Finding An Onto-Epistemological Basis For HumanCoexistence In Ibn ‘Arabi’s Sufism: Toward A Compassionate Ethics

Finding An Onto-Epistemological Basis For HumanCoexistence In Ibn ‘Arabi’s Sufism: Toward A Compassionate Ethics

PROSIDING KONFERENSI
International Conference on Islamic Philosophy (ICIPh) 2019

Hadi Kharisman
Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jakarta
hadikharisman@gmail.com

Abstract
The article departs from my concern of the human faded affection to each other, the wining appreciation of fair and civilized humanity in the increased hatred, exclusive attitude and violence among human. This concern increases by the fact that religions, especially Islam, are frequently become scapegoats of many violence. Unfortunately, the fact that some of religions’ adherents understand religion reductively—only exoterically, as the implementation of the faith and of obligatory values in a mere formal aspect with lack of spiritual con-science and with alienated awareness from the reality and humanity—and promoting violence in the name of religion takes the impression as if it is true. In this context, religiosity has been exhibited in a dehumanized attitude—that may justify horizontal destructions, hatred dissemination to ‘the other’, terror acts as sacred with the use of religious symbols and threatens our global society— instead of in their conciliatory and compassionate positions that supports a human coexistence.

In this regard, how much clear the availability of ethical norms in religion doctrinally advocating a compassionate coexistence is, it in turn will take in biased standpoint in lack of spiritual esoteric understanding, as can be seen that some of religious groups identified their violent propagandas in reference to religious normative teachings. The adequate standpoint is required in the process of understanding religion. It should come from the deep aspects of religion itself, one of which is esoteric or spiritual aspect; and it should echo the true characteristic of religion, as the universal mercy for all.

This topic is an inquiry on the possibility of the onto-epistemological as well as ontotheological basis on which we may draw the compassionate vision for human coexistence its ethical implications. In this regard, I prefer to take it from Ibn ‘Arabi’s doctrines as he is one of the great scholars in Islamic Mysticism, that widely known as a tradition that intensively promotes an inclusive spirituality. The focus of this topic does not deal much with the ethics in its normative sense, but it deals with the study of some esoteric-philosophical foundations that relevant as the underlying worldview for certain ethical standpoint.

Keywords: Tawhîd, Being, relationality, openness, coexistence,  compassion, care, extremism, global societ.

Naskah lengkap, download pdf. di sini

 

Teknologi dalam Visi Filsafat Hikmah Muta’aliyah

Teknologi dalam Visi Filsafat Hikmah Muta’aliyah

PROSIDING KONFERENSI
International Conference on Islamic Philosophy (ICIPh) 2019

Nano Warno
Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA
Email: nanowarno@gmail.com

Makalah ini ingin menganalisa diskursus teknologi lewat perspektif filsafat Hikmah Muta’aliyah Mulla Sadra. Filsafat Hikmah Muta’aliyah Aliran ketiga dalam filsafat Islam yang berhasil menghamorninasiskan nalar burhan, wahyu dan kasyaf dan menjadikan wujud sebagai prinsip utamanya. Filsafat Hikmah Muta’aliyah memiliki kapital yang melimpah ruah yang dapat menginspirasi, sebagai pisau analisis, memformat ulang, mendekonstruksi dan merekonstruksi kembali berbagai diskursus sejarah, etika, fikih, ekonomi, politik, psikologi, sosial budaya dan sebagainya. Dan itu juga membuktikan bahwa Filsafat kembali lagi menemukan posisi sentral dirinya sebagai ratu ilmu-ilmu.

Kesuksesan Mulla Sadra sebagai arsitek aliran filsafat Hikmah Muta’liyah selain kekayaan metodologinya juga karena prinsip dasar filsafatnya yaitu wujud (ashalatul wujud). Prinsip kemendasaran wujud (ashalat wujud ) ini sangat unik karena menghidupkan kembali jantung realitas yang mulai diabaikan oleh para ilmuwan berbagai disiplin . Filsafat Hikmah Muta’aliyah seolah-olah ingin mengingatkan kembali saripatikehidupan yang dinamis yang mengisi segala relung-relung gradasi realitas dari level spekulatif dengan segala tingkatannya dari yang terlemah hingga yang paling kuat dan menyentuh level praktis yang digerakan oleh emosi, perasaan, hingga yang berasal dari renungan pemikiran para empu.

Wujud dalam hikmah Muta’aliyah bukanlah realitas statis tapi sangat dinamis yang merentang dari wajibul wujud hingga wujud potensi dengan modus-modusnya yang sangat dinamis yang hanya bisa difahami secara mendalam dengan pengalaman langsung dalam ombak bahtera wujud yang selalu bertransformasi. Salah satu isu yang banyak dibicarakan sekarang adalah perkembangan teknologi dengan segala jenisnya yang mencengangkan, yang dapat memicu revolusi peradaban dengan segala efeknya yang negatif atau positip. Teknologi di era sekarang tidak dapat diabaikan perananya.

Teknologi dapat mengobrak-abrik sebuah bangsa. Namun teknologi juga bisa bertransformasi lebih manusiawi dari manusia sehingga teknologi dianggap solusi sangat cerdas untuk menyelamatkan spesies manusia dari berbagai penderitaan kejiwaan, kemiskinan, dan juga menghadirkan masa depan yang lebih ceria. Teknologi dalam visi hikmah Muta’liyah lahir dari pandangan tentang alam sebagai tingkatan wujud yang selalu bertransformasi (harakah jawhariyah). Teknologi harus selaras dengan proses penyempurnaan manusia dan membantu penyempurnaan spekulatif dan praxis.

Naskah lengkap, download pdf. di sini

Islam and Civil Society: Toward Democratization of Ummah in the Light of Plurality

Islam and Civil Society: Toward Democratization of Ummah in the Light of Plurality

PROSIDING KONFERENSI
International Conference on Islamic Philosophy (ICIPh) 2019

Istikomah, M.Hum[1]

Abstract
This article will firstly highlight the idea of civil society in a global scale constituting a manifestation of a modern state which has been long existed since Plato (427-327 BC) and Al Farabi era (died in 339 C) named as ‘Utopia’ including the idea of democratization and the respect toward humanity values as the manifestation of diversity. Later, this article will scrutinize this idea in the context of Indonesian socio-cultural setting; how is civil society served as an instrument striven toward democratization of Ummah including the respect toward humanity values in the light of plurality; what are the potential threats of disintegration in Indonesia; how does democracy contribute toward the building of civil society; how does religion serve as the source of building civil society.

Key words: Civil Society, Democracy, Plurality, Human Right, and Religion (Islam)

[1] Lecturer of STFI Sadra and Researcher of ADPIKS.

Naskah lengkap, download di sini

Humanisme Evolusionis-Kreatif Muhammad Iqbal: Sebuah Sintesis antara Humanisme Religius dan Humanisme Sekuler-Ateis

Humanisme Evolusionis-Kreatif Muhammad Iqbal: Sebuah Sintesis antara Humanisme Religius dan Humanisme Sekuler-Ateis

PROSIDING KONFERENSI
International Conference on Islamic Philosophy (ICIPh) 2019

Basrir Hamdani
Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA
Email: rierlucky@gmail.com

Abstract
The reality of human being is not only the self who possesses ‘will to power’ or free will to determine the contuinity of his life through fulfilling the biological needs, but also the self who is cosmological reflection of God, he is pervaded by divine values with active-participatorical and creative manner. This article attempts to disclose a construction of Muhammad Iqbal’s idea on humanism based on spiritual-anthropological perspective in understanding human being. This idea of him on humanism constitutes a response and synthesis, as well, to two views; first, the view that only emphasizes on physical-biological aspect and denies spiritual-metaphysical aspect of human being as what maintained by modern Western humanism. Second, the view that is exceedingly fixated on spiritual-theocentrical aspect and under estimates the antropological-sosiological aspects of human’s role as a living creature. The second one has afflicted mystical tradition in Islamic thought. By his philosophy of khūdī (ego), Iqbal proposes an holistic approach in understanding the reality of human being. He elaborates that human being is not only a creature that possesses privilege for actualizing his self potential in material cases by means of creative actions but also a spiritual creature who has substance (human soul) which is everlastingly as the manifestation of Cosmic Creator who is omni-Creative i.e., God as the Absolute Ego or the Perfect Self. This writing is proposed by means of analytical-descriptive method toward Iqbal’s philosophy in constructing the idea of humanism.
Keywords: Muhammad Iqbal, humanism, active-participatorical, sufism, anthropological aspect, ego (khūdī).

 Abstrak
Hakikat manusia tidak saja sebagai diri yang memiliki will to power, bebas berkehendak untuk menentukan keberlangsungan hidupnya melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis, tetapi juga diri sebagai cerminan Tuhan yang senantiasa diliputi oleh nilai-nilai Ilahiyah dalam pola aktif-partisipatoris dan kreatif. Artikel ini berupaya mengungkapkan bentuk gagasan humanisme Muhammad Iqbal yang dibangun di atas landasan spiritual sufistik-antropologis dalam memahami hakikat manusia. Gagasan humanisme Muhammad Iqbal ini merupakan sebuah respon kritis sekaligus sintesis terhadap gagasan-gagasan humanisme Barat moderen yang hanya berorientasi pada sisi fisis-biologis, melupakan sisi-sisi spiritual metafisis manusia, dan gagasan yang terlalu terpaku pada aspek spiritual-teosentris serta memandang sebelah mata aspek-aspek antropologis-sosiologis peran manusia sebagai makhluk hidup. Gagasan kedua ini masih mendera tradisi sufistik dalam peradaban Islam. Melalui fisafat Khūdī (ego), Iqbal menawarkan suatu pendekatan holistik dalam memahami manusia bahwa manusia tidak saja makhluk yang memiliki keistimewaan yang dapat mengaktualkan potensi dirinya secara material melalui tindakan-tindakan kreatifnya tetapi juga sebagai insan spiritual yang memiliki substansi (jiwa insaniyah) yang senantiasa sebagai manifestasi sang Pencipta Kosmik (Cosmic Creator) yang maha Kreatif, yaitu Tuhan sebagai Ego Mutlak (the Absolute Ego) atau Diri Sempurna (the Perfect Self). Tulisan ini diketengahkan melalui metode analisis-kritis-deskriptif terhadap filsafat Iqbal dalam mengkonstruksi gagasan humanisme.
Kata-kata Kunci: Muhammad Iqbal, humanisme, aktif-parsipatoris, sufisme, aspek antropologis, ego (khūdī).

 

Naskah Lengkap, Download PDF

Free WordPress Themes, Free Android Games