FAP; Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

FAP; Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

FAP; Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

Penerjemahan umumya dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Bukan sebuah pekerjaan yang dianggap penting. Namun, penerjemahan sebenarnya adalah bagian dari rangkaian penelitian.

Pekerjaan menerjemahkan memiliki bobot penting. Dapat menjadi fondasi pemikiran bahkan keberlanjutan peradaban tradisi ilmiah Islam. Seperti yang kita ketahui, tradisi keemasan Islam abad pertengahan banyak berutang pada Al-Kindi. Filsuf ini merupakan pionir- mengawali karirnya dengan banyak melakukan pekerjaan penerjemahan karya pemikiran dalam bahasa Yunani kedalam tek Arab. Berkat jasanya, dunia Islam dapat mengakses dan berdialektika dengan Filsafat Yunani. Setelah itu-dunia barat kemudian meneruskanya dan berutang besar pada penerjemahan para filsuf muslim.

Untuk menjadi penerjemah yang baik dibutuhkan beberapa syarat. Diantaranya, keahlian pengalaman bahasa, pembacaan horison penulis, pemahaman tek dan kontek.

Disamping tek filsafat, salah satu tek dengan tingkat kesulitan penerjemahaan tinggi adalah karya masterpiece para sufi bersumber dari ilham bukan dari akal diskursif. Sehingga yang dibutuhkan tidak hanya fokus pada tek gramatika dan memindahkan kata per kata, tapi juga memperhatikan kondisi fenomenologis spiritual penulis. Salah satu contoh tek tersebut adalah Al-Futuhat Al-Makkiyah karya Ibnu Arabi.

Bagaimana suka duka penerjemahan tek tersebut. Melalui program Forum Antar Pakar (FAP) Sabtu, 16/04, 2016, Riset STFI Sadra mencoba menjawab dengan menghadirkan seorang penerjemah Al-Futuhat Al-Makkiyah dari AS, Dr. Winkel. Sebagai penanggap, hadir Ammar Fauzi, Ph.D. Diskusi bertempat di STFI Sadra di lt.04 STFI Sadra.

Dr. Eric Winkel
Dr. Winkel lahir di Manhattan, Kansas. Tinggal di Jenewa, Swiss. Selama 7-11 tahun di Haverford, lalu Penn, kemudian University of South Carolina. Dia melakukan studi eklektik, kebanyakan agama pada awalnya, memusatkan perhatian pada masalah spiritual, kemudian termasuk ilmu politik, aneka bahasa untuk memungkinkan studi teks religius dan spiritual (bahasa Sanskerta, bahasa Yunani, bahasa Koptik, Tamil, Arab, lainnya, juga bahasa Prancis dan Jerman).

Sebagai ahli Ibnu Arabi, Dr. Winkel mengajar di Universitas Islam Internasional, Kuala Lumpur, Malaysia, dan merupakan Senior Fulbright Scholar di Islamabad, Pakistan. Dia juga Dekan Mahasiswa Institut Internasional Pengobatan China di Santa Fe, New Mexico. Dr. Winkel mendapatkan hibah Fulbright Specialist untuk mengadakan kursus Ibnu Arabi di STFI Sadra dari tanggal 5 – 19 April 2016.

Dr. Eric Abu Munir Winkel (nama Sufi: Shu’ayb Nur) mengatakan telah mempelajari Futuhat al-Makkiyah selama 23 tahun. Sejak tahun 2012 ia telah bekerja secara eksklusif dalam proyek enam tahun (2012-2018) untuk dapat menghasilkan terjemahan lengkap Futuhat al-Makkiyah ke dalam bahasa Inggris, yang berjudul Openings in Makkah.

Futuhat al-Makkiyah adalah sebuah magnum opus lebih dari 10.000 halaman, ditulis oleh master terhebat (syekh al-akbar), dari tangannya sendiri.
Isi Futuhat merupakan ekpresi spiritual Ibn al-Arabi, seorang sufi terkemuka di abad ke-11, yang mendapatkan ilham langsung dari Tuhan. Sebuah visi spiritual yang luar biasa saat berada di Mekkah.

Tentang penerjemahan Al-Futuhat Al-Makkiyah, Dr. Wingkel mengatakan, dibutuhkan banyak usaha dan pengorbanan. Untuk dapat menerjemahkan karya seorang sufi yang berasal dari ilham, maka sang penerjemah harus mengkondisikan sepertihalnya sang sufi.

Penerjemahan kata perkata tidak akan membantu memahami dengan baik tek Ibnu Arabi. Olehkarena itu setiap istilah diperlakukan secara berbeda dan membutuhkan kehati hatian. Selain pengetahuan kekayaan bahasa, seperti diakui Winkel, dia harus berusaha memahami tek melalui perenungan serius.

Diakuinya, Winkel sering mendapatkan peneguhan melalu mimpi ketika kesulitan menerjemahkan istilah tertentu. Dr. Winkel mengakui dirinya bertugas tidak hanya melakukan pekerjaan menerjemahan akan tetapi juga mentransmisikan.

Dr. Winkel memberi contoh, untuk dapat memahami tafsir keesan Tuhan Ibnu Arabi. Secara khusus Winkel mempelajari bidang matematika dan fisika yang relevan. Setelah merenungkan kata huwa lahu dan paralelisasi posisi biner angka 1 0…01..kemudian lewat mimpi Winkel berhasil menerjemahkan dengan baik. Dr.Winkel seperti diakuinya bekerja menerjemahkan dalam satu hari sekitar 8-10 jam.

Ammar Fauzi, Ph.D
Sebagai penanggap, Ammar mengawali dengan mengatakan, Dr. Eric Winkel adalah seorang penerjemah yang langka dan unik. Ketika kegiatan penerjemahan tidak dianggap sebagai bagian penelitian maka apa yang di lakukan oleh pk Winkel sangat istimewa. Kenapa demikian, dikatakan Ammar, karena pk Winkel telah mengikuti jejak para filsuf, seperti Al-Kindi yang memulai kegiatan penerjemahan, dilanjutkan dengan meneliti kemudian menghasilkan karya.

Dalam kontek penerjemahan dalam tradisi sufi, sebenarnya manusia dan alam selain Tuhan adalah tarjuman arrahman-terjemahan Tuhan. Olehkarena itu jangan berhenti menerjemahkan tapi melangkah tahap berikutnya-melakukan penelitian.

Kita sekarang di ruang ini, berdiskusi dalam tradisi modern. Sebagai mahasiswa sebenarnya tingkatanya lebih rendah dibanding murid. Tapi, dalam tradisi tasawuf Islam dalam bahasa arab hanya mengenal kata “murid’. Seseorang tidak pernah di kenal menjadi wujud sempurna dari “terjemahan Tuhan” kecuali menjadi murid. Sebagaimana kata “murid” adalah nama Tuhan, kita mengawali menjadi murid dan mengakhiri dengan menjadi murid.

Karena kita berbicara “murid” maka dalam tradisi timur kata “syeikh” dan “mursid” dipadankan menjadi guru. Tapi dalam dunia modern kita kenal dosen, doktor atau professor. Dalam radisi pengajaran sufi, penyebutan murid, syeikh, atau mursid penting untuk menjaga kualitas spiritual (kesalehan).

Ammar berusaha menjelaskan pentingnya memahami perbedaan tradisi tasawuf Islam dan dunia pendidikan modern untuk sedekat mungkin memahami horison kontek penerjemahan karya Ibnu Arabi.

Sebagaimana dikatakan Dr. Winkel kata Ammar, benar bahwa karya Ibnu Arabi adalah hasil ilham, waridad, masukan-masukan spiritual. Kata Tabatabai, kalau Futtuhat Al-Makkiyah itu daman daman (rincian-rincian), sedang Fushus Al-Hikam mush mush (bongkahan-bongkahan). Untuk dapat memahami karya hasil dari ilham-maka seyogyanya sang murid mengikuti anjuran sang penulis. Olehkarena itu, sebelum membaca tek seperti Futtuhat Al-Makkiyah, Hikmatul Isroq, maka sebelumnya murid harus melakukan laku spiritual.

Setidaknya menurut Ammar terdapat tiga tahap sebelum kita membaca dan meneliti karya hasil ilham. Pertama mendapatkan ijazah dari mursid, kedua murid (peneliti) seyogyanya mempunyai guru (mursid), ketiga pentingya aspek kualitas spiritual. Olehkarena itu butuh suatu bentuk eklusifitas. Tapi bukan berarti orang yang belum mendapatkan tiga hal tersebut tidak boleh/tidak bisa mengakses. Siapapun boleh saja mengakses, tapi ingat-sejauh tek berbunyi. Pesan Ammar.

Dalam Misbahul Hidayah, Imam Khomeini berpesan-bila kita tidak punya pengalaman bahasa yang di pakai kaum sufi, maka sebaiknya jangan pernah mengakses buku sufi-atau diam saja. Jika nekat mengakses kemungkinan akan salah paham, dan bisa mengakibatkan pertumpahan darah. Bahaya terbesar bagi para pemula adalah tidak bisa menahan rahasia gejolak spritual dan juga kosongya pengalaman bahasa (istilah) yang di pakai para sufi.

Berkenaan dengan istilah. Ammar memberi contoh bagaimana William Chittick dan Toshihiko Izutsu-dua orang yang sama-sama di Tehran, saling belajar memahamai Ibnu Arabi. Dalam kontek penerjemahan, Chittick mengkritik Itsuzu yang memadankan istilah a’yyan atsabitah dalam tradisi tasawuf yang berbasis tek Al-Quran diterjemahkan dengan arketipe-arketipe permanen dari tradisi plotinos.

Olehkarena itu dikatakan Ammar, sebisa mungkin ketika menerjemahkan karya Ibnu Arabi, sang penerjemah harus dalam horison Ibnu Arabi. Sebagaimana, jika kita ingin memahami tek al-Quran dan injil, kita harus masuk dalam dua horison dua kitab tersebut.

Chittick menyarankan, biar saja kata a’yyan atau istilah wujud di terjemahkan apa adanya. Akan tetapi ketika kita menerjemahkan-disesuaikan varian terjemahan sesuai dengan kontek. Seperti varian terjemahkan kata wujud; haqiqah, waqi’iyah, huwwiyah, atau objek nanti dipilih sesuai kontek.

Chittick memandang, Izutsu saat memahami Ibnu Arabi fokus pada Tuhan, sementara menurut Chittick, Ibnu Arabi fokus pada manusia (antropologi). Seperti halnya debat mufasir dalam menentukan subjek matter Al-Quran, apakah berbicara Tuhan atau manusia. Maka, ketika hadis berbunyi man arofa nafsahu faqod arofa robbahu (barangsiapa mengenal manusia, maka mengenal Tuhan). Kalau subjeknya Tuhan, melalui manusia mengenal Tuhan maka akan berhenti di Tuhan. Sedang jika subjek matternya manusia, maka akan sampai pada bagaimana Tuhan menafsirkan manusia.

Hubungan antara manusia-Tuhan bersifat dialektis, baik dalam kontek jika manusia mengenal manusia maka mengenal Tuhan, atau mengenal manusia melalui Tuhan, ujungnya akan sampai pada manusia.

Berkenaan dengan bab 500 dalam Futtuhat Al-Makkiyah seperti kata Dr.Winkel, Ammar melihat bahwa bab tersebut merupakan inti apa yang sudah ditulis dan akan di tulis Ibnu Arabi. Sedang jika kita ingin melihat jenis terjemahan Dr. Winkel, kemudian apa perbedaanya dengan tradisi model Khawajawi di Iran, tergantung konstruk pemahaman kita terhadap Ibnu Arabi.

Hingga tiga jam diskusi berjalan, terlihat peserta masih antusias. Diskusi kemudian di tutup oleh moderator sekaligus pengelola jurnal STFI Sadra, Andi Herawati.

 

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

Hubungan Kristen dan Islam dengan filsafat memiliki dialektika yang unik dan khas. Masing-masing memiliki basis dan doktrin berbeda meski sama-sama sebagai agama ibrahimik. Respon dan perkembangan keduanya berbeda sesuai zaman dan kontek. Dari zaman klasik, modern dan posmodern baik Kristen dan Islam memiliki idealitas yang berbeda dan fenomena yang beragam-menggembirakan sekaligus mencemaskan.

Bagaimana Kristen dan Islam dilihat dari dalam dan sejauh mana filsafat berinteraksi dengan kedua agama tersebut. Bagaimana Kristen dan Islam merespon tantangan di dunia modern dan posmodern.

Inilah pokok pertanyaan fundamen yang mencoba di jawab dalam Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI, 16 mei 2016. Menghadirkan Prof. Dr Bambang Sugiharto dan Ammar Fauzi, Ph.D.

Setelah rombongan STFI Sadra dijamu makan siang di kafe mungil dan asri Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Filsafat Bandung. Angin Bandung yang hangat dan sejuk membawa umat dua agama besar berdiskusi, terlihat akrab dan senyap.

Prof. Dr Bambang Sugiharto
Dr. Bambang langsung pada statmen penting. Kristen sejak awal, oleh para muridnya, dalam mengespresikan pengalaman iman, banyak dipengaruhi oleh tradisi Yunani. Sejak awal Kristen telah menggunakan konsep-konsep Yunani, kemudian juga pada abad pertengahan. Olehkarena itu, hingga sekarang para pastor didik di seminari, salah satu materinya filsafat dan teologi. Banyak teologi yang sangat filosofis dan filsafat yang cenderung teologis.

Akan tetapi menurut Dr. Bambang, banyak unsur-unsur destruktif dalam agama-sesuai dengan judul presentasinya ”Unsur-unsur Destruktif agama”. Kenapa demikian?. Karena dalam agama terdapat banyak paradok.

Pertama, agama pembawa perdamaian sekaligus penyebab konflik dan separatis. Klaim agama, bahwa semua manusia sederajat akan tetapi faktanya terjadi superioritas yang diskriminatif, rasistik, chauvinistik. Agama menawarkan model ideal kematangan manusia, tapi banyak orang bermental kekanak-kanakan. Fokus agama adalah spiritualitas yang mendalam, tapi banyak fenomena agama hanya fokus pada hal material-simbol fisik. Agama dikenal memiliki sumber peradaban luhur, akan tetapi banyak fenomena agama justu sebagaia penghancur peradaban.

Agama di dunia modern dalam pandangan Dr. Bambang, banyak mendapat kritik dari kaum posmodernisme. Dalam dunia modern terjadi epistemologisasi agama, dibanding agama sebagai iman. Muncul pengetahuan yang benar, objektif, impersonal terhadap doktrin agama (R.Bellah, H.Smith). Persoalanya adalah, de facto agama tak selalu sejajar dengan ilmu, ada dimensi personal dan experiensial yangg hilang dalam ‘iman kognitif’. Dalam kenyataannya, ‘iman’ lebih tepat dilihat sebagai trust faith “percaya kepada/setia terhadap” soal sikap batin, bukan perkara ‘Pengetahuan’. Soal makna terdalam dalam pengalaman hidup konkrit dan personal.

Kedua, Agama-agama besar bersifat logosentrisme (berpusat pd ‘Firman’), kerap terkecoh, terperangkap dalam kerangka epistemologisasi, menjadi wacana besar, yang bersaing dengan science dan berbagai ideologi lain.

Masalahnya, ketika orang-orang intelektual menemukan bahwa sebagai ‘logos’ ternyata doktrin agama-agama justru sering tidak ‘logis’; dan sebagai wacana besar, ia sama opresif, manipulatif dan diskriminatifnya dengan ideologi-ideologi besar lainnya, maka dampaknya justru kontrapoduktif, yaitu terjadi fenomena atheisme.

Ketiga, dalam dunia modern, orientasi nilai dan perilaku individu dikelola oleh pribadi masing-masing. Istilah R. Bellah: Exoskeleton (pengawasan eksternal-sosial) bergeser ke Endoskeleton (pengelolaan internal-privat). Efek negatifnya: over self-consciousness –terjadi inflasi mental dan individu.

Olehkarena itu, agama-agama yang berorientasi kosmik secara psikologis menurut Bambang mungkin lebih sehat: agama :‘religio’/’religare’; mengembalikan keterkaitan primordial individu dengan alam semesta, dengan jagat yang tak sepenuhnya kita pahami, dengan misteri, dengan ‘ketakmungkinan’ (Derrida, Caputo), dengan ‘yang sublim’ (Kant). Pusat gravitasinya bukan individu, melainkan: alam semesta. Ranahnya bukan ‘kesadaran intelektual’ melainkan: supra-kesadaran, ranah pengalaman keterikatan yang sublim.

Keempat, akibat banyak tendensi kontradiktif menyangkut agama-agama besar, maka perspektif Postmodern mengubah pendekatan atas agama.

Kelima, agama-agama besar rentan menjadi sumber kecemasan dan kekerasan. Karena masalah: identitas, yang kehilangan batasan kekuasaan yang dalam globalitas jadi tak seimbang heterodoksi, yang mengakibatkan disorientasi. Maka spiritualitas yang non-dogmatik, dan non-logosentris, kini berpeluang memberi pencerahan, asalkan tetap berfokus pada kedalaman pengalaman spiritual otentik yang menggaris bawahi kesatuan dasar antar segala/ “ultimate belonging” (Huston Smith).

Manusia dan Agama
Agama menurut Dr. Bambang adalah ‘sistem’ (unsur: nilai inti, kitab suci, doktrin, pola ritual, pola organisasi, habitus). Nilai Inti dan kitab suci, nukleus. Doktrin, Pola ritual, organisasi, habitus. Artikulasi sistemik. Sistem ini dibentuk oleh manusia (sekurang-kurangnya sebagian), tapi juga membentuk manusianya, membentuk tendensi praksis khas.

Kontradiksi bisa terjadi antara tendensi praksis, artikulasi sistemik dan nukleusnya. Sejauh menyangkut kontradiksi, bila hal-hal inti dalam sistem tak perlu/ tak bisa diubah, maka faktor manusia/ praksisnya yang perlu dibenahi.

Dalam praktisnya, agama-agama menurut Bambang terdapat unsur-unsur destruktif
Pertama, agama menekankan berlebihan pada kebenaran doktrinal–proposisional, ‘Apa yang anda percaya’, bukan ‘apa yang anda lakukan’, apologetis, superioritas-diskriminatif. Sehingga mengakibatkan egosentrisme kelompok agama, akhirnya menjadi sumber konflik: shallow religion (Ken Wilber/Danah Zohar), “until there is peace between religions, there can be no peace in the word” (Thich Nhat Hahn).

Kedua, spiritualisme atau simbolisme berlebihan. Seakan keselamatan hanyalah urusan ibadah/sembahyang/simbol saja tidak berefek signifikan, tidak mengubah kualitas kehidupan nyata. Malah menjadi oversensitif dan ribut memerkarakan hal-hal yang tidak esensial (konflik soal rumah ibadah, pakaian simbolik, perusakan barang keramat, dll).

Terjadinya kekerasan dianggap sebagai kesalehan, heroisme, membela Tuhan. Sehingga kekerasan dibalas kekerasan. “An eye for an eye will make the word blind” (Mahatma Gandhi). Atau kata Dalai Lama, “ to bring peace to all, one must first dicipline and control one’s own mind’. Atau kata Martin Luther King, “darkness cannot drive out darkness; inly light can do that”

Ketiga, muncul image Tuhan yang judmental diskrimatif, hitam-putih, menuntut, mudah tersinggung, dan menakutkan, muncul spiritualitas ketakutan, hitam-putih, juga over-judgmental, sikap kekanak-kanakan & rawan kekerasan. Kata Jallaludin Rumi, “out beyond out ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I’ll meet you there’.

Keempat, agama fous pada surga-neraka dan keselamatan individual. Orientasi beriman yang hanya mencari jaminan agar diri sendiri masuk surga, mudah sekali membuat orang tak peduli pada keselamatan orang lain, atau justru menaklukan orang lain, mudah dimanipulasi oleh kekuasaan, agama menjadi alat penguasa yang menghimpun, kekuasaannya dari ‘ketaatan’/’voluntary slavery’/’control of the mind’/’corruption of the will’ para anggotanya (Alexander Herzen).

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena berharap masuk surga, tetapi karena cintaku kepadanya” (Rabi’ah Al-Adawiyah). Atau kata Mahatma Gandhi “when the power of love overcomes the love of power the word will know peace’.

Kelima, kesempitan wawasan agama de facto sering merupakan wilayah yang paling tidak dipikirkan. Maka berpikir dan berdiskusi menjadi takut teracuni pihak lain. Menyimpang dari dogma sama dengan dosa, akhirnya tidak menyadari praksis yang kontradiktif dan terbalik-balik, hingga seolah agama menjadi jahat/satanik. “Men never commit evil so fully and joyfull as when as when they do it for religions convictions’. (Blaise Pascal).

Deep Religion
Sebagai tawaran solusi, Bambang menimbang, bahwa seyogyanya agama-agama konsisten dengan nilai inti yang dijunjungnya: perdamaian. Perlu perubahan paradigma ke arah:deep religions. Pusat gravitasinya nilai-nilai inti. Kebenaran dokrinal-proposisional, ritual, dan simbol penting untuk ‘ke dalam’: sebagai bermacam cara khas kita untuk mendekati Tuhan dan meningkatkan kualitas rohani pribadi.

Image tradisional tentang Tuhan yang menghakim, maupun orientasi ‘Surga-Neraka’–yang menimbulkan sumber konflik-bukanlah satu-satunya pola penghayatan iman, dan bukan tak bisa diubah. Pengalaman iman yang matang dari pemeluk tiap agama memberi isyarat lain, yang seringkali lebih sehat, lebih konsisten dengan nilai-inti agama-agama tersebut, sekaligus lebih menjunjang perdamaian.

Untuk sikap ‘ke luar”, perlu perluasan wawasan dan melihat identitas secara relasional (bukan territorial), saya tumbuh dan memahami diri dan agama saya, hanya melalui relasi dengan pihak lain, dengan begitu, jiwa pun dibebaskan, diri diperluas agama. Sehingga “enlargement of the self/soul”. Tumbuh ke arah “universal compassion” (damai). Seperti kata Nelson Mandela “If you want to make peace, you have to work with your enemy”.

Ammar Fauzi, Ph.D
Giliran pada sesi kedua, Ammar melihat filsafat dalam dunia Islam. Filsafat dikatakan Ammar dalam posisi mazlum (tertindas). Ada semacam resistensi baik dari pihak teolog dan kaum fiqih terhadap filsafat. Tapi anehnya, tidak ada penolakan pihak filsof terhadap teologi. Filsafat tidak pernah menghancurkan teologi. “Bapak-bapak akan mendapati informasi di perguruan tinggi di tanah air, apa kata Imam Ghozali, tetapi jarang apa kata Ibnu Sina, Shuhrowardi, dan Mulla Sadra”. Ammar memberi contoh.

Mutakallim (teolog) adalah orang yang suka bicara, yang membentengi agama dengan teologi. Namun kalau filsafat dan teologi bertentangan dengan agama tidak segan-segan di kafirkan. Kata “sahid” yang biasanya di kenal dalam perang, dalam dilingkungan filsafat dan mistisisme juga ada. Shurowardi dalam dunia filsafat terkenal dengan si Maqtul (yang terbunuh/teraniaya). Atau Al-Hallaj, dalam dunia mistisisme, dikenal si “sahid”. Di Indonesia juga ada, Syekh Siti jenar.

Kenapa mereka menjadi martir tanya Ammar, karena sepertihalnya dalam teosis (Kristen), mereka ingin menjadi mirip Tuhan. Filsafat oleh Shurowardi dibawa-bawa ke tingkat kekuasaan. Menyerap ide-ide Plato, akan tetapi Shuhrowardi pada akhirnya dibunuh oleh Shalahuddin Ayubi. Di tulis oleh para fuqoha waktu itu, bahwa filsafat Shuhrowardi bisa mengancam kekuasaan Salahudin Al-Ayubi.

Jika dilihat secara strata menurut Ammar, teologi berada di bawah filsafat, dan filsafat dibawah tasawuf. Sering para teolog ditanggapi secara sinis oleh para filsof. Tapi dari bawah (kalam) para teolog mengkafirkan filsafat. Dari sisi paling atas (tasawuf), seperti Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi selalu mencemoh filsafat. Olehkarena itu hemat Ammar, jika ada filsafat berkembang di dunia Islam di era kontemporer, berarti ada keajaban.

Menanggapi fenomena agama dan relasinya manusia dan Tuhan, Ammar mengatakan, subjek Al-Quran ada dua. Pertama, berbicara tentang Tuhan (ayat tuhan), olehkarena itu Al-Quran mengajak bagaimana manusia agar misi hidupnya menjadi mirip Tuhan.

Kedua, Alquran berbicara pada dimensi manusia. Manusia sebagai ciptaan atau fitrah (bahasa arab), baqara (membelah), membelah biji, yaitu biji cinta. Sehingga menjadi cinta sempurna. Olehkarena itu manusia dikarunia cinta sekaligus benci terhadap kekurangan. Manusia juga sebagai anak hasil dari Tuhan (ciptaan Tuhan). Kemanapun gerak manusia maka selalu dalam kontek gerak cinta sempurna (nukleus).

Menurut Ammar, terdapat tiga karakter yang mirip antara manusia dan Tuhan.
Pertama, sifat otoriter-sebagai tahap awal, manusia ingin sempurna, olehkarena itu sifat otoriter dapat membawa ke diri sendiri. Kedua, manusia memiliki sifat liberal-maunya bebas. Ketiga, kecenderungan manusia ingin menikmati sepuas-puasnya, sifat hedonis. Inilah tiga sifat bawaan fitrah manusia.

Persoalan konflik (paradok) yang timbul seperti yang dipaparkan Dr. Bambang ketika tiga sifat karakter manusia itu diterapkan di dunia yang terbatas. Sehingga terlihat menjadi utopis dan seperti tidak relevan dalam dunia yang terbatas (dunia materi).

Olehkarena itu tantanganya adalah, dalam kontek Islam, bagaimana manusia dalam memenuhi kebutuhanya disesuaikan idealitas Islam. Bagaimana keterbatasan manusia menjangkau ketidakterbatasan Tuhan. Olehkarena itu dalam Islam, fokusnya ada di kehidupan setelah kematian.

Sebagai ilustrasi solusi, Ammar memberi contoh konkrit, bagaimana seorang Imam Khumaini memberi solusi pada problem kapitalisme dan sosialisme. Problem kapitalisme adalah menganggap dunia terbatas (SDA terbatas), sehingga solusinya siapa yang kuat dialah yang menang. Atau sosialisme, bagaimana semua orang mendapatkan makanan yang sama di satu piring.

Imam Khomeini memberi surat ke Gorbachev, dengan mengutus Jawadi Amuli. Dikatakan Imam Khomeni masalah anda bukan ekonomi. Jalan keluar yang anda tawarkan, seperti keluar dari mulut singa pindah ke mulut buaya. Problem anda bukan dari kapitalisme menuju sosialisme-komunisme. Problemnya ada pada pandangan hidup anda. Olehkarena itu, Imam Khomeini menawarkan dua kitab yakni filsafat Hikmah Mutaaliyah Mulla Sadra dan tasawuf Futtuhat al-Makkiyah Ibnu Arabi untuk dipelajari.

Menanggapi Dr. Bambang sebagai statemen terakhir Ammar, dalam agama memang ada unsur takut, harap, dan cinta. Ada orang beribadah seperti budak (takut), pedagang (harap) dan ada orang beribadah karena cinta. Semua ada pelakunya, tapi bergradasi, dan tuntutan Islam beribadah semata karena cinta.

Dari sekian banyak problem agama di dunia modern yang digugat kaum posmodernisme, Ammar memberi dua catatan. Agama memiliki masa depan cerah jika mengakui dua karakter sekaligus. Pertama, mengakui kompleksitas manusia, kedua mengakui seluruh potensi manusia. Tujuan tertinggi manusia versi Islam menjadi makhluk sempurna (insan kamil).

Setelah senja menjadi gelap diskusi ditutup. Rombongan dari STFI Sadra akhirnya pamit dan kembali pulang ke Jakarta. (ma’ruf)

 

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

Filsafat adalah salah disiplin ilmu tua yang berkembang lintas negara dan benua. Jika filsafat Barat dibicarakan, biasanya mengacu Yunani sebagai titik awal dan berkembang pesat di dunia Barat hingga menyatu dengan dinamika masyarakat. Sedang filsafat Timur berkembang secara menonjol di dunia Islam dengan hikmah dan di India, Cina dan Korea melalui Budhisme, Taoisme dan Konfusianisme. Filsafat Timur dalam Islam ditandai, utamanya, oleh Farabi dan Ibnu Sina. Nama yang belakangan ini meninggalkan kecenderungan ke arah mistisisme dan wahyu melalui karyanya, Manthiq Al-Masyriqiyyin. Kecenderungan ini menguat jadi aliran baru oleh Magaguru Pencerahan (Syaikh Al-Isyraq) Suhrawardi dengan Filsafat Pencerahan (hikmah isroqiyah) yang menggabungkan metode peripatetisme, neoplatonisme, dan wahyu.

Bagaimana dinamika perkembangan dan penyebaran filsafat Timur yang merujuk pada geografi, antara Persia dan Korea, dua negara yang sama-sama di belahan asia, adalah pertanyaan yang diupayakan jawabannya secara sekilas di Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra 14/1/2016 di STFI Sadra. Forum dwibulanan ini menggelar diskusi dan menghadirkan Dr. Mukhtasar Syamsuddin (Fakultas Filsafat UGM) mewakili Filsafat Korea dan Ammar Fauzi Ph.D mewakili Filsafat Persia (STFI Sadra).

Dr. Mukhtasar Syamsuddins; Sekilas Filsafat Korea
Dr. Mukhtasar Syamsuddin memulai diskusi dengan berbagi pengalamnya sewaktu di Korea Selatan. Ia mengatakan, “Saya tidak akan membahas filsafat Korea Selatan secara mendalam; hanya sekilas berupa informasi umum. Tahun 2001, Korea Selatan belum menarik bagi pelajar Indonesia; mahasiswa di sana hanya tujuh orang. Saya kebetulan menjadi salah satu pendiri organisasi pelajar di Korea Selatan, tahun 2002, dan alhamdulliah sekarang berjumlah kurang lebih 1800.

Belakang Korea Selatan memang atraktif dalam memperkenalkan dan mengglobalkan kebudayaan Korea Selatan. Jika Indonesia ada Trisakti yang digagas Sukarno, di Korea ada Saemaul Undong (Sebuah Gerakan Kampung Baru/gotong royong) yang dinspirasi oleh Pak Chun Hee.

Presiden Park Chung Hee dikenal sebagai seorang presiden yang tegas. Melihat kondisi yang masyarakatnya yang miskin, maka Presiden Park Chung Hee menyusun program kebudayaan yang efektif demi meningkatkan taraf hidup penduduk Korea Selatan. Tanggal 22 April 1970 dikenalkan gerakan yang disebut Saemaul Undong (새마을 운동).

Saemaul Undong (새마을 운동) berasal dari kata 새 (se) yang berarti baru 마을 (maeul) yang berarti desa/komunitas dan 운동 (undong) yang berarti gerakan. Saemaul Undong merupakan suatu gerakan perubahan dan reformasi pedesaan menuju kehidupan yang lebih baik.

Landasan dari Saemaul Undong adalah pertama, gerakan bagi pembangunan nasional untuk keluar dari jerat kemiskinan. Kedua, gerakan reformasi spiritual yang berkontribusi terhadap modernisasi masyarakat Korea. Ketiga, gerakan bagi pengembangan masyarakat lokal dimulai dan berpusat di sekitar masyarakat pedesaan. Keempat, gerakan untuk persatuan rakyat memberikan kontribusi untuk mengatasi perpecahan dan konflik di antara kelas-kelas sosial yang telah dibawa sejak berdirinya negara. Kelima gerakan bagi masyarakat untuk mewarisi dan mewariskan tradisi masyarakat.

Belakangan ini, menurut Mukhtasar, UGM melalui Fakultas Filsafat mencoba mengembangkan gagasan Semaul Undong Korea Selatan dan gerakan Trisakti, Nawacita presiden Joko Widodo.

Mukhtasar memberi penekanan bahwa, sekali lagi, presentasinya umum saja, berasal dari bahan kuliah. Oleh karena kebanyakan kita belum tahu banyak tentang Korea. Di Korea Selatan, ada namanya legenda Kang Gen, yakni seorang perempuan yang mendapat suami yang menjelma menjadi seorang beruang di Korea, dimana ayahnya seekor beruang, ibunya manusia, anaknya menjadi titisan sang Dewa,” ungkapnya.

Di Korea Selatan, terdapat pulau Jeju (Jeju-do), pulau terbesar di Korea dan terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Pulau Jeju adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus Korea Selatan. Terletak di Selat Korea, sebelah barat daya Provinsi Jeolla Selatan, yang dahulunya merupakan satu provinsi sebelum terbagi pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah Kota Jeju (Jeju-si).

Di Pulau tersebut terdapat tradisi matrenial seperti di Minang. Tradisi matrenial ini bernama mudang (intelektual perempuan). Mudang adalah anak dari Shamanisme. Shamanisme sendiri adalah kepercayaan asli rakyat Korea yang menggabungkan berbagai kepercayaan dan praktik yang dipengaruhi agama asli Korea, Buddha dan Taoisme. Dalam bahasa Korea, Shamanisme disebut mu [ 무 ] dan sang pemraktik disebut mudang [ 무당 (Korea) ; 巫堂 (China) ].

Menurut Mukhtasar, salah satu kecanggihan Korea Selatan adalah mengembangkan originalitas (katagana, hage atau hanja) dari adaptasi pengaruh ekternal. Sebuah sintesis antara Budhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Buddhisme yaitu budaya yang dikembangkan oleh raja-raja dahulu dan masyarakat luas sejak Dinasti Joseon Lama. Kebudayaan ini dikembangkan dan membuat kerajaan-kerajaan dahulu berkembang pesat. Dengan budaya Buddhisme, maka kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi memperkaya kebudayaan di Korea.

Konfusianisme yaitu bentuk dari konfusianisme yang berkembang di Korea yang telah memengaruhi sejarah intelektual dan pemikiran tradisional orang Korea modern. Paham Konfusianisme yaitu sebagai pembentuk sistem moral, pola kehidupan dan hubungan sosial antar-generasi masyarakat Korea. Sedang Taoisme telah dikenal sejak jama dahulu, tetapi kebudayaan ini kini sudah kurang berkembang di Korea Selatan.

Jika kita lacak, originalitas filsafat Korea berasal dari Raja Sejong yang berupaya menyederhanakan karakter filsafat Cina. Dalam kontek bahasa, seperti kita ketahui secara gramatikal, bahasa Cina tidak memakai gramatika, tapi keahlian bahasanya tergantung dari seberapa banyak menghapal karakter kosa kata. Menjadi kewajiban Anak SD di Korea Selatan untuk menghapal 5000 karakter-huruf Hanja. Terdapat satu contoh karakter gabungan antara bahasa unsur Cina dan Korea, misalnya kata kamsie sebagai gabungan Cina dan Korea.

Pengembangan Budhisme di Korea, merupakan sejenis shamanisme Korea; hasil adaptasi budaya luar, tapi orang Korea mengklaim sebagai orginalitas. Yang semua berasal dari Hanisme. Akan tetapi Hanisme tidak berkembang karena tertutupi Budhisme dan Konfusianisme, sejenis shamanisme bergaya feminisme.

Karakter budaya Korea Selatan modern bersifat individualistik. Oleh karena itu, negaranya gandrung privatisasi. Berbeda dengan Korea Utara yang fokus pada kebersamaan. Korea Utara disatukan oleh sabda Presiden Kim Jong-un.

Kim Jong-un, lahir 8 Januari 1983, usia 34 tahun, pemimpin tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea atau yang lebih dikenal dengan Korea Utara. Ia putra Kim Jong-il (1941–2011) dan cucu dari Kim Il-sung (1912–1994). Sebelum menjadi pemimpin Korea Utara, ia pernah menjabat sebagai sekretaris pertama Partai Buruh Korea, ketua pertama Komisi Militer Sentral, panglima tertinggi Tentara Rakyat Korea, dan anggota presidium Politbiro Partai Buruh Korea.

Hal yang menarik dari budaya yang Korea Selatan adalah budaya musik anak muda. Budaya ini khas bernama musik K-pop. Budaya ini, menurut Mukhtasar, bagian dari tradisi kritik terhadap kapitalisme (pejabat-pejabat Korea Selatan) yang dikendalikan seperti kuda oleh AS.

Ada hal berkembang bagus di Korea Selatan, meski ada pengaruh individualisme dari budaya Kapitalisme. Di sana masih menjaga nilai-nilai kebersamaan, apapun yang terjadi meskipun menjamur kota megapolitan dimana-mana. Budaya Semaul Undong, yakni rasa kebersamaan, belum luntur di lapisan bawah seperti di pedesaan. Di pedesaan, penduduk Korea mengembangkan buah-buahan menjadi permen dan kosmetik. Gingseng digunakan sebagai bahan operasi plastik, dimana bahanya lebih awet dibanding silikon.

Jika di Cina medical oriental mulai luntur, justru medical oriental atau kedokteran timur berkembang di Korea Selatan. Demikian presentasi perkenalan sekilas tentang Filsafat Korea Selatan-yang diakui Dr. Mukhtasar tidak bermaksud membicarakan filsafat secara mendalam.

Ammar Fauzi, Ph.D; Sekilas Filsafat Persia
Jika di sesi pertama, Dr. Mukhtasar memperkenalan filsafat secara umum yang berkembang di Korea Selatan, pada sesis kedua, Ammar memperkenalkan filsafat yang berkembang di tanah Persia secara umum.

Dikatakan Ammar, yang dapat mewakili filsafat yang berkembang di Persia Klasik dan setelahnya adalah Filsafat Suhrawardi. Filsafatnya terkenal sebagai aliran pencerahan merujuk pengertian originalnya berasal, di antaranya, dari Pahlevi.

Jika filsafat Yunani yang dimaksud sebagai pengetahuan dan di dalamnya sophia kemudian bertranformasi menjadi cinta di tangan Socrates, maka di Persia, para filsuf lebih banyak memakai kata hikmah untuk menunjuk yang dimaksud filsafat tadi. Hikmah sebenarnya berasal dari bahasa Arab, sepadan dengan farzanegi  dalam bahasa Persia. Tetapi para filsuf muslim lebih suka memakai kata hikmah daripada filsafat. Hikmah jika dipadankan yang paling dekat dengan bahasa Indonesia, artinya kebijakan dan kebijaksanaan. Di Persia kata hikmah adalah hikmah, sementara cinta menjadi sumber lain.

Jika Socrates menyelamatkan dengan cinta, sementara di Persia dengan darah. Maksudnya seseorang tidak akan berkorban dengan darah kecuali berkat cinta. Pengorbaan al-Hallaj dan Suhrawardi adalah dua tokoh contoh di sini.

Suhrawardi seorang filsuf Persia, lahir di Zanjan, Iran, besar di Maragheh, di antara dua kota ini ada kota Siz, tempat peribadatan para penyembah api hingga Islam datang. Apinya sudah mati tapi peribadatan itu masih terjaga hingga sekarang, karena dijaga isfandyar, atau pengawal perbatasan Iran-Azerbaijan.

Karena masih banyak dokumen Zoroaster, filsafat Zarastus, filsafat Pahlevi, Suhrawardi dapat mengakses dan membangkitkan kembali filsafat Timur. Ibnu Sina sendiri sebenarnya sudah berusaha keluar dari pola pikir Aristotelian dengan membawakan filsafat Timur melalui karyanya, Mantiq al- Masyriqiyyin (Logika Orang-orang Timur). Dikatakan Ibnu Sina, “Ketika masa-masa mudaku aku banyak mempelajari buku-buku orang terdahulu, kini aku mendapatkan satu ilmu, satu jalur di luar Yunani. Maka Al-Syifa’ dan Al-Isyarat wa Al-Tanbihat telah aku pelajari sebagai bentuk filsafat umum, tapi aku mendapatkan filsafat baru yang sangat khusus.”

Oleh Suhrawardi, Ibnu Sina dianggap tidak berhasil menuntaskanya, karena tidak punya kesempatan mengakses tradisi Khusrawani atau Pahlevi. Karena itu, Suhrawardi mengajukan kritik terhadap Ibnu Sina yang, dalam kerangka tradisi Aristotelian, ingin dituntaskan oleh dirinya sendiri. Dari sinilah kemudian fisafat tumbuh di Persia mengarah ke pencerahan (isyraq).

Menurut Ammar, seorang filsuf muslim dalam tradisi klasik dipanggil hakim. Hukama adalah para filsuf, bukan majusi, tapi filsuf yang sedang membangun keyakinan dengan cahaya tanpa kegelapan. Suhrawardi membangun filsafat cahaya (nur) seperti terbitnya cahaya matahari, setelah sebelumnya dia melihat kegelapan (malam) dalam filsafat Ibnu Sina atau filsafat yang sebelumnya. Maka, filsafat pencerahan (hikmat al-isyraq) Suhrawardi sesungguhnya aliran pengetahuan yang berawal dari kritik kegelapan peripatetisme dan berlanjutnya dengan menerbitkan mentari dan mencerahkan cahaya ke semua titik realitas dan wujud manusia.

Tugas seorang hakim atau filsuf klasik muslim, menurut Ammar, ada dua: menyehatkan penyakit pikiran dan penyakit jasmani. Dalam bagian akhir bukunya, Hikmat al-Isyraq, Suhrawardi berpesan untuk berpuasa 4O hari sebelum membaca bukunya. Dikatakan, kosongkanlah lambung Anda, pikiran Anda sehingga curahan-curahan rahmat Tuhan menghampiri jiwa Anda.

Jika kita bertanya tentang perjuangan Suhrawardi, filsafatnya akan dibawa kemana, apakah bisa dibawa keluar seperti halnya dalam Alegori Gua dalam tradisi Plato. Ternyata Suhrawardi membawa filsafatnya pada kepemimpinan dan kekuasaan. Hakim yang tercerahkan adalah seorang filsuf yang menyerupai (tasyabbuh) Tuhan dan dapat mendeskripsikan kedekatannya dengan Tuhan. Filsuf yang seperti ini pantas menjadi pemimpin, mirip dengan idealisme Plato; filsuf- raja. Pada titik ini, cinta dan ilmu berdialektika.

Suhrawardi ingin menegaskan bahwa “hikmah” dari Yunani dan Pahlevi seharusnya bisa diterapkan dalam bentuk konkret. Minimalnya menunjang orang jadi filsuf muta’allih (theosis), meski tidak kurang maksimal secara teori. Namun, karena filsafat kepemimpinan ini mengancam kekuasaan dan mendapat penentangan dari para fuqoha, maka Shuhrowardi dihukum mati oleh Salahudin Al-Ayubi di Aleppo.

Sekali lagi Ammar menyatakan harga hikmah itu nyawa. Ketika al-Hallaj dipenggal tangan dan kakinya secara bersilang, dia masih tersenyum dan memerahkan mukanya dengan darah dari tangan buntungnya. Tatkala ditanya kenapa Anda memerahkan muka, ia mengatakan, “Dua rakaat dalam cinta yang tidak akan sah wudhunya kecuali dengan darah.”

Ammar berpendapat dalam perkembangan sejarah filsafat dan tasawuf di dunia Islam relatif stabil, seperti perkembangan filsafat wujud dan relasinya dengan Islam. Akan tetapi kegonjangan dan gejolak tampak menonjol jika melihat perkembangan filsafat di Barat.

Secara global, dapat dikatakan filsafat yang berkembang di Persia atau, secara umum, di dunia Islam adalah filsafat kekuasaan dan kepemimpinan yang memiliki corak yang khas, seolah bisa dikatakan kebanyakan filsuf muslim menulis relasi filsafat dan kepemimpinan. Tentu saja, hikmah ini hasil kombinasi dari filafat Socrates, Plato dan ajaran Islam. Kemudian diteruskan Farabi, Ibn Sina, dan sedikit redup di tangan Mulla Sadra hingga mendapatkan tempat kembali di tangan Imam Khomeini. Kata Hairi Yazdi, bapak revolusi Islam di Iran ini, jika mengajar Asfar (Al-Hikmah Al-Muta’aliyah), seperti sedang meng-Ibnu-Arabi-kan Mulla Sadra. Tetapi, melalui ide Wilayatul Faqih, Imam Khomeini kemudian memberi sentuhan merealisasikan ide Plato.

Terakhir dikatakan Ammar, corak filsafat yang berkembang di Persia berkaitan erat dengan tradisi seni kaligrafi, ornamen dan sastra (puisi). Banyak karya filsafat tehnis ditulis dengan menggunakan bahasa puisi yang dipengaruhi oleh tasawuf.
Diskusi berjalan kurang lebih tiga jam, setelah diawali dengan penandatanganan MoU dan dilanjutkan dengan ramah tamah pihak STFI Sadra dan Fakultas Filsafat UGM.[m.ma’ruf]

FAP: Post-Sekulerisme, Tantangan dan Peluang Agama

FAP: Post-Sekulerisme, Tantangan dan Peluang Agama

Usia dunia profan dan sakral mungkin sudah ada sejak manusia terlahir kedunia. Namun sebagai konsep yang matang dan rumit, di barat dimulai sejak abad pencerahan, bersamaan dengan kepercayaan akan kedewasaan akalnya dalam mengurus semua urusan dunia.

Kristen berhasil dan mulus tersekulerkan sejak abad pertengahan hingga abad modern. Namun di Eropa kontemporer Islam masuk terutama di jantung Eropa membawa sebuah pertanyaan- akankah Islam mengalami nasib yang sama dengan Kristen yang terlebih dulu tersekulerkan oleh modernitas. Bagaimana peluang dan tantangan relasi agama dan sekulerisme di era post sekulerisme.

Muncul beberapa masalah dalam sebuah diskusi “Post-Sekularisme, Tantangan dan Peluang Agama”. Pertama, fenomena arus pengungsi Suriah ke Eropa yang justru ditolak oleh negara-negara Muslim tapi malah diterima negara-negara sekuler–seolah mengafirmasi kebaikan kaum sekuler dibanding Islam. Kedua, tantangan kontemporer dinamika Islam di negara Eropa sebagai fenomena gagalnya prediksi bahwa agama sudah punah di ruang publik. Ketiga, kecurigaan kemunculnya Islam yang belum berhasil tersekulerkan akan berpotensi menimbulkan masalah di ruang publik. Keempat, akankah kesuksesan Sekularisme Kristen di Barat begitu saja bisa diadopsi oleh Islam. Kelima, bagaimana Kristen dan Islam berbicara tentang Sekulerisme dan post-Sekulerisme.

Post sekulerisme diandaikan sebagai perjalanan setelah sekulerisme. Bagaimana sebenarnya relasi Kristen dan sekulerisme. Apa makna sekulerisme?. Bagaimana relasi Islam dan sekulerisme. Dapatkah Islam dibaca dengan prespektif sekulerisme, sebagaimana kesuksesan Kristen yang terlebih dulu tersekulerkan.

Seluruh pertanyaan tersebut mencoba dijawab dalam program Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra, senen 24/10/2016 di STF Driyakarya. Hadir sebagai pembicara Dr. Budi Hardiman (STF Driyarkarya), dan Ammar Fauzi, Ph.D (Riset STFI Sadra)

Dr. Budi Hardiman (STF Driyarkarya), sebagai pembicara pertama memaparkan tentang fenomena sekulerisme di Eropa dan relasinya dengan Kristen. Dikatakanya, tahuan 2015, di himpunlah sebuah buku di Jerman berisi diskusi-diskusi seputar tema post sekulerisme. Buku tersebut berisi wacana diskusi filsafat dan sekulerisme. Isu kontemporer yang diangkat diantaranya, serangan teror atas nama agama-dimana Islam distigmasisasi sebagai aktor. Juga disinggung tentang fenomena banjir pengungsi Suriah di Eropa.

Fenomena relasi agama Kristen dan sekularisme menurut Budi sudah lama terjadi di Eropa, hingga muncul anggapan bahwa agama pada abad modern dianggap tidak relevan untuk persoalan publik. Jikapun terdapat teologi dalam Kristen, tentu teologi yang sudah menyesuaiakan diri dengan dunia modern.

Masyarakat Eropa juga telah mengalami konflik (perang) selama 30 tahun-antara Kristen dan Protestan. Kemudian diselesaikan dengan perjanjian Westphalia (sekularisasi). Namun sekarang Islam hadir dan bersentuhan langsung dengan Eropa di masa post sekulerisme.

Istilah post sekulerisme, menurut Budi sudah pernah ada sebelumnya-tapi menjadi populer setelah Habermas. Fenomena ini terlihat sebagai gejala yang terjadi di Eropa, baik di arena intelektual dan sosial- menguatnya kembali agama dalam kehidupan publik.

Tesis sekularisasi mengatakan, bahwa melalui rasionalisasi dan teknologi, peran ilmu pengetahuan (rasionalitas) lebih dominan dalam masyarakat. Agama mengalami desakralisasi atau sekularisasi. Agama menjadi punah dalam sistem pengetahaun masyarakat. Agama tidak up to date. Ditandai oleh keengganan orang-orang tidak mau ke gereja, dan kenyataan tumbuhnya kaum atheis yang shaleh di Eropa.

Tesis ini pernah di dukung oleh Berger, juga kaum yang beraliran Materialis Marxis serta kaum rasionalis Barat. Namun pada abad 21 sekarang, secara sosiologis, ternyata tesis ini justru gugur, agama makin menguat. Kristen di Cina menguat, di Amerika latin juga menguat. di AS, Islam juga menguat. Bisa dikatakan, sulit menyatakan bahwa masyarakat sama sekali bebas dari agama.

Untuk dapat memahami sekularisme dengan baik. Budi mengacu pada enam pengertian beserta contoh kontradiksi di dalamnya.

Pertama, sekulerisme dimaknai sebagai pengosongan wilayah sosial dari hal-hal yang religius (sekularitas publik).

Akan tetapi faktanya terjadi fenomena, menguatnya kembali peran agama sejak 9/11, kemudian adanya anggapan asal usul konsep modern berasal dari agama. Dengana kata lain, apa yang dimaksud sekularisme itu adalah Kristen.

Kedua, sekularisme artinya menghilangkan hal yang imanen dari praktek religius (Sosiologis). Tapi faktanya, dunia sakral kembali muncul. Banyak pemimpin berasal dari agama. Sehingga yang terjadi gabungan antara sekuler sekaligus religius.

Ketiga, sekulerisme dipahamai sebagai, kondisi-kondisi tehnis dimana, kepercayaan pada Allah hanya salah satu saja (immanent frame)-teologis.

Keempat, sekulerisme dipahami sebagai hal yang netral, sekulum, orientasi pada waktu normal. Konsep waktu-berorientasi pada waktu normal (filosofis). Faktanya, terjadi religius term dalam filsafat. Sehinggga muncul minat kembali pada agama. Terjadi pendekatan agama secara fenomenologi (Iman yang melampaui iman).

Kelima, sekulerisme bermakna politis. Artinya melacak kaitan sistem hukum modern (dimana asal-usul Kristiani sangat kuat) dengan term religius. Sebagai contoh, paham demokrasi tidak bisa lepas dari konsep chauvinisme. Calt smith mengatakan bahwa dalam teori modern terdapat pre-teologi tertentu. Sekurang-kurangnya deisme.

Keenam, sekularitas geneologis. Mencari batas antara yang sekular dan religius, antara publik vs privat. Talal Aat menganggap terjadi dominasi biner khas pendekatan barat. Sekularisme dilihat sebagai hegemoni.

Menurut Budi, banyak fenomena post sekulerisme membuat tantangan tersendiri terhadap agama untuk meresponya. Dimensi metafisika agama tetap tidak akan kehilangan pesonanya. Banyak kaum atheis tetap meminta dibuatkan acara pemakaman untuk agama tertentu. Inilah contoh situasi keterbatasan yang bersifat antroposentris.

Postsekularisme menurut Budi membawa tantangan bagi pihak agama. Pertama, meski susah-agama ditantang untuk berlaku universal dan lentur-tapi hal demikian sulit karena agama bersifat narsis. Agama di tantang untuk menerima universal nilai.

Kedua, agama ditantang untuk sakral di tempat lain, sehingga mencegah intrumentalisme agama untuk kuasa politik. Fenomena ini sebenarnya proses yang sudah lama di Kristen. Tapi kalau agama belum mengalami sekularisasi –maka agama mudah dipakai untuk tujuan-tujuan politik (dimanipulasi). Agama ditantang untuk tidak mencampur adukan dengan naluri kuasa

Ketiga, agama ditantang untuk mengembangkan teologi-teologi yang lebih kompatebel untuk masyarakat majemuk.

Keempat, meskipun tidak mencampuri dalam sistem politik, agama berpeluang untuk terlibat dalam deregulasi publik. Misalnya kasus pelarangan burka, yang justru malah menjadi isu publik

Kelima, agama di tantang lebih kosmopolitan, moderat dan menghargai HAM.

Keenam, agama makin tertantang menjadi bentuk agama baru (esoterisme, gerakan-gerakan new age, Kristelam (Kristen-Islam )

Dr. Budi pada akhirnya mengakui, apakah pola-pola pemetaan ini bisa membantu memahami relasi bentuk agama dan politik di Indonesia. Uniknya di Indonesia, agama sudah lama menjadi elemen membangun nasionalisme, kebangsaan, dan kemajemukan. Sehingga membicarakan sekulerisme di Indonesia seolah seperti membawa problem Eropa ke Indonesia. Tapi yang jelas, ditekankan Budi-kearifan Post sekularisme yang terjadi di Eropa bisa kita pelajari untuk membangun di Indonesia- apakah itu bernama Pancasila atau Islam Nusantara, atau kerukunan umat beragama.

Ammar Fauzi, Ph.D
Pembicara kedua, Ammar Fauzi, Ph.D, melihat dari sisi prespektif Islam dalam melihat sekulerisme sejauh yang bisa dipahaminya. Dikatakanya, agama itu sendiri sudah rumit, apalagi jika direlasikan dengan post sekularisme, tapi Dr. Budi membantu kita.

Apakah mungkin melihat relasi agama (Islam) dan Sekulerisme. Mengingat dalam Filsafat Agama sendiri-terdapat lebih dari 100 definisi lebih banyak dibandingkan definisi terorisme dimana kita tidak tahu ujungnya sampai dimana. Saya tidak berani menggenarilis semua agama memiliki repon yang sama terhadap sekulerisme. Apakah Islam seperti halnya Kristen mengalami fase, sekulerisme, post sekulerisme bahkan ultra sekulerisme. Saya ragu apakah agama Islam yang saya alami mengalami fase tersebut.

Berkenaan dengan Sekulerisme, Ammar mengutip dalam buku Leviathan, bab 2 dan 3 karya Thomas Hobbes-abad 17. Terdapat tiga pola bentuk agama dan politik.

Pertama, satu bentuk menformalisasi kebijakan-kebijakan pemerintah, yakni agen agamawan menjadi aktor meformalkan kebijakan publik. Sebagai contoh di Indonesia, MUI memiliki otoritas legalisasi halal/haram baik produk dari dalam dan luar, sedang pemerintah tidak campur tangan. Terlepas dari aspek baik atau buruknya.

Kedua, menempatkan agama sebagai alat, misalnya untuk menanamkan patriotisme. Biasanya pemerintah menggandeng ulama, padahal dalam konstitusi tidak ada.

Ketiga, aspek hermeneutik agama, yaitu demokratisasi teks. Siapapun bisa menafsirkan teks sehingga akan timbul banyak penafsiran. Sebagai contoh, penafsiran surat Al-Maidah, bahkan di luar orang Islam bisa menafsirkan.

Menurut Ammar, agama tidak hanya memiliki dimensi teori tapi juga pengalaman. Islam menekankan adanya pengetahuan sebelum beriman. Sedang Kristen beriman dulu baru mengetahui. Oleh karena itu jangkauan relasi agama dan sekulerisme tergantung definisi kita agama itu apa?. Sebagai ilustrasi, Ammar memberi contoh bagaimana Driyarkarya sangat tepat menerjemahkan kata “being” di antara ada, adaan, eksistensi dan pengada, maka yang dipilih pengada. Terjemahan “Pengada” mengandaikan pre pengetahuan serta pengalaman mengalami ada atau being (existence) sebagaimana tafsir Heidegger.

Begitu juga bila kita menerjemahkan suatu agama. Akan lebih tepat dan dekat bila dipakai kata “pengagama”, agar agama yang kita bicarakan sedekat mungkin dengan pengalaman kita. Agama tidak berubah, selama kita tidak terlibat aktif. Dalam Islam, ada quran natiq (bicara), ada quran somiq (diam). Jika merujuk pada pola ketiga Hobbes, maka masing-masing individu memilik hujjah (argumen) bagi diri sendiri dalam menafsirkan agama-sehingga bahanya terjadi chaos, karena semua berhak, sederajat bisa menafsirkan.

Ammar berpendapat, Islam tidak masuk dalam post sekularisme karena Islam itu sendiri tidak tertampung dalam sekularisme. Dalam sebuah hadis yang cukup terkenal “Dunia ini adalah ladang akherat”. Dalam pengertian agama, didefinisikan sebagai mazra’ah (ladang) untuk akherat. Ladang tidak terpisah dari hidup kita, kalau ada ladang yang terpisah, maka itu bukan ladang. Maka kapan saja satu ladang untuk diri kita sendiri, maka dunia ini adalah menjadi bagian dari hidup kita sendiri.

Ammar juga melihat pertikaian Sosialisme dan Kapitalisme dikarenakan sempitnya definisi dunia. Keduanya menganggap kehidupan hanya di dunia ini saja. Energi alam sama-sama dianggap sebagai sumber terbatas. Hanya cara memperlakukan saja yang berbeda. Kalau Sosialisme menganggap, bagaimana benih padi dalam satu piring bisa kebagian semua. Sedang Kapitalisme menganggap, siapa yang kuat dia yang menang. Kata Henry Kessinger, Timur Tengah sebagai jantungnya dunia, ini membuktikan pandangan dunia yang terbatas (dalam konteks potensi). Padahal sebenarnya dunia ini tidak terbatas. Sebagai contoh, kalau dikembangkan energi nuklir saja, justru makin tidak terbatas-kuncinya ada di SDM.

Oleh karenanya, terdapat hubungan dunia dan akherat, kita harus mengoptimalkan; kalau sekuler diartikan berarti zaman maka seorang muslim harus paling sekuler, karena paling berusaha mengoptimalkann dunia ini. Alam ini sebagai manifestasi Tuhan, sejarah bagai cermin. Seperti kata Iqbal, sejarah adalah bagaimana melihat rangkaian peristiwa ini, untuk memprediksi masa depan. Sejarah adalah obor masa depan.

Oleh karenanya Islam tidak terdefinisikan dalam post sekularisme. Bahkan menurut Herbert Marcuse, sekulerisme dapat menanamkan absolutisme

Selanjutnya, Ammar mengajak mengingat kembali ajaran Socrates, kenali diri kita. Akan tetapi seringkali terjadi paradoks, antara iman dan ilmu. Dengan demikian, “diri” dibagi dua, “diri” kita pribadi dan “diri sosial” yang dapat mengantarkan pada Tuhan.

Kemudian terakhir Ammar memberi makna positif sekulerisme sebagai alat dan tahap penyempurnaan diri manusia. Ijtihad diperlukan bagi manusia untuk bisa menyeberang fakta, berita, ruang dan waktu sehingga bisa mengambil pelajaran. Di dalamnya terjadi dialektika antara yang profan dan sakral, sekuler dan religius, absolut dan relatif, yang tetap dan berubah, rekonstruksi dan dekonstruksi.

Oleh karenanya, menurut Ammar, orang banyak salah paham mengenai Islam. Padahal Islam itu datang untuk melengkapi, menyempurnakan apa yang sudah ada; Ada hukum ta’sisi (penetapan hukum baru) dan imdha’i (pengesahan hukum yang sudah ada) tujuan Islam adalah mendapatkan hidayah. Sehingga relasi Islam dengan agama yang lain sangat indah, seperti kata Imam Ali kepada Malik Astar yang di kutip PBB, “ Perlakukan rakyatmu sebagaimana saudaramu seiman atau jika bukan Islam, saudara satuciptaan”.

Sebagai penutup Ammar memberi penekanan kembali bahwa sekulerisme harus dibaca dengan Islam bukan sebaliknya, sehingga sekulerisme adalah alat menuju penyempurnaan- baik “diri” individu dan sosial. Ammar tidak setuju sekulerisme sebagai pandangan hidup mendekte dan menafsirkan agama secara absolut, justru sekulerisme harus dibaca dengan Islam, karena Islam jangakauan cakrawala sebagai pandangan hidup lebih luas daripada sekulerisme. (ma’ruf)

 

FAP: Menggugat Pengetahuan Kant!!!

FAP: Menggugat Pengetahuan Kant!!!

Imanuel Kant adalah salah satu filsuf barat yang berjasa besar melapangkan jalan peradaban modern. Filsafatnya menjadi saripati (jantung) seluruh peradaban barat, terutama perkembangan ilmu filsafat dan sosial. Salahsatu yang menarik dari filsafatnya adalah Filsafat Transendental. Filsafatnya berdiri teguh di kaki sendiri antara rasionalisme dan empirisme. Kant berambisi dengan semangat Kopernikanya menjadikan ilmu alam dan matematika sebagai fondasi filsafat transendentalnya dalam rangka menyelamatkan metafisika. Berhasilkan Kant menyelamatkan metafisika dengan cara memodifikasi dan menghidupkan kategori pengetahuan Aristoteles menjadi 12 kategori, plus ruang waktu untuk menjaring pengetahuan apriori dan aposteriori?. Seperti yang diakui Kant sendiri, filter pengetahuanya paling jauh hanya mencapai pengetahuan fenomena (penampakan), dan nomena (realitas apa adanya) tidak bisa di jerat. Bagaimana dengan nasib metafisika yang ingin diselamatkan Kant?. (more…)

Forum Antar Pakar (FAP): Dilema Hukuman Mati

Forum Antar Pakar (FAP): Dilema Hukuman Mati

Dilema Hukuman Mati hanyalah dua kata yang, bila salah memahami “hukuman” dan “mati”, kita terancam gagal memahami frase “hukuman mati”. Ketidakpararelan bentuk hukuman dan efek jera, juga menjadi pertimbangan bahwa secara empiris, hukuman mati mutlak ditiadakan. Namun, secara teologis, minimal dua agama Islam dan Kristen, menerima hukuman mati. Dalam perkembangan terakhir, gereja Katolik menolak hukuman mati. Ada lagi berpendapat, bukan menolak atau menerima secara mutlak, yang penting pembatasan. Hukuman mati juga tidak bebas syarat untuk diberlakukan – tiga syarat material minimal harus terpenuhi: sistem peradilan yang menghasilkan produk hukum yang adil, pelaku hukum yag bersih (antropologi) dan keadilan untuk semua, tidak tebang pilih (sosiologi). Demikian kesimpulan singkat diskusi Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra berjudul “Dilema Hukuman Mati Prespektif Filsafat dan Hukum”, 27/3 STFI Sadra. (more…)

Free WordPress Themes, Free Android Games