Terminologi Filsafat Islam: Nafs al-Amr

Terminologi Filsafat Islam: Nafs al-Amr

Nafs al-Amr

Dalam banyak penjelasan para filosof, kita sering menjumpai ungkapan berikut: “masalah ini sesuai dengan nafs al-amr (perihalnya-itu-sendiri)”. Di antaranya juga berkenaan dengan proposisi-proposisi hakiki (qadhāyā haqīqiyyah), dimana sebagian atau tidak satu pun dari referen-referen subjek mereka berada di luar, akan tetapi kapan saja referennya itu ada, predikat proposisi hakiki itu niscaya berlaku padanya.

Mengenai proposisi-proposisi semacam ini dikatakan bahwa kriteria kebenaran mereka adalah kesesuaian dengan nafs al-amr (perihalnya-itu-sendiri), karena seluruh referen mereka tidak ada di realitas d-luar untuk bisa kita timbang kesesuaian kandungan mereka dengannya dan bisa kita nyatakan bahwa ia sesuai dengan realitas di-luar.

Demikian pula halnya proposisi-proposisi yang terbentuk dari objek-objek kedua akal seperti: proposisi logis atau proposisi, yang menetapkan predikat tertentu pada hal-hal ketiadaan atau yang mustahil-ada. Oleh para filosof dikatakan bahwa kriteria kebenaran dua macam proposisi ini adalah kesesuaian dengan nafs al-amr (perihalnya-itu-sendiri).

Ada banyak penjelasan yang dikemukakan seputar makna teknis istilah ini; sebagiannya terkesan dipaksakan, seperti penjelasan sejumlah filosof bahwa maksud dari kata amr (perihal) di sini yaitu alam adaan-adaan abstrak; dan sebagian lainnya malah sama sekali tidak memecahkan masalah, seperti perkataan bahwa nafs al-amr adalah sesuatu itu sendiri, karena pertanyaan mendasar masih kuat menghadang: pada akhirnya, dengan apa kita harus membandingkan proposisi-proposisi ini untuk mengetahui nilai (kebenaran atau kesalahan) mereka?

Berangkat dari uraian yang telah dikemukakan mengenai kebenaran dan kesalahan proposisi, jelas bahwa maksud dari nafs al-amr, selain adaan-adaan di-luar, juga merupakan medan kenyataan aklani (tsubūt ‘aqlī) bagi objek-objek representasi yang berbeda-beda dalam tiap-tiap kasus. Maka, dalam kasus-kasus tertentu seperti: proposisi-proposisi logis, medan kenyataan aklaninya adalah tingkatan tertentu dari pikiran. Dalam kasus-kasus lain seperti dalam kasus objek representasi dari proposisi “dua kontradiktif mustahil bertemu”, medan kenyataan aklaninya adalah kenyataan eksternal asumtif (mafrūdh).

Dan dalam kasus-kasus yang lain lagi, medan kenyataan aklaninya secara aksidental (bi al-‘aradh) dinisbatkan ke realitas di-luar. Misalnya, para filosof mengatakan, “sebab ketiadaan akibat adalah ketiadaan sebab”. Dalam proposisi ini, hubungan kausalitas pada hakikatnya berlaku nyata antara ada/keberadaan sebab dan ada akibat, namun secara aksidental diberlakukan pada ketiadaan mereka (sebab dan akibat).(Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, Daras 19).

Spiritualitas

Spiritualitas

Dr. Husain Heriyanto

Spiritualitas

Setidaknya ada lima pengertian spiritualisme;  pertama, percaya pada alam lain ghaib (ruhani),  sedang alam ghoib terpisah dengan alam fisik, kedua memahami alam ruhani  dan memiliki hubungan dengan alam fisik, ketiga, alam ruhani adalah lebih tinggi daripada alam fisik, keempat, alam fisik adalah simbol dari alam ruhani, kelima, alam fisik adalah manifestasi dari alam spiritualitas. Kelima pengertian ini harus dipahami dan dipraktekkan secara holistik (sumber; Dr. Husain Heriyanto)

Free WordPress Themes, Free Android Games