FAP; Tantangan Filsafat Pendidikan di Indonesia

FAP; Tantangan Filsafat Pendidikan di Indonesia

Salah satu tantangan dunia Pendidikan di Indonesia adalah bagaimana memperkuat fondasi filsafatnya. Fondasi adalah bangunan yang menopang konten kurikulum dan tujuan akhir dari anak didik. Pendidikan yang diselenggarakan di bumi Indonesia semestinya selaras dengan ideologi Negara Pancasila. Berakar kepada agama karena secara faktual, dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari, karena itu misi pendidikan Indonesia sebisa mungkin keluar dari misi pendidikan sekuler.

Bagaimana memahami tantangan Filsafat Pendidikan di Indonesia. Forum Antar Pakar (FAP) Riset Sadra bekerjasama  dengan Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan Seminar bertema ” Tantangan Filsafat Pendidikan di era Kontemporer”. Hadir sebagai pembicara, Dr. Agus Sutono mewakili PGRI dan Ammar Fauzi, Ph.D dari Riset STFI Sadra. Kamis, 31/10/2019, jam 09.30-12.00 wib di kampus 4 PGRI Semarang .

Dalam pemaparanya Ammar menjelaskan pentingnya posisi dan kontribusi Filsafaf Islam dalam dunia pendidikan di Indonesia. Filsafat dikatakan Ammar bukan satu-satunya elemen, tetapi salah satu alat yang efektif  bisa berkolaborasi dengan elemen lain. Filsafat ibarat kepala, pendidikan tanpa filsafat seperti orang berjalan tanpa kepala. Tapi kepala berjalan juga perlu kaki yakni ilmu-ilmu terapan yang lain.

Dalam dunia pendidikan versi Islam, relasi murid dan guru menjadi penting dan bisa bertukar tempat. Murid bisa menjadi guru dengan bidang keahlian yang berbeda, jadi intinya saling belajar. Etika dalam Islam membina sedemikian rupa sehingga kita berdosa jika kita merasa memberi ilmu, merasa memiliki ilmu. Dalam riwayat disebutkan “Aku diberi ilmu kecuali sedikit”. Sumber ilmu bisa berasal dari alam, guru dan Tuhan itu sendiri.

Kata ilm memiliki bentuk jamak ‘ulum, alim (orang berilmu); tidak saja memilik konten pengetahuan tetapi berperilaku sebagai orang alim. Akan tetapi dalam tradisi sekuler, science tidak memiliki bentuk plural, dan memiliki muatan motif yang berbeda, semata duniawi. Tujan dari pendidikan di Indonesia adalah mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan pembukaan UUD 1945, dengan sila 5, keadilan sosial sebagai alat. Ammar berpendapat keadilan adalah alat mencapai kebahagiaan bukan sebagai tujuan.

Sosialisasi filsafat menjadi penting di Indonesia karena sebagian masih menolak. Padahal sejatinya bagi seorang muslim, filsafat mampu memperkokoh iman, dan membangun kekuatan argumentasi dalam beragama dan memperkuat fondasi dunia pendidikan. Olehkarena itu posisi Filsafat Islam menjadi penting untuk berkontribusi dalam dunia Pendidikan.

Pendidikan di Indonesia adalah kombinasi unsur-unsur tradisi, agama dan ideologi Negara. Ketiganya memberi karakter bagi pembentukan Filsafat Pendidikan di Indonesia. Dalam budaya jawa, dikenal dengan martabat tujuh (tangga-tangga alam spiritual). Kata kayu berasal dari bahasa arab, alhayyu, salah satu nama Tuhan. Artinya tujuan dari Filsafat Pendidikan di Indonesia bisa mengadopsi kazanah Indonesia, yakni dalam tradisi tasawuf jawa menjadi seperti Tuhan, bukan menjadi Tuhan beneran dan selamanya memang tidak bisa, artinya  menyerap nama-nama Tuhan. Menyerap nama-nama Tuhan agar menjadi manusia utuh, manusia sempurna (Insan Kamil), itulah tujuan pendidikan di Indonesia.

   

Karakter Dasar Filsafat Islam

Lebih lanjut Ammar menjelaskan bahwa karakter dasar Filsafat Islam dapat menjadi identitas Filsafat Islam. Filsafat Islam memiliki tiga elemen; filsafat, Islam dan tradisi. Kegiatan penelitian Filsafat, terdiri pencarian makna leksikologis, etimologis, fenomen.  Islam memiliki elemen metodologis dan fenomenologis. Sementara  itu dilihat dari sisi relasi subjeknya, terdiri dari  a. Prinsip Ada, b. Prinsip tahu, c. Prinsip Prilaku. Ketiganya memiliki relasi metode. Memiliki dimensi intelektual, moral dan teknikal.

Dari sisi Intelektual,  terbagi menjadi dua, teoritis dan aplikatif. Teoretis terdiri dari elemen realisme, metafisika, teologi, rasionalisme, fundasionalisme dan prespektivisme. Sementara aplikatif,  berorientasi wahyu, irfan, etika, hukum, politik, interdisiplin.

Dari sisi moral, terdiri dari elemen cinta, fanatisme-radikal, substantif-fundamental, universal, holistik, akomodatif dan tanggung jawab. Sedangkan dari sisi teknikal, terdiri dari  dalektik, dan memiiki SOP Penelitian. Diantaranya dialogis, variatif, kreatif, spiral dan konjungtif.

Tantangan Fislafat Pendidikan Kontemporer

Secara filosofis menurut Ammar, dunia pendidikan mengahadapi berbagai tantangan. Diantaranya fenomena positivisme, pragmatisme dan relatifisme. Dari sisi etis, tantanganya dalam dari aspek nilai-nilai dan budaya. Dari sisi politis, menghadapi fenomena monolopoli (anti demokrasi), embargo (anti kebebasan). Dari sisi hukum menghadapi fenomena pembatasan penelitian pada kasus tertentu seperti holocous dan inkuisisi.

Anggaran juga menjadi persoalan. Dari mana anggaran berasal, dengan  apa digerakkan dan kita berada dimana.

Dunia pendidikan juga menghadapi tantangan berupa globalisasi sebagai proses yang alamiah, non final dan objektif. Globalisasi artinya juga sebagai proyek karena diupayakan mansia, dijadikan agenda manusia, bersifat final dan objektif.

Proses globalisasi juga terjadi alamiah, artinya proses perubahan itu diarahkan menuju tujuan pendidikan yakni kesempurnaan manusia sesuai dengan fitrahnya, tetapi terkadang tejadi konflik, pembedaan, pembiaran dan pengecualian. Seperti prediksi Giddes (1998), ketika terjadi pembedaan dan marginalisasi.

Globalisasi berlangsung sebagai proses sekaligus proyek melalui media sains, teknologi, kemudian ditandai dengan percepatan waktu, perluasan ruang dan pendalaman.

Dr. Agus Sutono; Pendidikan Berbasis Kultural

Sementara itu Dr. Agus Sutono dengan judul presentasi “Kontektualisasi Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Filsafat Pendidikan Kontemporer.” memaparkan pentingya filsafat pendidikan berbasis tradisi.

Agus menjelaskan latar belakang masalah pendidikan Indonesia yang masih berpegang kepada link and match (skema kapitalisme) yang hanya cocok untuk ilmu alam terapan bukan ilmu sosial sehingga memiliki dampak;

  1. Terjadi pergeseran pendidikan (proses pencerdasan manusia) menjadi komoditas
  2. Fokus pada penguasaan scientia. Mengarahkan ke hal yang bersifat pragmatis dan materialis, minus  semangat kebangsaan,  keadilan sosial, dan humanis sebagai warga negara
  3. Padahal sejatinya hakikat pendidikan, suatu usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh jiwa dan rohaninya.

Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara menurut Agus layak untuk dikontektualisasikan dan masih relevan. Menurut Ki Hajar, pendidikan memilik tiga pusat (tripusat), yakni pendidikan keluarga, pendidikan dalam alam perguruan/sekolah; dan pendidikan dalam alam  masyarakat

Sejak dini Ki Hajar menganjurkan anak didik untuk belajar Tri No, yaitu  nonton (melihat), niteni (menandai) dan nirokke (mempraktekkan).

Nonton (cognitive) lebih bersifat pasif, menggunakan intrumen inderawi. Niteni (affective)  dengan cara menandai, mempelajari, mencermati apa yang diindera.Nirokke (psychomotoric) menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan. Tiga konsep Pendidikan ini dimulai dari kelas Dasar dan Menengah dengan istilah lain Ngerti (memahi), Ngroso (merasakan) lan Nglakoni (mempraktekkan).

Model pendidikan ini dimaksudkan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (cognitive), ‘ngerti’, melainkan harus ada keseimbangan dengan ngroso (affective) serta nglakoni (psychomotoric).

Pada akhirnya anak didik akan mengerti dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan  pengetahuan yang sudah didapat dalam kehidupan masyarakat.

Seorang pendidik harus memiliki sistem among (membimbing) dengan berjiwa kekeluargaan bersendikan:

  1. Kodrat alam sebagai syarat kemajuan, batas perkembangan potensi sesuai dengan progresivisme
  2. Kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan dan menggerakkan potensi pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka sesuai dengan progresivisme

Pendidikan dimaknai sebagai usaha kebudayaan,  membangun prinsip kemajuan dalam kehidupan,  bagian dari kesenian yang diadopsi kedalam kurikulum

Pendidikan adalah salah satu usaha pokok untuk memberikan nilai-nilai kebatinan yang ada dalam hidup rakyat yang berkebudayaan kepada tiap-tiap turunan baru (penyerahan kultur), tidak hanya berupa “pemeliharaan” akan tetapi juga dengan maksud “memajukan” serta “memperkembangkan” kebudayaan, menuju ke arah keseluruhan hidup kemanusiaan .

Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan bangsa sendiri, diajarkan membuat pekerjaan tangan, misalnya: topi, wayang, bungkus ketupat, atau barang-barang hiasan dengan bahan dari rumput atau lidi, bunga dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar anak jangan sampai hidup terpisah dengan masyarakatnya.

Olah gendhing bagi sekolah Dasar dan Menengah dengan cara memperkuat dan memperdalam rasa kebangsaan, beorientasi keindahan dan keluhuran budi.

Hakikat pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah memasukkan kebudayaan ke dalam diri anak dan memasukkan anak ke dalam kebudayaan supaya anak menjadi makhluk yang insani.

Agus menutup presentasinya dengan mengatakan, kontribusi Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan di Indonesia masih relevan untuk diaktualisasikan, baik dalam jalur formal dan nonformal. Munculnya model-model pendidikan pesantren modern yang sering dikenal dengan MBS (Modern Boarding School) adalah satu contoh. Seminar dihadiri sekitar 300 mahasisw/wi dan para dosen PGRI diakhiri sesi Tanya jawab.

Ditranskip oleh Muhammad Ma’ruf

 

FAP: Islamic Studies, Orientalisme dan Kolonialisme

FAP: Islamic Studies, Orientalisme dan Kolonialisme

Islamic Studies atau kajian Islam adalah program studi yang dimaksudkan mengkaji dimensi-dimensi yang ada dalam ajaran Islam. Seorang muslim dengan keyakinan kepada Islam ketika mendalami Islam maka dia tidak hanya sedang mengkaji, akan tetapi juga mengimani apa yang dikajinya. Akan tetapi seorang non muslim ketika mengkaji Islam, maka dia menjadikan Islam sebagai objek semata, sedang imanya bisa dimatikan dan dihidupkan sesuai dengan keyakinanya.

Sejarah perkembangan kajian “Islam Studies” di Barat memiliki akar historis yang berimpit dengan kepentigan kolonial. Bagaimana sejarah dan relasi Islam studies (orientalisme) dengan fenomena kolonialisme Barat terhadap dunia islam?. Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra berusaha menjawab dalam forum kajian bulanaan, Kamis 03/10/2019) di STFI Sadra.

Menghadirkan pembicara, Dr. M. Mesbahi (Director of Education Dept. of The Islami College, London), Dr. Hossein Mottaghi, Direktur perwakilan Mustafa International University (MIUT) Jakarta, dan Dr. Husein Heriyanto (Dosen Universitas Paramadina). Diskusi mengambil tema “Islamic Studies In Europe and Islamic World: Challenges and Opportunity”.

Dr. Hossein Mottaghi; Islamic Studies dan Orientalisme
Dr. Hossein Mottaghi, sebagai pembicara pertama menjelaskan dalam presentasinya berjudul Perkembangan “Islamic Studies” dan Tantangan Kontemporer berusaha mengkaji dari aspek historis.

Dikatakanya, “Islamic Studies” yang biasanya diajarkan institusi-intitusi Barat, kadang-kadang disebut sebagai “Orientalisme,” dimana kata ini memiliki resonansi negatif dengan dunia Muslim. Secara historis gerakan ini pada dasarnya anti-Islam dan memiliki akar yang jauh, hingga Perang Salib.

Sekitar sebelum paruh kedua abad ke-20, sebagian besar studi Barat tentang Islam berfokus pada retorika ideologis Kristen dan adanya upaya membuat benteng pertahanan melawan Islam. Tetapi sejak paruh kedua abad ke-20 dan setelahnya, lebih menggunakan pendekatan akademik, ilmiah dan bersifat non-kontroversial dan telah menjadi fokus utama penelitian Barat tentang Islam.

“Studi Islam” berarti studi tentang sebanyak mungkin dari seorang peneliti yang tidak memihak dan objektif. Dengan cara ini, peneliti menggunakan metode, sumber daya manusia, prestasi, mengenali fenomena seperti Alquran, hadis, Islam, dan sebagainya.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, konsep “Orientalisme”, seperti yang digunakan pada abad ke-18 dan 19, mengingatkan pada usaha “penginjilan” dan “kolonialisme”. Para pelaku tersebut dikenal sebagai cendekiawan Barat kontemporer, cendekiawan Islam di Barat atau cendekiawan Barat atau cendikiawan non-Muslim namun tidak menggunakan istilah Orientalis.

Setelah orang-orang Barat kontak dengan dunia Islam, mereka menjadi tertarik untuk memahami secara lebih baik tentang Islam tetapi untuk kepentingan kemajuan barat. Minat mereka tidak terbatas pada Islam. Mereka mengekplorasi negeri Cina, aspek geologi negeri timur dan tentang masyarakat Timur Tengah. Barat juga memiliki kecenderungan pada filologi, mengenali budaya lain melalui teks-teks kuno dan adanya dorongan untuk mengekplorasi tek budaya Islam dan juga budaya lain. “

Tetapi ada juga pandangan lain yang mengatakan, adanya upaya reformasi Kristen melalui Orientalisme dengan menggunakan “Studi Islam” hanyalah untuk kepentingan taktis dan tidak menunjukkan semata penelitian akademis. Oleh karena itu, kita harus menyelediki periode-periode tertentu bagaimana Kristen memahami Islam.

Peristiwa konversi Konstantinus “Kaisar Roma” menjadi misionaris Kristen membuat Gereja Katolik menjadi dogmatis dengan melakukan kegiatan penginjilannya di masyarakat non-Kristen. Akan tetapi fenomena kebangkitan Islam telah menyebabkan perubahan besar dalam pendekatan evangelis Gereja Katolik.

Olehkarena itu perlu penjelasan pendekatan evangelis Kristen Katolik dalam menghadapi Islam dalam periode yang berbeda beda:
1. Periode pertama: Periode pertemuan Kristen dengan kebangkitan Islam, memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Kristen mempelajari ajaran Islam untuk memperkuat kepentingan evangelis (misionaris).
b. Kelemahan dalam penginjilan berpengaruh pada ajaran Islam.
c. Menempatkan gerakan evangelis dalam posisi pasif.

2. Periode Kedua: Periode pertemuan Kristen dengan Islam memiliki beberapa karakteristik:
a. Menggunakan Kristen sebagai sarana militer untuk kegiatan evangelis.
b. Berusaha mengalahkan Islam dan akhirnya menjadi Kristen.
c. Meniup roh suci dalam perang melawan Muslim untuk mendorong orang Kristen memasuki perang melawan Muslim.
d. Melembagakan pendekatan destruktif terhadap Islam dan pendekatan budaya secara konfrontatif.

3. Periode ketiga: Periode pendekatan budaya di masa evangelikal yang karakteristiknya adalah:
a. Periode evangelis terpanjang dalam masyarakat Islam.
b. Gereja menggunakan berbagai metode untuk mengkonsolidasikan agama Kristen dan menghancurkan ajaran Islam.
c. Upaya untuk melembagakan pendekatan interaksi, dialog dan mengganti yang bersifat fisik dan destruktif.

4. Periode empat: Pengalaman Maksimal umat Islam:
a: Pembentukan Dewan Vatikan Kedua dan pengadopsian dokumen pengakuan Islam.
b: Memperkuat pendekatan dan perspektif dialog dengan Islam dengan orientasi evangelis.
c: Menggunakan praktik dan pendekatan invasif dalam bidang budaya yang acak untuk kepentingan evangelis.

Dr. Hossein Mottaghi lebih jauh menjelaskan, dikatakanya, penting untuk dicatat, bahwa di antara “Katolik” ada orang-orang yang menganggap “penerimaan dialog” sebagai melepaskan tugas penginjilan Kristen. Jika kita menerima anggapan ini, maka “dialog” tidak secara alami bermusuhan, tetapi, tujuan “dialog” dapat untuk mengeksplorasi kapasitas agama-secara bersama-sama untuk menilai dan untuk menyediakan konvergensi yang lebih besar antara agama Kristen dan Islam.

Setelah tinjauan tentang berbagai periode penginjilan Kristen muncul, beberapa hal perlu dipertimbangkan.
1. Munculnya Islam telah menjadi pukulan besar bagi agama Kristen dan sejauh ini belum mampu mencernanya. Tentu saja, alasan di balik wacana Islam dan ajaran Islam dalam menempatkan agama Kristen di posisi yang berlawanan sangat penting.

2. Upaya Kekristenan untuk memperoleh pengetahuan tentang Islam pada tahap awal kebangkitan Islam hanyalah untuk menemukan cara untuk melawannya, bukan untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Tentunya, dengan pengetahuan ini mereka telah memikirkan strategi evangelikal yang baru.

3. Mengorganisir “Kongregasi Evangelisasi antar Bangsa-Bangsa” dan membimbing gerakan-gerakan evangelis dalam suatu struktur yang sistematis dan saling terkait menunjukkan pendalaman penginjilan dalam kekristenan sebagai satu-satunya agama yang dapat menjamin keselamatan manusia.

4. Bersamaan dengan studi pemahaman Kristen tentang Islam, disimpulkan bahwa alasan di balik ajaran agama Islam yang memiliki wahyu dan dukungan yang kuat, tidak dapat dibandingkan dengan instrumen evangelis. Oleh karena itu, pada periode kedua, mereka dipaksa menggunakan cara militer untuk menghadapi Islam dan menyebarkannya, sehingga dasar-dasar kekristenan tidak terguncang.

5. Penggunaan kekristenan dalam mengejar tujuan-tujuan sakralnya juga dapat dievaluasi dan dianalisis sejauh Kekristenan mengizinkan dirinya untuk memenuhi tujuan-tujuan evangelikal melalui ajaran-ajaran Kristus dalam konteks perang. Dan pertumpahan yang berdarah memberikan sifat suci kepada orang-orang dengan harapan kekudusan

Setelah kurang lebih 30 menit presentasi Dr. Mottaghi kemudian bersuaha meringkas materinya. Kajian tentang “Islamic Studies” senantiasa diidentikkan dengan orientalis (ketimuran) dimana memiliki makna negatif bagi kaum muslimin di awal-awal kemunculannya. Karena motif awalnya tidak mengamalkan ajaran dan doktrin Islam, tapi hendak menguasai kaum muslimin. Dasar pemikiran kaum orientalis adalah dalam rangka menaklukkan Islam. Orientalis merupakan perpanjangan dari Perang Salib antara Kristen dengan Kaum Muslimin. Bahkan, sebagian orang masih menganggap “Islamic Studies” masih sama dengan orientalis yang merupakan kepanjangan dari Perang Salib. Pada sisi yang lain, sebagian kelompok beranggapan bahwa Islamic Studies telah berubah secara esensial dari citra yang negatif menjadi sesuatu yang dinamis dan positif-merupakan mediasi dalam pengembangan Islam itu sendiri.

Selanjutnya Dr. Mottaghi menjelaskan tahap tahap gerakan Kristenisasi dalam membungkam gerakan Islam. Namun, upaya Kristenisasi yang dilakukan dalam membungkam suara dan gerakan Islam mengalami kegagalan. Di era pertama, Kristenisasi mengalami kelemahan dan kegagalan. Di era kedua, berubah menjadi perang fisik. Mereka beranggapan bahwa perang terhadap Islam itu suci dan bagi yang gugur akan mendapat tempat di sisi Nabi Isa as. Meski demikian, Islam malah berkembang baik secara ideologis maupun jumlah pemeluknya. Di era ketiga, gerakan Kristenisasi berubah menjadi gerakan akademik dan keilmuan dalam masa terpanjang. “Setelah mengalami berbagai kegagalan pada akhirnya mereka mengakui Islam sebagai agama wahyu,” paparnya.

Dr. M. Mesbahi: Menjadi Insider Islam
Sementara itu, Dr. Mesbahi dalam presentasinya melihat kajian “Islamic Studies” mempunyai peran besar dalam membangun masyarakat dunia. Para mahasiswa yang mengambil bidang ini mempunyai tugas menyampaikan ilmu-ilmu ke-Islaman yang mereka pelajari kepada masyarakat. “Karena itu, para mahasiswa harus berperan di tengah masyarakat sebagai pendakwah dan ini merupakan tugas mulia,”. Karena dengan kita mengenal agama dan doktrin keagamaan Islam, kita akan menjadi orang terdepan dalam segala hal. Menjadi “Insider” hakiki merupakan pilihan yang tepat, bukan orang luar yang memahai Islam sebagai objek. Kita saksikan saat ini Islam sudah berkembang ke berbagai negara, baik Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dan lain sebagainya.

Adapun Dr. Husein Heryanto, memberikan tanggapan atas penjelasan kedua pemateri sebelumnya. Dikatakanya, banyak keluhan tentang objektifikasi orientalisme, persoalanya bukan motif non muslim belajar Islam, akan tetapi non muslim di Barat memiliki kelebihan metodologi yang bisa diandalkan dalam mengkaji Islam. Olehkarena itu Islam sebagai objek kajian tidak harus menuntut iman. Akan tetapi mengkaji Islam untuk menaklukan dunia Islam sebagaimana dilakukan para orientalis perlu diberi catatan buruk.

Dari ketiga pembicara dapat diambil kesimpulan, bahwa “Islamic Studies” bukanlah sebuah studi yang netral dari kepentingan kekuasaan. Secara historis, geneologi “Islamic studies” di barat berimpit dengan proses penaklukan pikiran (orientalisme) dalam rangka penaklukan kekuasaan dan teritori. Relasi kekuasaan dan pengetahuan ini memiliki titik pijak dari peristiwa perang salib. Adapun “Islamic Studies” juga memilik resonansi positif, sejauh dimensi ajaran Islam dipelajari dari dalam ajaran itu sendiri bukan dari perangkat pengetahuan barat yang hasilnya “Islam versi barat” (orientalis). Islam dalam frame instrumen pengetahuan Barat.

Tepat pukul 12.00 wib, diskusi di tutup. Forum Temu Pakar ini dihadiri sekitar 30 mahasiswa dan dosen di lingkungan STFI Sadra.

ditranskip ulang oleh; Muhammad Ma’ruf

 

FAP: Mahdiisme dan Tantangan Kontemporer

FAP: Mahdiisme dan Tantangan Kontemporer

Mahdiisme dan Tantangan Kontemporer

Mahdiisme, mesianisme, ratu adil, apokalipstik, armagedon, adalah sederet narasi tentang nasib masa depan manusia dan dunia. Bagaimana semestinya kita bersikap dan merespon jalanya masa depan ?. Informasi mahdiisme menawarkan jawaban “pasti”, awal dan akhir sejarah dunia diciptakan dengan campur tangan Tuhan. Manusia akan menghadapi puncak bencana ketidakadilan global, Tuhan sudah memberi jalan untuk menghirinya. Bagaimana caranya menarasikan isu ini di tengah kaum tak beriman?bagaimana caranya merespon  ketidakadilan global? Farum Antar Pakar (FAP) mengundang seorang penulis tentang Imam Mahdi dari Madagascar, Dr. Zhoulfikar Vasram untuk memberi bahan diskusi dan inspirasi. Selamat menyimak!.

FAP. Kamis, 19/09/2019 STFI Sadra. Setelah cukup lama vakum, akhirnya tim Forum Antar Pakar (FAP)  menemukan gregetnya lagi untuk menggalakkan diskusi tukar pikiran di bulan Muharram. Bulan ini terasa wingit (sakral) untuk dilewatkan begitu saja tanpa even diskusi sebagai bentuk cara menangkap “ngalap” berkah. Sengaja kami menangkah berkah itu dengan membahas tema “Kemahdian dan Keghaiban”.

Mahdisime, Imam Mahdi, Ratu, Mesianisme, adalah aneka ungkapan yang bersumber dari agama langit dan bumi, menunjuk eksisnya isu Mahdiisme.

Tema kemahdian bagi sebagian kaum rasional sekuler dianggap sebagai bentuk ketidakberdayaan irrasional dalam merespon aneka tantangan zaman (ketidakadilan). Bagi kaum rasional religius merupakan bantuan Tuhan yang maha dahsat dalam rangka memperkuat rasional manusia yang sering rapuh, lemot, oleng, kehilangan fokus dalam merespon tantangan zaman.

Kemahdian adalah bimbingan pasti dari Tuhan, sebuah janji Tuhan untuk mengakhiri ketidakadilan dunia ini dengan tatanan penuh keadilan yang dipimpin sosok “person” Imam Mahdi. Olehkarena itu hadirnya sang juru selamat adalah “keniscayaan mekanisme” demi terwujudnya janji Tuhan. Tuhan yang memulai, Tuhan pula yang menunjukan cara mengakhiri narasi dan praktek ketidakadilan dunia. Di puncak keadilan dunia yang dinantikan itu semua harapan para pecinta keadilan bisa terobati.

Meski demikian, isu ini tak luput dari persoalan. Dikarenakan berita ini dari langit, maka aspek “kepercayaan/iman” tidak bisa dihindari, isu mahdiisme biasanya dibahas dalam rumpun teologi. Meski dibangun dengan rasionalitas, sumber mahdiisme adalah mutlak berasal dari Tuhan. Bagaimana dengan kaum yang tidak beriman?.

Bagi kaum beriman yang rasional tentu relatif lebih mudah menerima dibanding kaum rasional dengan iklim sekuler. Dari sinilah timbul tantangan untuk menarasikan isu mahdiisme agar bisa diterima semua kalangan.

Tentang sumber kepastian Imam Mahdi; siapa, dimana, kapan dan bagaimana Imam Mahdi muncul bisa dikatakan cenderung relatif, karena sumber referensi yang beragam.  Namun adanya kepastian kehadiran dan datangnya Imam Mahdi sang juru selamat, semua agama mempercayainya.

Persoalana lainya, bahwa domain pembahasan Imam Mahdi yang dibahas dalam teologi seringkali juga mengalami kesulitan untuk diseberangkan (diperluas) kedalam tema-tema filsafat,  ilmu sosial dan dunia sosial. Akademisi formal jarang (tidak populer) membahas problem sosial (ketidakadilan) dengan sudut pandang mahdisime. Padahal senyatanya,  Mahdiisme adalah jawaban bagi kaum beriman menghadapi problem ketidakadilan global yang tidak berujung pangkal. Hanya energi super iman dan setia pada fitrah rasionalitas, ketidakadilan global itu bisa di sudahi. Karena karakter garis gerak sejarah ketidakadilan mengglobal, maka dibutuhkan iman yang global dan kerangka rasionalitas lintas batas.

Berangkat dari keterangan pendahuluan diatas, maka tim kreatif FAP sengaja mengundang seorang penulis khusus tentang Imam Mahdi berkebangsaan Madagascar untuk menjadi nara sumber utama diskusi. Dia adalah Dr. Zhoulfikar Vasram. Sebagai perespon, tim FAP mengundang intelektual lokal Dr. Nano Warno, dosen Filsafat Islam, STFI Sadra.

Disamping menulis buku, Zhoulfikar  juga salah satu pengajar di Universitas Internasional Al Mustafa Madagaskar, Ketua Asosiasi AIWAH-Madagaskar. Zhoulfikar adalah pria keturunan Gujarat, India, generasi keempat komunitas Kodja yang bermigrasi dari India ke Madagaskar. Lahir di Madagascar dan mengenyam pendidikan master akutansi di Prancis, mengajar dan meneliti kemahdian di beberapa institusi Madagascar.

Secara khusus Zhoulfikar mengadakan perjalanan kunjungan 7 negara (Banglades, Malaysia, Viatnam, Philipina, Thailand, Myanmar dan pada perjalanan terakhir di Indonesia bersedia memenuhi undangan FAP, Riset STFI Sadra.

Zhoulfikar sudah menulis tujuh buku tentang Imam Mahdi, semua dalam bahasa Prancis. Diantaranya yang sudah terbit;  le Rassembleur des Musulmans, Ghaybat-e-asoughra et Ghaybat-e-Khoubra de I’Imam Mahdi, I’Imam actuel!, La Ghaybt de I’lmam Mahdi; facon, raisons et responsabilities!, La reunion du Saqifah; le coup d’etat contre ‘Ali.

Zhoulfikar mengantar diskusi dengan mengatakan, “saya mendapatkan undangan diskusi  FAP ditengah perjalanan pada saat di Viatnam, jadi maklum saya tidak membawa materi buku yang akan dibahas, olehkarena itu pidato saya ini untuk para mahasiswa SI bukan untuk level doktor”.

Siapa Imam Mahdi

Zhoulfikar memberi beberapa poin pendahuluan diskusi. Dikatakanya, hal yang paling penting, atau basic teaching kemahdian dan keghaiban untuk mahasiswa S1 adalah;

Pertama, mengenal sumber kemahdian. Dengan sengaja Zhoulfikar memilih sumber itu dari ahlulbayt, jadi dikatakanya, jika ada pertentangan informasi maka itu berasal dari sumber yang berbeda.

Kedua, harus bisa menjawab pertanyaan, siapa, kapan, dimana,  kapan dan bagaimana Imam Mahdi Muncul.

Siapa itu Imam Mahdi?.

Dia adalaha Muhammad bin Hasan (bahasa Arab: محمد بن الحسن )  terkenal dengan Imam Mahdi, Imam Zaman dan Hujjah ibnu al-Hasan adalah imam Syiah yang kedua belas. Imam Mahdi lahir pada 15 Sya’ban 256 H/870, ada yang menyebut 15 Sya`ban 255 H/29 juli 869 di kota Samarra, Irak utara. Imam Mahdi mendapatkan tampuk imamah, 260 H/873. Lahir seorang ibu bernama Nargis Khatun, berayah bernama Imam Hasan bin Ali al-Askari as.

Memiliki julukan, Mahdi, Qaim, Baqiyatullah, Muntazhar, Hujjat,  Khalaf al-Shaleh, Shahib al-Amr, Shahibuz Zaman, Wali al-Ashr  dan Manshur.

Berdasarkan literatur-literatur Ahlulbayt, kelahiran Imam Zaman terjadi secara tersembunyi dan selain beberapa orang dari sahabat khusus Imam Hasan al-Askari as tidak seorang pun melihat imam kedua belas ini. Menurut keyakinan Imamiyah, Imam Mahdi af adalah juru penyelamat di akhir zaman dan dialah Mahdi Mau’ud (yang dijanjikan kemunculannya). Ia memiliki umur panjang dan akan hidup dalam kegaiban yang panjang. Kelak, ia akan muncul dan bangkit atas kehendak Allah swt serta akan memimpin dunia dengan keadilan. Mengalami dua kali masa kegaiban kecil dan besar.

Pertanyaan mendasar mengenai kegaiban Imam Mahdi adalah dimana, kapan dan bagaimana. Dalam tradisi ahlulbayt, sekitar lima tahun setelah kelahiran Imam Mahdi mengalami kegaiban di Samarra, Irak utara, mulai 01/01/874 tepat pada saat ayahnya Imam Hasan Al-Askhari meninggal dunia.

Pada umur 5 tahun Imam Mahdi dighaibkan, bersamaan dengan syahid ayahnya Hasan Al-Askhari di Samarra, 8 Rabiul Awal tahun 260 H pada usia 28 tahun di Samarra dan dimakamkan di samping pusara ayahandanya. Pusara mereka berdua terkenal dengan Haram Askariyain dan menjadi tempat ziarah orang Syiah di Irak. Imam Hasan Askari (232-260 H) adalah Imam kesebelas bagi para pengikut Syiah Itsna Asyariyah yang memimpin selama 6 tahun. Dia adalah anak Imam Hadi as dan ayah Imam Zaman as (Imam Mahdi).

Berdasarkan mayoritas sumber-sumber Syiah, satu-satunya anak Imam Hasan Askari as adalah Imam Zaman as yang bernama “م ح م د” (Muhammad). Dari kalangan ulama Ahlusunnah terdapat pula beberapa sosok seperti Ibnu Atsir, Syablanji dan Ibnu Shabbagh Maliki mnyebutkan bahwa nama “Muhammad” adalah nama untuk putra Imam Askari as.

Imam Mahdi adalah imam keduabelas. Berurutan setelah Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Sajjad, Imam Baqir, Imam al-Shadiq, Imam al-Kazhim, Imam al-Ridha, Imam al-Jawad, Imam al-Hadi, Imam al-Askari.

Ketiga, berkenaan dengan fenomena Kegaiban. Kegaiban biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris occultation tetapi saya lebih memilih non accessibility, ujar Zhoulfikar. Lalu kalau pengertian kegaiban dimaknai sebagai ketidakmudahan mengakses, bagaimana kita bisa mengakses Imam Mahdi?. Jawabanya, kita bisa mengakses Imam Mahdi, dan Imam Mahdi bisa mengakses kita, didasarkan atas izin Allah semata. Jika kita diijinkan Allah maka kita bisa mengakses Imam Mahdi, kita bisa berkomunikasi dengan Imam Mahdi,  begitu juga ketika Imam Mahdi diberi ijin Allah untuk mengakses manusia tertentu, akses itu bisa terjadi.

Terkusus berkenaan dengan kegaiban (ghaibah), terdapat beberapa macam jenis “ghaibah”;

Pertama, ghaibah yang terjadi pada Nabi Muhammad. Terjadi pada malan hijrah, dengan mukjizat Allah, orang Qurais tidak bisa melihat Nabi.

Kedua, peristiwa di gua tzur, nabi Muhammad yang disertai sahabat Abu Bakar disembunyikan Allah dengan cara menyuruh laba-laba membut sarang, sehingga nabi tidak terlihat oleh orang-orang Qurais yang ingin membunuhnya. Kegaiban ini bermakana to hide (menyembunyikan) di gua. “Sarang laba-laba paling rapuh di seluruh dunia”  menjadi hujjah  kenabian nabi.

Ketiga,  “ghaibah” yang terjadi pada nabi Isa. Allah menyuruh nabi Isa pergi ke langit.

Keempat, “ghaibah identitas. Terjadi pada nabi Yusuf. Saudara-sadara nabi Yusuf tidak mengenal nabi Yusuf lagi,  ketika menjadi pejabat Mesir.

Dalam pandangan Zhoulfikar, kegaiban Imam Mahdi lebih dekat “pengertianya” dengan kegaiban nabi Yusuf dari sisi saudaranya yang tidak mengenal nabi Yusuf. Kita persis seperti saudaranya nabi Yusuf yang tidak mengenal Imam Mahdi. Inilah yang dimaksud ghaibah identitas. Bukan dari sisi  kejelasan nabi Yusuf yang tinggal di Mesir yang semua orang bisa melihatnya.

Ada juga pandangan yang mengatakan kegaiban Imam Mahdi seperti kegaiban nabi Isa, yang diangkat (dighaibkan) oleh Tuhan. Imam Mahdi dighaibakan untuk menyelamatkan dunia. Imam Mahdi menunggu al-muntazir, sementara umat manusia berkewajiban menyongsongnya. Menurut Tabatabai, Imam Mahdi mengalami waktu kasar dan halus, seseorang yang mampu mengakses Imam Mahdi artinya dia masuk dimensi waktu halus.

Jika ghaibah identitas terjadi, bagaimana “dhuhur/kehadiran” Imam Mahdi. Imam Mahdi tentu akan memperkenalkan identitasnya. Tuhan ingin melindungi hujjahnya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, pada 10 muharram, Imam Mahdi akan berdiri di depan ka’bah, dia akan berkata “ saya Imam Mahdi, Imam yang kalian tunggu”. Ujar Zhulfiqar.

Berkenaan dengan tanda-tanda kehadiran Imam Mahdi, Dr. Zulfikar mengatakan, meski sumber  ini relatif, kita bisa memanfaatkan tanda-tanda tersebut sebagi bahan refleksi melihat kondisi zaman. Ada sumber yang mengatakan datangya (zhuhur) Imam Mahdi pada hari jumat 10 Muharrom (asyuro), akan tetapi sebelum datang, akan ada lima tanda-tanda yang akan terjadi;

Pertama, munculnya kelompok Sufyani yang akan melawan ajaran ahlul bayt. Kedua, munculnya kekompok Yamani, menjadi pelopor ajaran ahlulbayt, 1 tahun sebelum muharram, pada bulan dan hari yang sama dengan kelompok sufyani. Ketiga, adanya seruan dari langit, pada 23 ramadhan (malam lailatul qadr), Tuhan akan memerintahkan tangisan malaikat dari langit. Keempat, dengan mukjizat Tuhan, tentara Sufyani akan tersedot ke bumi, dan tidak ada yang tersisa. Peristiwa itu terjadi di Baidhoh. Diantara Mekkah dan Madinah. Kelima, syahidnya nafs zakkiyah (alim) pada 25 zulhijah, 2 minggu sebelum datangnya Imam Mahdi dan  darahnya akan mengalir di sekitar ka’bah.

Pada saat kelompok Sufyani akan muncul nanti, akan ada reaksi balik dan setimpal dari kelompok Yamani. Kelompok Yamani tidak akan tinggal diam. Olehkarena kelompok Yamani bergerak, maka Allah akan menolong dengan jalan menyedot seluruh tentara sufyani ke perut bumi. Sebelum zuhur (hadirnya) Imam Mahdi, ada kelompok orang alim (nafs zakiayah) yang bertemu dengan Imam Mahdi dan akan menjadi martir.

Penanggap

Setelah kurang lebih 30 menit Dr. Zhoulfikar Vasram menyampaikan materi, giliran Dr. Nano Warno sebagai penanggap memberi poin-poin komentar;

Pertama, seharusnya isu Mahdiisme dibicarakan dalam Interdisipliner ilmu, agar lebih bisa mengangkat wilayah teologi menjadi lebih luas dan mendalam. Terkait dengan tema global mahdiisme, seharusnya bisa dibincangkan dalam kontek program aksi berbasis ideologi yang nyata.

Kedua, terdapat sinkronitas, paralelitas, isu Mahdiisme dengan tema Insan kamil dalam irfan, juga dalam kultur kepercayaan orang awam yang mengenal mahdisime sebaga ratu adil. Olehkareana itu perlu bersinergi dengan wacana lokal sehingga masyarakat terkena imbas menemukan semangat dan optimisme baru (membangkitkan semangat mahdiisme dengan wadah kepercayaan lokal).

Ketiga, mahdiisme sangat penting, karena kiamat tidak akan terjadi tanpa kehadiran sosok Imam Mahdi. Hal ini memberi gambaran kepastian kosmologi eskatologis, bumi tidak akan kosong dari hujjah Allah dan bahwa jika keimamahan terputus niscaya urusan-urusan Tuhan akan terbengkalai dan bahwa hujah Allah di muka bumi merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang beriman, yang dengan petunjuk ini Ia memuliakan mereka.

Keempat, isu mahdisime secara sosiologis menjadi penyeimbang wacana tentang konsep ideologi kapitalisme,  komunisme  dan sosialisme. Masyarakat tanpa kelas, kesejahteraan tanpa batas adalah bentuk-bentuk perwujudan cita-cita masyarakat (utopi). Hanya saja cita-cita itu berbasis material, sedang mahdiisme adalah mekanisme eskatologis rasional religius berbasis cita-cita masyarakat spiritual yang mendambakan keadilan total dan pasti akan terjadi.

Kelima, isu mahdiisme meski berdimensi eskatologi akan selalu menemukan pijakan rasional, relevansi dan kepastian karena masa depan dibaca terarah dan rasional. Pengelolaan masa depan masyarakat bersifat vertikal dan bukan sebaliknya, masyarakat horisontal sekuler (flat rasionalism).

Keenam, tradisi keghaiban adalah tradisi para nabi, juga kepercayaan lokal. Namun seringkali narasi eskatologi ini seringkali dimanipulasi, dibelokkan untuk tujuan politik sekuler, sebagai contoh pemanfaatan narasi apokalipstik George Bush untuk menjustifikasi invasi ke Irak. Olehkarena itu isu mahdiisme harus dinarasikan secara rasional dan berbasis religiusitas untuk mencounter stereotype narasi “mitos”.

Dari komentar Dr. Nano dan Dr. Zholfiqar dapat di tarik benak merah. Mahdiisme adalah bekal kaum beriman dalam menghadapi kezaliman global, berdimensi rasional (karena rapuhnya rasionalitas manusia, butuh kepastian bimbingan Tuhan). Mahdiisme membuat jalanya sejarah manusia terarah, membangun optimisme pergerakan, wadah iman sosial. Dunia adalah ciptaan Tuhan dan segala puncak kezaliman adalah perbuatan manusia, bahan ujian kaum beriman dari Tuhan. Mahdiisme adalah jalan “irfan” sosial, sistem berpikir bagaimana cara menyudahi sejarah umat manusia. Membangun surga keadilan dunia yang mirip dengan surga keadilan akherat yang paling sempurna, karena akherat dan dunia adalah dua keping koin, satu wajah, satu realitas.

Setelah diskusi berlangsung kurang lebih 2.5 jam, tepat pukul 12.00 wib, FAP di tutup. Kurang lebih dua puluh peserta hadir, terdiri dari mahasiswa dan para dosen STFI Sadra.  Acara diskusi rutin ini diselenggarakan oleh Departemen Riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra.(ditranskip dan ditulis oleh Muhammad Ma’ruf)

 

FAP: Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

FAP: Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

FAP; Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

Penerjemahan umumya dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Bukan sebuah pekerjaan yang dianggap penting. Namun, penerjemahan sebenarnya adalah bagian dari rangkaian penelitian.

Pekerjaan menerjemahkan memiliki bobot penting. Dapat menjadi fondasi pemikiran bahkan keberlanjutan peradaban tradisi ilmiah Islam. Seperti yang kita ketahui, tradisi keemasan Islam abad pertengahan banyak berutang pada Al-Kindi. Filsuf ini merupakan pionir- mengawali karirnya dengan banyak melakukan pekerjaan penerjemahan karya pemikiran dalam bahasa Yunani kedalam tek Arab. Berkat jasanya, dunia Islam dapat mengakses dan berdialektika dengan Filsafat Yunani. Setelah itu-dunia barat kemudian meneruskanya dan berutang besar pada penerjemahan para filsuf muslim.

Untuk menjadi penerjemah yang baik dibutuhkan beberapa syarat. Diantaranya, keahlian pengalaman bahasa, pembacaan horison penulis, pemahaman tek dan kontek.

Disamping tek filsafat, salah satu tek dengan tingkat kesulitan penerjemahaan tinggi adalah karya masterpiece para sufi bersumber dari ilham bukan dari akal diskursif. Sehingga yang dibutuhkan tidak hanya fokus pada tek gramatika dan memindahkan kata per kata, tapi juga memperhatikan kondisi fenomenologis spiritual penulis. Salah satu contoh tek tersebut adalah Al-Futuhat Al-Makkiyah karya Ibnu Arabi.

Bagaimana suka duka penerjemahan tek tersebut. Melalui program Forum Antar Pakar (FAP) Sabtu, 16/04, 2016, Riset STFI Sadra mencoba menjawab dengan menghadirkan seorang penerjemah Al-Futuhat Al-Makkiyah dari AS, Dr. Winkel. Sebagai penanggap, hadir Ammar Fauzi, Ph.D. Diskusi bertempat di STFI Sadra di lt.04 STFI Sadra.

Dr. Eric Winkel
Dr. Winkel lahir di Manhattan, Kansas. Tinggal di Jenewa, Swiss. Selama 7-11 tahun di Haverford, lalu Penn, kemudian University of South Carolina. Dia melakukan studi eklektik, kebanyakan agama pada awalnya, memusatkan perhatian pada masalah spiritual, kemudian termasuk ilmu politik, aneka bahasa untuk memungkinkan studi teks religius dan spiritual (bahasa Sanskerta, bahasa Yunani, bahasa Koptik, Tamil, Arab, lainnya, juga bahasa Prancis dan Jerman).

Sebagai ahli Ibnu Arabi, Dr. Winkel mengajar di Universitas Islam Internasional, Kuala Lumpur, Malaysia, dan merupakan Senior Fulbright Scholar di Islamabad, Pakistan. Dia juga Dekan Mahasiswa Institut Internasional Pengobatan China di Santa Fe, New Mexico. Dr. Winkel mendapatkan hibah Fulbright Specialist untuk mengadakan kursus Ibnu Arabi di STFI Sadra dari tanggal 5 – 19 April 2016.

Dr. Eric Abu Munir Winkel (nama Sufi: Shu’ayb Nur) mengatakan telah mempelajari Futuhat al-Makkiyah selama 23 tahun. Sejak tahun 2012 ia telah bekerja secara eksklusif dalam proyek enam tahun (2012-2018) untuk dapat menghasilkan terjemahan lengkap Futuhat al-Makkiyah ke dalam bahasa Inggris, yang berjudul Openings in Makkah.

Futuhat al-Makkiyah adalah sebuah magnum opus lebih dari 10.000 halaman, ditulis oleh master terhebat (syekh al-akbar), dari tangannya sendiri.
Isi Futuhat merupakan ekpresi spiritual Ibn al-Arabi, seorang sufi terkemuka di abad ke-11, yang mendapatkan ilham langsung dari Tuhan. Sebuah visi spiritual yang luar biasa saat berada di Mekkah.

Tentang penerjemahan Al-Futuhat Al-Makkiyah, Dr. Wingkel mengatakan, dibutuhkan banyak usaha dan pengorbanan. Untuk dapat menerjemahkan karya seorang sufi yang berasal dari ilham, maka sang penerjemah harus mengkondisikan sepertihalnya sang sufi.

Penerjemahan kata perkata tidak akan membantu memahami dengan baik tek Ibnu Arabi. Olehkarena itu setiap istilah diperlakukan secara berbeda dan membutuhkan kehati hatian. Selain pengetahuan kekayaan bahasa, seperti diakui Winkel, dia harus berusaha memahami tek melalui perenungan serius.

Diakuinya, Winkel sering mendapatkan peneguhan melalu mimpi ketika kesulitan menerjemahkan istilah tertentu. Dr. Winkel mengakui dirinya bertugas tidak hanya melakukan pekerjaan menerjemahan akan tetapi juga mentransmisikan.

Dr. Winkel memberi contoh, untuk dapat memahami tafsir keesan Tuhan Ibnu Arabi. Secara khusus Winkel mempelajari bidang matematika dan fisika yang relevan. Setelah merenungkan kata huwa lahu dan paralelisasi posisi biner angka 1 0…01..kemudian lewat mimpi Winkel berhasil menerjemahkan dengan baik. Dr.Winkel seperti diakuinya bekerja menerjemahkan dalam satu hari sekitar 8-10 jam.

Ammar Fauzi, Ph.D
Sebagai penanggap, Ammar mengawali dengan mengatakan, Dr. Eric Winkel adalah seorang penerjemah yang langka dan unik. Ketika kegiatan penerjemahan tidak dianggap sebagai bagian penelitian maka apa yang di lakukan oleh pk Winkel sangat istimewa. Kenapa demikian, dikatakan Ammar, karena pk Winkel telah mengikuti jejak para filsuf, seperti Al-Kindi yang memulai kegiatan penerjemahan, dilanjutkan dengan meneliti kemudian menghasilkan karya.

Dalam kontek penerjemahan dalam tradisi sufi, sebenarnya manusia dan alam selain Tuhan adalah tarjuman arrahman-terjemahan Tuhan. Olehkarena itu jangan berhenti menerjemahkan tapi melangkah tahap berikutnya-melakukan penelitian.

Kita sekarang di ruang ini, berdiskusi dalam tradisi modern. Sebagai mahasiswa sebenarnya tingkatanya lebih rendah dibanding murid. Tapi, dalam tradisi tasawuf Islam dalam bahasa arab hanya mengenal kata “murid’. Seseorang tidak pernah di kenal menjadi wujud sempurna dari “terjemahan Tuhan” kecuali menjadi murid. Sebagaimana kata “murid” adalah nama Tuhan, kita mengawali menjadi murid dan mengakhiri dengan menjadi murid.

Karena kita berbicara “murid” maka dalam tradisi timur kata “syeikh” dan “mursid” dipadankan menjadi guru. Tapi dalam dunia modern kita kenal dosen, doktor atau professor. Dalam radisi pengajaran sufi, penyebutan murid, syeikh, atau mursid penting untuk menjaga kualitas spiritual (kesalehan).

Ammar berusaha menjelaskan pentingnya memahami perbedaan tradisi tasawuf Islam dan dunia pendidikan modern untuk sedekat mungkin memahami horison kontek penerjemahan karya Ibnu Arabi.

Sebagaimana dikatakan Dr. Winkel kata Ammar, benar bahwa karya Ibnu Arabi adalah hasil ilham, waridad, masukan-masukan spiritual. Kata Tabatabai, kalau Futtuhat Al-Makkiyah itu daman daman (rincian-rincian), sedang Fushus Al-Hikam mush mush (bongkahan-bongkahan). Untuk dapat memahami karya hasil dari ilham-maka seyogyanya sang murid mengikuti anjuran sang penulis. Olehkarena itu, sebelum membaca tek seperti Futtuhat Al-Makkiyah, Hikmatul Isroq, maka sebelumnya murid harus melakukan laku spiritual.

Setidaknya menurut Ammar terdapat tiga tahap sebelum kita membaca dan meneliti karya hasil ilham. Pertama mendapatkan ijazah dari mursid, kedua murid (peneliti) seyogyanya mempunyai guru (mursid), ketiga pentingya aspek kualitas spiritual. Olehkarena itu butuh suatu bentuk eklusifitas. Tapi bukan berarti orang yang belum mendapatkan tiga hal tersebut tidak boleh/tidak bisa mengakses. Siapapun boleh saja mengakses, tapi ingat-sejauh tek berbunyi. Pesan Ammar.

Dalam Misbahul Hidayah, Imam Khomeini berpesan-bila kita tidak punya pengalaman bahasa yang di pakai kaum sufi, maka sebaiknya jangan pernah mengakses buku sufi-atau diam saja. Jika nekat mengakses kemungkinan akan salah paham, dan bisa mengakibatkan pertumpahan darah. Bahaya terbesar bagi para pemula adalah tidak bisa menahan rahasia gejolak spritual dan juga kosongya pengalaman bahasa (istilah) yang di pakai para sufi.

Berkenaan dengan istilah. Ammar memberi contoh bagaimana William Chittick dan Toshihiko Izutsu-dua orang yang sama-sama di Tehran, saling belajar memahamai Ibnu Arabi. Dalam kontek penerjemahan, Chittick mengkritik Itsuzu yang memadankan istilah a’yyan atsabitah dalam tradisi tasawuf yang berbasis tek Al-Quran diterjemahkan dengan arketipe-arketipe permanen dari tradisi plotinos.

Olehkarena itu dikatakan Ammar, sebisa mungkin ketika menerjemahkan karya Ibnu Arabi, sang penerjemah harus dalam horison Ibnu Arabi. Sebagaimana, jika kita ingin memahami tek al-Quran dan injil, kita harus masuk dalam dua horison dua kitab tersebut.

Chittick menyarankan, biar saja kata a’yyan atau istilah wujud di terjemahkan apa adanya. Akan tetapi ketika kita menerjemahkan-disesuaikan varian terjemahan sesuai dengan kontek. Seperti varian terjemahkan kata wujud; haqiqah, waqi’iyah, huwwiyah, atau objek nanti dipilih sesuai kontek.

Chittick memandang, Izutsu saat memahami Ibnu Arabi fokus pada Tuhan, sementara menurut Chittick, Ibnu Arabi fokus pada manusia (antropologi). Seperti halnya debat mufasir dalam menentukan subjek matter Al-Quran, apakah berbicara Tuhan atau manusia. Maka, ketika hadis berbunyi man arofa nafsahu faqod arofa robbahu (barangsiapa mengenal manusia, maka mengenal Tuhan). Kalau subjeknya Tuhan, melalui manusia mengenal Tuhan maka akan berhenti di Tuhan. Sedang jika subjek matternya manusia, maka akan sampai pada bagaimana Tuhan menafsirkan manusia.

Hubungan antara manusia-Tuhan bersifat dialektis, baik dalam kontek jika manusia mengenal manusia maka mengenal Tuhan, atau mengenal manusia melalui Tuhan, ujungnya akan sampai pada manusia.

Berkenaan dengan bab 500 dalam Futtuhat Al-Makkiyah seperti kata Dr.Winkel, Ammar melihat bahwa bab tersebut merupakan inti apa yang sudah ditulis dan akan di tulis Ibnu Arabi. Sedang jika kita ingin melihat jenis terjemahan Dr. Winkel, kemudian apa perbedaanya dengan tradisi model Khawajawi di Iran, tergantung konstruk pemahaman kita terhadap Ibnu Arabi.

Hingga tiga jam diskusi berjalan, terlihat peserta masih antusias. Diskusi kemudian di tutup oleh moderator sekaligus pengelola jurnal STFI Sadra, Andi Herawati.

 

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

Hubungan Kristen dan Islam dengan filsafat memiliki dialektika yang unik dan khas. Masing-masing memiliki basis dan doktrin berbeda meski sama-sama sebagai agama ibrahimik. Respon dan perkembangan keduanya berbeda sesuai zaman dan kontek. Dari zaman klasik, modern dan posmodern baik Kristen dan Islam memiliki idealitas yang berbeda dan fenomena yang beragam-menggembirakan sekaligus mencemaskan.

Bagaimana Kristen dan Islam dilihat dari dalam dan sejauh mana filsafat berinteraksi dengan kedua agama tersebut. Bagaimana Kristen dan Islam merespon tantangan di dunia modern dan posmodern.

Inilah pokok pertanyaan fundamen yang mencoba di jawab dalam Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI, 16 mei 2016. Menghadirkan Prof. Dr Bambang Sugiharto dan Ammar Fauzi, Ph.D.

Setelah rombongan STFI Sadra dijamu makan siang di kafe mungil dan asri Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Filsafat Bandung. Angin Bandung yang hangat dan sejuk membawa umat dua agama besar berdiskusi, terlihat akrab dan senyap.

Prof. Dr Bambang Sugiharto
Dr. Bambang langsung pada statmen penting. Kristen sejak awal, oleh para muridnya, dalam mengespresikan pengalaman iman, banyak dipengaruhi oleh tradisi Yunani. Sejak awal Kristen telah menggunakan konsep-konsep Yunani, kemudian juga pada abad pertengahan. Olehkarena itu, hingga sekarang para pastor didik di seminari, salah satu materinya filsafat dan teologi. Banyak teologi yang sangat filosofis dan filsafat yang cenderung teologis.

Akan tetapi menurut Dr. Bambang, banyak unsur-unsur destruktif dalam agama-sesuai dengan judul presentasinya ”Unsur-unsur Destruktif agama”. Kenapa demikian?. Karena dalam agama terdapat banyak paradok.

Pertama, agama pembawa perdamaian sekaligus penyebab konflik dan separatis. Klaim agama, bahwa semua manusia sederajat akan tetapi faktanya terjadi superioritas yang diskriminatif, rasistik, chauvinistik. Agama menawarkan model ideal kematangan manusia, tapi banyak orang bermental kekanak-kanakan. Fokus agama adalah spiritualitas yang mendalam, tapi banyak fenomena agama hanya fokus pada hal material-simbol fisik. Agama dikenal memiliki sumber peradaban luhur, akan tetapi banyak fenomena agama justu sebagaia penghancur peradaban.

Agama di dunia modern dalam pandangan Dr. Bambang, banyak mendapat kritik dari kaum posmodernisme. Dalam dunia modern terjadi epistemologisasi agama, dibanding agama sebagai iman. Muncul pengetahuan yang benar, objektif, impersonal terhadap doktrin agama (R.Bellah, H.Smith). Persoalanya adalah, de facto agama tak selalu sejajar dengan ilmu, ada dimensi personal dan experiensial yangg hilang dalam ‘iman kognitif’. Dalam kenyataannya, ‘iman’ lebih tepat dilihat sebagai trust faith “percaya kepada/setia terhadap” soal sikap batin, bukan perkara ‘Pengetahuan’. Soal makna terdalam dalam pengalaman hidup konkrit dan personal.

Kedua, Agama-agama besar bersifat logosentrisme (berpusat pd ‘Firman’), kerap terkecoh, terperangkap dalam kerangka epistemologisasi, menjadi wacana besar, yang bersaing dengan science dan berbagai ideologi lain.

Masalahnya, ketika orang-orang intelektual menemukan bahwa sebagai ‘logos’ ternyata doktrin agama-agama justru sering tidak ‘logis’; dan sebagai wacana besar, ia sama opresif, manipulatif dan diskriminatifnya dengan ideologi-ideologi besar lainnya, maka dampaknya justru kontrapoduktif, yaitu terjadi fenomena atheisme.

Ketiga, dalam dunia modern, orientasi nilai dan perilaku individu dikelola oleh pribadi masing-masing. Istilah R. Bellah: Exoskeleton (pengawasan eksternal-sosial) bergeser ke Endoskeleton (pengelolaan internal-privat). Efek negatifnya: over self-consciousness –terjadi inflasi mental dan individu.

Olehkarena itu, agama-agama yang berorientasi kosmik secara psikologis menurut Bambang mungkin lebih sehat: agama :‘religio’/’religare’; mengembalikan keterkaitan primordial individu dengan alam semesta, dengan jagat yang tak sepenuhnya kita pahami, dengan misteri, dengan ‘ketakmungkinan’ (Derrida, Caputo), dengan ‘yang sublim’ (Kant). Pusat gravitasinya bukan individu, melainkan: alam semesta. Ranahnya bukan ‘kesadaran intelektual’ melainkan: supra-kesadaran, ranah pengalaman keterikatan yang sublim.

Keempat, akibat banyak tendensi kontradiktif menyangkut agama-agama besar, maka perspektif Postmodern mengubah pendekatan atas agama.

Kelima, agama-agama besar rentan menjadi sumber kecemasan dan kekerasan. Karena masalah: identitas, yang kehilangan batasan kekuasaan yang dalam globalitas jadi tak seimbang heterodoksi, yang mengakibatkan disorientasi. Maka spiritualitas yang non-dogmatik, dan non-logosentris, kini berpeluang memberi pencerahan, asalkan tetap berfokus pada kedalaman pengalaman spiritual otentik yang menggaris bawahi kesatuan dasar antar segala/ “ultimate belonging” (Huston Smith).

Manusia dan Agama
Agama menurut Dr. Bambang adalah ‘sistem’ (unsur: nilai inti, kitab suci, doktrin, pola ritual, pola organisasi, habitus). Nilai Inti dan kitab suci, nukleus. Doktrin, Pola ritual, organisasi, habitus. Artikulasi sistemik. Sistem ini dibentuk oleh manusia (sekurang-kurangnya sebagian), tapi juga membentuk manusianya, membentuk tendensi praksis khas.

Kontradiksi bisa terjadi antara tendensi praksis, artikulasi sistemik dan nukleusnya. Sejauh menyangkut kontradiksi, bila hal-hal inti dalam sistem tak perlu/ tak bisa diubah, maka faktor manusia/ praksisnya yang perlu dibenahi.

Dalam praktisnya, agama-agama menurut Bambang terdapat unsur-unsur destruktif
Pertama, agama menekankan berlebihan pada kebenaran doktrinal–proposisional, ‘Apa yang anda percaya’, bukan ‘apa yang anda lakukan’, apologetis, superioritas-diskriminatif. Sehingga mengakibatkan egosentrisme kelompok agama, akhirnya menjadi sumber konflik: shallow religion (Ken Wilber/Danah Zohar), “until there is peace between religions, there can be no peace in the word” (Thich Nhat Hahn).

Kedua, spiritualisme atau simbolisme berlebihan. Seakan keselamatan hanyalah urusan ibadah/sembahyang/simbol saja tidak berefek signifikan, tidak mengubah kualitas kehidupan nyata. Malah menjadi oversensitif dan ribut memerkarakan hal-hal yang tidak esensial (konflik soal rumah ibadah, pakaian simbolik, perusakan barang keramat, dll).

Terjadinya kekerasan dianggap sebagai kesalehan, heroisme, membela Tuhan. Sehingga kekerasan dibalas kekerasan. “An eye for an eye will make the word blind” (Mahatma Gandhi). Atau kata Dalai Lama, “ to bring peace to all, one must first dicipline and control one’s own mind’. Atau kata Martin Luther King, “darkness cannot drive out darkness; inly light can do that”

Ketiga, muncul image Tuhan yang judmental diskrimatif, hitam-putih, menuntut, mudah tersinggung, dan menakutkan, muncul spiritualitas ketakutan, hitam-putih, juga over-judgmental, sikap kekanak-kanakan & rawan kekerasan. Kata Jallaludin Rumi, “out beyond out ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I’ll meet you there’.

Keempat, agama fous pada surga-neraka dan keselamatan individual. Orientasi beriman yang hanya mencari jaminan agar diri sendiri masuk surga, mudah sekali membuat orang tak peduli pada keselamatan orang lain, atau justru menaklukan orang lain, mudah dimanipulasi oleh kekuasaan, agama menjadi alat penguasa yang menghimpun, kekuasaannya dari ‘ketaatan’/’voluntary slavery’/’control of the mind’/’corruption of the will’ para anggotanya (Alexander Herzen).

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena berharap masuk surga, tetapi karena cintaku kepadanya” (Rabi’ah Al-Adawiyah). Atau kata Mahatma Gandhi “when the power of love overcomes the love of power the word will know peace’.

Kelima, kesempitan wawasan agama de facto sering merupakan wilayah yang paling tidak dipikirkan. Maka berpikir dan berdiskusi menjadi takut teracuni pihak lain. Menyimpang dari dogma sama dengan dosa, akhirnya tidak menyadari praksis yang kontradiktif dan terbalik-balik, hingga seolah agama menjadi jahat/satanik. “Men never commit evil so fully and joyfull as when as when they do it for religions convictions’. (Blaise Pascal).

Deep Religion
Sebagai tawaran solusi, Bambang menimbang, bahwa seyogyanya agama-agama konsisten dengan nilai inti yang dijunjungnya: perdamaian. Perlu perubahan paradigma ke arah:deep religions. Pusat gravitasinya nilai-nilai inti. Kebenaran dokrinal-proposisional, ritual, dan simbol penting untuk ‘ke dalam’: sebagai bermacam cara khas kita untuk mendekati Tuhan dan meningkatkan kualitas rohani pribadi.

Image tradisional tentang Tuhan yang menghakim, maupun orientasi ‘Surga-Neraka’–yang menimbulkan sumber konflik-bukanlah satu-satunya pola penghayatan iman, dan bukan tak bisa diubah. Pengalaman iman yang matang dari pemeluk tiap agama memberi isyarat lain, yang seringkali lebih sehat, lebih konsisten dengan nilai-inti agama-agama tersebut, sekaligus lebih menjunjang perdamaian.

Untuk sikap ‘ke luar”, perlu perluasan wawasan dan melihat identitas secara relasional (bukan territorial), saya tumbuh dan memahami diri dan agama saya, hanya melalui relasi dengan pihak lain, dengan begitu, jiwa pun dibebaskan, diri diperluas agama. Sehingga “enlargement of the self/soul”. Tumbuh ke arah “universal compassion” (damai). Seperti kata Nelson Mandela “If you want to make peace, you have to work with your enemy”.

Ammar Fauzi, Ph.D
Giliran pada sesi kedua, Ammar melihat filsafat dalam dunia Islam. Filsafat dikatakan Ammar dalam posisi mazlum (tertindas). Ada semacam resistensi baik dari pihak teolog dan kaum fiqih terhadap filsafat. Tapi anehnya, tidak ada penolakan pihak filsof terhadap teologi. Filsafat tidak pernah menghancurkan teologi. “Bapak-bapak akan mendapati informasi di perguruan tinggi di tanah air, apa kata Imam Ghozali, tetapi jarang apa kata Ibnu Sina, Shuhrowardi, dan Mulla Sadra”. Ammar memberi contoh.

Mutakallim (teolog) adalah orang yang suka bicara, yang membentengi agama dengan teologi. Namun kalau filsafat dan teologi bertentangan dengan agama tidak segan-segan di kafirkan. Kata “sahid” yang biasanya di kenal dalam perang, dalam dilingkungan filsafat dan mistisisme juga ada. Shurowardi dalam dunia filsafat terkenal dengan si Maqtul (yang terbunuh/teraniaya). Atau Al-Hallaj, dalam dunia mistisisme, dikenal si “sahid”. Di Indonesia juga ada, Syekh Siti jenar.

Kenapa mereka menjadi martir tanya Ammar, karena sepertihalnya dalam teosis (Kristen), mereka ingin menjadi mirip Tuhan. Filsafat oleh Shurowardi dibawa-bawa ke tingkat kekuasaan. Menyerap ide-ide Plato, akan tetapi Shuhrowardi pada akhirnya dibunuh oleh Shalahuddin Ayubi. Di tulis oleh para fuqoha waktu itu, bahwa filsafat Shuhrowardi bisa mengancam kekuasaan Salahudin Al-Ayubi.

Jika dilihat secara strata menurut Ammar, teologi berada di bawah filsafat, dan filsafat dibawah tasawuf. Sering para teolog ditanggapi secara sinis oleh para filsof. Tapi dari bawah (kalam) para teolog mengkafirkan filsafat. Dari sisi paling atas (tasawuf), seperti Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi selalu mencemoh filsafat. Olehkarena itu hemat Ammar, jika ada filsafat berkembang di dunia Islam di era kontemporer, berarti ada keajaban.

Menanggapi fenomena agama dan relasinya manusia dan Tuhan, Ammar mengatakan, subjek Al-Quran ada dua. Pertama, berbicara tentang Tuhan (ayat tuhan), olehkarena itu Al-Quran mengajak bagaimana manusia agar misi hidupnya menjadi mirip Tuhan.

Kedua, Alquran berbicara pada dimensi manusia. Manusia sebagai ciptaan atau fitrah (bahasa arab), baqara (membelah), membelah biji, yaitu biji cinta. Sehingga menjadi cinta sempurna. Olehkarena itu manusia dikarunia cinta sekaligus benci terhadap kekurangan. Manusia juga sebagai anak hasil dari Tuhan (ciptaan Tuhan). Kemanapun gerak manusia maka selalu dalam kontek gerak cinta sempurna (nukleus).

Menurut Ammar, terdapat tiga karakter yang mirip antara manusia dan Tuhan.
Pertama, sifat otoriter-sebagai tahap awal, manusia ingin sempurna, olehkarena itu sifat otoriter dapat membawa ke diri sendiri. Kedua, manusia memiliki sifat liberal-maunya bebas. Ketiga, kecenderungan manusia ingin menikmati sepuas-puasnya, sifat hedonis. Inilah tiga sifat bawaan fitrah manusia.

Persoalan konflik (paradok) yang timbul seperti yang dipaparkan Dr. Bambang ketika tiga sifat karakter manusia itu diterapkan di dunia yang terbatas. Sehingga terlihat menjadi utopis dan seperti tidak relevan dalam dunia yang terbatas (dunia materi).

Olehkarena itu tantanganya adalah, dalam kontek Islam, bagaimana manusia dalam memenuhi kebutuhanya disesuaikan idealitas Islam. Bagaimana keterbatasan manusia menjangkau ketidakterbatasan Tuhan. Olehkarena itu dalam Islam, fokusnya ada di kehidupan setelah kematian.

Sebagai ilustrasi solusi, Ammar memberi contoh konkrit, bagaimana seorang Imam Khumaini memberi solusi pada problem kapitalisme dan sosialisme. Problem kapitalisme adalah menganggap dunia terbatas (SDA terbatas), sehingga solusinya siapa yang kuat dialah yang menang. Atau sosialisme, bagaimana semua orang mendapatkan makanan yang sama di satu piring.

Imam Khomeini memberi surat ke Gorbachev, dengan mengutus Jawadi Amuli. Dikatakan Imam Khomeni masalah anda bukan ekonomi. Jalan keluar yang anda tawarkan, seperti keluar dari mulut singa pindah ke mulut buaya. Problem anda bukan dari kapitalisme menuju sosialisme-komunisme. Problemnya ada pada pandangan hidup anda. Olehkarena itu, Imam Khomeini menawarkan dua kitab yakni filsafat Hikmah Mutaaliyah Mulla Sadra dan tasawuf Futtuhat al-Makkiyah Ibnu Arabi untuk dipelajari.

Menanggapi Dr. Bambang sebagai statemen terakhir Ammar, dalam agama memang ada unsur takut, harap, dan cinta. Ada orang beribadah seperti budak (takut), pedagang (harap) dan ada orang beribadah karena cinta. Semua ada pelakunya, tapi bergradasi, dan tuntutan Islam beribadah semata karena cinta.

Dari sekian banyak problem agama di dunia modern yang digugat kaum posmodernisme, Ammar memberi dua catatan. Agama memiliki masa depan cerah jika mengakui dua karakter sekaligus. Pertama, mengakui kompleksitas manusia, kedua mengakui seluruh potensi manusia. Tujuan tertinggi manusia versi Islam menjadi makhluk sempurna (insan kamil).

Setelah senja menjadi gelap diskusi ditutup. Rombongan dari STFI Sadra akhirnya pamit dan kembali pulang ke Jakarta. (ma’ruf)

 

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

Filsafat adalah salah disiplin ilmu tua yang berkembang lintas negara dan benua. Jika filsafat Barat dibicarakan, biasanya mengacu Yunani sebagai titik awal dan berkembang pesat di dunia Barat hingga menyatu dengan dinamika masyarakat. Sedang filsafat Timur berkembang secara menonjol di dunia Islam dengan hikmah dan di India, Cina dan Korea melalui Budhisme, Taoisme dan Konfusianisme. Filsafat Timur dalam Islam ditandai, utamanya, oleh Farabi dan Ibnu Sina. Nama yang belakangan ini meninggalkan kecenderungan ke arah mistisisme dan wahyu melalui karyanya, Manthiq Al-Masyriqiyyin. Kecenderungan ini menguat jadi aliran baru oleh Magaguru Pencerahan (Syaikh Al-Isyraq) Suhrawardi dengan Filsafat Pencerahan (hikmah isroqiyah) yang menggabungkan metode peripatetisme, neoplatonisme, dan wahyu.

Bagaimana dinamika perkembangan dan penyebaran filsafat Timur yang merujuk pada geografi, antara Persia dan Korea, dua negara yang sama-sama di belahan asia, adalah pertanyaan yang diupayakan jawabannya secara sekilas di Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra 14/1/2016 di STFI Sadra. Forum dwibulanan ini menggelar diskusi dan menghadirkan Dr. Mukhtasar Syamsuddin (Fakultas Filsafat UGM) mewakili Filsafat Korea dan Ammar Fauzi Ph.D mewakili Filsafat Persia (STFI Sadra).

Dr. Mukhtasar Syamsuddins; Sekilas Filsafat Korea
Dr. Mukhtasar Syamsuddin memulai diskusi dengan berbagi pengalamnya sewaktu di Korea Selatan. Ia mengatakan, “Saya tidak akan membahas filsafat Korea Selatan secara mendalam; hanya sekilas berupa informasi umum. Tahun 2001, Korea Selatan belum menarik bagi pelajar Indonesia; mahasiswa di sana hanya tujuh orang. Saya kebetulan menjadi salah satu pendiri organisasi pelajar di Korea Selatan, tahun 2002, dan alhamdulliah sekarang berjumlah kurang lebih 1800.

Belakang Korea Selatan memang atraktif dalam memperkenalkan dan mengglobalkan kebudayaan Korea Selatan. Jika Indonesia ada Trisakti yang digagas Sukarno, di Korea ada Saemaul Undong (Sebuah Gerakan Kampung Baru/gotong royong) yang dinspirasi oleh Pak Chun Hee.

Presiden Park Chung Hee dikenal sebagai seorang presiden yang tegas. Melihat kondisi yang masyarakatnya yang miskin, maka Presiden Park Chung Hee menyusun program kebudayaan yang efektif demi meningkatkan taraf hidup penduduk Korea Selatan. Tanggal 22 April 1970 dikenalkan gerakan yang disebut Saemaul Undong (새마을 운동).

Saemaul Undong (새마을 운동) berasal dari kata 새 (se) yang berarti baru 마을 (maeul) yang berarti desa/komunitas dan 운동 (undong) yang berarti gerakan. Saemaul Undong merupakan suatu gerakan perubahan dan reformasi pedesaan menuju kehidupan yang lebih baik.

Landasan dari Saemaul Undong adalah pertama, gerakan bagi pembangunan nasional untuk keluar dari jerat kemiskinan. Kedua, gerakan reformasi spiritual yang berkontribusi terhadap modernisasi masyarakat Korea. Ketiga, gerakan bagi pengembangan masyarakat lokal dimulai dan berpusat di sekitar masyarakat pedesaan. Keempat, gerakan untuk persatuan rakyat memberikan kontribusi untuk mengatasi perpecahan dan konflik di antara kelas-kelas sosial yang telah dibawa sejak berdirinya negara. Kelima gerakan bagi masyarakat untuk mewarisi dan mewariskan tradisi masyarakat.

Belakangan ini, menurut Mukhtasar, UGM melalui Fakultas Filsafat mencoba mengembangkan gagasan Semaul Undong Korea Selatan dan gerakan Trisakti, Nawacita presiden Joko Widodo.

Mukhtasar memberi penekanan bahwa, sekali lagi, presentasinya umum saja, berasal dari bahan kuliah. Oleh karena kebanyakan kita belum tahu banyak tentang Korea. Di Korea Selatan, ada namanya legenda Kang Gen, yakni seorang perempuan yang mendapat suami yang menjelma menjadi seorang beruang di Korea, dimana ayahnya seekor beruang, ibunya manusia, anaknya menjadi titisan sang Dewa,” ungkapnya.

Di Korea Selatan, terdapat pulau Jeju (Jeju-do), pulau terbesar di Korea dan terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Pulau Jeju adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus Korea Selatan. Terletak di Selat Korea, sebelah barat daya Provinsi Jeolla Selatan, yang dahulunya merupakan satu provinsi sebelum terbagi pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah Kota Jeju (Jeju-si).

Di Pulau tersebut terdapat tradisi matrenial seperti di Minang. Tradisi matrenial ini bernama mudang (intelektual perempuan). Mudang adalah anak dari Shamanisme. Shamanisme sendiri adalah kepercayaan asli rakyat Korea yang menggabungkan berbagai kepercayaan dan praktik yang dipengaruhi agama asli Korea, Buddha dan Taoisme. Dalam bahasa Korea, Shamanisme disebut mu [ 무 ] dan sang pemraktik disebut mudang [ 무당 (Korea) ; 巫堂 (China) ].

Menurut Mukhtasar, salah satu kecanggihan Korea Selatan adalah mengembangkan originalitas (katagana, hage atau hanja) dari adaptasi pengaruh ekternal. Sebuah sintesis antara Budhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Buddhisme yaitu budaya yang dikembangkan oleh raja-raja dahulu dan masyarakat luas sejak Dinasti Joseon Lama. Kebudayaan ini dikembangkan dan membuat kerajaan-kerajaan dahulu berkembang pesat. Dengan budaya Buddhisme, maka kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi memperkaya kebudayaan di Korea.

Konfusianisme yaitu bentuk dari konfusianisme yang berkembang di Korea yang telah memengaruhi sejarah intelektual dan pemikiran tradisional orang Korea modern. Paham Konfusianisme yaitu sebagai pembentuk sistem moral, pola kehidupan dan hubungan sosial antar-generasi masyarakat Korea. Sedang Taoisme telah dikenal sejak jama dahulu, tetapi kebudayaan ini kini sudah kurang berkembang di Korea Selatan.

Jika kita lacak, originalitas filsafat Korea berasal dari Raja Sejong yang berupaya menyederhanakan karakter filsafat Cina. Dalam kontek bahasa, seperti kita ketahui secara gramatikal, bahasa Cina tidak memakai gramatika, tapi keahlian bahasanya tergantung dari seberapa banyak menghapal karakter kosa kata. Menjadi kewajiban Anak SD di Korea Selatan untuk menghapal 5000 karakter-huruf Hanja. Terdapat satu contoh karakter gabungan antara bahasa unsur Cina dan Korea, misalnya kata kamsie sebagai gabungan Cina dan Korea.

Pengembangan Budhisme di Korea, merupakan sejenis shamanisme Korea; hasil adaptasi budaya luar, tapi orang Korea mengklaim sebagai orginalitas. Yang semua berasal dari Hanisme. Akan tetapi Hanisme tidak berkembang karena tertutupi Budhisme dan Konfusianisme, sejenis shamanisme bergaya feminisme.

Karakter budaya Korea Selatan modern bersifat individualistik. Oleh karena itu, negaranya gandrung privatisasi. Berbeda dengan Korea Utara yang fokus pada kebersamaan. Korea Utara disatukan oleh sabda Presiden Kim Jong-un.

Kim Jong-un, lahir 8 Januari 1983, usia 34 tahun, pemimpin tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea atau yang lebih dikenal dengan Korea Utara. Ia putra Kim Jong-il (1941–2011) dan cucu dari Kim Il-sung (1912–1994). Sebelum menjadi pemimpin Korea Utara, ia pernah menjabat sebagai sekretaris pertama Partai Buruh Korea, ketua pertama Komisi Militer Sentral, panglima tertinggi Tentara Rakyat Korea, dan anggota presidium Politbiro Partai Buruh Korea.

Hal yang menarik dari budaya yang Korea Selatan adalah budaya musik anak muda. Budaya ini khas bernama musik K-pop. Budaya ini, menurut Mukhtasar, bagian dari tradisi kritik terhadap kapitalisme (pejabat-pejabat Korea Selatan) yang dikendalikan seperti kuda oleh AS.

Ada hal berkembang bagus di Korea Selatan, meski ada pengaruh individualisme dari budaya Kapitalisme. Di sana masih menjaga nilai-nilai kebersamaan, apapun yang terjadi meskipun menjamur kota megapolitan dimana-mana. Budaya Semaul Undong, yakni rasa kebersamaan, belum luntur di lapisan bawah seperti di pedesaan. Di pedesaan, penduduk Korea mengembangkan buah-buahan menjadi permen dan kosmetik. Gingseng digunakan sebagai bahan operasi plastik, dimana bahanya lebih awet dibanding silikon.

Jika di Cina medical oriental mulai luntur, justru medical oriental atau kedokteran timur berkembang di Korea Selatan. Demikian presentasi perkenalan sekilas tentang Filsafat Korea Selatan-yang diakui Dr. Mukhtasar tidak bermaksud membicarakan filsafat secara mendalam.

Ammar Fauzi, Ph.D; Sekilas Filsafat Persia
Jika di sesi pertama, Dr. Mukhtasar memperkenalan filsafat secara umum yang berkembang di Korea Selatan, pada sesis kedua, Ammar memperkenalkan filsafat yang berkembang di tanah Persia secara umum.

Dikatakan Ammar, yang dapat mewakili filsafat yang berkembang di Persia Klasik dan setelahnya adalah Filsafat Suhrawardi. Filsafatnya terkenal sebagai aliran pencerahan merujuk pengertian originalnya berasal, di antaranya, dari Pahlevi.

Jika filsafat Yunani yang dimaksud sebagai pengetahuan dan di dalamnya sophia kemudian bertranformasi menjadi cinta di tangan Socrates, maka di Persia, para filsuf lebih banyak memakai kata hikmah untuk menunjuk yang dimaksud filsafat tadi. Hikmah sebenarnya berasal dari bahasa Arab, sepadan dengan farzanegi  dalam bahasa Persia. Tetapi para filsuf muslim lebih suka memakai kata hikmah daripada filsafat. Hikmah jika dipadankan yang paling dekat dengan bahasa Indonesia, artinya kebijakan dan kebijaksanaan. Di Persia kata hikmah adalah hikmah, sementara cinta menjadi sumber lain.

Jika Socrates menyelamatkan dengan cinta, sementara di Persia dengan darah. Maksudnya seseorang tidak akan berkorban dengan darah kecuali berkat cinta. Pengorbaan al-Hallaj dan Suhrawardi adalah dua tokoh contoh di sini.

Suhrawardi seorang filsuf Persia, lahir di Zanjan, Iran, besar di Maragheh, di antara dua kota ini ada kota Siz, tempat peribadatan para penyembah api hingga Islam datang. Apinya sudah mati tapi peribadatan itu masih terjaga hingga sekarang, karena dijaga isfandyar, atau pengawal perbatasan Iran-Azerbaijan.

Karena masih banyak dokumen Zoroaster, filsafat Zarastus, filsafat Pahlevi, Suhrawardi dapat mengakses dan membangkitkan kembali filsafat Timur. Ibnu Sina sendiri sebenarnya sudah berusaha keluar dari pola pikir Aristotelian dengan membawakan filsafat Timur melalui karyanya, Mantiq al- Masyriqiyyin (Logika Orang-orang Timur). Dikatakan Ibnu Sina, “Ketika masa-masa mudaku aku banyak mempelajari buku-buku orang terdahulu, kini aku mendapatkan satu ilmu, satu jalur di luar Yunani. Maka Al-Syifa’ dan Al-Isyarat wa Al-Tanbihat telah aku pelajari sebagai bentuk filsafat umum, tapi aku mendapatkan filsafat baru yang sangat khusus.”

Oleh Suhrawardi, Ibnu Sina dianggap tidak berhasil menuntaskanya, karena tidak punya kesempatan mengakses tradisi Khusrawani atau Pahlevi. Karena itu, Suhrawardi mengajukan kritik terhadap Ibnu Sina yang, dalam kerangka tradisi Aristotelian, ingin dituntaskan oleh dirinya sendiri. Dari sinilah kemudian fisafat tumbuh di Persia mengarah ke pencerahan (isyraq).

Menurut Ammar, seorang filsuf muslim dalam tradisi klasik dipanggil hakim. Hukama adalah para filsuf, bukan majusi, tapi filsuf yang sedang membangun keyakinan dengan cahaya tanpa kegelapan. Suhrawardi membangun filsafat cahaya (nur) seperti terbitnya cahaya matahari, setelah sebelumnya dia melihat kegelapan (malam) dalam filsafat Ibnu Sina atau filsafat yang sebelumnya. Maka, filsafat pencerahan (hikmat al-isyraq) Suhrawardi sesungguhnya aliran pengetahuan yang berawal dari kritik kegelapan peripatetisme dan berlanjutnya dengan menerbitkan mentari dan mencerahkan cahaya ke semua titik realitas dan wujud manusia.

Tugas seorang hakim atau filsuf klasik muslim, menurut Ammar, ada dua: menyehatkan penyakit pikiran dan penyakit jasmani. Dalam bagian akhir bukunya, Hikmat al-Isyraq, Suhrawardi berpesan untuk berpuasa 4O hari sebelum membaca bukunya. Dikatakan, kosongkanlah lambung Anda, pikiran Anda sehingga curahan-curahan rahmat Tuhan menghampiri jiwa Anda.

Jika kita bertanya tentang perjuangan Suhrawardi, filsafatnya akan dibawa kemana, apakah bisa dibawa keluar seperti halnya dalam Alegori Gua dalam tradisi Plato. Ternyata Suhrawardi membawa filsafatnya pada kepemimpinan dan kekuasaan. Hakim yang tercerahkan adalah seorang filsuf yang menyerupai (tasyabbuh) Tuhan dan dapat mendeskripsikan kedekatannya dengan Tuhan. Filsuf yang seperti ini pantas menjadi pemimpin, mirip dengan idealisme Plato; filsuf- raja. Pada titik ini, cinta dan ilmu berdialektika.

Suhrawardi ingin menegaskan bahwa “hikmah” dari Yunani dan Pahlevi seharusnya bisa diterapkan dalam bentuk konkret. Minimalnya menunjang orang jadi filsuf muta’allih (theosis), meski tidak kurang maksimal secara teori. Namun, karena filsafat kepemimpinan ini mengancam kekuasaan dan mendapat penentangan dari para fuqoha, maka Shuhrowardi dihukum mati oleh Salahudin Al-Ayubi di Aleppo.

Sekali lagi Ammar menyatakan harga hikmah itu nyawa. Ketika al-Hallaj dipenggal tangan dan kakinya secara bersilang, dia masih tersenyum dan memerahkan mukanya dengan darah dari tangan buntungnya. Tatkala ditanya kenapa Anda memerahkan muka, ia mengatakan, “Dua rakaat dalam cinta yang tidak akan sah wudhunya kecuali dengan darah.”

Ammar berpendapat dalam perkembangan sejarah filsafat dan tasawuf di dunia Islam relatif stabil, seperti perkembangan filsafat wujud dan relasinya dengan Islam. Akan tetapi kegonjangan dan gejolak tampak menonjol jika melihat perkembangan filsafat di Barat.

Secara global, dapat dikatakan filsafat yang berkembang di Persia atau, secara umum, di dunia Islam adalah filsafat kekuasaan dan kepemimpinan yang memiliki corak yang khas, seolah bisa dikatakan kebanyakan filsuf muslim menulis relasi filsafat dan kepemimpinan. Tentu saja, hikmah ini hasil kombinasi dari filafat Socrates, Plato dan ajaran Islam. Kemudian diteruskan Farabi, Ibn Sina, dan sedikit redup di tangan Mulla Sadra hingga mendapatkan tempat kembali di tangan Imam Khomeini. Kata Hairi Yazdi, bapak revolusi Islam di Iran ini, jika mengajar Asfar (Al-Hikmah Al-Muta’aliyah), seperti sedang meng-Ibnu-Arabi-kan Mulla Sadra. Tetapi, melalui ide Wilayatul Faqih, Imam Khomeini kemudian memberi sentuhan merealisasikan ide Plato.

Terakhir dikatakan Ammar, corak filsafat yang berkembang di Persia berkaitan erat dengan tradisi seni kaligrafi, ornamen dan sastra (puisi). Banyak karya filsafat tehnis ditulis dengan menggunakan bahasa puisi yang dipengaruhi oleh tasawuf.
Diskusi berjalan kurang lebih tiga jam, setelah diawali dengan penandatanganan MoU dan dilanjutkan dengan ramah tamah pihak STFI Sadra dan Fakultas Filsafat UGM.[m.ma’ruf]

Free WordPress Themes, Free Android Games