24;35), al-Sajdah (QS 32), AL-Fatihah (QS 1), Al-Baqoroh (QS 2), Ya Sin (QS 36), Al-Jumah (QS; 57), Al-Waqiah (QS 55), al-Thariq (86), al-Ala (87), al-Zilzalah (QS 99). Mulla Sadra selain ahli filsafat menurut Syyed Hossein Nasr juga mengenal dengan baik standar umum tafsir; Baidhawi, Thabari, Zamakhsyari dan Abu Futuh al-Razi. Dia juga memahami dengan baik, empat mazhab penafsiran Al-Quran yakni sufi, mazhab syiah, teologi dan filsafat. Bahkan tafsir Sadra hasil dari ilham Arsy illahi.

Pertanyaan kemudian muncul, sejauhmana dan bagaimana hubungan antara filsafat dan tek agama. Bisakah sepenuhya filsafat tidak berjarak dengan tek agama. Bagaimana kedudukan tafsir dhohir, tafsir batin dan sejauhmana latar belakang filsafat dan teologi seseorang filsuf akan berpengaruh terhadap produk tafsirnya.

Seorang peneliti STFI Sadra, Kerwanto MA akan menjawab tuntas pertanyaan tersebut. Forum Temu Pakar (FTP) 17/10/2017, sengaja mengundang ayah satu anak ini berbagi pengalaman hasil penelitianya. Kerwanto bertahun tahun secara khusus meneliti Filsafat dalam tafsir surat Al-A’la Mulla Sadra. Semoga penderitaan meneliti ini terobati dengan undangan diskusi ini, ungkap Ammar Fauzi, Deputy Riset STFI Sadra.

Hadir sebagai penanggap, Hashem Adnan (kandidat doktor tafsir) dan Ali Sibro Malisi (kandidat doktor tafsir) serta Dr. Beny. Dimoderatori Dede Jery-mahasiswa S1 tafsir.

Kerwanto
Sebagaimana dalam absrak tesisnya, Kerwanto berusaha menguji dan menganalisa bagaimana Ṣadrā menuangkan bangunan metafisika-nya yang genuin seperti kehakikian wujud (aṣālah al wujūd), gradasi wujud (tashkīk al wujūd) dan gerak substansi (ḥarakah jauhariyah) ke dalam kerangka (framework) teks-teks keagamaan. Penelitian ini sekaligus merupakan suatu upaya untuk membuktikan hipotesa ketidakberjarakan antara filsafat dengan teks-teks keagamaan.

Ṣadrā, sebagai salah satu filsuf muslim yang paling berpengaruh, telah diakui berhasil mensintesakan elemen-elemen penting dalam tradisi Islam–filsafat, mistik (irfān) dan teologi. Ia juga dikenal berhasil menuangkan pemikiran filosofisnya dalam beragam komentarnya atas sumber-sumber utama keagamaan, baik yang berkaitan dengan al Qur’an maupun ḥadīth.

Lewat penelitianya, Kerwanto berupaya untuk melakukan penelusuran secara mendalam untuk menuangkan kembali gagasan Ṣadrā tentang tasbīḥ (pensucian Tuhan). Melalui konsentrasi pada teks-teks Q.S. al ‘aʿlā, kita diajak untuk berpetualang menuju lapisan makna terdalam untuk mengenali ealitas mabda’, ṣirāṭ dan maʿād.

Selanjutnya melalui perenungan mendalam atas komentar Ṣadrā tersebut, kita juga diajak untuk membuka visi dan cara pandang baru akan pentingnya prinsip-prinsip filosofis dalam memahami kajian teks-teks keagamaan.

Peneliti membatasi ulasan pada tema-tema penting yang tertuang dalam Q.S. al ‘aʿlā seperti tentang ketuhanan (theology), alam (cosmology), manusia (anthropology), kenabian (prophetic) dan kebangkitan (escathology).

Penelitian ini merupakan suatu upaya untuk menggali manfaat dari aspek aspek penting dari sumber-sumber keagamaan yang tergali dari petunjuk al Qur’an yang berpadu dengan prinsip-prinsip rasional filosofis dan pengalaman mistik (intuitif) Ṣadrā.

Latar Belakang Penelitian
Dikatakan Kerwanto, hingga kini masih muncul kelompok yang memperdebatkan nilai pentingnya pemikiran filsafat. Sebagian kelompok pendukung gagasan al Ghazāli, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim menganggap ajaran-ajaran filosofis merupakan barang asing dan bertolak belakang dengan ajaran agama, khususnya al Qur’an dan sunah nabi yang ṣaḥīḥ; anggapan bahwa antara filsafat dan al Qur’an ada jarak yang tidak bisa disatukan. Bahkan secara mati-matian muncul sekelompok agamawan yang tak ragu megeluarkan statemen ‘kafir’ ataupun ‘zindiq’ kepada para para filsuf.

Cara pandang tersebut bersebrangan dengan pandangan para filsuf secara umum. Para filsuf muslim meyakini bahwa antara filsafat dengan wahyu (syariat ilahiyah) tidaklah bertentangan. Bahkan keduanya memiliki relasi yang sinergis. Bahkan, dalam beberapa hal, kaidah-kaidah filsafat (rasional) sangat berguna untuk memahami kandungan dan makna al Qur’an.

Terdapat beberapa filsuf yang menulis kitab tafsir. Salah satunya adalah Mullā Ṣadrā. Oleh karenanya, penting untuk dilakukan penelitian secara mendalam tentang muatan filosofis yang terkandung dalam kitab tafsîr al-Qurân al-Karîm karya Mullā Ṣadrā.

Hingga kini masih muncul kelompok yang memperdebatkan nilai pentingnya pemikiran filsafat. Sebagian kelompok pendukung gagasan al Ghazāli, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim menganggap ajaran-ajaran filosofis merupakan barang asing dan bertolak belakang dengan ajaran agama, khususnya al Qur’an dan sunah nabi yang ṣaḥīḥ; anggapan bahwa antara filsafat dan al Qur’an ada jarak yang tidak bisa disatukan. Bahkan secara mati-matian muncul sekelompok agamawan yang tak ragu mengeluarkan statemen ‘kafir’ ataupun ‘zindiq’ kepada para para filsuf.

Cara pandang tersebut bersebrangan dengan pandangan para filsuf secara umum. Para filsuf muslim meyakini bahwa antara filsafat dengan wahyu (syariat ilahiyah) tidaklah bertentangan. Bahkan keduanya memiliki relasi yang sinergis. Bahkan, dalam beberapa hal, kaidah-kaidah filsafat (rasional) sangat berguna untuk memahami kandungan dan makna al Qur’an.

Kenapa Tafsīr Q.S. al ’aʿlā ?
Tafsīr Q.S. al ’aʿlā selain singkat dan terstruktur, ia juga memuat tema-tema penting terkait doktrin-doktrin paling fundamental dalam agama. Ṣadrā mengulas doktrin-doktrin tersebut secara runut, yakni berawal dari ke-tahuid-an (al mabda’), kenabian (nubuwah) dan kebangkitan (maʿād). Walaupun tafsir ini relatif singkat, menurut peneliti, ia akan tetap relevan untuk dijadikan peta (map) untuk membaca peta pemikiran filsafat Ṣadrā dalam karya-karya tafsir lainnya.

Mullā Ṣadrā
Ṣadr al Dīn Mohammad Shīrāzī (979 – 1050/ 1571 – 1640), bergelar Ṣadr al Muta’ālihīn, dan dikenal juga sebagai Mullā Ṣadrā atau Ṣadrā, merupakan salah satu filsuf muslim terbesar, seperti Ibn Sīnā. Ṣadrā hidup pada masa dinasti Safāwī. Ia telah menulis sekitar 50 buah judul buku terkait dengan filsafat, tafsir al Qur’an dan hadīth. Karyanya yang paling terkenal dan fonumental adalah al Asfār al Arba’ah, yang terdiri dari sembilan jilid.

Ketika berposisi sebagai seorang mufassir, Ṣadrā mampu memegang jati dirinya sebagai seorang filsuf walaupun tetap berpegang kuat pada tradisi Syiah Imamiyah yang ia yakini. Ṣadrā juga sangat menekankan adanya suatu upaya dimana filsafat dan irfān mampu berkolaborasi guna menafsirkan teks-teks agama, khususnya al Qur’an. Bahkan diantara para filsuf yang mencoba untuk mengomentari Al Quran, Ṣadrā-lah termasuk yang terdepan dan memiliki tempat istimewa. Ketika menela’ah karya-karya tafsīr Ṣadrā maka elemen-elemen pemikiran filosofis dapat diidentifikasi dengan jelas.

Sejarah penulisan tafsir Mullā Ṣadrā
Ia memulai penulisan tafsirnya dari ayat kursī dan ayat al nūr. Tafsir ayat kursī ini diperkirakan ditulis oleh Ṣadrā pada tahun 1613, sedangkan tafsir ayat al nūr pada 1621. Dan selanjutnya pada tahun 1621 hingga 1632 ia melanjutkan penafsirannya pada beberapa surat al Qur’an, seperti: sūrah yāsīn, al ḥadīd, al wāqīʿah, al ‘a’lā, al ṭāriq, dan di akhir hidupnya menafsirkan Q.S. al fātiha dan beberapa Q.S. al baqarah (walaupun tidak selesai). Kedua tafsir ini (Q.S. al fātiha dan Q.S. al baqarah) ditulis pada tahun 1632 – 1634. Ṣadrā tidak merampungkan karya tafsirnya.

Secara umum, karya tafsir Ṣadrā bisa dikategorikan dalam dua jenis, yakni tafsīr atas sūrah dan tafsīr atas ’āyah. Beberapa sūrah al Qur’ān yang telah dikomentari Ṣadrā diantaranya; sūrah al fātiḥah, al baqarah, al sajadah, yāsīn, al ḥadīd, al wāqīʿah, al jumuʿah, al ṭāriq, al ’aʿlā dan al zilzāl. Sedangkan untuk kategori ’āyah ada tiga, yakni; ’āyah al kursī, al nūr dan Q.S. al naml (27): 88

Gambaran umum tentangg tafsir Mullā Ṣadrā
Dalam keseluruhan tafsirnya, Ṣadrā sepertinya tidak terlalu tertarik pada gagasan-gagasan para mufassir dan teolog pada masanya ataupun sebelumnya, karena ia lebih banyak berkonsentrasi pada upaya deskripsi dan pemaparan muatan-muatan makna al Quran yang berdasarkan pada intuisi personalnya. Dalam tafsir Q.S. al a’lā, misalnya, Ṣadrā hanya menyinggung dan mengkritik pemikiran teolog semisal dari golongan Mu’tazilah, Ay’ariyah dan filsuf hanya dengan enam baris kalimat saja.

Ia sepertinya tidak banyak memberikan perhatian pada sisi literal ayat walaupun dalam beberapa hal ia membahasanya dan terkadang menukil beberapa hadith sebagai penguat argumentasi. Dalam beberapa hal, dalam tafsirnya, Ṣadrā mengikuti gaya Ibn Arabi, yakni menggunakan metode simbolisme. Ṣadrā sangat jauh berbeda dengan filsuf maupun teolog sebelumnya yang masih terkesan apologetik ataupun terkesan teologis ketika menafsirkan al Qur’an.

Pakar tafsir seperti ‘Asadi Nasab memasukan tafsir Ṣadrā sebagai salah satu jenis dari tafsir isyari. Dalam bukunya, ia menyebut sebagai salah satu jenis tafsir isyari yang muktabar. Berdasarkan periodesasi perkembangan tafsir isyari, Rosihon Anwar memasukan Ṣadrā sebagai mufasir tafsir isyari yang lahir pada periode ketiga (abad VIII-X H). Dengan ciri-ciri: munculnya teosof syiah yang menulis tafsir seperti Haidar Amuli.

Mullâ Shadra dalam kitab tafsirnya menggunakan beberapa ungkapan seperti al-kasyf at-tanbîhî, al-kasyf al-ilhâmî, kasyf istifâdî, mukâsyafah qurâniah, mukâsyafah sirriah, mukâsyafah ilhâmiah dan ungkapan-ungkapn irfan lainnya untuk menunjukan sebuah penafsiran ayat-ayat Al-Quran dengan isyarat-isyarat batin yang bersandar pada mukâsyafah dan syuhûd.

Gambaran Umum Kandungan tafsir Q.S al A’lā Mullā Ṣadrā
Al tasbīḥ al awwal (Q.S. al a’lā: 1-3): mendeskripsikan hakikat tasbīḥ dan mendeskripsikan kesucian Dhāt Tuhan dengan menggunakan argumentasi ciptaan hewan dan kondisi jiwa hewan. Di dalamnya, Ṣadrā juga memberikan pemaparan philologi bahasa terkait dengan ayat, misalnya menjelaskan makna hakikat dari frase kata ‘ism rabbika al a’lā’ pada ayat 1, kata ‘taqdīr’ pada ayat ke-2 dan kata ‘taswiyah’ pada ayat ke-3.

Al tasbīḥ al thānī (Q.S. al a’lā: 4-5): Penjelasan tentang ināyah, ḥikmah dan kesucian Tuhan dengan menggunakan argumentasi keberadaan tumbuhan. Ṣadrā juga mengawali tafsirnya dengan penjelasan secara singkat akar kata ‘al mar’ā’ dan ‘aḥwā’ yang menjadi kata kunci pada kedua ayat tersebut.

Al tasbīḥ al thālith (Q.S. al A’lā:6-9): mengulas tentang karakteristik seorang nabi, khususnya tentang kesempurnaan yang dimiliki oleh nabi Muhammad saw. Ini menjadi ciri khas tafsir ini. Kesempurnaan yang dimiliki nabi merupakan kesempurnaan hakiki, yakni memiliki kesempurnaan dalam dua fakultas, teoritik (al quwwah al naẓariyyah) dan praktik (al quwwal al ʿamaliyyah); memiliki kemampuan untuk mengambil wahyu dari Tuhan, dan kemudian menyampaikannya kepada makhluk (khususnya manusia) dan membimbingnya untuk menuju proses perfeksi (takammul)

Al tasbīḥ al rābi’ (Q.S. al A’lā:10-13): Ṣadrā mengulas tentang tingkatan jiwa manusia, kebahagiaan dan deritanya ditinjau dari sisi capaian kesempurnaan ilmunya

Al tasbīḥ al khāmis (Q.S. al A’lā:14-16): ia mengulas tentang tingkatan kebahagian dan derita tersebut yang akan dialami oleh manusia di akherat kelak ditinjau dari sisi amalnya.

Al tasbīḥ al sādis (Q.S. al A’lā:17): Ṣadrā mengulas tentang perbedaan kondisi manusia ditinjau dari perbedaan ketetapan hatinya dalam pencarian kenikmatan. Jiwa yang hina dan rendah lebih mengutamakan dunia dan kenikmatan yang bersifat singkat, sedangkan jiwa yang berakal, mulia dan suci akan mencari kenikmatan ukhrawī nan abadi yang jauh lebih baik di akherat kelak nanti.

Al tasbīḥ al sābi’ (Q.S. al A’lā:18-19): Bab Penutup berisi tentang beberapa penegasan; bahwa perkara-perkara yang disebutkan dalam pembahasan-pembahasan pada bab sebelumnya, yakni: terkait dengan ketuhanan, kenabian dan hari akhir merupakan jalan Ilahi dan agama yang lurus. Pengetahuan-pengatahuan tersebut merupakan jalannya para nabi dan para wali.

Setelah di teliti, Kerwanto menemukan bahwa terdapat kandungan Filosofis dalam Tafsir Q.S al A’lā Mullā Ṣadrā diantaranya; 1.. Filsafat Ketuhanan: a. Keberadaan Dzat Tuhan, Inayah dan kekuasaan-Nya, b. Nama-Nama Allah (asmā’ Allah), c. Ilmu Allah. 2. Cosmology/ Alam: a. Kaidah al-Imkân al-asyraf, b. Tingkatan Eksistensi (Gradasi Wujud), c. Butuhnya Alam kepada Sebab. 3. Filsafat Kenabian; a. Karakteristik Nabi (Esensi, Sifat dan Substansinya), b. Fungsi Nabi. 4. Eskatologi; a. Kebahagiaan dan Tingkatannya, b. Ritual Ibadah dan Pengaruhnya terhadap Jiwa.

Terdapat banyak elemen-elemen filosofis dapat diidentifikasi secara jelas dalam tafsirnya. Terdapat hubungan yang interaktif antara ajaran agama dan filsafat, khususnya dalam masalah ketuhanan, alam, kenabian dan eskatologi.

Penanggap
Ali Sibro Malisi sebagai penanggap pertama memberi masukan pada pemateri bahwa akan terjadi kesulitan memahami tafsir Sadra jika frame yang diapakai pemateri menggunakan teologi bukan ahlulbyat karena Sadra menggunakan pola ushuludin Syiah. Berbeda dengan Dr. Beny sebagai penanggap ketiga, melihat jusru kita akan memahami tafsir Mula Sadra dengan baik, jika menganggap teologi sebagai benda asing dalam kontek tafsir Mulla Sadra.

Hashem Adan sebagai penanggap ketiga melihat bahwa hasil tafsir Mulla Sadra adalah proses riyadah, dan sang penafsir telah mengalami pencerahan. Kondisi tasbih adalah setelah musabah mengetahui yang di tasbihi, tidak mungkin terjadi kesaksian tanpa penyingkapan terlebih dahulu. Argumentasi ini lahir dari ilmu hudhuri.

Setelah diskusi berjalan 2 jam, akhirnya Dede Jery (moderator) menutup acara diskusi Forum Temu Pakar (FTP).

Terlihat antusias tinggi dari mahasiswa karena jarang Forum Temu Pakar mengambil tema tafsir.

 

Falsafah dan Manajemen Kematian

Falsafah dan Manajemen Kematian

Oleh; Abdullah Beik,MA

Kematian adalah realitas paling niscaya yang justru diabaikan oleh kebanyakan orang. Semua kita tahu bahwa kita akan dan pasti mati, namun kita selalu saja lalai dan melupakannya. Semua tahu bahwa, di saat meninggalkan dunia ini, kita akan menempuh perjalanan menuju Tuhan, yakni menuju Yang Nirbatas. Pertanyaannya, berapa waktu dan tenaga yang kita gunakan untuk mempersiapkan diri berbekal dan berinvestasi guna membangun ‘dunia yang nirbatas’ itu dibanding dunia yang serba terbatas ini?!

“Setiap jiwa merasakan kematian, kemudian kepada Kamilah kalian dikembalikan.”
(QS. al-Ankabut [29]: 57).

Kematian adalah untuk semua, tak terkecuali. Kematian merupakan peristiwa dimana uang, jabatan, relasi, dan partai tidak lagi berarti apa-apa, sama sekali. Kematian tidak pandang bulu. Di hadapan kematian, semua sama; tidak ada beda antara kaya dan miskin, elite dan rakyat awam, atasan dan bawahan. Dalam status dan keadaan apa pun, setiap kita pasti dan pasti akan mati.

Kematian bukan akhir kehidupan, tetapi awal dari kehidupan. Jika paling nyata dari kehidupan ini adalah Tuhan dan mati yaitu lompatan menuju Tuhan, ini artinya kita, dengan kematian, baru akan bergerak menuju yang paling nyata di antara semua realitas. Yakni, kematian merupakan titik awal kita memulai kehidupan hakiki.

Jawadi Amuli berkali-kali menekankan bahwa bukan kematian yang merasakan kita, tetapi kitalah yang akan merasakan kematian. Kitalah yang mencerna kematian dari diri kita, bukan sebaliknya. Artinya kematianlah yang hilang dari kita, bukan kita yang akan hilang dengan kematian. Kita diciptakan untuk hidup abadi, sementara kematian akan tercerna dan lepas dari diri kita.

Apa kematian itu? Apakah hanya peristiwa keluarnya ruh dari badan? Kalau demikian, bagaimana dengan kematian malaikat?

Ayat tersebut mengatakan bahwa setiap jiwa, yakni setiap yang memiliki ruh, akan merasakan kematian, dan perjalanan berikutnya adalah kembali kepada Allah swt. Jadi, kematian adalah apa yang kita ketahui sebagai ‘ruh’ akan dicerabut dari kita sehingga, dengan demikian, akan lebih dekat dengan Allah swt. Karena itulah perkataan Imam Ali ra. di atas dapat dimengerti; betapa ia merindukan kematian lebih dari kerinduan bayi pada susu ibunya; ia rindu untuk segera dekat bersama Allah swt.

Jika kematian itu berarti meregangnya ruh dari badan, manusia punya kekuatan meregangkan ruhnya dari badannya. Inilah yang disebut dengan kematian sengaja. Maka, kematian ada dua: kematian dipaksa/natural (al-mawt al-adhthirariy) dan kematian sengaja/diinginkan (al-mawt al-ikhtiyariy). Dalam hadis masyhur disebutkan, “Matilah kalian sebelum kalian mati!” Perintah mati dan mematikan diri hanya bermakna bila dapat dilakukan dengan kehendak bebas. Jadi, matilah dengan keinginan kita sebelum kita, suka atau tidak, didatangi Malaikat Maut dan dipaksa mati.

Kematian dipaksa adalah hukum mutlak bagi setiap manusia, tetapi kematian sengaja hanya bagi sebagian orang. Imam Ali mengambarkan orang yang menempa diri di jalur tazkiyah nafs demikian, “Dia telah menghidupkan akal dan mematikan dirinya” (Nahj al-Balaghah, pidato 220).

Mati sengaja dialami sebelum mati dipaksa. Mati sengaja yaitu orang beriman yang, semasih hidup di dunia ini dan belum mengalami kematian dipaksa, mencapai tingkat spiritual hingga mampu menyaksikan keadaan dan kenyataan di alam pasca kematian dipaksa. Maka, bila kembali ke kondisi normal hidup dengan badannya, ia akan merindukan ingin segera menetap di alam itu, alam yang lebih agung, mulia dan abadi.

Agar tidak salah dipahami bahwa mati sengaja bukan berarti ia mematikan diri dengan cara bunuh diri. Bunuh diri tidak diperintahkan; hukumnya haram dan termasuk dosa terbesar. Bunuh diri bukan mati sengaja juga bukan mati dipaksa, tetapi mati terpaksa karena merasa tidak punya pilihan lantaran putus asa tidak lagi percaya akan rahmat dan jalan keluar Allah di balik setiap usaha. Bunuh diri terjadi karena frustasi dan pesimis, sementara mati sengaja dialami karena rindu, cinta dan optimis mencapai rahmat dan kedekatan diri pada Allah.

Kematian sengaja ini, oleh para sufi, disebut juga dengan kelahiran kedua, yakni lahir keluar dari ‘rahim’ dunia setelah, sebelumnya, lahir keluar dari harim ibu. Dengan kelahiran kedua ini, manusia menemukan hakikat dan jati dirinya yang sesungguhnya; dia merancang, mempersiapkan, membangun, menata dan menyucikan diri dengan pengetahuan, iman dan amal shaleh hingga, dengan tangan dan usahanya sendiri, terlahir kembali seperti awal kali ia suci dalam fitrah tauhid sebelum di lahirkan ke dunia. Fitrah tauhid yaitu ayat 172 dari surah al-A’raf [7], “Dan [ingatlah] tatkala Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian atas ruh mereka, ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul, kami bersaksi.’ [Ini] agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya ketika itu kami lalai terhadap ini.‘” Isa al-Masih a.s. bersabda, “Tidak akan masuk alam tinggi langit-langit orang yang tidak lahir dua kali” (Mulla Sadra, Syarh Ushul al-Kafi, jld. 1, hlm. 361 dan 417).

Mati dipaksa ialah kematian yang memaksa manusia, yang tadinya tidak sadar-sadar, jadi sadar. Sementara mati sengaja adalah kematian yang diinginkan dan dialami dengan sadar. “Sungguh kamu telah lalai tentang ini, maka Kami singkapkan tiraimu darimu sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam” (QS. Qaaf [50]: 22). Dalam hadis masyhur, Nabi saw. bersabda, “Orang-orang itu tidur. Tatkala mati, mereka barulah sadar.”

Selama ini, di dunia ini, kita cukup nyaman mengira diri kita adalah badan ini. Dengan kematian, badan kita akan diambil dari kita dan kita akan hidup di alam barzakh, sementara badan akan hancur di dalam kubur. Tatkala sangkakala ditiup, kita akan meninggalkan alam barzakh menuju alam akhirat. Jalaluddin Rumi dengan indah dan bahasa sederhana menggambarkan hal itu:

Aku mati tinggalkan benda mati jadi tumbuh
Aku mati tinggalkan benda tumbuh jadi hewan
Aku mati tinggalkan hewan jadi manusia
Karenanya untuk apa takut?!
Kapan kita kehilangan sesuatu dengan mati?!
Pada serangan yang lain aku mati tinggalkan manusia
Hingga pelan menuju sayap dan kepala malaikat
Kemudian aku mati tinggalkan malaikat mencari kanal
Segala sesuatu hancur kecuali wajah-Nya
Sekali lagi aku jadi korban malaikat dan tinggalkan mereka

Kematian bukanlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, namun kenyataan yang ada dan sedang berlangsung. Ayat tersebut tidak mengatakan, “akan merasakan kematian”, namun dza’iqat al-mawt, yakni jiwa saat ini juga tengah merasakan kematian. Ia juga bukan satu kejadian lalu tuntas selesai, namun berlangsung selamanya dan terus menerus. Setiap saat, suka atau tidak, selalu ada sesuatu yang kita lepaskan dan bergerak untuk mendekatkan diri pada Allah. Malaikat pencabut nyawa, salah satu malaikat yang dekat dengan Tuhan, pelan-pelan menghantarkan diri kita kepada-Nya. Lalu, bagaimana kita sendiri?

Jika, dengan kematian, yang kita lepaskan adalah segala yang menyebabkan kita terbatas, yakni keterikatan kita pada harta, jabatan, keluarga, partai, kubu, dll., maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lain halnya jika kita terikat dengan hal-hal yang serba terbatas tersebut, berpisah dengannya menjadi sangat berat, karena yang semestinya kita lakukan ialah bergerak menuju Realitas Nirbatas, yakni Allah swt., dan meninggalkan yang terbatas, yakni dunia. Sebaliknya, keterikatan pada dunia akan membuat kematian dicicipi begitu pahit dan menyakitkan.

Telah dijelaskan sebelumnya, masalah yang menjadi problem besar kita ialah membiarkan kemampuan dan potensi diri kita rendah dan kurang. Alih-alih memperbesar kemampuan diri yang seharusnya memang demikian, kita malah membanggakan diri dengan mengatakan bahwa saya telah melakukan ini dan itu. Kita melihat segala sesuatu dengan cermin diri kita, dan itulah kekurangan kita. Diri yang terbatas ini semestinya diambil dari kita dengan kematian sehingga, dengan setiap kematian, kita akan melepaskan sebagian dunia kita, yaitu badan, dan berganti dengan alam barzakh. Barzakh ini pun kita lepaskan untuk melakukan perjalanan menuju Allah. Itulah makna “kepada Kamilah kalian dikembalikan.”

Kematian, seperti juga kehidupan, adalah makhluk Allah swt., bahkan diciptakan lebih dulu daripada kehidupan, seperti firman Nya, “Yang menciptakan mati dan hidup …” Manusia juga, sebelum hidup, berada dalam kematian. Allah berfirman, “Dan bagaimana kalian ingkar kepada Allah padahal saat itu kalian dalam keadaan mati, kemudian Dia menghidupkan kalian, kemudian Dia mematikan kalian, kemudian Dia menghidupkan kalian, kemudian kepada-Nya kalian akan dikembalikan.” Kita mendapatkan kehidupan dari kematian. Dalam setiap detik dari kehidupan, kita selalu merasakan kematian, hingga tiba suatu masa dimana semua yang ada padanya hancur, namun Tuhanmu yang Maha Agung dan Mulia tetap dan senantiasa ada. Kita mesti yakin bahwa tidak ada yang kekal kecuali Allah dan, secara prinsipal, tidak ada yang nyata secara hakiki kecuali Dia.

Akhir ayat ditutup dengan “dan kepada Kamilah kalian dikembalikan“. Artinya, kematian itu, selain bukan hilang dan lenyap, merupakan proses menuju sesuatu yang jelas, yakni kembali ke awal dari mana kita berasal, yaitu Allah. Maka, Allah adalah tujuan hidup. Hidup kita bernilai dengan nilai dengan niat, yaitu qurbatan ila Allah: mendekatkan diri pada Allah.

Bertolak dari hadis masyhur, “Sesungguhnya semua pekerjaan itu sesuai dengan niatnya”, maka pekerjaan yang mulia ialah pekerjaan yang diawali dengan niat yang mulia, dan niat termulia ialah kesadaran akan keinginan yang paling mulia dan paling tinggi, yaitu keridhaan Allah dan kedekatan diri padanya. Oleh karena itu, sedari awal bekerja dan berusaha, seorang muslim sudah punya kesadaran dalam niatnya akan kematian untuk kembali dan menjumpai Allah.[ab]

Studi Kebahasaan

Nafs berarti jiwa. Ia identitas pembeda satu entitas dari yang lain (Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur’an, jld. 21, hlm. 198). Karena itulah ruh juga dipadankan dengan nafs, karena diri kita, manusia, berada dalam autoritas ruh.

Dza’iqat al-mawt hampir sama maknanya dengan yadzuqu al-mawt, yakni merasakan kematian. Karena itu, sebagian penerjemah al-Quran menerjemahkan kata itu demikian. Hanya saja, ada beda antara kata kerja yadzuqu dan kata benda dza’iqatuh yang, dalam bahasa Arab, disebut nomina subjek (ism al-fa‘il). Yaitu, kata benda nomina subjek menunjukkan kejadian yang berkesinambungan. Artinya, kata kerja mudhari’ menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung dan mendatang secara terus-menerus, pada kata nomina subjek lebih kuat dan kokoh. Untuk lebih jelasnya, kata kerja mudhari’ bisa digunakan juga untuk pekerjaan yang dilaksanakan saat ini dan selesai, seperti aku berbicara dan pohon tumbang, namun kata nomina subjek digunakan untuk peristiwa yang terus berkesinambungan, seperti air mengalir.

Hadis

Setelah turun ayat “Engkau akan mati sebagaimana mereka (manusia) juga akan mati,” Nabi saw. bertanya, “Tuhanku, apakah manusia semua akan mati dan malaikat akan tetap hidup abadi?” Maka turunlah ayat, “Setiap jiwa akan merasakan kematian dan kepada Kamilah kalian dikembalikan” (Shahifah al-Imam al-Ridha a.s., hlm. 62).

Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Hai Anak Adam, setiap hari rezeki kalian bertambah namun kalian selalu gelisah; setiap hari usiamu berkurang namun engkau bergembira. Mengapa kamu mencari yang akan membuatmu bertindak melampaui batas, padahal segala yang kamu butuhkan telah kamu miliki. Kamu tidak puas dengan yang sedikit dan tidak kenyang dengan yang banyak.’” (A’lam al-Din fi Shifat al-Mu’minin, hlm. 337)
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib bersabda, “Demi Allah, anak Abu Thalib ini lebih menyukai kematian dari kesukaan seorang anak pada air susu ibunya.” (Nahj al-Balaghah, pidato no. 5).

Apa Kata Goethe Tentang Alquran?

Apa Kata Goethe Tentang Alquran?

Apa Kata Goethe Tentang Alquran?
Siapa yang tak kenal Goethe? Ini bukan sembarang nama. Dialah manusia luar biasa yang pernah dimiliki Jerman. Nama Goethe kini dilekatkan pada nama papan pusat-pusat penelitian, pendidikan dan kebudayaan Jerman yang tersebar pada hampir semua negara di dunia. (more…)

Sekilas Kitab-Kitab Tafsir Indonesia

Sekilas Kitab-Kitab Tafsir Indonesia

Sejarah tafsir dan awal mula kronologis penjelasan atas ayat-ayat Al-Quran tidak terpaut jauh dengan awal penurunan wahyu. Nabi SAW, selain sebagai penerima wahyu, juga penyampai (muballigh) yang sekaligus menerangkan kandungan dan bahkan menjelaskan penerapannya secara kauistik. (more…)

Free WordPress Themes, Free Android Games