Keswanyataan Prinsip-prinsip Epistemologi

Keswanyataan Prinsip-prinsip Epistemologi

Muhammad Taqi Musbah Yazdi

MENGINGAT PENGERTIAN paling umum pengetahuan itu mencakup segala macam pengetahuan, banyak masalah yang bisa dibahas dalam bagian Epistemologi, kendati sebagiannya tidak diberi nama dalam ilmu kefilsafatan ini secara formal, seperti pembahasan tentang wahyu, ilham, dan pelbagai jenis penyingkapan ruhani serta penyaksian irfani. Namun, masalah-masalah yang lazimnya dibahas dalam ilmu Epistemologi ialah seputar indra dan akal.

Tentu saja, kita tidak akan membahas semua itu di sini, karena tujuan utama kita adalah menjelaskan nilai pengetahuan rasional, meneguhkan kebenaran filsafat dan kesahihan metode-metode rasionalnya. Karena itu, di sini hanya akan dibahas masalah-masalah yang berguna untuk Metafisika dan Teologi, sambil sekali-kali merambah ilmu-ilmu kefilsafatan yang lain seperti: Psikologi Filosofis dan Etika Filosofis.

Kebergantungan Filsafat pada Epistemologi
Pada titik ini, tepat kiranya kita bertanya: apakah prinsip-prinsip pernyataan (mabādi’ tashdīqiyyah) ilmu Epistemologi? Dalam ilmu manakah validitas prinsip-prinisp ini dibuktikan?

Jawabannya: Epistemologi tidak memerlukan postulat-postulat (ushul mawdhu’ah: prinsip-prinsip pernyataan–peny), karena masalah-masalahnya dijelaskan hanya berdasarkan swanyata-swanyata pertama (badīhiyyāt awwaliyyah).

Pertanyaan lain yang dapat diajukan ialah: jika seluruh pemecahan masalah-masalah Ontologi dan ilmu-ilmu lain yang ditelaah dengan metode rasional bergantung pada pembuktian atas kesanggupan akal untuk pemecahan tersebut, bukankah ini berarti Filsafat (Filsafat Pertama) juga membutuhkan Epistemologi untuk menyediakan prinsip-prinsip pernyataan bagi Filsafat, padahal sebelumnya dikatakan bahwa filsafat tidak membutuhkan ilmu lain?

Di Daras 7 kita telah menyinggung sebetik jawaban atas pertanyaan ini dan kini saatnya kita mengurai lebih detail.

Pertama, premis-premis yang secara langsung dibutuhkan Filsafat Pertama sesungguhnya merupakan proposisi-proposisi swanyata yang sama sekali tidak memerlukan pembuktian. Semua penjelasan mengenai proposisi-proposisi tersebut, yang diuraikan dalam Logika dan Epistemologi, pada hakikatnya lebih merupakan ulasan-ulasan penegasan, bukan penalaran argumentatif, yakni penjelasan-penjelasan yang berfungsi menggugah kesadaran pikiran kita pada kebenaran-kebenaran yang sudah diketahui oleh akal tanpa perlu pembuktian atas mereka.

Adapun dibahasnya proposisi-proposisi swanyata itu dalam ilmu-ilmu ini adalah fakta yang didasari oleh pertimbangan: adanya isu-isu (syubuhāt) yang, pada gilirannya, memunculkan aneka ragam skeptisisme, sebagaimana berbagai isu bermunculan seputar proposisi yang paling swanyata, yakni Prinsip Nonkontradiksi. Dalam kasus ini, bahkan sebagian cenderung untuk tidak saja meyakini kontradiksi sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, tetapi menganggapnya sebagai prinsip dalam semua peristiwa.

Isu-isu yang mencuat di seputar nilai pengetahuan rasional, pada dasarnya, juga tak bedanya dengan isu seputar Prinsip Nonkontradiksi. Dan semua pembahasan serta penjelasan atas proposisi-proposisi swanyata itu dikemukakan dalam Logika dan Epistemologi untuk menjawab dan menuntaskan isu-isu tersebut.

Pada dasarnya, penempatan proposisi-proposisi itu sebagai masalah-masalah Logika atau Epistemologi merupakan penyimpangan atau toleransi dan sikap akomodatif dengan para pembawa isu.

Bagaimanapun, toh kita tidak mungkin berargumentasi dengan metode rasional terhadap orang yang, meski tanpa sadar, tidak menerima nilai pengetahuan rasional, sebagaimana pernyataan ini saja—yakni ketidakmungkinan beragumentasi—sudah merupakan penjelasan rasional (perhatikan dengan cermat!).

Kedua, kebutuhan filsafat pada prinsip-prinsip Logika dan Epistemologi, pada dasarnya, untuk melipatgandakan pengetahuan atau, secara teknis, disebut “memperoleh pengetahuan akan pengetahuan” (hushūl al-‘ilm bi al-‘ilm).

Penjelasannya: orang yang belum terpengaruh oleh isu-isu skeptisisme bisa beragumentasi untuk memecahkan banyak masalah, mencapai kesimpulan yang meyakinkan, dan argumentasinya juga telah sesuai dengan prinsip-prinsip Logika tanpa dia sendiri menyadari bahwa, misalnya, argumentasi ini sudah tepat dalam kerangka figura pertama (syakl awwal) dan apa saja syarat-syarat yang mengaturnya, tanpa pula dia peduli apakah ada fakultas pengetahuan bernama akal yang mengetahui premis-premis [swanyata] dan menerima validitas kesimpulan yang ditarik darinya.

Di sisi lain, kalangan yang berusaha menolak validitas akal dan Metafisika bisa saja melakukan penalaran tertentu dan, tanpa sadar, menggunakan sejumlah premis rasional dan filosofis. Ada pula orang yang, dalam upaya menolak kaidah-kaidah Logika, justru bersandar pada kaidah-kaidah Logika. Bahkan, ada juga kalangan yang, tentunya tanpa sadar, berupaya membantah Prinsip Nonkontradiksi dengan menggunakan prinsip itu sendiri, sehingga kalau saja kita katakan, “Upaya Anda membantah prinsip itu benar sekaligus tidak benar”, mereka akan tersinggung atau malah merasa diperolok.

Alhasil, kebergantungan argumentasi filosofis pada prinsip-prinsip Logika dan Epistemologi sesungguhnya berbeda dengan kebergantungan disiplin-disiplin ilmu lain pada postulat-postulat. Kebergantungan argumentasi filosofis itu hanya bersifat sekunder, persis dengan kebergantungan kaidah-kaidah Logika dan Epistemologi pada diri mereka sendiri, yakni melipatgandakan pengetahuan dan memperoleh keyakinan lain di atas keyakinan pada premis-premis swanyata tersebut.

Hal ini tak ubahnya dengan swanyata-swanyata pertama yang dinyatakan bahwa ia membutuhkan Prinsip Nonkontradiksi, dan kebutuhan ini dipahami sahih seperti makna ketergantungan di atas, karena memang kebutuhan proposisi-proposisi swanyata pada Prinsip Nonkontradiksi tidak sama dengan kebergantungan proposisi-proposisi spekulatif (nazhariy) pada proposisi-proposisi swanyata (badīhiy). Jika itu sama, tentu tidak akan ada beda antara proposisi-proposisi swanyata dan proposisi-proposisi spekulatif atau, paling-paling, hanya Prinsip Nonkontradiksi yang harus dinyatakan sebagai satu-satunya proposisi dan premis swanyata.

Kemungkinan Pengetahuan
Setiap orang berakal percaya bahwa dirinya mengetahui sesuatu dan dia bisa mengetahui hal-hal lain. Karena itu, ia berupaya mendapat informasi tentang apa saja yang dibutuhkan dan diinginkannya. Contoh paling konkret dari upaya itu telah dilakukan oleh para ilmuwan dan filosof hingga berhasil meletakkan pelbagai bidang sains dan filsafat.

Jadi, kemungkinan pengetahuan atau kenyataannya bukanlah persoalan yang bisa diragukan apalagi diingkari oleh siapa pun yang berakal sehat, berpikiran jernih dan tidak dikacaukan oleh isu-isu. Hal yang terbuka untuk dikaji dan layak didiskusikan ialah identifikasi medan pengetahuan, sarana-sarana mencapai pengetahuan yang pasti-benar (‘ilm yaqīniy), metode untuk membedakan pemikiran yang benar dari yang tidak benar, dan masalah-masalah lainnya.

Sebagaimana telah disinggung dalam rangkaian daras sebelumnya, gelombang besar Skeptisisme berkali-kali menghantam Eropa hingga tidak sedikit dari kalangan pemikir besar ikut tertelan lenyap ke dalamnya. Sejarah filsafat menyaksikan pelbagai mazhab pemikiran yang mengingkari sepenuhnya [kemungkinan] pengetahuan seperti: Sofisme, Skeptisisme, dan Agnostisisme. Jika memang ada orang-orang yang secara mutlak mengingkari pengetahuan, barangkali justifikasi terbaik untuk mereka ialah mereka sedang menderita waswas mental yang akut, suatu keadaan yang juga menimpa sebagian kalangan dalam masalah lain. Keadaan ini lebih merupakan sejenis penyakit jiwa.

Walhasil, tanpa harus melakukan pelacakan sejarah mengenai realitas orang-orang ini, menyelidiki motif di balik statemen-statemen mereka, atau meneliti benar-tidaknya mereka meyakini pendirian seperti itu, kita tetap bisa menyoroti statemen dan pendirian yang dilaporkan dari mereka sebagai isu dan pertanyaan yang mesti dijawab sesuai dengan telaah filosofis, sementara masalah-masalah lain seperti di atas biarlah ditangani oleh pakar sejarah dan ahli terkait.

Tinjauan atas Klaim-klaim Skeptisisme
Statemen-statemen para Sofis dan Skeptis, dilihat dari satu sisi, bisa kita bagi menjadi dua: bagian yang berhubungan dengan Ada (wujūd), dan bagian yang berhubungan dengan pengetahuan.

Sebagai contoh, Gorgias, tokoh Sofis paling ekstrem, konon pernah menyatakan, “Tidak ada sesuatu apa pun; kalaupun ada, ia tidak bisa diketahui; dan kalaupun bisa diketahui, ia tidak bisa dikomunikasikan.” Kalimat pertama dalam pernyataan ini berkaitan dengan Ada sebagai subjek yang akan kita perbincangkan pada Bagian III: Ontologi. Sedangkan kalimat kedua relevan dengan studi kita sekarang mengenai Epistemologi.

Sebelum lebih jauh mendalami Epistemologi, perlu ditegaskan bahwa setiap orang yang meragukan segala sesuatu tidak akan dapat meragukan Ada/realitas dirinya, Ada keraguannya sendiri, Ada daya-daya pengetahuan seperti: daya lihat dan daya dengar, Ada forma-forma dalam-pikiran (shuwar dzihniyyah), dan Ada keadaan-keadaan jiwa mereka. Kalau dia masih saja menyatakan klaim ragu mengenai hal-hal ini, bisa dipastikan dia sedang sakit dan, karenanya, perlu segera disembuhkan, atau berbohong dan beritikad buruk dan, karenanya, perlu diingatkan dan diluruskan.

Demikian pula, orang yang berbicara atau menulis buku tidak mungkin meragukan Ada lawan bicara atau kertas dan pena yang dipakainya untuk menulis. Paling-paling, dia bisa mengatakan bahwa dia mengetahui semua hal itu di dalam dirinya, tetapi meragukan Ada mereka di luar dirinya. Begitulah tampaknya yang hendak dinyatakan oleh Berkeley dan beberapa Idealis lainnya saat mereka menerima semua objek pengetahuan sebagai forma-forma dalam-pikiran belaka dan menolak Ada eksternalnya.

Kendatipun begitu, kaum Idealis ini mengakui Ada orang-orang lain yang juga mempunyai pikiran dan pengetahuan. Akan tetapi, pengakuan semacam ini tidak berarti penolakan mutlak atas Ada dan pengetahuan, melainkan penolakan atas realitas adaan-adaan (mawjud) material atau, sebagaimana dilaporkan dari Barkeley, penolakan atas sebagian Ada dan peraguan atas sebagian objek pengetahuan.

Sekarang, bila seseorang mengklaim bahwa pengetahuan pasti-benar itu mustahil diperoleh, kita perlu ajukan pertanyaan berikut, “Apakah Anda mengetahui klaim Anda ini secara pasti-benar atau Anda meragukannya?” Jika dia menjawab mengetahuinya secara pasti-benar, setidaknya dia telah mengakui satu pengetahuan yang pasti-benar dan, dengan demikian, dia sendiri telah menggugurkan klaimnya sendiri mengenai kemustahilan memperoleh pengetahuan yang pasti-benar.

Namun, jika dia menjawab, “Saya tidak tahu klaim saya itu secara pasti-benar”, jawaban ini merupakan pengakuan dirinya bahwa pengetahuan pasti-benar itu tidak mustahil diperoleh. Dengan begitu, klaimnya bahwa mustahil memperoleh pengetahuan pasti-benar, untuk kedua kalinya, telah digugurkan oleh jawabannya sendiri.

Akan tetapi, jika seseorang menyatakan, “Saya me­ragukan kemungkinan memperoleh pengetahuan yang pasti-benar”, perlu ditanyakan kepadanya, “Apakah Anda mengetahui bahwa Anda punya keraguan semacam itu atau tidak?” Jika dia menjawab, “Saya mengetahui bahwa diri saya mempunyai keraguan tersebut”, ini berarti tidak hanya telah mengakui kemungkinan diperolehnya penge­tahuan pasti-benar, tetapi dia juga mengakui kenyataan faktual pengetahuan yang pasti-benar itu (yaitu Ada keraguan yang dialami dirinya sendiri).

Jika dia berusaha konsisten dan menjawab, “Saya juga ragu bahwa diri saya mempunyai keraguan semacam itu”, jawaban seperti ini tidak bebeda dengan jawaban orang sebelumnya: dia menyatakan demikian dia sedang sakit atau karena beritikad buruk yang memerlukan penanganan non-teoretis.

Dialog seperti di atas juga bisa ditempuh bersama orang-orang yang membela relativisme semua pengetahuan, yakni kalangan yang mengklaim bahwa tidak ada proposisi (pengetahuan) yang benar secara mutlak, universal (kulliy) dan permanen (dā’imiy).

Kepada mereka ini kita bisa bertanya: apakah proposisi “tidak ada pengetahuan yang benar secara mutlak, universal dan permanen” ini klaim yang benar secara mutlak, universal dan permanen ataukah relatif, partikular dan temporer? Jika klaim relativisme mereka ini dianggap benar selamanya dalam semua kasus, tanpa syarat dan kualifikasi apa pun, maka setidaknya dapat dipastikan adanya satu proposisi atau satu klaim yang benar secara mutlak, universal dan permanen.

Namun, jika klaim realitivisme ini pun masih bersifat relatif, itu berarti klaim ini tidak benar pada sebagian kasus. Maka, dalam kasus-kasus yang padanya klaim relativisme tidak berlaku benar, terdapat pengetahuan dan proposisi yang benar secara mutlak, universal dan permanen.

Sanggahan terhadap Skeptisisme
Salah satu isu andalan kaum Sofis dan Skeptis yang mereka nyatakan dalam pelbagai rumusan dan dengan berbagai contoh ialah keraguan berikut:

Terkadang seseorang memperoleh pengetahuan pasti-benar akan adanya sesuatu melalui pancaindra, tetapi kemudian ia menyadari bahwa dirinya ternyata salah. Maka, ada fakta yang baru dia sadari bahwa pengetahuan indrawi tidak terjamin akan selalu benar sehingga muncul pertanyaan dan kemungkinan berikut: dari mana bisa dipastikan bahwa persepsi dan pengetahuan indrawi lain pada dirinya tidak salah; mungkin saja pada suatu hari dia kelak akan menyadari kesalahan semuanya.

Begitu pula, adakalanya seseorang memperoleh keyakinan pasti-benar (i‘tiqād yaqīniy) akan masalah tertentu melalui argumen rasional, tetapi kemudian mengetahui bahwa argumennya keliru, lantas keyakinannya pun berubah menjadi keraguan. Di sini, dia baru menyadari bahwa keyakinan dan pengetahuan rasional pun tidak terjamin pasti-selalu benar. Dengan demikian, kemungkinan kekeliruan pada pengetahuan rasional tadi menjalar ke pengetahuan rasional lainnya. Kesimpulannya, baik indra maupun akal tidak dapat dipercaya; yang tersisa bagi manusia tidak lebih dari keraguan.

Berikut ini sejumlah sanggahan atas argumen di atas:

Pertama
Dengan argumen di atas, kalangan Skeptis hendak mencapai konklusi yang mereka inginkan, yaitu kebenaran klaim Skeptisisme dan kepercayaan pasti akan kebenaran klaim tersebut. Setidaknya, argumen itu dirancang oleh mereka untuk meyakinkan klaim mereka sendiri kepada lawan bicara, yakni mereka berharap lawannya tahu-percaya pada kebenaran klaim mereka. Padahal, klaim skeptisistik mereka menyatakan: pengetahuan (yang benar) apa pun mustahil diperoleh sama sekali.

Kedua
Menemukan kekeliruan pada pengetahuan indrawi dan rasional merupakan bukti bahwa pengetahuan manusia tidak sesuai dengan fakta. Bukti ini berarti pula pengakuan akan adanya pengetahuan [pasti-benar] tentang sebuah fakta, yaitu fakta terjadinya kesalahan pada pengetahuan.

Ketiga
Implikasi lain dari menemukan kesalahan ialah, suka atau tidak, kita harus menerima pengetahuan pasti-benar bahwa terdapat realitas dimana pengetahuan salah kita tidak sesuai dengannya. Jika kita menolak adanya realitas itu, maka kesalahan pengetahuan akan hilang pengertiannya.

Keempat
Implikasi lainnya ialah pengetahuan yang salah ini sendiri, yakni forma pikiran yang tidak sesuai dengan fakta, merupakan realitas yang kita ketahui secara pasti-benar.

Kelima
Pada implikasi terakhir juga harus diakui secara pasti-benar adanya subjek pengetahuan salah, demikian pula adanya indra dan akal yang berfungsi salah.

Keenam
Argumentasi di atas itu sendiri sudah merupakan penalaran rasional, meskipun dalam kategori falasi (mughālathah). Berargumentasi dengan metode rasional sama artinya dengan mengakui validitas akal dan pengetahuan-pengetahuan rasionalnya.

Ketujuh
Lebih dari itu, ada satu pengetahuan lain di sini yang, disadari atau tidak, sudah diasumsikan pasti-benar, yaitu pengetahuan kita bahwa pengetahuan yang salah, dari segi ia salah, tidak mungkin benar.

Dengan demikian, argumen kaum Skeptis di atas sesungguhnya menegaskan adanya sejumlah pengetahuan yang pasti-benar. Karena itu, kemungkinan memperoleh pengetahuan [yang pasti-benar] tidak bisa diingkari atau diragukan secara mutlak.

Semua sanggahan di atas dikemukakan sebagai jawaban destruktif (jawāb naqdhiy) terhadap argumen para Skeptis. Adapun dalam rangka menjawab secara konstruktif (jawāb halliy) dan menyingkapkan aspek falasi (wajh al-mughālathah) mereka, dapat dijelaskan bahwa kita membuktikan salah atau benarnya pengetahuan indrawi dengan argumen-argumen rasional.

Adapun menganggap temuan terjadinya kesalahan pada sejumlah pengetahuan rasional sebagai kemungkinan kesalahan yang merambat ke pengetahuan rasional lainnya adalah anggapan yang salah, karena kemungkinan kesalahan seperti itu hanya dapat muncul pada pengetahuan spekulatif atau non-swanyata. Akan halnya pengetahuan swanyata rasional (badīhiyyāt ‘aqliyyah) yang menjadi landasan argumen-argumen filosofis sama sekali tidak mungkin salah. Penjelasan tentang ketakmungkinsalahan pengetahuan swanyata ini akan diuraikan pada Daras 19.

Sumber: Amuzesy-e Falsafeh, Daras ke-12.

Corona, Sains dan Otentisitas

Corona, Sains dan Otentisitas

                                                                                             Musa Kadzim

SELAMA INI, kita belum pernah mengalami penderitaan dalam waktu yang lama. Sedangkan di tempat lain, mungkin ada negeri yang setiap hari menderita dan malah mati warganya karena penindasan. Kita mendengar peristiwa kemanusiaan itu hanya sebagai berita biasa hanya karena kita tidak pernah mengalaminya.

Meninjau ke belakang, saat PD I dan PD II, Indonesia tidak merasakan dampak langsung karena bukan di wilayah konflik. Saat ada wabah seperti: pes, kolera, TBC, berdampak begitu luas hingga menelan banyak korban mati di banyak negara, Indonesia pun relatif tidak separah yang lain. Tetapi, kini dengan Covid-19, kita mengalami hal yang sama.

Kita jumawa bebas dari wabah; sikap yang harus dibayar mahal. Faktanya, Indonesia tidak cukup kapasitas dalam menangani wabah dengan cara yang profesional dan rasional. Kita tampak tidak begitu beduli saat Corona mulai merambah jiran dengan klaim absurd: negeri kita ada di khatulistiwa, kita makan nasi kucing, dan kita banyak berdoa.

Kita tidak begitu saja bisa menjadikan aspek semata-mata spiritual sebagai landasan kebijakan publik. Perjalanan ruhani itu pengalaman personal, sedangkan membangun masyarakat itu ada ukuran, standar, dan akuntabilitas objektif. Orang yang tidak mengakui pengetahuan tersebut cenderung tidak mau bertanggung jawab.

Mistisisme dan pengalaman spiritual tak bisa dibawa ke ranah sosial karena sifatnya, sekali lagi, personal dan tak bisa diverifikasi asli atau palsunya. Pejabat yang memakai dalih mistik sebenarnya tidak bertanggung jawab. Kalau demikian, dia harus kembalikan dana publik, sebab dunia mistik tak butuh dana publik; cukup baca mantra.

Fenomena ini, di antaranya, akibat dari negara dipersonalisasi menjadi milik elite. Rakyat harus melayani negara, bukan sebaliknya. Saat musibah, rakyat harus turun tangan. Saat aman, uang rakyat dipikirkan. Tidak ada hak rakyat saat #tetapdirumahaja#. Tarif internet justru jadi mahal, sedangkan di negara lain malah cenderung gratis.

Untuk mengaburkan kewajiban negara, rakyat digiring bertindak di luar nalar dan umum. bisa dimengerti bila muncul narasi: kalau kita selamat dari Corona, maka itu pertolongan dari Tuhan karena kasih sayang-Nya. Kita seperti bayi yang sering kali selamat entah bagaimana dalam banyak bencana saat semua orang dewasa tewas.

Seharusnya pandemi Corona memberi kita, individu dan negara, banyak pelajaran. Biasanya, banyak orang tak mau belajar karena memang melelahkan sehingga butuh kesabaran dan menyakitkan sehingga butuh kesungguhan. Tapi wabah ini memaksa kita harus dan harus belajar. Apa pelajaran terpentingnya? Otentisitas!

Kata Ali Syariati, ada tiga kondisi orang menjadi diri sendiri: saat menderita, saat sakit, dan saat menghadapi kematian. Dalam tiga kondisi ini, siapa diri kita yang sesungguhnya akan terungkap. Kita tak bisa pasang topeng lagi. Tak juga ada klaim, sebab segalanya menjadi terbuka.

Krisis Covid-19 memperlihatkan perilaku hidup kita yang sebenarnya. Contoh, Uni Eropa yang dikatakan solid ternyata tidak mau saling bantu untuk atasi Corona. Bahkan, kini mereka saling berebut masker dengan Amerika dengan cara yang tidak terbayangkan di kondisi damai.

Dalam tradisi tasawuf, kita dianjurkan meluangkan waktu untuk khalwat, isolasi diri. Tujuannya agar kita menjadi otentik, menjadi diri kita sendiri. Kejujuran lebih penting dari kenikmatan yang menipu. Itu yang kita butuhkan saat ini. Musibah itu pintu menapaki perjalanan menuju Allah tanpa batas.

Dalam pandangan Filsafat Hikmah, tak ada segala sesuatu yg buruk. Covid-19 mengajarkan banyak hal kepada kita, juga membuka siapa kita. Nah, bagaimana kita manfaatkan momentum ini? Jangan sampai kita seperti bayi yg tak dapat pelajaran apa-apa dari wabah ini; terjadi begitu saja di depan mata tanpa daya.

Perlu juga diingat kembali bahwa selama 1000 tahun terakhir, yang berjaya mempengaruhi kehidupan manusia adalah sains karena kompetensinya memenuhi kebutuhan dasar manusia. Bahkan agamawan pun belakangan mematuhi sains, seperti tidak merokok dan tidak poligami, padahal menurut agama boleh. Maka, perlu keseimbangan antara ruhani dan jasmani, antara agama dan sains, antara personal dan sosial–(ANDITO, 06/04/2020).

Penjajahan Palestina, Aib Kemanusiaan Abad ini

Penjajahan Palestina, Aib Kemanusiaan Abad ini

                                                                                   

Oleh, Darmawan Rasidi, Pengurus Nurwala

“KETIKA ANAK-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka’’, bunyi potongann bait puisi Taufik Ismali yang berjudul ‘’Palestina Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu’’. Inilah gambaran derita Palestina di bawah penjajahan hingga kini.

Di tengah pusaran informasi yang berlalu begitu cepat, real time, setiap orang di belahan dunia mana pun, bisa menyaksikan kejadian- kejadian yang menimpa Palestina. Tindakan kasar  tentara-tentara Israel terhadap warga Palestina; seharusnya dengan atau tanpa bait menohok Taufik Ismail, video- video  dan informasi yang beredar, bisa menyentak nurani terdalam warga dunia. Sayangnya, seperti dipandang angin lalu, kejahatan kemanusiaan  yang bertubi-tubi mendera warga Palestina, terus saja terjadi.

Ada yang bersimpati bahkan berempati, ada juga yang berdemo di negara masing-masing. Tetapi, seruan dan dukungan warga dunia tak ada artinya, tanpa didukung langkah- langkah politik luar negeri dari negara mereka. Mungkin iya, banyak negara yang sudah melancarkan seruan kedamaian dan penghentian penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina, lewat Perserikatan Bangsa-bangsa. Tetapi, realitas yang ada, Israel tetap kokoh dan tidak bergeming.

Di mana ihwal kemanusiaan yang selalu dilantangkan? Hak asasi manusia yang dielu-elukan untuk menopang kedamaian manusia. Hak untuk hidup, bependidikan, berpendapat, berpikir, dan lain- lain, dibungkam apa mulut warga dunia? Tertutup apa mata warga dunia? Dikotori apa nurani warga dunia?  Sebegitu dahsyatkah bala tentara zionis menebar ramuan kebisuan, kebutaan dan kekerasan hati.

Lalu, muncul juga anggapan bahwa permasalahan Palestina  dianggap konflik agama. Padahal apa yang menimpa Palestina sangat jelas,  ini realitas kebiadaban terhadap kemanusiaan. Tidak perlu menjadi negara Muslim atau _muallaf_ dulu untuk mendukung kemerdekaan Palestina, cukup memahami diri yang juga butuh dihormati nilai-nilai kemanusiaannya. Bukankah, setiap agama menjunjung kemanusiaan? Bahkan  orang yang tidak beragama pun menjunjung kemanusiaan!

Sejarah Keterjajahan Palestina
Menelisik sejarah awal, kronologis kejadian yang akhirnya menjadikan Palestina terjajah, adalah hasil keputusan konvensi yang dilakukan para zionis. Keinginan mendirikan sebuah tanah air atau negara untuk warga Yahudi. Awalnya memilih Uganda sebagai lokasi pendirian _homeland_ itu. Namun, setelah kematian tokoh  berpengaruh Yahudi, Theodor Herz (1860- 1904), lalu diadakan konvensi ulang, terpilihlah Palestina, tanah yang dalam doktrin agama Yahudi, adalah tanah yang dijanjikan Tuhan.

Keluasan langkah untuk menjadikan tanah Palestina sebagai negara, semakin besar, setelah Daulah Islamiyah, Turki Utsmani, akhirnya kalah melawan Inggris dan para sekutunya. Palestina yang berada di bawah Daulah Islamiyah Turki Utsmani, masuk kepada daerah taklukan, berdasar kebijakan, bahwa daerah yang berada dalam payung Turki Utsmani, juga dikuasai Inggris dan sekutunya. Hal ini memuluskan Israel untuk mendirikan tanah air mereka di Palestina.

Gerak mudah tangan  Israel  untuk mendirikan negara di tanah Palestina diakibatkan Deklarasi  Balfour pada 2 Nopember 1917, yang berisi pernyataan publik otoritas Britania Raya terkait dukungannya untuk pendirian tanah air bagi Yahudi di Palestina. Kronologis kejadian demi kejadian pun berlanjut, yang terpopuler peristiwa perang antara Arab dan Israel pada tahun 1948. Pada perang ini, negara- negara Arab kalah oleh Israel, demikian tahun 1948 menandai kemenangan dan kemerdekaan Israel, dan dimulainya jeritan penjajahan bagi warga Palestina, bahkan Arab yang juga harus dicaplok daerahnya.  Tahun 1948, awal mula caplokan demi caplokan tanah Palestina berada di bawah kekuasaan Israel. Wilayah Palestina yang awalnya besar, dari masa-masa, hingga saat ini semakin mengecil.

Langkah diplomatis dan negosiasi sudah sangat sering dilakukan, perjanjian demi perjanjian dicatat dengan baik oleh dunia. Ada perjanjian Perjanjian Madrid  (1991), Perjanjian Oslo I (1993), Kesepakatan Kairo (1994), Perjanjian Oslo II, Perjanjian  Hebron 1997, Memorandum Wye River (1998), dan langkah- langkah diplomatis negara yang peduli dengan Palestina di kancah dunia sudah sangat sering. Namun, tetap tidak bergeming. Lebih parahnya dengan keputusan Amerika di bawah pemerintah Donald Trump yang  mendukung pendudukan Yerusallem sebagai ibu kota Israel, dan lokasi kedutaan Amerika, menambah pilu warga Palestina. Anggapan yang muncul, Amerika seperti mendukung keterjajahan Palestina oleh Israel.

Sejarah mencatat dengan baik kumpulan- kumpulan kronologis langkah dan sikap negara-negara pendukung Israel, dan penolak penjajahan Israel. Kecanggihan teknologi membawa warga dunia bisa merasakan penderitaan keterjajahan warga Palestina. Jika ditarik pada kasus Indonesia, kurang lebih, derita keterjajahan, sama dengan apa yang dirasakan Palestina kini. Secara substantif sama, meski secara teknis, peralatan penjajahan, dan informasi terhadap warga dunia lebih canggih zaman ini. Namun, penjajahan tetaplah penjajahan, aib kemanusiaan yang sangat keji.

Sikap Lantang Indonesia
Indonesia sebagai bangsa yang pernah terjajah, kokoh untuk berada di garda terdepan penentang penjajahan terhadap negara mana pun. Sebagaimana yang telah tertuang pada pembukaan UUD 1945, “Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri- kemanusiaan dan peri- keadilan.”

Terkait hal ini, langkah- langkah perjuangan kemerdekaan Palestina pun terus dilakukan Indonesia. Publik Indonesia selalu memberikan bantuannya untuk warga Palestina. Indonesia selalu lantang meneriakkan kemerdekaan Palestina di PBB. Hal ini dilakukan Indonesia bukan hanya karena pernah merasakan pahitnya keterjajahan, tapi sebuah konsistensi dari sikap yang tertuang pada pembukaan UUD 1945. Belum lagi, ada kedekatan sejarah, ada keharmonisan yang pernah dibangun Palestina dulu, saat negara-negara lain abai dengan kemerdekaan Indonesia, Palestina malah menjadi salah satu negara awal yang mengakui kemerdekaan Indonesia, bebas dari penjajahan.

Kini, saat Palestina dikekang penjajahan oleh Israel, Indonesia sebagai bangsa yang arif, memiliki sejarah panjang, dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia akan terus lantang meneriakkan kemerdekaan untuk warga Palestina. Warga negara Indonesia akan selalu menyisihkan rezeki, tenaga, untuk membantu kehidupan seluruh warga Palestina.  Teriakan lantang Indonesia akan terus bergema, untuk menghilangkan aib dunia ini.
Apa yang menimpa Palestina bukanlah aib yang dirahasiakan, inilah aib yang tersebar merata dan diketahui oleh penduduk dunia. Anehnya aib ini terjaga sudah berpuluh- puluh tahun. Inilah aib kemanusiaan abad ini. Peristiwa kejadian demi kejadian yang merusak dan  menginjak kemanusiaan. Padahal dunia tengah berada pada masa penghormatan hak asasi manusia.

Negara-negara di dunia selain Indonesia sudah semestinya mengikuti jejak langkah Indonesia. Atas nama kemanusiaan, negara-negara  harus turut serta mendesak dan mengambil langkah tegas terhadap Israel. Gencarkan  kebijakan- kebijakan politik luar negeri setiap negara untuk kebebasan dan kemerdekaan Palestina. Agar tidak ada lagi penjajahan dan kolonialisme yang mencederai nilai- nilai kemanusian.  Demi kedamaian dan ketentraman dunia, seluruh wilayah muka bumi harus disterilkan dari aib-aib kemanusiaan. Sumber: Harian Pelita, Kamis 7 Juni 2018

Lockdown Akal Sehat

Lockdown Akal Sehat

 Oleh, Ammar Fauzi Heryadi

NGABUBURIT BERSAMA Dinas Kepemudaan Pemda Purwakarta dan Komunitas Welas Asih, IndonesiaBerfilsafat (IBF) melalui program Logika Literasi Publik (L2P) mendapat kepercayaan memandu forum diskusi online dengan tema “LOGIKA CORONA DAN CORONA LOGIKA” pada Senin (17/05/2020). Hadir sekaligus sebagai pemandu, maka banyak hal yang dirasa penulis masih relevan untuk dibincangkan.

Selama masa pandemi dua bulan ini, sudah banyak reaksi dan respon sosial, politik, moral, bahkan intelektual dan, tentu saja, keagamaan yang berkembang antara mengagumkan dan memprihatinkan. Kurva dinamika berikut kesan-kesan antagonisnya kemungkinan akan terus berjalan sebesar kemungkinan yang diberikan ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo bahwa orang Indonesia akan hidup selamanya dengan virus ini (Kompas.com 18/05/2020).

Sejak pertama kali Corona diangkat berita, banyak nama yang timbul-tenggelam: mulai dari nama kota, nama negara, nama orang, nama tumbuhan, nama obat, nama program, nama organisasi, nama binatang, sampai nama doa, nama nasi dan jenis telur. Apa lagi yang tidak disinggung; nyaris semua dibicarakan seilmiah dan seemosional mungkin. Reaksi dan perdebatan tidak berhenti bahkan ketika nama Tuhan dilibatkan, justru semakin genting dan seru.

Di Iran, misalnya, pemikir ternama Abdulkareem Shoroush tampak jengkel mengamati wabah corona di negaranya tidak membuat posisi Tuhan di sana tergugat. Bagi kalangan ateis seperti Richard Dowkins di Eropa, situasi kacau ini dianggap memuaskan klaim mereka selama ini bahwa Tuhan itu memang tidak ada! Sebaliknya, beredar tayangan penganut agama yang memaki tuhannya sambil mengobrak-abrik altar persembahannya. Sementara di kita, orang yang mengenakan masker atau bertemu-sapa dengan tangan di dada masih dipandang kurang imannya pada Allah.

Beda reaksi karena beda di kepala. Sepanjang hidup bersama virus ini, manusia Indonesia mencari dan menerima kebenaran mereka dari dua sumber: sains dan agama. Karena arus data sains, berbagai protokol dan kebijakan publik dibuat. Karena keterangan agama, corona dan penderitanya dinisbatkan kepada murka Tuhan dan Akhir Zaman. Ada juga yang menghubung-hubungkan dengan Imam Mahdi sambil menghitung prosentase tanda-tanda kedatangannya.

Selain ada kerja keras meyakinkan keseutuhan sains dan agama kepada publik, jangan juga dilupakan dua sumber lain kebenaran yang sama pentingnya bagi orang Indonesia: kekuasaan dan tradisi-budaya takhayul. Selain sains dan agama, aparatur negara menguasai instrumen instimewa hingga “berwenang” dan “mengatur” kebenaran.

Dalam kasus corona, pengaturan ini tampak dari upaya pemerintah memusatkan informasi Covid-19 di Kemenkes. Belakangan, oleh media nasional dipublikasikan pengakuan kepala pemerintah yang telah mengatur informasi fakta karena pertimbangan tertentu. Di tangan kekuasaan pula mudik dan pulang kampung yang asalnya sama bisa lantas jadi beda.

Ajaibnya, dengan segenap dukungan dua sumber sebelumnya: sains dan agama, masih saja terjadi ketimpangan kebijakan dan penanganan yang berasal dari berbedaan data di dalam lingkungan kekuasaan sendiri. Kericuhan dan ketegangan yang paling segar terjadi lantaran beda persepsi dan klaim antara data bansos di pusat dan di pemprov DKI.

Betapapun telitinya data sains, wibawanya pesan agama, dan ketatnya protokol negara, tidak sedikit warga yang lebih nyaman diatur oleh budaya takhayul. Di akhir Maret, ada pedagang sembako ketiban rezeki, telurnya diserbu warga untuk direbus dan harus dimakan antara 00:00 s/d 03:00 agar kebal corona hanya berdasarkan informasi yang viral, konon, dari anak yang baru lahir dan langsung bisa berbicara lalu berpesan demikian. Gegara informasi itu pula ada anak dan ibunya bertengkar.

Entah bagaimana data sains itu menggelembung dan mengalir deras hingga tak jarang membuat chaos dalam kebijakan dan penanganan. Entah bagaimana pemahaman agama ditempuh dan dituntaskan hingga, tidak boleh tidak, harus ditemukan nama corona dalam kitab suci. Dan entah bagaimana takhayul mendadak jadi ilham hingga ada perintah agar menggundul kepala bersama jajaran.

Perlu juga disinggung, dan barangkali ini paling menarik, hingga kini dan kemungkinan besar masih akan berlanjut entah sampai kapan ialah semangat ilmiah yang didorong, di antaranya, oleh tanggung jawab terlibat dalam menyelamatkan masa depan manusia. Hari-hari ini kita masih mudah menjumpai forum online yang membahas dunia pasca corona; isu seksi yang menggairahkan sejak Yuval Noah Harari dan Bill Gates membicarakannya.

Pada gilirannya, aneka reaksi, respon dan konsekuensi multidimensi di atas ini, entah karena faktor-faktor penyimpangan seperti alternative blindness ataukah magic bullet, kerap menjadi gejala post truth yang ditandai dengan dominasi emosi atas rasio, perasaan atas pikiran. Di sinilah “Corona Logika” tiba gilirannya melengkapi sepenggal tema di awal diskusi.

Corona logika sejenis virus yang menyerang pikiran dan nalar. Dengan ciri-ciri yang sama dengan COVID-19, virus pikiran makhluk gaib yang lebih tidak kasatmata, menular cepat dan menyebar massif sekalipun segenap protokal telah dipatuhi seketat-ketatnya, dan bisa mematikan korban meski tetap hidup bernapas senang; korbannya tidak sadar kalau jiwanya, pikirannya dan ruhnya sudah mati.

Dalam bahasa puitis Khalil Gibran, “Lihat pembunuh raga itu digantung, saat pembunuh ruh tak lagi disinggung.” Virus logika jauh lebih ganas dari sekedar COVID-19. Di tangan pembuat, pengendali juga pembawa corona logika, virus Corona bahkan firman Tuhan bisa tidak lagi berarti apa-apa sebelum akhirnya dijadikan komuditas sindiran dan lucu-lucuan.

Benar kata pepatah, satu peluru hancurkan satu kepala, satu kebohongan hancurkan seribu kepala. Seperti corona yang bermutasi dan beranak-pinak, kebohongan adalah spektrum yang menghimpun banyak varian, dari yang tipis hingga kental. Kejahatan virus bohong ini sudah tampak dari sekedar menyembunyikan atau mengalihkan fakta. Yang lebih ganas lagi tatkala menyampur kebohongan dengan fakta hingga tampak seolah-olah kebenaran sepenuhnya. Ini kian krusial bila seseorang memegang segenap sumber kebenaran.

Ketika tehnik berbohong semakin canggih dan spektrumnya kian luas serta halus, protokol perlindungan logika dan akal sehat bukan lagi karantina, isolasi diri, physical distancing, bukan juga semacam PSBB, melainkan lockdown dalam arti yang seketat-ketatnya. Dalam filsafat Ibnu Sina, orang yang menelan apa saja yang didengar sudah keluar dari kemanusiaan.

Lockdown akal sehat yaitu menjaga emosi tetap imbang; tidak berlebihan dalam ketakutan hingga tidak mau tahu atau putus asa, tidak mudah tersinggung hingga panik atau marah, gegabah dan tergesa-gesa, tidak pula gampang senang dan suka cita hingga membela diri dan kubu mati-matian. Lockdown akal sehat juga proteksi diri dari kepolosan menerima informasi dan kemalasan menguji berita. Keseimbangan emosi dan akal akan berdampak pada ketenangan, keterbukaan dan kesabaran.

Terhadap corona akal sehat, setiap orang adalah tenaga medis. Antivirus, vaksin dan cara berpikir benar sudah tertanam dalam diri masing-masing. Selanjutnya perlu alat pelindung diri yang supermurah berupa SOP berpikir, yaitu AAK: apakah, adakah dan kenapa? APD logika tradisional ini hanya bisa digunakan sesuai size orang yang, setidaknya, punya kemauan untuk tidak sudi malas atau polos. Jika masih saja terinveksi, tidak ada yang patut dicela dan disesali selain diri sendiri.

Free WordPress Themes, Free Android Games