Wawancara Prof. Dr. Jawad As’adi : Tasawuf dan Peradaban

Wawancara Prof. Dr. Jawad As’adi : Tasawuf dan Peradaban

Tasawuf dan Peradaban. Dua bidang seolah terpisah. Tasawuf sering dipresepsi sebagai dunia batin bersifat individual, suatu kegiatan asketis super tertutup terhadap dunia materi. Sedang peradaban adalah sesuatu yang syarat dengan bentuk-bentuk manifestasi kemajuan, baik fisik dan non fisik. Bisakah keduanya bertemu, bagaimana relasi keduanya, menegasi atau mengafirmasi, jika jawabanya positif afirmatif, bagaimana menjelaskanya. Untuk mendapatkan jawaban tersebut, Riset Sadra sengaja melakukan investigasi melalui wawancara dengan seorang pakar tasawuf, Prof. Dr. Jawad As’adi (Direktur Almustofa Internasional University Indonesia) 23/5/2017. (more…)

Wawancara Dr. Haidar Bagir; Filsafat, Agama, Film dan Kreatifitas

Wawancara Dr. Haidar Bagir; Filsafat, Agama, Film dan Kreatifitas

Filsafat Islam dan Tasawuf memang bukan hanya persoalan teori, dimensi praksisnya bisa terartikulasikan dengan dahsyat manakala medianya dapat dinikmati jutaan penonton. Film sebagai salah satu karya seni, membutuhkan kejeniusan kreatifitas yang bisa terkondisikan oleh hasil olah berteori dan berfilsafat. Hasil gabungan kejeniusan “kreatifitas seni dan insting pasar” membuat Dr. Haidar tidak saja lihai ceramah Filsafat di ruang kelas, tapi filmnya juga mampu menghibur penonton bioskop menikmati film bertema agama. Ya,.. Dr. Haidar yang juga pengajar Filsafat Agama, resah, pengajaran Filsafat Agama di kampus hanya membuat mahasiswa terlatih secara intelektual bahkan sebagian malah lari dari agama – tapi tidak dapat memberi dampak di luar dinding kelas. Dr. Haidar Bagir adalah sosok hasil campuran Filsafat, Agama dan Film. Ketiganya bahan bakar kreatifitas, mesinya industri film.
(more…)

Wawancara Romo Simon: Filsafat dan Institusi Filsafat

Wawancara Romo Simon: Filsafat dan Institusi Filsafat


Filsafat sebagai intitusi dan disiplin Ilmu memiliki fungsi dan peran tidak terlihat glamor dan populer dibanding disiplin ilmu lain. Meski begitu diam-diam memiliki peran fundamen pada saat masyarakat gagap mengartikulasikan keberagamaan ditengah proses dinamika politik yang demokratis dengan tensi tinggi. Sejauhmana institusi filsafat terlibat dalam dinamika proses iman warganya dalam negara Pancasila? Sejauhmana filsafat mampu mematangkan dan mendewasakan iman?, Disela kunjungan studi banding pengelolaan perpustakaan STFI Sadra dan Driyarkarya, peneliti Sadra sempat mewancarai Romo Simon Petrus Lili Tjahjadi (Ketua STF Driyarkarya) 2/3/2017.

Selamat siang, kita ingin mengetahui tentang penelitian Romo, denger-denger tentang ateisme, benar ya Romo?
Bener mas, tentang seorang pemikir modern, yang memberi dasar bagi ateisme modern, namanya Ludwig Feuerbach
Kira-kira isinya tentang apa?
Kalau diperhatikan sebeneranya tidak langsung tentang ateisme tapi dikembangkan dari itu, ateisme sebagai dasar suatu teori etika, bagaimana berdasarkan ateisme dibangun suatu teori etika, bagi Feuerbach kepercayaan pada Tuhan adalah hasil proyeksi manusia, dari angan-angan manusia. Bagi Feureubach, yang paling nyata adalah manusia itu sendiri dengan segala kualitas yang dimilikinya.

Terkenal dengan kata-katanya, homo homini deus, manusia adalah Tuhan bagi sesamanya. Dan dia percaya manusia dengan M besar, kita sebagai bangsa manusia disatukan oleh kualitas yang terbaik yang kita miliki. Kita ini hebat dan sempurna.

Feuerbach kan sebagai tokoh ateisme, sedang Romo memimpin sekolah Filsafat yang tentunya ingin agar mahasiswanya itu masih komit dengan agama, kira-kira ada kendala nggk?
Oh, tidak saya kira,.. ini bukan kontradiksi, mempelajari apapun juga, teori kosmologi, psikologi, apalagi filsafat sebagai basis calon imam (calon pastor tingkat 1) penting. Bukan cuman pastor tapi ini terbuka, dalam kerangka gereja Katolik, filsafat diwajibkan untuk dipelajari, diwajibkan bukan berarti hanya tahu kontruksi pemikiran manapun juga, tapi harus tahu hal apa yang perlu dikritisi, segi positif apa dan segi apa yang masih menimbulkan persoalan, orang harus bersikap kritis. Kalau orang hanya menerima sikap dogmatis, maka tidak menumbuhkan sikap terbuka. Maka dari itu kami belajar Islam, ekonomi dan fisafat.

Jadi tujuanya untuk memperkokoh agama, bukan memperlemah agama ya Romo?
Ia… karena ada unsur-unsur penting, dalam teori-teori ateisme misalnya, bisa membantu penghayatan terhadap agama secara orignal tentang iman kita pada Tuhan. Kembali pada teori Feuerbach, Tuhan adalah hasil proyeksi keinginana manusia, kadang sering terjadi lo pada kehidupan kita,… kita berbuat sesuatu atas nama Allah tapi tidak sadar dalam proses psikologinya melakukan perbuatan kejam atas nama Tuhan. Padahal sesungguhnya itu hasrat untuk menguasai orang lain, hasrat destruktif manusia seolah mendapat legitimasi dari Tuhan. Sehingga sebagai calon pastor itu bisa menjadi bahan mawas diri.

Kita ini sedang mengalami transisi, dari otoriter menuju demokrasi dan ini berpengaruh terhadap rakyat dalam memahami agama. Berkaitan dengan peran dan fungsi institusi filsafat dalam mencerdaskan bangsa, kira-kira apa peranya?
Fungsi itu secara kusus berkaitan dengan filsafat itu sendiri pada umumnya, dari peran filsafat baru bisa dirumuskan fungsinya. Peran Filsat itu pertama sebagai kritik ideologi, yang menentukan bagaimana itu hidup, ada ideologi agama, sekuler, politik kanan dan kiri, nah filsafat menjadi kritik tema-tema tersebut.
Kedua, filsafat memberi orientasi pada orang untuk kritis, bahwa ini tahan uji, yang ini bisa dilepas. Ketiga, fungsi dialogis, untuk mencari titik temu, yang baik bisa menjadi modal bersama untuk berjalan bagi bangsa dan agama.
Fungsi keempat, menjadi penggali local wisdom dan memperlihatkan relefansinya sampai sekarang, bukan berarti globalisasi kontra dengan local wisdom. Misalnya menggali etika jawa, kebijakan suku toraja, etika politik, legitimasi kekuasaan.
Fungsi keempat, sebagai Filsafat Ketuhanan, jadi dituntut memiliki sikap keberagamaan yang terbuka misalnya memahami konsep keselamatan dalam agama lain, maka disini (Driyarkarya) ada kajian Islam, Budisme, Konghucu. Sikap terbuka pada agama itu penting disini.
Nah… dari fungsi filsafat ini baru kelihatan fungsi sebagai pencerdasan bangsa, yaitu yang menggali tema fungsi tersebut terlibat dalam ruang publik entah lewat koran, penyebaran lewat diskusi, campur dalam gerakan dari kalangan apapun, dan para alumni disini bisa masuk kebidang bidang itu.

Jadi Driyarkarya bukan sekolah agama tertentu ya?
Ya…jadi saya tegaskan bukan sekolah agama, defacto memang banyak pastor, kami semua para pastor wajib belajar filsafat sebelum belajar teologi, kalau di luar negri nggk semua filsuf menjadi pastor, kalau di Indonesia susah.

Apa harapan Romo berkaitan hubungan antara Institusi Driyarkarya dengan komunitas lain , seperti komunitas mayoritas Islam?
Harapan saya terkait dengan fungsi kelima, yaitu terkait dengan Filsafat Keilahiyan, kita mesti membantu anak- anak muda mempunyai sikap agama terbuka, jadi tidak boleh eklusif lagi, melainkan mengikuti cara berpikir inklusif, jadi paham keagamaan kita harus memiliki horizon dalam kepercayaan yang beragam. Kalau nggk begitu maka sangat eklusif dan esoterik,.. nggk ada dialog, macam-macam unsur berkembang disitu; menjadi fanatik dan berkaca mata kuda.(mp)

Wawancara Prof. Farid: Erosentrisme dan Ilmuwan Sosial Asia

Wawancara Prof. Farid: Erosentrisme dan Ilmuwan Sosial Asia

Problem ilmu sosial di dunia ketiga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kolonialisme. Indonesia, Malaysia, Filipina mengalami masalah Erosentrisme atau ketergantungan terhadap teori sosial Eropa. Saintisme, Sekulerisme Barat menggoda sebagian kalangan muslim untuk melakukan Islamisasi sains. Sebagian lain merespon dengan cara mengkombinasikan khazanal lokal dan impor. Setelah diskusi bedah Buku Ibn Khaldun, 23/2/2017 di STFI Sadra, panitia diskusi sempat mewancarai Profesor Sosiologi dari NUS (National University of Singapore), Prof. Dr. Syed Farid Alatas. (more…)

Wawancara Dr. Sitorus; Penyelamatan Metafisika oleh Kant

Wawancara Dr. Sitorus; Penyelamatan Metafisika oleh Kant

Immanuel Kant seorang filsuf telaten, disiplin dan peduli metafisika. Dia berambisi menyelamatkan metafisika dengan memanfaatkan kejayaan dan kedigdayaan matematika dan ilmu alam pada masanya. Fisika Newton dan geometri Eucledian dianggap mampu menjelaskan konsep ruang dan waktu. Namun 10 kategori Aristoteles kemudian diadopsi Kant menjadi 12 kategori pikiran (apriori) hanya berujung pada tangkapan penampakan (fenomena). Sedangkan misi utama menangkap nomena (apa adanya) dinyatakanya nihil. Berhasilkah Kant menyelamatkan metafisika? Untuk mengetahui lebih jauh filsafat Kant, Riset STFI Sadra mewancarai salah satu peneliti Immanuel Kant, Dr. Fitzerald Kennedy Sitorus, yang telah menyelesaikan program master dan doktoralnya di tempat kelahiran Kant, Jerman. 

(more…)

Free WordPress Themes, Free Android Games