FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

FAP: Sekilas Filsafat Korea dan Persia

Filsafat adalah salah disiplin ilmu tua yang berkembang lintas negara dan benua. Jika filsafat Barat dibicarakan, biasanya mengacu Yunani sebagai titik awal dan berkembang pesat di dunia Barat hingga menyatu dengan dinamika masyarakat. Sedang filsafat Timur berkembang secara menonjol di dunia Islam dengan hikmah dan di India, Cina dan Korea melalui Budhisme, Taoisme dan Konfusianisme. Filsafat Timur dalam Islam ditandai, utamanya, oleh Farabi dan Ibnu Sina. Nama yang belakangan ini meninggalkan kecenderungan ke arah mistisisme dan wahyu melalui karyanya, Manthiq Al-Masyriqiyyin. Kecenderungan ini menguat jadi aliran baru oleh Magaguru Pencerahan (Syaikh Al-Isyraq) Suhrawardi dengan Filsafat Pencerahan (hikmah isroqiyah) yang menggabungkan metode peripatetisme, neoplatonisme, dan wahyu.

Bagaimana dinamika perkembangan dan penyebaran filsafat Timur yang merujuk pada geografi, antara Persia dan Korea, dua negara yang sama-sama di belahan asia, adalah pertanyaan yang diupayakan jawabannya secara sekilas di Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra 14/1/2016 di STFI Sadra. Forum dwibulanan ini menggelar diskusi dan menghadirkan Dr. Mukhtasar Syamsuddin (Fakultas Filsafat UGM) mewakili Filsafat Korea dan Ammar Fauzi Ph.D mewakili Filsafat Persia (STFI Sadra).

Dr. Mukhtasar Syamsuddins; Sekilas Filsafat Korea
Dr. Mukhtasar Syamsuddin memulai diskusi dengan berbagi pengalamnya sewaktu di Korea Selatan. Ia mengatakan, “Saya tidak akan membahas filsafat Korea Selatan secara mendalam; hanya sekilas berupa informasi umum. Tahun 2001, Korea Selatan belum menarik bagi pelajar Indonesia; mahasiswa di sana hanya tujuh orang. Saya kebetulan menjadi salah satu pendiri organisasi pelajar di Korea Selatan, tahun 2002, dan alhamdulliah sekarang berjumlah kurang lebih 1800.

Belakang Korea Selatan memang atraktif dalam memperkenalkan dan mengglobalkan kebudayaan Korea Selatan. Jika Indonesia ada Trisakti yang digagas Sukarno, di Korea ada Saemaul Undong (Sebuah Gerakan Kampung Baru/gotong royong) yang dinspirasi oleh Pak Chun Hee.

Presiden Park Chung Hee dikenal sebagai seorang presiden yang tegas. Melihat kondisi yang masyarakatnya yang miskin, maka Presiden Park Chung Hee menyusun program kebudayaan yang efektif demi meningkatkan taraf hidup penduduk Korea Selatan. Tanggal 22 April 1970 dikenalkan gerakan yang disebut Saemaul Undong (새마을 운동).

Saemaul Undong (새마을 운동) berasal dari kata 새 (se) yang berarti baru 마을 (maeul) yang berarti desa/komunitas dan 운동 (undong) yang berarti gerakan. Saemaul Undong merupakan suatu gerakan perubahan dan reformasi pedesaan menuju kehidupan yang lebih baik.

Landasan dari Saemaul Undong adalah pertama, gerakan bagi pembangunan nasional untuk keluar dari jerat kemiskinan. Kedua, gerakan reformasi spiritual yang berkontribusi terhadap modernisasi masyarakat Korea. Ketiga, gerakan bagi pengembangan masyarakat lokal dimulai dan berpusat di sekitar masyarakat pedesaan. Keempat, gerakan untuk persatuan rakyat memberikan kontribusi untuk mengatasi perpecahan dan konflik di antara kelas-kelas sosial yang telah dibawa sejak berdirinya negara. Kelima gerakan bagi masyarakat untuk mewarisi dan mewariskan tradisi masyarakat.

Belakangan ini, menurut Mukhtasar, UGM melalui Fakultas Filsafat mencoba mengembangkan gagasan Semaul Undong Korea Selatan dan gerakan Trisakti, Nawacita presiden Joko Widodo.

Mukhtasar memberi penekanan bahwa, sekali lagi, presentasinya umum saja, berasal dari bahan kuliah. Oleh karena kebanyakan kita belum tahu banyak tentang Korea. Di Korea Selatan, ada namanya legenda Kang Gen, yakni seorang perempuan yang mendapat suami yang menjelma menjadi seorang beruang di Korea, dimana ayahnya seekor beruang, ibunya manusia, anaknya menjadi titisan sang Dewa,” ungkapnya.

Di Korea Selatan, terdapat pulau Jeju (Jeju-do), pulau terbesar di Korea dan terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Pulau Jeju adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus Korea Selatan. Terletak di Selat Korea, sebelah barat daya Provinsi Jeolla Selatan, yang dahulunya merupakan satu provinsi sebelum terbagi pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah Kota Jeju (Jeju-si).

Di Pulau tersebut terdapat tradisi matrenial seperti di Minang. Tradisi matrenial ini bernama mudang (intelektual perempuan). Mudang adalah anak dari Shamanisme. Shamanisme sendiri adalah kepercayaan asli rakyat Korea yang menggabungkan berbagai kepercayaan dan praktik yang dipengaruhi agama asli Korea, Buddha dan Taoisme. Dalam bahasa Korea, Shamanisme disebut mu [ 무 ] dan sang pemraktik disebut mudang [ 무당 (Korea) ; 巫堂 (China) ].

Menurut Mukhtasar, salah satu kecanggihan Korea Selatan adalah mengembangkan originalitas (katagana, hage atau hanja) dari adaptasi pengaruh ekternal. Sebuah sintesis antara Budhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Buddhisme yaitu budaya yang dikembangkan oleh raja-raja dahulu dan masyarakat luas sejak Dinasti Joseon Lama. Kebudayaan ini dikembangkan dan membuat kerajaan-kerajaan dahulu berkembang pesat. Dengan budaya Buddhisme, maka kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi memperkaya kebudayaan di Korea.

Konfusianisme yaitu bentuk dari konfusianisme yang berkembang di Korea yang telah memengaruhi sejarah intelektual dan pemikiran tradisional orang Korea modern. Paham Konfusianisme yaitu sebagai pembentuk sistem moral, pola kehidupan dan hubungan sosial antar-generasi masyarakat Korea. Sedang Taoisme telah dikenal sejak jama dahulu, tetapi kebudayaan ini kini sudah kurang berkembang di Korea Selatan.

Jika kita lacak, originalitas filsafat Korea berasal dari Raja Sejong yang berupaya menyederhanakan karakter filsafat Cina. Dalam kontek bahasa, seperti kita ketahui secara gramatikal, bahasa Cina tidak memakai gramatika, tapi keahlian bahasanya tergantung dari seberapa banyak menghapal karakter kosa kata. Menjadi kewajiban Anak SD di Korea Selatan untuk menghapal 5000 karakter-huruf Hanja. Terdapat satu contoh karakter gabungan antara bahasa unsur Cina dan Korea, misalnya kata kamsie sebagai gabungan Cina dan Korea.

Pengembangan Budhisme di Korea, merupakan sejenis shamanisme Korea; hasil adaptasi budaya luar, tapi orang Korea mengklaim sebagai orginalitas. Yang semua berasal dari Hanisme. Akan tetapi Hanisme tidak berkembang karena tertutupi Budhisme dan Konfusianisme, sejenis shamanisme bergaya feminisme.

Karakter budaya Korea Selatan modern bersifat individualistik. Oleh karena itu, negaranya gandrung privatisasi. Berbeda dengan Korea Utara yang fokus pada kebersamaan. Korea Utara disatukan oleh sabda Presiden Kim Jong-un.

Kim Jong-un, lahir 8 Januari 1983, usia 34 tahun, pemimpin tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea atau yang lebih dikenal dengan Korea Utara. Ia putra Kim Jong-il (1941–2011) dan cucu dari Kim Il-sung (1912–1994). Sebelum menjadi pemimpin Korea Utara, ia pernah menjabat sebagai sekretaris pertama Partai Buruh Korea, ketua pertama Komisi Militer Sentral, panglima tertinggi Tentara Rakyat Korea, dan anggota presidium Politbiro Partai Buruh Korea.

Hal yang menarik dari budaya yang Korea Selatan adalah budaya musik anak muda. Budaya ini khas bernama musik K-pop. Budaya ini, menurut Mukhtasar, bagian dari tradisi kritik terhadap kapitalisme (pejabat-pejabat Korea Selatan) yang dikendalikan seperti kuda oleh AS.

Ada hal berkembang bagus di Korea Selatan, meski ada pengaruh individualisme dari budaya Kapitalisme. Di sana masih menjaga nilai-nilai kebersamaan, apapun yang terjadi meskipun menjamur kota megapolitan dimana-mana. Budaya Semaul Undong, yakni rasa kebersamaan, belum luntur di lapisan bawah seperti di pedesaan. Di pedesaan, penduduk Korea mengembangkan buah-buahan menjadi permen dan kosmetik. Gingseng digunakan sebagai bahan operasi plastik, dimana bahanya lebih awet dibanding silikon.

Jika di Cina medical oriental mulai luntur, justru medical oriental atau kedokteran timur berkembang di Korea Selatan. Demikian presentasi perkenalan sekilas tentang Filsafat Korea Selatan-yang diakui Dr. Mukhtasar tidak bermaksud membicarakan filsafat secara mendalam.

Ammar Fauzi, Ph.D; Sekilas Filsafat Persia
Jika di sesi pertama, Dr. Mukhtasar memperkenalan filsafat secara umum yang berkembang di Korea Selatan, pada sesis kedua, Ammar memperkenalkan filsafat yang berkembang di tanah Persia secara umum.

Dikatakan Ammar, yang dapat mewakili filsafat yang berkembang di Persia Klasik dan setelahnya adalah Filsafat Suhrawardi. Filsafatnya terkenal sebagai aliran pencerahan merujuk pengertian originalnya berasal, di antaranya, dari Pahlevi.

Jika filsafat Yunani yang dimaksud sebagai pengetahuan dan di dalamnya sophia kemudian bertranformasi menjadi cinta di tangan Socrates, maka di Persia, para filsuf lebih banyak memakai kata hikmah untuk menunjuk yang dimaksud filsafat tadi. Hikmah sebenarnya berasal dari bahasa Arab, sepadan dengan farzanegi  dalam bahasa Persia. Tetapi para filsuf muslim lebih suka memakai kata hikmah daripada filsafat. Hikmah jika dipadankan yang paling dekat dengan bahasa Indonesia, artinya kebijakan dan kebijaksanaan. Di Persia kata hikmah adalah hikmah, sementara cinta menjadi sumber lain.

Jika Socrates menyelamatkan dengan cinta, sementara di Persia dengan darah. Maksudnya seseorang tidak akan berkorban dengan darah kecuali berkat cinta. Pengorbaan al-Hallaj dan Suhrawardi adalah dua tokoh contoh di sini.

Suhrawardi seorang filsuf Persia, lahir di Zanjan, Iran, besar di Maragheh, di antara dua kota ini ada kota Siz, tempat peribadatan para penyembah api hingga Islam datang. Apinya sudah mati tapi peribadatan itu masih terjaga hingga sekarang, karena dijaga isfandyar, atau pengawal perbatasan Iran-Azerbaijan.

Karena masih banyak dokumen Zoroaster, filsafat Zarastus, filsafat Pahlevi, Suhrawardi dapat mengakses dan membangkitkan kembali filsafat Timur. Ibnu Sina sendiri sebenarnya sudah berusaha keluar dari pola pikir Aristotelian dengan membawakan filsafat Timur melalui karyanya, Mantiq al- Masyriqiyyin (Logika Orang-orang Timur). Dikatakan Ibnu Sina, “Ketika masa-masa mudaku aku banyak mempelajari buku-buku orang terdahulu, kini aku mendapatkan satu ilmu, satu jalur di luar Yunani. Maka Al-Syifa’ dan Al-Isyarat wa Al-Tanbihat telah aku pelajari sebagai bentuk filsafat umum, tapi aku mendapatkan filsafat baru yang sangat khusus.”

Oleh Suhrawardi, Ibnu Sina dianggap tidak berhasil menuntaskanya, karena tidak punya kesempatan mengakses tradisi Khusrawani atau Pahlevi. Karena itu, Suhrawardi mengajukan kritik terhadap Ibnu Sina yang, dalam kerangka tradisi Aristotelian, ingin dituntaskan oleh dirinya sendiri. Dari sinilah kemudian fisafat tumbuh di Persia mengarah ke pencerahan (isyraq).

Menurut Ammar, seorang filsuf muslim dalam tradisi klasik dipanggil hakim. Hukama adalah para filsuf, bukan majusi, tapi filsuf yang sedang membangun keyakinan dengan cahaya tanpa kegelapan. Suhrawardi membangun filsafat cahaya (nur) seperti terbitnya cahaya matahari, setelah sebelumnya dia melihat kegelapan (malam) dalam filsafat Ibnu Sina atau filsafat yang sebelumnya. Maka, filsafat pencerahan (hikmat al-isyraq) Suhrawardi sesungguhnya aliran pengetahuan yang berawal dari kritik kegelapan peripatetisme dan berlanjutnya dengan menerbitkan mentari dan mencerahkan cahaya ke semua titik realitas dan wujud manusia.

Tugas seorang hakim atau filsuf klasik muslim, menurut Ammar, ada dua: menyehatkan penyakit pikiran dan penyakit jasmani. Dalam bagian akhir bukunya, Hikmat al-Isyraq, Suhrawardi berpesan untuk berpuasa 4O hari sebelum membaca bukunya. Dikatakan, kosongkanlah lambung Anda, pikiran Anda sehingga curahan-curahan rahmat Tuhan menghampiri jiwa Anda.

Jika kita bertanya tentang perjuangan Suhrawardi, filsafatnya akan dibawa kemana, apakah bisa dibawa keluar seperti halnya dalam Alegori Gua dalam tradisi Plato. Ternyata Suhrawardi membawa filsafatnya pada kepemimpinan dan kekuasaan. Hakim yang tercerahkan adalah seorang filsuf yang menyerupai (tasyabbuh) Tuhan dan dapat mendeskripsikan kedekatannya dengan Tuhan. Filsuf yang seperti ini pantas menjadi pemimpin, mirip dengan idealisme Plato; filsuf- raja. Pada titik ini, cinta dan ilmu berdialektika.

Suhrawardi ingin menegaskan bahwa “hikmah” dari Yunani dan Pahlevi seharusnya bisa diterapkan dalam bentuk konkret. Minimalnya menunjang orang jadi filsuf muta’allih (theosis), meski tidak kurang maksimal secara teori. Namun, karena filsafat kepemimpinan ini mengancam kekuasaan dan mendapat penentangan dari para fuqoha, maka Shuhrowardi dihukum mati oleh Salahudin Al-Ayubi di Aleppo.

Sekali lagi Ammar menyatakan harga hikmah itu nyawa. Ketika al-Hallaj dipenggal tangan dan kakinya secara bersilang, dia masih tersenyum dan memerahkan mukanya dengan darah dari tangan buntungnya. Tatkala ditanya kenapa Anda memerahkan muka, ia mengatakan, “Dua rakaat dalam cinta yang tidak akan sah wudhunya kecuali dengan darah.”

Ammar berpendapat dalam perkembangan sejarah filsafat dan tasawuf di dunia Islam relatif stabil, seperti perkembangan filsafat wujud dan relasinya dengan Islam. Akan tetapi kegonjangan dan gejolak tampak menonjol jika melihat perkembangan filsafat di Barat.

Secara global, dapat dikatakan filsafat yang berkembang di Persia atau, secara umum, di dunia Islam adalah filsafat kekuasaan dan kepemimpinan yang memiliki corak yang khas, seolah bisa dikatakan kebanyakan filsuf muslim menulis relasi filsafat dan kepemimpinan. Tentu saja, hikmah ini hasil kombinasi dari filafat Socrates, Plato dan ajaran Islam. Kemudian diteruskan Farabi, Ibn Sina, dan sedikit redup di tangan Mulla Sadra hingga mendapatkan tempat kembali di tangan Imam Khomeini. Kata Hairi Yazdi, bapak revolusi Islam di Iran ini, jika mengajar Asfar (Al-Hikmah Al-Muta’aliyah), seperti sedang meng-Ibnu-Arabi-kan Mulla Sadra. Tetapi, melalui ide Wilayatul Faqih, Imam Khomeini kemudian memberi sentuhan merealisasikan ide Plato.

Terakhir dikatakan Ammar, corak filsafat yang berkembang di Persia berkaitan erat dengan tradisi seni kaligrafi, ornamen dan sastra (puisi). Banyak karya filsafat tehnis ditulis dengan menggunakan bahasa puisi yang dipengaruhi oleh tasawuf.
Diskusi berjalan kurang lebih tiga jam, setelah diawali dengan penandatanganan MoU dan dilanjutkan dengan ramah tamah pihak STFI Sadra dan Fakultas Filsafat UGM.[m.ma’ruf]

FAP: Post-Sekulerisme, Tantangan dan Peluang Agama

FAP: Post-Sekulerisme, Tantangan dan Peluang Agama

Usia dunia profan dan sakral mungkin sudah ada sejak manusia terlahir kedunia. Namun sebagai konsep yang matang dan rumit, di barat dimulai sejak abad pencerahan, bersamaan dengan kepercayaan akan kedewasaan akalnya dalam mengurus semua urusan dunia.

Kristen berhasil dan mulus tersekulerkan sejak abad pertengahan hingga abad modern. Namun di Eropa kontemporer Islam masuk terutama di jantung Eropa membawa sebuah pertanyaan- akankah Islam mengalami nasib yang sama dengan Kristen yang terlebih dulu tersekulerkan oleh modernitas. Bagaimana peluang dan tantangan relasi agama dan sekulerisme di era post sekulerisme.

Muncul beberapa masalah dalam sebuah diskusi “Post-Sekularisme, Tantangan dan Peluang Agama”. Pertama, fenomena arus pengungsi Suriah ke Eropa yang justru ditolak oleh negara-negara Muslim tapi malah diterima negara-negara sekuler–seolah mengafirmasi kebaikan kaum sekuler dibanding Islam. Kedua, tantangan kontemporer dinamika Islam di negara Eropa sebagai fenomena gagalnya prediksi bahwa agama sudah punah di ruang publik. Ketiga, kecurigaan kemunculnya Islam yang belum berhasil tersekulerkan akan berpotensi menimbulkan masalah di ruang publik. Keempat, akankah kesuksesan Sekularisme Kristen di Barat begitu saja bisa diadopsi oleh Islam. Kelima, bagaimana Kristen dan Islam berbicara tentang Sekulerisme dan post-Sekulerisme.

Post sekulerisme diandaikan sebagai perjalanan setelah sekulerisme. Bagaimana sebenarnya relasi Kristen dan sekulerisme. Apa makna sekulerisme?. Bagaimana relasi Islam dan sekulerisme. Dapatkah Islam dibaca dengan prespektif sekulerisme, sebagaimana kesuksesan Kristen yang terlebih dulu tersekulerkan.

Seluruh pertanyaan tersebut mencoba dijawab dalam program Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra, senen 24/10/2016 di STF Driyakarya. Hadir sebagai pembicara Dr. Budi Hardiman (STF Driyarkarya), dan Ammar Fauzi, Ph.D (Riset STFI Sadra)

Dr. Budi Hardiman (STF Driyarkarya), sebagai pembicara pertama memaparkan tentang fenomena sekulerisme di Eropa dan relasinya dengan Kristen. Dikatakanya, tahuan 2015, di himpunlah sebuah buku di Jerman berisi diskusi-diskusi seputar tema post sekulerisme. Buku tersebut berisi wacana diskusi filsafat dan sekulerisme. Isu kontemporer yang diangkat diantaranya, serangan teror atas nama agama-dimana Islam distigmasisasi sebagai aktor. Juga disinggung tentang fenomena banjir pengungsi Suriah di Eropa.

Fenomena relasi agama Kristen dan sekularisme menurut Budi sudah lama terjadi di Eropa, hingga muncul anggapan bahwa agama pada abad modern dianggap tidak relevan untuk persoalan publik. Jikapun terdapat teologi dalam Kristen, tentu teologi yang sudah menyesuaiakan diri dengan dunia modern.

Masyarakat Eropa juga telah mengalami konflik (perang) selama 30 tahun-antara Kristen dan Protestan. Kemudian diselesaikan dengan perjanjian Westphalia (sekularisasi). Namun sekarang Islam hadir dan bersentuhan langsung dengan Eropa di masa post sekulerisme.

Istilah post sekulerisme, menurut Budi sudah pernah ada sebelumnya-tapi menjadi populer setelah Habermas. Fenomena ini terlihat sebagai gejala yang terjadi di Eropa, baik di arena intelektual dan sosial- menguatnya kembali agama dalam kehidupan publik.

Tesis sekularisasi mengatakan, bahwa melalui rasionalisasi dan teknologi, peran ilmu pengetahuan (rasionalitas) lebih dominan dalam masyarakat. Agama mengalami desakralisasi atau sekularisasi. Agama menjadi punah dalam sistem pengetahaun masyarakat. Agama tidak up to date. Ditandai oleh keengganan orang-orang tidak mau ke gereja, dan kenyataan tumbuhnya kaum atheis yang shaleh di Eropa.

Tesis ini pernah di dukung oleh Berger, juga kaum yang beraliran Materialis Marxis serta kaum rasionalis Barat. Namun pada abad 21 sekarang, secara sosiologis, ternyata tesis ini justru gugur, agama makin menguat. Kristen di Cina menguat, di Amerika latin juga menguat. di AS, Islam juga menguat. Bisa dikatakan, sulit menyatakan bahwa masyarakat sama sekali bebas dari agama.

Untuk dapat memahami sekularisme dengan baik. Budi mengacu pada enam pengertian beserta contoh kontradiksi di dalamnya.

Pertama, sekulerisme dimaknai sebagai pengosongan wilayah sosial dari hal-hal yang religius (sekularitas publik).

Akan tetapi faktanya terjadi fenomena, menguatnya kembali peran agama sejak 9/11, kemudian adanya anggapan asal usul konsep modern berasal dari agama. Dengana kata lain, apa yang dimaksud sekularisme itu adalah Kristen.

Kedua, sekularisme artinya menghilangkan hal yang imanen dari praktek religius (Sosiologis). Tapi faktanya, dunia sakral kembali muncul. Banyak pemimpin berasal dari agama. Sehingga yang terjadi gabungan antara sekuler sekaligus religius.

Ketiga, sekulerisme dipahamai sebagai, kondisi-kondisi tehnis dimana, kepercayaan pada Allah hanya salah satu saja (immanent frame)-teologis.

Keempat, sekulerisme dipahami sebagai hal yang netral, sekulum, orientasi pada waktu normal. Konsep waktu-berorientasi pada waktu normal (filosofis). Faktanya, terjadi religius term dalam filsafat. Sehinggga muncul minat kembali pada agama. Terjadi pendekatan agama secara fenomenologi (Iman yang melampaui iman).

Kelima, sekulerisme bermakna politis. Artinya melacak kaitan sistem hukum modern (dimana asal-usul Kristiani sangat kuat) dengan term religius. Sebagai contoh, paham demokrasi tidak bisa lepas dari konsep chauvinisme. Calt smith mengatakan bahwa dalam teori modern terdapat pre-teologi tertentu. Sekurang-kurangnya deisme.

Keenam, sekularitas geneologis. Mencari batas antara yang sekular dan religius, antara publik vs privat. Talal Aat menganggap terjadi dominasi biner khas pendekatan barat. Sekularisme dilihat sebagai hegemoni.

Menurut Budi, banyak fenomena post sekulerisme membuat tantangan tersendiri terhadap agama untuk meresponya. Dimensi metafisika agama tetap tidak akan kehilangan pesonanya. Banyak kaum atheis tetap meminta dibuatkan acara pemakaman untuk agama tertentu. Inilah contoh situasi keterbatasan yang bersifat antroposentris.

Postsekularisme menurut Budi membawa tantangan bagi pihak agama. Pertama, meski susah-agama ditantang untuk berlaku universal dan lentur-tapi hal demikian sulit karena agama bersifat narsis. Agama di tantang untuk menerima universal nilai.

Kedua, agama ditantang untuk sakral di tempat lain, sehingga mencegah intrumentalisme agama untuk kuasa politik. Fenomena ini sebenarnya proses yang sudah lama di Kristen. Tapi kalau agama belum mengalami sekularisasi –maka agama mudah dipakai untuk tujuan-tujuan politik (dimanipulasi). Agama ditantang untuk tidak mencampur adukan dengan naluri kuasa

Ketiga, agama ditantang untuk mengembangkan teologi-teologi yang lebih kompatebel untuk masyarakat majemuk.

Keempat, meskipun tidak mencampuri dalam sistem politik, agama berpeluang untuk terlibat dalam deregulasi publik. Misalnya kasus pelarangan burka, yang justru malah menjadi isu publik

Kelima, agama di tantang lebih kosmopolitan, moderat dan menghargai HAM.

Keenam, agama makin tertantang menjadi bentuk agama baru (esoterisme, gerakan-gerakan new age, Kristelam (Kristen-Islam )

Dr. Budi pada akhirnya mengakui, apakah pola-pola pemetaan ini bisa membantu memahami relasi bentuk agama dan politik di Indonesia. Uniknya di Indonesia, agama sudah lama menjadi elemen membangun nasionalisme, kebangsaan, dan kemajemukan. Sehingga membicarakan sekulerisme di Indonesia seolah seperti membawa problem Eropa ke Indonesia. Tapi yang jelas, ditekankan Budi-kearifan Post sekularisme yang terjadi di Eropa bisa kita pelajari untuk membangun di Indonesia- apakah itu bernama Pancasila atau Islam Nusantara, atau kerukunan umat beragama.

Ammar Fauzi, Ph.D
Pembicara kedua, Ammar Fauzi, Ph.D, melihat dari sisi prespektif Islam dalam melihat sekulerisme sejauh yang bisa dipahaminya. Dikatakanya, agama itu sendiri sudah rumit, apalagi jika direlasikan dengan post sekularisme, tapi Dr. Budi membantu kita.

Apakah mungkin melihat relasi agama (Islam) dan Sekulerisme. Mengingat dalam Filsafat Agama sendiri-terdapat lebih dari 100 definisi lebih banyak dibandingkan definisi terorisme dimana kita tidak tahu ujungnya sampai dimana. Saya tidak berani menggenarilis semua agama memiliki repon yang sama terhadap sekulerisme. Apakah Islam seperti halnya Kristen mengalami fase, sekulerisme, post sekulerisme bahkan ultra sekulerisme. Saya ragu apakah agama Islam yang saya alami mengalami fase tersebut.

Berkenaan dengan Sekulerisme, Ammar mengutip dalam buku Leviathan, bab 2 dan 3 karya Thomas Hobbes-abad 17. Terdapat tiga pola bentuk agama dan politik.

Pertama, satu bentuk menformalisasi kebijakan-kebijakan pemerintah, yakni agen agamawan menjadi aktor meformalkan kebijakan publik. Sebagai contoh di Indonesia, MUI memiliki otoritas legalisasi halal/haram baik produk dari dalam dan luar, sedang pemerintah tidak campur tangan. Terlepas dari aspek baik atau buruknya.

Kedua, menempatkan agama sebagai alat, misalnya untuk menanamkan patriotisme. Biasanya pemerintah menggandeng ulama, padahal dalam konstitusi tidak ada.

Ketiga, aspek hermeneutik agama, yaitu demokratisasi teks. Siapapun bisa menafsirkan teks sehingga akan timbul banyak penafsiran. Sebagai contoh, penafsiran surat Al-Maidah, bahkan di luar orang Islam bisa menafsirkan.

Menurut Ammar, agama tidak hanya memiliki dimensi teori tapi juga pengalaman. Islam menekankan adanya pengetahuan sebelum beriman. Sedang Kristen beriman dulu baru mengetahui. Oleh karena itu jangkauan relasi agama dan sekulerisme tergantung definisi kita agama itu apa?. Sebagai ilustrasi, Ammar memberi contoh bagaimana Driyarkarya sangat tepat menerjemahkan kata “being” di antara ada, adaan, eksistensi dan pengada, maka yang dipilih pengada. Terjemahan “Pengada” mengandaikan pre pengetahuan serta pengalaman mengalami ada atau being (existence) sebagaimana tafsir Heidegger.

Begitu juga bila kita menerjemahkan suatu agama. Akan lebih tepat dan dekat bila dipakai kata “pengagama”, agar agama yang kita bicarakan sedekat mungkin dengan pengalaman kita. Agama tidak berubah, selama kita tidak terlibat aktif. Dalam Islam, ada quran natiq (bicara), ada quran somiq (diam). Jika merujuk pada pola ketiga Hobbes, maka masing-masing individu memilik hujjah (argumen) bagi diri sendiri dalam menafsirkan agama-sehingga bahanya terjadi chaos, karena semua berhak, sederajat bisa menafsirkan.

Ammar berpendapat, Islam tidak masuk dalam post sekularisme karena Islam itu sendiri tidak tertampung dalam sekularisme. Dalam sebuah hadis yang cukup terkenal “Dunia ini adalah ladang akherat”. Dalam pengertian agama, didefinisikan sebagai mazra’ah (ladang) untuk akherat. Ladang tidak terpisah dari hidup kita, kalau ada ladang yang terpisah, maka itu bukan ladang. Maka kapan saja satu ladang untuk diri kita sendiri, maka dunia ini adalah menjadi bagian dari hidup kita sendiri.

Ammar juga melihat pertikaian Sosialisme dan Kapitalisme dikarenakan sempitnya definisi dunia. Keduanya menganggap kehidupan hanya di dunia ini saja. Energi alam sama-sama dianggap sebagai sumber terbatas. Hanya cara memperlakukan saja yang berbeda. Kalau Sosialisme menganggap, bagaimana benih padi dalam satu piring bisa kebagian semua. Sedang Kapitalisme menganggap, siapa yang kuat dia yang menang. Kata Henry Kessinger, Timur Tengah sebagai jantungnya dunia, ini membuktikan pandangan dunia yang terbatas (dalam konteks potensi). Padahal sebenarnya dunia ini tidak terbatas. Sebagai contoh, kalau dikembangkan energi nuklir saja, justru makin tidak terbatas-kuncinya ada di SDM.

Oleh karenanya, terdapat hubungan dunia dan akherat, kita harus mengoptimalkan; kalau sekuler diartikan berarti zaman maka seorang muslim harus paling sekuler, karena paling berusaha mengoptimalkann dunia ini. Alam ini sebagai manifestasi Tuhan, sejarah bagai cermin. Seperti kata Iqbal, sejarah adalah bagaimana melihat rangkaian peristiwa ini, untuk memprediksi masa depan. Sejarah adalah obor masa depan.

Oleh karenanya Islam tidak terdefinisikan dalam post sekularisme. Bahkan menurut Herbert Marcuse, sekulerisme dapat menanamkan absolutisme

Selanjutnya, Ammar mengajak mengingat kembali ajaran Socrates, kenali diri kita. Akan tetapi seringkali terjadi paradoks, antara iman dan ilmu. Dengan demikian, “diri” dibagi dua, “diri” kita pribadi dan “diri sosial” yang dapat mengantarkan pada Tuhan.

Kemudian terakhir Ammar memberi makna positif sekulerisme sebagai alat dan tahap penyempurnaan diri manusia. Ijtihad diperlukan bagi manusia untuk bisa menyeberang fakta, berita, ruang dan waktu sehingga bisa mengambil pelajaran. Di dalamnya terjadi dialektika antara yang profan dan sakral, sekuler dan religius, absolut dan relatif, yang tetap dan berubah, rekonstruksi dan dekonstruksi.

Oleh karenanya, menurut Ammar, orang banyak salah paham mengenai Islam. Padahal Islam itu datang untuk melengkapi, menyempurnakan apa yang sudah ada; Ada hukum ta’sisi (penetapan hukum baru) dan imdha’i (pengesahan hukum yang sudah ada) tujuan Islam adalah mendapatkan hidayah. Sehingga relasi Islam dengan agama yang lain sangat indah, seperti kata Imam Ali kepada Malik Astar yang di kutip PBB, “ Perlakukan rakyatmu sebagaimana saudaramu seiman atau jika bukan Islam, saudara satuciptaan”.

Sebagai penutup Ammar memberi penekanan kembali bahwa sekulerisme harus dibaca dengan Islam bukan sebaliknya, sehingga sekulerisme adalah alat menuju penyempurnaan- baik “diri” individu dan sosial. Ammar tidak setuju sekulerisme sebagai pandangan hidup mendekte dan menafsirkan agama secara absolut, justru sekulerisme harus dibaca dengan Islam, karena Islam jangakauan cakrawala sebagai pandangan hidup lebih luas daripada sekulerisme. (ma’ruf)

 

FAP: Menggugat Pengetahuan Kant!!!

FAP: Menggugat Pengetahuan Kant!!!

Imanuel Kant adalah salah satu filsuf barat yang berjasa besar melapangkan jalan peradaban modern. Filsafatnya menjadi saripati (jantung) seluruh peradaban barat, terutama perkembangan ilmu filsafat dan sosial. Salahsatu yang menarik dari filsafatnya adalah Filsafat Transendental. Filsafatnya berdiri teguh di kaki sendiri antara rasionalisme dan empirisme. Kant berambisi dengan semangat Kopernikanya menjadikan ilmu alam dan matematika sebagai fondasi filsafat transendentalnya dalam rangka menyelamatkan metafisika. Berhasilkan Kant menyelamatkan metafisika dengan cara memodifikasi dan menghidupkan kategori pengetahuan Aristoteles menjadi 12 kategori, plus ruang waktu untuk menjaring pengetahuan apriori dan aposteriori?. Seperti yang diakui Kant sendiri, filter pengetahuanya paling jauh hanya mencapai pengetahuan fenomena (penampakan), dan nomena (realitas apa adanya) tidak bisa di jerat. Bagaimana dengan nasib metafisika yang ingin diselamatkan Kant?. (more…)

Forum Antar Pakar (FAP): Dilema Hukuman Mati

Forum Antar Pakar (FAP): Dilema Hukuman Mati

Dilema Hukuman Mati hanyalah dua kata yang, bila salah memahami “hukuman” dan “mati”, kita terancam gagal memahami frase “hukuman mati”. Ketidakpararelan bentuk hukuman dan efek jera, juga menjadi pertimbangan bahwa secara empiris, hukuman mati mutlak ditiadakan. Namun, secara teologis, minimal dua agama Islam dan Kristen, menerima hukuman mati. Dalam perkembangan terakhir, gereja Katolik menolak hukuman mati. Ada lagi berpendapat, bukan menolak atau menerima secara mutlak, yang penting pembatasan. Hukuman mati juga tidak bebas syarat untuk diberlakukan – tiga syarat material minimal harus terpenuhi: sistem peradilan yang menghasilkan produk hukum yang adil, pelaku hukum yag bersih (antropologi) dan keadilan untuk semua, tidak tebang pilih (sosiologi). Demikian kesimpulan singkat diskusi Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra berjudul “Dilema Hukuman Mati Prespektif Filsafat dan Hukum”, 27/3 STFI Sadra. (more…)

Bedah Buku Ibn Khaldun; Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim

Bedah Buku Ibn Khaldun; Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim

Departemen Riset STFI Sadra melalui Program diskusi Temu Antar Pakar (FAP), Februari 2017, menghadirkan pembicara istimewa. Bersama dengan Ic-Thusi dan Penerbit Mizan, Riset berhasil mendatangkan seorang pakar di bidang Sosiologi asal Malaysia, Prof. Dr. Syed Farid Alatas, nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan akademisi Tanah Air, untuk launching dan bedah buku versi Indonesia bersama dua pembanding dua sarjana filsafat dan tasawuf: Dr. Husain Heriyanto dan Ammar Fauzi, Ph.D.

Lewat program Field Trip, Dr. Farid datang bersama dengan 18 rombangan mahasiswa/wi  NUS (National University of Singapore) lintas-disiplin: Sosiologi, Enginering, Bahasa, Psikologi, dan Studi Asia. Field Trip ini merupakan kegiatan rutin yang dimaksudkan sebagai program di luar kampus untuk menambah wawasan dan kepekaan mahasiswa dengan cara berinteraksi langsung dengan berbagai lapis masyarakat dari berbagai negara. “Kadang 3 hari, 10 hari, berkunjung ke masjid, sinagog, gereja seperti di Turki dan Iran,” ujar Farid.

Acara dibuka dengan tilawah dan  lagu Indonesia Raya, kemudian sambutan pembukaan oleh Dr. Khalid Al-Walid, ketua STFI Sadra.  “Kampus kita kecil, tetapi mempunyai mimpi besar. Kampus ini menawarkan program S1 dalam dua prodi: Filsafat Islam dan Ilmu Alquran, program S2 dalam prodi Filsafat Islam dengan lima konsentrasi. Kita juga mempunyai program untuk Ph.D.” ujar Khalid.

Bedah buku sendiri memfokus Ibnu Khaldun dengan Tema besar “Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim”. Dr. Farid menjadi pembicara pertama. Ia mengatakan, hal yang penting ketika kita bicara pengetahuan dan masyarakat, subjek yang kita pelajari harus berhubungan dengan masyarakat kita. Dan ketika mempelajari tokoh pemikiran seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Rusdy, Max Weber, ada tiga hal yang harus kita sadari dan pahami.

Pertama, pendekatan teori, apa konsep teori itu, fondasi teori (theoretical fondation); seperti konsep mulk, ashobiah, daulah dalam teori Ibn Khaldun. Kita harus tahu konsep itu dan bagaimana konsep itu saling terhubung.

Kedua, metodologi yang dipakai seorang ilmuan; demontrasi, retorika, induksi. Kekuatan argumentasi ilmuan tergantung metodologinya.

Ketiga, sesuatu yang disebutkan oleh penulis tapi tidak berhubungan secara langsung akan tapi menjelaskan teori yang dimaksud. Sebagai contoh Ibnu Kaldun menyatakan tentang, penyebab naik turunya sebuah negara-dikatakan bahwa kebanyakan kerajaan diperintah secara tidak adil, artinya Ibnu Khaldun jarang melihat negara diperintah secara adil.

Namun, masalah kemudian timbul dalam sosiologi modern. Definisi negara adalah legitimasi (otoritas). Artinya, negara dibentuk dengan otoritas bukan paksaan. Jika rakyat percaya pada pemerintah, rakyat akan mengikuti pemerintahnya sehingga tidak perlu ada paksaan. Tetapi itu kan dalam teks sosiologi, dan itu terjadi di negara Eropa dan Barat dalam mengembangkan pemerintahannya.

Kemudian bagaimana jika kita kontraskan dengan teori Ibn Khaldun bahwa kebanyakan negara berdiri secara tidak adil. Memang kata Ibn Khaldun, sejak kekalifahan awal berdiri, pemerintahan relatif adil, tetapi setelahnya mengalami kemunduran. Nampaknya akan problematik jika kita asumsikan negara tegak dengan keadilan. Jika kita mengasumsikan negara tegak karena ketidakadilan, maka selanjutnya bagaimana kita belajar tentang negara?.

Karena itu, ketika belajar tentang korupsi di negara saya, misalnya, kita belajar kriminologi, kemudian muncul konsep negara maling (kleptokrasi). Padahal dalam realitasnya selalu ada korupsi di setiap negara. Ketika korupsi menjadi dominan maka akan terjadi akumulasi kapital.

Ibnu Khaldun bilang negara akan turun karena korupsi, sehingga isu korupsi dalam teori Khaldun juga menjadi salah satu isu utama.

Farid mengakui bahwa dia sangat terpengaruh oleh Ibn Khaldun sejak remaja dipicu oleh sang ayah ketika memberikan buku pengantar kecil tentang Ibnu Khaldun. “25 tahun saya mengoleksi dan mempelajari karya Ibnu Khaldun” katanya.

Farid menceritakan bahwa dia menulis selama 6 tahunan, “Kehidupan dan Pemikiran Ibnu Khaldun” karena ketidaksengajaan. Mulanya dia menawarkan buku penerapaan teori Ibnu Khaldun kepada Oxford akan tetapi ditolak dan disarankan untuk menulis “Kehidupan dan Pemikiran Ibnu Khaldun”.

Dalam rangka itu, Farid memberi pesan agar mengoleksi referensi buku sebanyak-banyaknya ketika meneliti, jangan berpikiran untuk menggunakanya dulu; suatu hari pasti kita akan menggunakanya. Salah satu manfaat mempelajari Ibn Khaldun ialah kita dituntut kreatif menggunakan tradisi kita sendiri. Indigeneus, sebagai rujukan adalah suatu hal yang penting.

Bedah buku dilanjutkan oleh pembicara kedua Dr. Husain Heriyanto. Ia mengekplorasi tema “Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim.” Husain memulai diskusi dengan memetakan kondisi umat Islam. Dikatakannya, telah  terjadi penurunan tradisi Intelektual di dunia muslim era sekarang, dan pada saat yang sama menghadapi tantangan dominasi militer asing, dominasi ekonomi dan budaya.

Dunia Islam juga mengalami krisis peradaban akibat munculnya radikalisme yang berakar dari ketidaktahuan dan kurangnya tradisi intelektual. Akibatnya, umat Islam secara spiritualitas menurun, dan naiknya pemahaman dan penafsiran yang sempit terhadap agama-melihat orang lain sebagai kafir dan sesat. Banyak sarjana muslim tidak tahu dan menolak kekayaan tradisi intelektual muslim sendiri, seperti menolak keberadaan Fisafat. Padahal filsafat dapat merangsang tumbuhnya tradisi intelektualitas.

Oleh karena itu, Husain menawarkan kembali pada tradisi peradaban Islam-hikmah. “In the intellectual tradition of Islamic civilization, the term al-hikmah is considered as al-’ulūm al-’aqliyyah (intellectual sciences). Ĥikmah (falsafah) is philosophy that has been a mother of the Islamic intellectual tradition (Seyyed Hossein Nasr). Islamic philosophy as well as Sufism have been source of inspiration for rational enterprises as well as spiritual journey of human being.”

Husain mengutip pandangan beberapa filsuf muslim tentang arti filsafat. Pengertian paling murni dari Al-Kindi: “philosophy is the knowledge of the reality of things within man’s possibility, because the philosoper’s end in his theoretical knowledge is to gain truth and in his practical knowledge to behave in accordance with truth”(S.H. Nasr, Islamic Philosophy, New York: SUNY, 2006) .

Sedang mengenai cakupan Filsaf dari Al-Farabi, Husain memaparkan, “philosophy is the knowledge of existents qua existents. Philosophy is the mother of the sciences dan dealt with everything that exists. There is nothing among existents in the world with which philosophy is not concerned. Ĥikmah is the perfection of the human soul through the conceptualization of things and the judgment of theoretical and practical truths to the measure of human capability.

Philosophy is the knowledge of existents qua existents. Philosophy is the mother of the sciences dan dealt with everything that exists.  There is nothing among existents in the world with which philosophy is not concerned (Ibn Sina). Hikmah is the perfection of the human soul through the conceptualization of things and the judgment of theoretical and practical truths to the measure of human capability (S.H. Nasr, ibid).

adapun dalam pandangan Ikhwan al-Shafa, cakupan filsafat yaitu the beginning of philosophy is the love of the sciences; its middle is knowledge of the reality of things to the extent to which man is capable; and its end is speech and action in conformity with this knowledge”–Loving and seeking knowldge as a human passion & spirit, Knowledge of the reality of things ( believing in human reason capacity), Integration between theoretical and practical dimensions, (Rasa’il Ikhwan al-Safa).

Mulla Shadra berkata, “Falsafah adalah proses penyempurnaan jiwa manusia (istikmalu al-nafs al-insaniyyah) melalui pengetahuan (bi ma’rifah) realitas segala yang ada (al-mawjudat) sebagaimana ia ada (ma hiya) dan melalui putusan (al-hukm) tentang wujudnya yang diperoleh dengan bukti-bukti demonstratif (al-barahin) dan tidak muncul dari prasangka (zhan) dan peniruan buta (taqlid) ” (Mulla Shadra, Al-Asfar al-Arba’ah, vol. 1, 2002, hal. 47).  Juga dalam hadis nabi, Rabbi, arina al-asy-ya kama hiya.

Kemudian Aristoteles, Al-Farabi, Ibn Sina membagi filsafat kedalam dua aspek: teori (Matematika, Fisika, Metafisika), dan praktek (Etika, Ekonomi, Politik).

Husain mengatakan bawha telah terjadi paradox dalam masyarakat muslim. “Satu sisi kita tahu salah satu pesan utama Islam adalah mencari pengetahuan (hikmah) (QS. 2: 269), hadis nabi: mencari pengetahuan adalah kewajiban setiap muslim,  juga pernyataan Imam Ali, puncak kebajikan adalah pengetahuan. Akan tetapi, banyak ruang perpustakan kosong meski perpustakan sudah di bangun dengan cukup mewah. Inilah salah satu indikasi penurunan tradisi intelektual Islam. Pada saat yang sama, tindakan ekstrimisme naik di dunia muslim terjadi karena faktor ketidaktahuan. Seperti dikatakan Ibnu Rusdy, ignorance leads to tear, tear leads to hate, adn hate leads to violence.”

Indikasi yang lain adalah sebagian masyarakat muslim menolak dan mengutuk tasawuf dan filsafat. Padahal Filsafat adalah induknya pengetahuan. Filsafat merangsang manusia mencari realitas apa adanya (realitas objektif), tidak hanya realitas iktibari (konstruksi mental). Salah satu problem kita yang lain adalah kita tidak bisa mendevelop ilmu terutama ilmu sosial karena lemah dan ketidakpedulian kita pada filsafat.

Merespon pembicara pertama dan kedua, pembicara ketiga Ammar Fauzi, Ph.D mengamini, memang isu legitimasi amat krusial, khususnya dalam komunitas yang baru. Ammar juga menyoroti ketidaktahuan yang, dalam kata-kata Ibn Rusyd, dapat menghantarkan pada tindak kekerasan. Namun sebaliknya, dalam analisis Ammar, Ibn Khaldun justru menyimpulkan penindasan berawal dari ketahuan atau dari saking dalamnya penguasa menguasai masalah. “Selebihnya akan saya paparkan dalam presentasi”, ujar Ammar.

Ammar menyarankan untuk keluar dari mental inferior di hadapan Barat. Satu contoh, dalam sejumlah literatur sosiologi, Ibn Khaldun kerap disebut-sebut sebagai West Montesque, padahal Ibnu Khaldun lebih dahulu ketimbang Montesque. Oleh kalangan ahli di Barat sendiri, tokoh Muslim ini diakui sebagai bapak sosiologi. Justru posisinya harus dibalik, Montesque dialah yang setepatnya disebut sebagai East Ibn Khaldun. Teorinya tentang kondisi natural masyarakat sangat dekat dengan masyarakat ashabiyyah Ibn Khaldun.

Untuk itu, Ammar menegakan, Jika kita ingin membuat peradaban, maka penting untuk mengetahui seberapa besar kapasitas kita dalam membangun, untuk itu perlu mengamati bentuk-bentuk penindasan intelektual seperti yang dilakukan terhadap Ibn Khaldun.

Ammar Fauzi kemudian menjelaskan secara lebih detil dalam materi presentasinya berjudul, “Denyut Krisis Kebangsaan dalam Patologi Sosial”. Berbasis teori Ibnu Khaldun, Ammar menjelaskan faktor-faktor kerentanan sosial melalui sebuah pemetaan.

Terdapat beberapa faktor penyebab kerentanan sosial; 1. Kondisi alami (Iklim 1, 2 ,3, 4, 5, 6, 7, 8 (iklim 4 imbang) 2. Insani/pola hidup (primitif atau beradab), 3. Penguasa/karakter sosial (terlampau cerdas dan rezim kebenaran), 4. Populasi ( wabah, kematian, krisis pangan, imigrasi) 5. Masa Transisi (perusakan pusaka, konflik antarkubu). Kondisi alam sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim, terdapat 7 iklim. Iklim terjadi seperti bola bumi, terjadi titik ektrem; kutub selatan dan utara, timur dan barat, dan titik 4 menempati titik keseimbangan dan  yang paling layak dihuni.

Untuk memahami iklim ini Ammar menyarankan untuk memperhatikan analisa Jenderal Nurmantyo. “Saya merekomendasi untuk melihat pemaparan Panglima Gatot Nurmantyo bahwa Indonesia, 50 tahun ke depan akan mengalami persoalan iklim, terkait dengan sumber alam, tambang dan sumber daya manusia; akan ada eksodus besar dari bangsa lain, entah dari Barat dan Timur”.

Artinya faktor lingkungan sangat mempengaruhi perilaku, mentalitas bawaan seseorang yang juga pernah dinyatakan oleh Montesque. Menariknya salah satu penyebab krisis sosial justru karena penguasa terlalu cerdas, terlalu menguasai masalah. Dia yang paling mampu mendefinisikan kebenaran. Setiap kebenaran di luar definisi dan kerangka rezim penguasa akan dibredel. Akibatnya akan muncul totalitarianisme.

Dari bagan patologi sosial, Ammar kemudian memetakan teori Ibn Khaldun tentang karakter faktor insani ( pola hidup) yang bisa mencerminkan karakter sebuah bangsa.

.

Pola hidup manusia yang pada akhirnya bisa membentuk karakter bangsa terbagi dalam dua karakter; politik beradab dan primitif. Politik yang kita pahami sebagai beradab sebenarnya menyimpan penyakit bawaan; konsumerisme, glamorisme, turunnya nasionalisme. Hal ini akan membawa perubahan karakter; rasis, berlebih lebihan, menindas, kompetisis kekayaan dan obral nafsu.

Rasis dan fasis bisa mengakibatkan KKN dan pemberontakan, budaya berlebih-lebihan mengakibatkan anggaran besar, sehingga penguasa tergoda menaikkan pajak. Timbul penindasan, karena pajak dinaikkan dan penjualan aset SDA dan SDM. Brutalnya kompetisi kekayaan menimbulkan krisis kepercayaan diri dan rakus. Bangsa yang dikuasai nafsu mengakibatkan sifat hedonisme dan sifat malas. Sedangkan karakter primitif justru menaikkan nasionalisme dan menumbuhkan karakter mulia dan mencapai titik imbang.

Sebagai penutup, Ammar menyarankan untuk selalu melihat kondisi kontemporer sebagai bagian dari penajaman pemahaman dan pengalaman berfilsafat.

Acara bedah buku berlangsung pada 02 Februari, di Lt. 04 STFI Sadra, dihadiri antusias oleh para peneliti dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di sekitar Jakarta. (ma’ruf)

FAP: Undangan Diskusi Bedah  Buku Ibn Khaldun

FAP: Undangan Diskusi Bedah Buku Ibn Khaldun

Press Release
Diskusi  dan Bedah Buku Ibnu  Kaldun

Tema:

“Knowledge and Philosophy in Muslim Society”
Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarat Muslim

“Masyarakat muslim sekarang mengalami penderitaan serius-penuruan tradisi intelektual. Salah satu efek yang dihasilkan adalah naiknya ektrimisme dan pemahaman yang dangkal terhadap ajaran Islam. Sementara pencarian pengetahuan adalah tugas dari agama. Pencarian pengetahuan dan kebijakan adalah salah satu pesan utama ajaran Islam”.

Departemen Riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra berkolaborasi dengan Ic-thusi, NUS (National University of Singapore) akan menyelenggarakan acara diskusi dan peluncuran buku terbitan Mizan; Ibu Kaldun, Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi karya Prof. Dr. Syed Farid Alatas (Departments of Sociology and Malay Studies, National University of Singapore).  Tema diskusi “Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim. Dr. Farid berencana akan membawa rombongan mahasiswanya dari National University of Singapore untuk berdialog dengan mahasiswa/wi STFI Sadra.

Panitia mengundang penulis buku dari Malaysia sebagai pembicara utama.  Dr. Farid akan menggunakan materi buku tersebut sebagai bahan untuk menganalisa problem umat Islam. Diantaranya solusi alaternatif ketergantungan dunia Islam pada teori-teori barat terutama sosiologi. Dr. Farid akan memetakan dan mensosialisasikan gagasan Ibnu Kaldun.

Ibnu Kaldun adalah ilmuan muslim yang berpengaruh besar terhadap pemikiran eropa abad ke 20. Dia terkenal dengan sebutan pelopor sosiologi dan historiografi. Meski sebagian menganggap Ibnu Kaldun hanya memodifikasi gagasan al-Farabi dan Ikhwan al-Shafa, tapi banyak menganggap patut di sejajarkan dengan sosiolog Barat dari Macheavelli hingga Marx.

Penulis buku ini akan mengulas metodologi pemikiran Ibnu Kaldun seperti metodologi dalam penulisan sejarah dan tujuanya,  ilmu masyaratkat atau ilmu organisasi-sosial manusia, faktor-faktor penyebab kehancuran sebuah negara, cara mengetahui laporan sejarah layak diterima atau tidak.

Penulis juga secara khusus akan memaparkan pendidikan, pengetahuan dan masyarakat versi Ibnu Khaldun. Kemudian dari saripati gagasan Ibnu Kaldun penulis akan mendialogkan dengan problem yang terjadi pada umat Islam.

Masyarakat muslim sekarang mengalami penderitaan serius-penuruan tradisi intelektual. Salah satu efek yang dihasilkan adalah naiknya ektrimisme dan pemahaman yang dangkal terhadap ajaran Islam. Sementara pencarian pengetahuan adalah tugas dari agama. Pencarian pengetahuan dan kebijakan adalah salah satu pesan utama ajaran Islam.

Pembicara kedua Dr. Husain Heriyanto, Direktur ic-thusi (International Conference on Thoughts on Human Sciences in Islam), lembaga yang fokus pada pengembangan ilmu-ilmu sosial kemanusian berbasis Islam akan berbicara dari prespektif Filsafat Islam.

 Sedangan pembicara  ketiga, Ammar Fauzi, Ph,D (Deputy Riset STFI Sadra) akan memberikan tanggapan, refleksi dan prespektif global dari kedua pembicara.

Acara ini merupakan kegiatan rutin FAP (Forum Antar Pakar) program diskusi Riset STFI Sadra yang secara khusus menghadirkan pembicara nasional dan Internasional dari luar STFI Sadra.Even ini juga merupakan kegiatan peluncuran buku perdana Ibnu Kaldun, yang selanjutnya akan di bedah di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Acara bertempat di Lt.04, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jln. Lebak Bulus II, No. 2, Kamis, jam 09.00-13.130 Wib, 23/2/2017. Program ini di dukung secara penuh oleh; Departemen Riset STFI Sadra, ic-thusi, NUS (National University of Singapore), MIZAN, FAP: Forum Antar pakar, Jurnal Kanz, Jurnal Tanzil, Sadra International Institute, Sadra Press dan theosophia.

Cp: Iman ( 085716482737)
Putri (082247247657)

Free WordPress Themes, Free Android Games