Identitas dan Karakter Filsafat Islam

Identitas dan Karakter Filsafat Islam

Ammar Fauzi, Ph.D. Kabid Riset STFI Sadra

 

Sudah cukup lama filsafat Islam dikenalkan dan dikembangkan di berbagai forum serta media di tanah air. Tanpa menampik pengaruhnya, masih ada pesimisme kuat tentang eksistensi dan identitas filsafat Islam hingga memunculkan pertanyaan: adakah filsafat Islam?

Gejala itu tampak krusial dengan adanya keraguan terhadap studi dan telaah filosofis yang kerap dilapisi muatan wahyuni sehingga dinilai bukan filosofis lagi dan memunculkan pertanyaan: apa bedanya dengan Kalam dan teologi?

Ini belum lagi belakangan menguat gugus keraguan terhadap pembumian filsafat Islam hingga memunculkan keputusasaan dan penilaian atas kegagalan kalangan yang selama ini membuka pembelajaran formal atau informal filsafat Islam di tanah air, lantas muncul pertanyaan: apakah filsafat Islam diperlukan dan efektif?

Pertanyaan-pertanyaan ini sudah lama bermunculan, sudah lama pula difokus dan direspon secara teoretis maupun praktis. Salah satunya, di sini akan didudukkan relasi antara filsafat dan Islam dengan cara meninjau kembali filsafat dan Islam melalui dua pertanyaan: apakah filsafat dan apakah Islam. Pertanyaan ini disoroti sepintas sambil meninjau realitas filsafat dalam tradisi Barat dan peradaban Islam.

 

Apakah filsafat?

Secara leksikologis, filsafat dipadankan oleh para filosof Muslim dengan kata al-hikmah atau kebijaksanaan. Masih oleh para filosof Muslim, ia juga dipadankan dengan ilāhiyyāt, yakni ketuhanan.

Secara etimologis, filsafat dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab (al-falsafah). Kata Arab ini serapan dari bahasa Yunani Yuno, philasophia, yaitu kata bentukan dari dua kata dasar: phila yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Kebijaksanaan di sini mencakup kenyataan, kebenaran dan kebaikan; nilai ontologis, epistemologis dan aksiologis.

Karena itu, dalam Metaphysics, Aristoteles memfokuskan semua studi di dalamnya pada tiga poros utama: asal Ada, dasar pengetahuan, dan motif tindakan. Ini selari dengan pembagian filsafat (teoretis dan praktis) juga sistem kausalitas yang dibangunnya dalam kerangka Empat Sebab. Karena meneliti asal Ada hingga Tuhan (to theon) sebagai Asal segala adaan, ilmu ini juga dinamai Aristoteles dengan theologike, yakni ketuhanan.

Entah siapa yang pertama kali memadankan, para filosof Muslim sudah cukup memadankan philasophia (cinta kebijaksanaan) dengan salah satu makna dasarnya saja, yaitu al-hikmah atau kebijaksanaan, dengan meninggalkan makna dasar lainnya, yakni cinta. Ini dapat dimengerti mengingat dalam hikmah sudah terdapat cinta dan, lantaran seakar kata, hikmah itu pula menjadi dasar hukm (kebijakan) serta asas hukm (kekuasaan dan pemerintahan). Jika tidak demikian, maka filsafat tanpa politik seperti kepala melayang tanpa badan, dan politik tanpa filsafat seperti badan berjalan tanpa kepala. Sama-sama mengerikan, bukan!

Maka sejak awal kali digagas, filsafat dan hikmah sesungguhnya merupakan alat, bukan tujuan, untuk membina diri dengan pengetahuan dan cinta, dengan nalar dan hati, dengan kemanusiaan dan ketuhanan, dengan realitas dan idealisme, dalam rangka menghasilkan kebijakan dan keutamaan untuk pengelolaan jiwa serta kehidupan politik dan kekuasaan.

 

Apakah Islam?

Sederhananya, Islam yaitu ajaran-ajaran Tuhan berupa wahyu yang diterima utuh oleh Nabi Muhammad SAW dan tertuang dalam kitab suci bernama Alquran dan hadis shahih.

Dalam klasifikasi umum, ajaran Islam terbagi kepada tiga kategori: akidah, akhlak dan syariat (hukum-hukum praktikal).

 

Apakah relasi antara filsafat dan Islam?

Perbandingannya dengan subjek-subjek filsafat, akidah berelasi langsung dengan asal Ada, akhlak berelasi langsung dengan motif tindakan, dan syariat dengan kebijakan dan pengelolaan kehendak di tingkat personal, sosial hingga politik (kekuasaan). Adapun asal pengetahuan dan nilai kebenaran tampak dalam falsafah (tujuan diturunkannya) Alquran sebagai sumber hidayah (pemberi petunjuk kebenaran dan kebaikan) serta pengungkap kehendak Tuhan.

Setiap orang bisa saja meneliti subjek-subjek filsafat dan ajaran-ajaran Islam itu dengan metode dan pendekatannya yang khas. Namun, filosof akan menelitinya berdasarkan metode rasional dan demonstrasi dalam silogisme logis yang berbasis di atas swanyata-swanyata primer (al-awwaliyyat).

 

Adakah Filsafat Islam?

Dengan pembandingan tadi, setidaknya ada relasi antara filsafat dan Islam. Frasa “Filsafat Islam” sudah dapat dibenarkan secara kebahasaan dengan sekedar adanya kohesi antara dua sesuatu sehingga yang satu dapat berelasi atau direlasikan dengan yang lain. Maka, filsafat Islam yaitu filsafat yang, dari satu atau lain sisi, berelasi dengan Islam.

Selain ada relasi dalam subjek, Islam juga dalam metodenya menekankan rasionalitas (penggunaan akal), juga dalam prakteknya mengaplikasikan cara menggunakan akal untuk mengajarkan keimanan pada banyak ajarannya. Kuatnya ajaran rasionalitas dalam Islam seolah-olah agama ini identik dengan akal sehingga tidak bernilai keberagamaan seseorang bila tidak didasarkan pada argumentasi akal.

Ajaran ini selanjutnya menjadi tradisi dan budaya di kalangan umat Islam, terutama filosof Muslim. Mereka terbuka menyerap dan aktif mengalihkan budaya asing, yakni Barat (Yunani), ke dalam tradisi keberagamaan mereka. Upaya ini, selain dihadang oleh berbagai tantangan internal awam dan elite umat Islam, merupakan kontribusi besar filosof Muslim membangun abad keemasan peradaban Islam. Kesungguhan mereka bertahan kokoh meski beresiko terancam berbagai intimidasi, persekusi, pemenjaraan, pembunuhan jiwa hingga pembunuhan karakter.

 

Karakter Dominan Filsafat Islam

Mengacu latar belakang leksikologis, etimologis, metodologis, historis dan fenomenologis filsafat Islam serta filosof Muslim, identitas Filsafat Islam sebagaimana adanya dapat diartikulasikan sepanjang karakter-karakter dominan berikut ini:

 

  1. Realisme

Filsafat Islam menampakkan identitas awalnya dari perlawanannya terdahap sofisme dan skeptisisme, termasuk pluralism kebenaran. Buku-buku klasik Filsafat Islam ghalibnya membuka pembahasan mereka dengan mendiskusikan posisinya di hadapan klaim-klaim sofistik dan skeptisistik.

 

  1. Ontologi

Yakni, fokus pada Ada sebagai Ada. Pada mulanya, sejak era awal kehadirannya dalam tradisi Islam, filsafat identik dengan ilmu. Maka, filosof yaitu ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu. Pengembangan dan evolusi filsafat Islam berikut pembidangan dan interdisiplin di dalamnya tidak mereduksi fokusnya pada subjek utama Ontologi atau Metafisika, yakni Ada sebagai Ada.

 

  1. Teologi

Yakni, berorientasi ketuhanan dan keimanan. Semua filosof muslim adalah teolog dan mutakallim yang juga menelaah isu-isu teologi dengan nalar filosofis. Kini, penyebutan “teologis” terkesan stigma dan cara menyusut nilai ketelitian filosofis seolah-olah bukan filosofis lagi, bahkan dalam rangka menunjukkan tidak ada filsafat dalam Islam; yang ada hanyalah teologi dan Kalam, atau seolah-olah filsafat Islam itu dogmatis dan tidak rasionalis.

 

  1. Rasionalisme

Filsafat Islam berlandaskan pada nalar dan akal budi dalam metode penelitian masalah sebagaimana . diatur dalam Logika Silogisme. Pengembangan filsafat ke berbagai arus utama (Filsafat Kepejalanan, Filsafat Pencerahan, Kebijaksanaan Utama) dalam tradisi Islam tidak mengganggu, kalau bukan malah mengokohkan, keutuhan karakter rasionalistik para filosof semua arus tersebut.

 

  1. Foundasionalisme

Konstruksi rasionalisme filosof muslim terbangun dalam pola fondasionalis. Koherentisme dianut sejauh berada dalam pola fondasionalisme. Identitas ini dapat ditarik dari identifikasi pengetahuan ke dalam dua macam: hudhuri dan hushuli, lalu badihi (swanyata) dan nadzari (non-swanyata).

 

  1. Konsistensi dengan agama

Yakni, komitmen pada teks agama. Bagi filosof Muslim, kaidah filsafat tidak bertentangan dengan ajaran agama dan, karena itu, dalam tradisi Filsafat Islam, isu relasi antara agama dan akal tidak menemukan signifikansi dan urgensitasnya secuali sebatas kebutuhan mereaksi kekuatiran sebagian kalangan. Dalam tradisi para filosof, konsistensi ini tampak sepanjang komitmen dan kesalehan diri mereka pada hukum agama sebagai hafidz Alquran hingga menjadi mujtahid (mufti agung).

 

  1. Kecenderungan tafsir

Dalam karya-karya filsafat Islam sudah biasa dijumpai ayat-ayat suci. Para filosof Muslim menafsirkan ayat dalam karya filsafat mereka. Bahkan vase terakhir dari pengalaman intelektualnya dinyatakan dalam bentuk karya tafsir atas satu ayat atau surah atau keseluruhan Alquran.

 

  1. Teosis

Yakni kecenderungan tasawuf. Dalam salah satu definisinya yang paling tua, filsafat yaitu serupa dengan Tuhan (al-tasyabbuh bi al-Ilah). Filosof muslim, bila tidak jadi sufi (irfan amali), setidaknya jadi peneliti tasawuf (irfan nadzari). Setiap filosof adalah sufi, tetapi tidak sebaiknya; tidak setiap sufi itu filosof. Karakter ini yang paling berpotensi mengejawantahkan muatan cinta dari dalam filsafat.

 

  1. Absolutisme

Yakni, keyakinan pada adanya kebenaran mutlak; manusia bisa mengetahui kebenaran mutlak. Ini sebagai kontradiktif dengan klaim skeptisisme bahwa tidak ada kebenaran mutlak, semua kebenaran itu relatif. Absulutisme ini sebangun dengan karakter realisme.

Absolutisme ini boleh jadi terkesan radikal dan ekstrem dalam menganut nilai pengetahuan, namun kesan itu tidak muncul apalagi menjadi pola filosof dalam bertindak dan berinteraksi sosial. Sebaliknya, para filosof selain sukar dijumpai berperilaku radikal, justru kerap menjadi korban radikalisme dari awam maupun elite ilmu pengetahuan dan kekuasaan.

 

  1. Perspektivisme

Yakni, mengamati masalah dari sudut pandang tertentu yang diungkapkan dengan kata-kata min haytsu (dari segi) atau bi ma huwa (qua/sebagai). Dalam bidangnya yang paling fundamental, paling umum dan paling abstrak, Metafisika atau Ontologi mengamati subjek utamanya dengan menggunakan frasa tersebut, al-mawjud bi ma huwa mawjud, atau tentang kuiditas, misalnya, al-mahiyyah min haytsu hiya hiya. Karena itu, dalam adagium Syahid Muthahari dinyatakan, law la al-haytsiyyat la bathalat al-falsafah. Ini juga dikuatkan dengan penggunaan konsep-konsep filosofis (ma‘qulat tsaniyah falsafiyyah) yang bercirikan komparatif, relasional, dan gradasional.

Mengamati dan memilah aspek pada suatu masalah (subjek) menghasilkan ketelitian dengan lima kualitas:

  1. Detail dan analitis
  2. Komprehensif
  3. Adil dan objektif
  4. Akomodatif
  5. Toleran

 

  1. Interdisiplin

Karakter ini sejak awal telah menjadi implikasi praktis dari pembagian dan telos filsafat. Sementara pada prakteknya, para filosof Muslim, seperti pada pendahulunya dalam tradisi Yunani, menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk seni, sastra bahasa hingga kedokteran. Kini, dalam studi interdisiplin, filsafat Islam kontemporer menemukan medan aplikatifnya, maka ada filsafat etika, filsafat politik, filsafat jiwa, filsafat logika, filsafat ilmu, filsafat kedokteran, filsafat dengan anak-anak, ada juga filsafat-nya filsafat.

 

  1. SOP Penelitian

Studi atas masalah-masalah dalam filsafat Islam ditempuh sesuai prosedur standar yang mentradisi di kalangan para filosof Muslim. Prosedur itu dirumuskan secara indah oleh Mulla Hadi Sabzawari dalam seutas bait puisi di awal bagian Logika Al-Manzhumah:

Pokok masalah itu tiga

apakah, adakah, mengapa.

Tiga pertanyaan kunci ini selanjutnya diurai, minimal, masing-masing kepada dua pertanyaan hingga, totalnya, ada enam pertanyaan kunci: (1) apakah pertama dan (2) apakah kedua (esensial), (3) adakah sederhana dan (4) adakah ganda, (5) mengapa ontologis dan (6) mengapa teleologis.

 

Bagaimana Penerapan Filsafat Islam di Tanah Air?

Tentu ada saja kendala internal yang, entah sengaja atau tidak, dibuat oleh kalangan para filosof dan peminat filsafat hingga menghambat laju penerapan yang dimaksud. Namun juga ada banyak alasan dan peluang yang cukup luas mengadaptasikan filsafat Islam sebagai unsur penting peradaban Islam yang beridentitas unik di tengah palagan pengembangan berbagai arus filsafat di Indonesia.

Peluang-peluang itu dapat digali dari sejarah Islam di Indonesia, peran dan karya ulama yang berorientasi kesufian, perkembangan khazanah filsafat Barat dan filsafat Islam berbahasa Indonesia, perkembangan ilmu-ilmu Alquran, kearifan lokal dalam skala Nusantara dan, tentu saja, Pancasila. Dalam ideologi negara ini, hikmah digabungkan sekaligus dengan kebijaksanaan sebagai pemimpin yang mengatur hubungan permusyawatan antar elemen bangsa, termasuk antara kerakyatan dan kekuasaan.

Filsafat Islam, idealnya dan dalam tradisinya, bersentuhan secara langsung terutama dengan isu-isu sosial dan politik, tentunya dengan mendudukkan filsafat kembali ke raison d’etre dan elan vital-nya, yaitu sebagai upaya rasional dan intuitif meneliti kedalaman fundamental masalah: asal Ada, dasar pengetahuan, dan motif tindakan. Seperti dikutip Mulla Sadra di pembukaan karya agungnya, al-Hikmah al-Mutal’aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, fundamentalitas ini terumuskan dalam kata-kata Ali bin Abi Thalib:

Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada orang yang menyiapkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk kematiannya serta dia tahu: dari mana, di mana dan akan ke mana.”

Free WordPress Themes, Free Android Games