Bedah Buku Ibn Khaldun; Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim

Bedah Buku Ibn Khaldun; Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim

Departemen Riset STFI Sadra melalui Program diskusi Temu Antar Pakar (FAP), Februari 2017, menghadirkan pembicara istimewa. Bersama dengan Ic-Thusi dan Penerbit Mizan, Riset berhasil mendatangkan seorang pakar di bidang Sosiologi asal Malaysia, Prof. Dr. Syed Farid Alatas, nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan akademisi Tanah Air, untuk launching dan bedah buku versi Indonesia bersama dua pembanding dua sarjana filsafat dan tasawuf: Dr. Husain Heriyanto dan Ammar Fauzi, Ph.D.

Lewat program Field Trip, Dr. Farid datang bersama dengan 18 rombangan mahasiswa/wi  NUS (National University of Singapore) lintas-disiplin: Sosiologi, Enginering, Bahasa, Psikologi, dan Studi Asia. Field Trip ini merupakan kegiatan rutin yang dimaksudkan sebagai program di luar kampus untuk menambah wawasan dan kepekaan mahasiswa dengan cara berinteraksi langsung dengan berbagai lapis masyarakat dari berbagai negara. “Kadang 3 hari, 10 hari, berkunjung ke masjid, sinagog, gereja seperti di Turki dan Iran,” ujar Farid.

Acara dibuka dengan tilawah dan  lagu Indonesia Raya, kemudian sambutan pembukaan oleh Dr. Khalid Al-Walid, ketua STFI Sadra.  “Kampus kita kecil, tetapi mempunyai mimpi besar. Kampus ini menawarkan program S1 dalam dua prodi: Filsafat Islam dan Ilmu Alquran, program S2 dalam prodi Filsafat Islam dengan lima konsentrasi. Kita juga mempunyai program untuk Ph.D.” ujar Khalid.

Bedah buku sendiri memfokus Ibnu Khaldun dengan Tema besar “Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim”. Dr. Farid menjadi pembicara pertama. Ia mengatakan, hal yang penting ketika kita bicara pengetahuan dan masyarakat, subjek yang kita pelajari harus berhubungan dengan masyarakat kita. Dan ketika mempelajari tokoh pemikiran seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Rusdy, Max Weber, ada tiga hal yang harus kita sadari dan pahami.

Pertama, pendekatan teori, apa konsep teori itu, fondasi teori (theoretical fondation); seperti konsep mulk, ashobiah, daulah dalam teori Ibn Khaldun. Kita harus tahu konsep itu dan bagaimana konsep itu saling terhubung.

Kedua, metodologi yang dipakai seorang ilmuan; demontrasi, retorika, induksi. Kekuatan argumentasi ilmuan tergantung metodologinya.

Ketiga, sesuatu yang disebutkan oleh penulis tapi tidak berhubungan secara langsung akan tapi menjelaskan teori yang dimaksud. Sebagai contoh Ibnu Kaldun menyatakan tentang, penyebab naik turunya sebuah negara-dikatakan bahwa kebanyakan kerajaan diperintah secara tidak adil, artinya Ibnu Khaldun jarang melihat negara diperintah secara adil.

Namun, masalah kemudian timbul dalam sosiologi modern. Definisi negara adalah legitimasi (otoritas). Artinya, negara dibentuk dengan otoritas bukan paksaan. Jika rakyat percaya pada pemerintah, rakyat akan mengikuti pemerintahnya sehingga tidak perlu ada paksaan. Tetapi itu kan dalam teks sosiologi, dan itu terjadi di negara Eropa dan Barat dalam mengembangkan pemerintahannya.

Kemudian bagaimana jika kita kontraskan dengan teori Ibn Khaldun bahwa kebanyakan negara berdiri secara tidak adil. Memang kata Ibn Khaldun, sejak kekalifahan awal berdiri, pemerintahan relatif adil, tetapi setelahnya mengalami kemunduran. Nampaknya akan problematik jika kita asumsikan negara tegak dengan keadilan. Jika kita mengasumsikan negara tegak karena ketidakadilan, maka selanjutnya bagaimana kita belajar tentang negara?.

Karena itu, ketika belajar tentang korupsi di negara saya, misalnya, kita belajar kriminologi, kemudian muncul konsep negara maling (kleptokrasi). Padahal dalam realitasnya selalu ada korupsi di setiap negara. Ketika korupsi menjadi dominan maka akan terjadi akumulasi kapital.

Ibnu Khaldun bilang negara akan turun karena korupsi, sehingga isu korupsi dalam teori Khaldun juga menjadi salah satu isu utama.

Farid mengakui bahwa dia sangat terpengaruh oleh Ibn Khaldun sejak remaja dipicu oleh sang ayah ketika memberikan buku pengantar kecil tentang Ibnu Khaldun. “25 tahun saya mengoleksi dan mempelajari karya Ibnu Khaldun” katanya.

Farid menceritakan bahwa dia menulis selama 6 tahunan, “Kehidupan dan Pemikiran Ibnu Khaldun” karena ketidaksengajaan. Mulanya dia menawarkan buku penerapaan teori Ibnu Khaldun kepada Oxford akan tetapi ditolak dan disarankan untuk menulis “Kehidupan dan Pemikiran Ibnu Khaldun”.

Dalam rangka itu, Farid memberi pesan agar mengoleksi referensi buku sebanyak-banyaknya ketika meneliti, jangan berpikiran untuk menggunakanya dulu; suatu hari pasti kita akan menggunakanya. Salah satu manfaat mempelajari Ibn Khaldun ialah kita dituntut kreatif menggunakan tradisi kita sendiri. Indigeneus, sebagai rujukan adalah suatu hal yang penting.

Bedah buku dilanjutkan oleh pembicara kedua Dr. Husain Heriyanto. Ia mengekplorasi tema “Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim.” Husain memulai diskusi dengan memetakan kondisi umat Islam. Dikatakannya, telah  terjadi penurunan tradisi Intelektual di dunia muslim era sekarang, dan pada saat yang sama menghadapi tantangan dominasi militer asing, dominasi ekonomi dan budaya.

Dunia Islam juga mengalami krisis peradaban akibat munculnya radikalisme yang berakar dari ketidaktahuan dan kurangnya tradisi intelektual. Akibatnya, umat Islam secara spiritualitas menurun, dan naiknya pemahaman dan penafsiran yang sempit terhadap agama-melihat orang lain sebagai kafir dan sesat. Banyak sarjana muslim tidak tahu dan menolak kekayaan tradisi intelektual muslim sendiri, seperti menolak keberadaan Fisafat. Padahal filsafat dapat merangsang tumbuhnya tradisi intelektualitas.

Oleh karena itu, Husain menawarkan kembali pada tradisi peradaban Islam-hikmah. “In the intellectual tradition of Islamic civilization, the term al-hikmah is considered as al-’ulūm al-’aqliyyah (intellectual sciences). Ĥikmah (falsafah) is philosophy that has been a mother of the Islamic intellectual tradition (Seyyed Hossein Nasr). Islamic philosophy as well as Sufism have been source of inspiration for rational enterprises as well as spiritual journey of human being.”

Husain mengutip pandangan beberapa filsuf muslim tentang arti filsafat. Pengertian paling murni dari Al-Kindi: “philosophy is the knowledge of the reality of things within man’s possibility, because the philosoper’s end in his theoretical knowledge is to gain truth and in his practical knowledge to behave in accordance with truth”(S.H. Nasr, Islamic Philosophy, New York: SUNY, 2006) .

Sedang mengenai cakupan Filsaf dari Al-Farabi, Husain memaparkan, “philosophy is the knowledge of existents qua existents. Philosophy is the mother of the sciences dan dealt with everything that exists. There is nothing among existents in the world with which philosophy is not concerned. Ĥikmah is the perfection of the human soul through the conceptualization of things and the judgment of theoretical and practical truths to the measure of human capability.

Philosophy is the knowledge of existents qua existents. Philosophy is the mother of the sciences dan dealt with everything that exists.  There is nothing among existents in the world with which philosophy is not concerned (Ibn Sina). Hikmah is the perfection of the human soul through the conceptualization of things and the judgment of theoretical and practical truths to the measure of human capability (S.H. Nasr, ibid).

adapun dalam pandangan Ikhwan al-Shafa, cakupan filsafat yaitu the beginning of philosophy is the love of the sciences; its middle is knowledge of the reality of things to the extent to which man is capable; and its end is speech and action in conformity with this knowledge”–Loving and seeking knowldge as a human passion & spirit, Knowledge of the reality of things ( believing in human reason capacity), Integration between theoretical and practical dimensions, (Rasa’il Ikhwan al-Safa).

Mulla Shadra berkata, “Falsafah adalah proses penyempurnaan jiwa manusia (istikmalu al-nafs al-insaniyyah) melalui pengetahuan (bi ma’rifah) realitas segala yang ada (al-mawjudat) sebagaimana ia ada (ma hiya) dan melalui putusan (al-hukm) tentang wujudnya yang diperoleh dengan bukti-bukti demonstratif (al-barahin) dan tidak muncul dari prasangka (zhan) dan peniruan buta (taqlid) ” (Mulla Shadra, Al-Asfar al-Arba’ah, vol. 1, 2002, hal. 47).  Juga dalam hadis nabi, Rabbi, arina al-asy-ya kama hiya.

Kemudian Aristoteles, Al-Farabi, Ibn Sina membagi filsafat kedalam dua aspek: teori (Matematika, Fisika, Metafisika), dan praktek (Etika, Ekonomi, Politik).

Husain mengatakan bawha telah terjadi paradox dalam masyarakat muslim. “Satu sisi kita tahu salah satu pesan utama Islam adalah mencari pengetahuan (hikmah) (QS. 2: 269), hadis nabi: mencari pengetahuan adalah kewajiban setiap muslim,  juga pernyataan Imam Ali, puncak kebajikan adalah pengetahuan. Akan tetapi, banyak ruang perpustakan kosong meski perpustakan sudah di bangun dengan cukup mewah. Inilah salah satu indikasi penurunan tradisi intelektual Islam. Pada saat yang sama, tindakan ekstrimisme naik di dunia muslim terjadi karena faktor ketidaktahuan. Seperti dikatakan Ibnu Rusdy, ignorance leads to tear, tear leads to hate, adn hate leads to violence.”

Indikasi yang lain adalah sebagian masyarakat muslim menolak dan mengutuk tasawuf dan filsafat. Padahal Filsafat adalah induknya pengetahuan. Filsafat merangsang manusia mencari realitas apa adanya (realitas objektif), tidak hanya realitas iktibari (konstruksi mental). Salah satu problem kita yang lain adalah kita tidak bisa mendevelop ilmu terutama ilmu sosial karena lemah dan ketidakpedulian kita pada filsafat.

Merespon pembicara pertama dan kedua, pembicara ketiga Ammar Fauzi, Ph.D mengamini, memang isu legitimasi amat krusial, khususnya dalam komunitas yang baru. Ammar juga menyoroti ketidaktahuan yang, dalam kata-kata Ibn Rusyd, dapat menghantarkan pada tindak kekerasan. Namun sebaliknya, dalam analisis Ammar, Ibn Khaldun justru menyimpulkan penindasan berawal dari ketahuan atau dari saking dalamnya penguasa menguasai masalah. “Selebihnya akan saya paparkan dalam presentasi”, ujar Ammar.

Ammar menyarankan untuk keluar dari mental inferior di hadapan Barat. Satu contoh, dalam sejumlah literatur sosiologi, Ibn Khaldun kerap disebut-sebut sebagai West Montesque, padahal Ibnu Khaldun lebih dahulu ketimbang Montesque. Oleh kalangan ahli di Barat sendiri, tokoh Muslim ini diakui sebagai bapak sosiologi. Justru posisinya harus dibalik, Montesque dialah yang setepatnya disebut sebagai East Ibn Khaldun. Teorinya tentang kondisi natural masyarakat sangat dekat dengan masyarakat ashabiyyah Ibn Khaldun.

Untuk itu, Ammar menegakan, Jika kita ingin membuat peradaban, maka penting untuk mengetahui seberapa besar kapasitas kita dalam membangun, untuk itu perlu mengamati bentuk-bentuk penindasan intelektual seperti yang dilakukan terhadap Ibn Khaldun.

Ammar Fauzi kemudian menjelaskan secara lebih detil dalam materi presentasinya berjudul, “Denyut Krisis Kebangsaan dalam Patologi Sosial”. Berbasis teori Ibnu Khaldun, Ammar menjelaskan faktor-faktor kerentanan sosial melalui sebuah pemetaan.

Terdapat beberapa faktor penyebab kerentanan sosial; 1. Kondisi alami (Iklim 1, 2 ,3, 4, 5, 6, 7, 8 (iklim 4 imbang) 2. Insani/pola hidup (primitif atau beradab), 3. Penguasa/karakter sosial (terlampau cerdas dan rezim kebenaran), 4. Populasi ( wabah, kematian, krisis pangan, imigrasi) 5. Masa Transisi (perusakan pusaka, konflik antarkubu). Kondisi alam sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim, terdapat 7 iklim. Iklim terjadi seperti bola bumi, terjadi titik ektrem; kutub selatan dan utara, timur dan barat, dan titik 4 menempati titik keseimbangan dan  yang paling layak dihuni.

Untuk memahami iklim ini Ammar menyarankan untuk memperhatikan analisa Jenderal Nurmantyo. “Saya merekomendasi untuk melihat pemaparan Panglima Gatot Nurmantyo bahwa Indonesia, 50 tahun ke depan akan mengalami persoalan iklim, terkait dengan sumber alam, tambang dan sumber daya manusia; akan ada eksodus besar dari bangsa lain, entah dari Barat dan Timur”.

Artinya faktor lingkungan sangat mempengaruhi perilaku, mentalitas bawaan seseorang yang juga pernah dinyatakan oleh Montesque. Menariknya salah satu penyebab krisis sosial justru karena penguasa terlalu cerdas, terlalu menguasai masalah. Dia yang paling mampu mendefinisikan kebenaran. Setiap kebenaran di luar definisi dan kerangka rezim penguasa akan dibredel. Akibatnya akan muncul totalitarianisme.

Dari bagan patologi sosial, Ammar kemudian memetakan teori Ibn Khaldun tentang karakter faktor insani ( pola hidup) yang bisa mencerminkan karakter sebuah bangsa.

.

Pola hidup manusia yang pada akhirnya bisa membentuk karakter bangsa terbagi dalam dua karakter; politik beradab dan primitif. Politik yang kita pahami sebagai beradab sebenarnya menyimpan penyakit bawaan; konsumerisme, glamorisme, turunnya nasionalisme. Hal ini akan membawa perubahan karakter; rasis, berlebih lebihan, menindas, kompetisis kekayaan dan obral nafsu.

Rasis dan fasis bisa mengakibatkan KKN dan pemberontakan, budaya berlebih-lebihan mengakibatkan anggaran besar, sehingga penguasa tergoda menaikkan pajak. Timbul penindasan, karena pajak dinaikkan dan penjualan aset SDA dan SDM. Brutalnya kompetisi kekayaan menimbulkan krisis kepercayaan diri dan rakus. Bangsa yang dikuasai nafsu mengakibatkan sifat hedonisme dan sifat malas. Sedangkan karakter primitif justru menaikkan nasionalisme dan menumbuhkan karakter mulia dan mencapai titik imbang.

Sebagai penutup, Ammar menyarankan untuk selalu melihat kondisi kontemporer sebagai bagian dari penajaman pemahaman dan pengalaman berfilsafat.

Acara bedah buku berlangsung pada 02 Februari, di Lt. 04 STFI Sadra, dihadiri antusias oleh para peneliti dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di sekitar Jakarta. (ma’ruf)

Wawancara Ammar Fauzi; Kunci Pemikiran Iqbal

Wawancara Ammar Fauzi; Kunci Pemikiran Iqbal

Beberapa menit sebelum Bedah Buku “Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam” karya Muhammad Iqbal di Fakultas Filsafat (9/11/16), Kanal Pengetahuan dan Informasi (KPI) Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, sempat mewancarai Ammar Fauzi, Ph.D. Perbincangan berlangsung sekilas seputar kaitan filsafat Iqbal, filsafat Islam, dunia Islam dan filsafat Yunani. Berikut transkip percakapan yang berhasil diolah oleh tim redaksi buletin Riset Sadra.

Apa Kunci Pemikiran Iqbal?

AM: Sejauh yang saya amati dalam “Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam” karya Iqbal, jantung pemikiran Iqbal ada di al-Quran sebagai motor perubahan, baik sebagai pola berpikir dan pola hidup.

Sejauhmana Iqbal mengenal Filsafat Islam, berkaitan dengan karya Iqbal yang berbahasa Persia?

AM: Jelas saya kira, Iqbal berkenalan dengan Filsafat Persia. Tetapi, apakah karya itu mewakili keseluruhan Filsafat Persia. Yang diamati oleh Iqbal perlu ditinjau secara kritis, mengingat ada sistem Filsafat Persia yang menjadi bapak Filsafat namun tidak disinggung Iqbal, yaitu Ibnu Sina, terutama Shurowardi, dengan filsafat Iluminasinisme.

Apa tidak disinggung sama sekali?

AM: Disinggung, akan tetapi hanya beberapa kali saja, dipakai untuk menguatkan seperti Filsafat Ibnu Maskawaih. Justru uniknya, menurut Iqbal, babak terakhir dari Filsafat Persia ada di Babiyah, saya kira perlu di kritisi mengingat Babiyah bukan aliran Filsafat, bukan Metafisika akan tetapi teologi, kecuali kita maknai Metafisika mencakup teologi, maka akan masih bisa dibenarkan. Akan tetapi kalau kemudian menjadi babak terakhir Metafisika Islam, Filsafat Persia maka akan rancu, mengingat Babiyah sendiri satu pola pikir yang berorientasi politik, justru berkembang basisnya di Israel. Kalau kita ingin tahu dimana Babiyah berada, yaitu di Haiva.

Apa komentar bapak, mengingat Iqbal agak pesmis dengan tradisi Yunani?

Iqbal mengidentifikasi ada beberapa persoalan dunia Islam. Pertama, pola berpikir abstrak dari Yunani; tidak berpikir konkret yang mempengaruhi dunia Islam, tidak menghormati alam, tidak ada kaitan dengan alam, sementara banyak ayat Al-Quran terkait dengan alam seperti: madu, semut, lebah. Kedua, pola berpikir negatif seperti: asketisme, zuhud, menghinakan diri untuk mendapatkan keutamaan nilai yang tinggi. Itu yang diperangi Iqbal. Iqbal mengajak umat Islam berpikir saintifik sesuai dengan kandungan ayat Al-Quran berkenaan dengan alam.

Bagaimana titik persinggungan Filsafat Islam dengan Filsafat Plato dilihat dari Filsafat Islam?

Persinggunganya cukup jelas. Dari sisi peradaban, Filsafat Islam berasal dari Barat. Artinya, pertama, itu dipicu oleh utamanya penerjemahan karya-karya filsafat Barat. Kedua, titik temunya ada di pola berpikir, yaitu sama-sama mengajak berpikir logis. Ketiga, ditingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu dari sisi spiritualitasnya, utamanya filsafat Plato, dimana kita diajak untuk keluar dari alam materi, dan mengalami alam yang lebih tinggi, kadang disebut mentari, sebagai sumber cahaya, sumber wujud, sumber kebaikan, nah.. di kita ada, utamaya dalam tradisi tasawuf, keluar dari alam materi, sampai menyatu pada Tuhan. Dalam Neoplatonisme, derajat itu disebut satu, derajat tertinggi untuk kemudian kembali lagi ke alam materi.[mp]

Wawancara Wardah Al-Katiri Ph. D: Filsafat, Irfan, dan Lingkungan

Wawancara Wardah Al-Katiri Ph. D: Filsafat, Irfan, dan Lingkungan


“Setiap generasi mempunyai kecerdasan masing-masing dalam menangkap zaman. Kimia, industrialisasi, Pembangunan, Filsafat Islam, Irfan, pecinta alam dan bertani. Sederet pengalaman inilah yang mewarna perjalanan hidup Wardah-dari teori hingga praktek. Sidang pembaca terhormat, mungkin ada yang frustasi dan bosan belajar Filsafat Islam dan Irfan. Tapi tidak bagi ibu pecinta lingkungan ini, karena rasa empati terhadap masalah kerusakan alam selalu di pupuk. Meski usia terus menua, Wardah masih giat meneliti. Singkat kata, kesimpulan sementara redaksi, Irfan itu ujungnya tanggung jawab semampunya, bukan persoalan kognitif semata. Benarkah?, ..bu Wardah berbagi pengalaman dengan kita…” (more…)

FAP: Undangan Diskusi Bedah  Buku Ibn Khaldun

FAP: Undangan Diskusi Bedah Buku Ibn Khaldun

Press Release
Diskusi  dan Bedah Buku Ibnu  Kaldun

Tema:

“Knowledge and Philosophy in Muslim Society”
Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarat Muslim

“Masyarakat muslim sekarang mengalami penderitaan serius-penuruan tradisi intelektual. Salah satu efek yang dihasilkan adalah naiknya ektrimisme dan pemahaman yang dangkal terhadap ajaran Islam. Sementara pencarian pengetahuan adalah tugas dari agama. Pencarian pengetahuan dan kebijakan adalah salah satu pesan utama ajaran Islam”.

Departemen Riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra berkolaborasi dengan Ic-thusi, NUS (National University of Singapore) akan menyelenggarakan acara diskusi dan peluncuran buku terbitan Mizan; Ibu Kaldun, Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi karya Prof. Dr. Syed Farid Alatas (Departments of Sociology and Malay Studies, National University of Singapore).  Tema diskusi “Pengetahuan dan Filsafat dalam Masyarakat Muslim. Dr. Farid berencana akan membawa rombongan mahasiswanya dari National University of Singapore untuk berdialog dengan mahasiswa/wi STFI Sadra.

Panitia mengundang penulis buku dari Malaysia sebagai pembicara utama.  Dr. Farid akan menggunakan materi buku tersebut sebagai bahan untuk menganalisa problem umat Islam. Diantaranya solusi alaternatif ketergantungan dunia Islam pada teori-teori barat terutama sosiologi. Dr. Farid akan memetakan dan mensosialisasikan gagasan Ibnu Kaldun.

Ibnu Kaldun adalah ilmuan muslim yang berpengaruh besar terhadap pemikiran eropa abad ke 20. Dia terkenal dengan sebutan pelopor sosiologi dan historiografi. Meski sebagian menganggap Ibnu Kaldun hanya memodifikasi gagasan al-Farabi dan Ikhwan al-Shafa, tapi banyak menganggap patut di sejajarkan dengan sosiolog Barat dari Macheavelli hingga Marx.

Penulis buku ini akan mengulas metodologi pemikiran Ibnu Kaldun seperti metodologi dalam penulisan sejarah dan tujuanya,  ilmu masyaratkat atau ilmu organisasi-sosial manusia, faktor-faktor penyebab kehancuran sebuah negara, cara mengetahui laporan sejarah layak diterima atau tidak.

Penulis juga secara khusus akan memaparkan pendidikan, pengetahuan dan masyarakat versi Ibnu Khaldun. Kemudian dari saripati gagasan Ibnu Kaldun penulis akan mendialogkan dengan problem yang terjadi pada umat Islam.

Masyarakat muslim sekarang mengalami penderitaan serius-penuruan tradisi intelektual. Salah satu efek yang dihasilkan adalah naiknya ektrimisme dan pemahaman yang dangkal terhadap ajaran Islam. Sementara pencarian pengetahuan adalah tugas dari agama. Pencarian pengetahuan dan kebijakan adalah salah satu pesan utama ajaran Islam.

Pembicara kedua Dr. Husain Heriyanto, Direktur ic-thusi (International Conference on Thoughts on Human Sciences in Islam), lembaga yang fokus pada pengembangan ilmu-ilmu sosial kemanusian berbasis Islam akan berbicara dari prespektif Filsafat Islam.

 Sedangan pembicara  ketiga, Ammar Fauzi, Ph,D (Deputy Riset STFI Sadra) akan memberikan tanggapan, refleksi dan prespektif global dari kedua pembicara.

Acara ini merupakan kegiatan rutin FAP (Forum Antar Pakar) program diskusi Riset STFI Sadra yang secara khusus menghadirkan pembicara nasional dan Internasional dari luar STFI Sadra.Even ini juga merupakan kegiatan peluncuran buku perdana Ibnu Kaldun, yang selanjutnya akan di bedah di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Acara bertempat di Lt.04, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jln. Lebak Bulus II, No. 2, Kamis, jam 09.00-13.130 Wib, 23/2/2017. Program ini di dukung secara penuh oleh; Departemen Riset STFI Sadra, ic-thusi, NUS (National University of Singapore), MIZAN, FAP: Forum Antar pakar, Jurnal Kanz, Jurnal Tanzil, Sadra International Institute, Sadra Press dan theosophia.

Cp: Iman ( 085716482737)
Putri (082247247657)

Free WordPress Themes, Free Android Games