FTP;Dr. Beny Susilo, Ilmu Huruf

Ilmu Huruf-Jalan Terjal Menuju Ilmu

Sebagaimana ditulis Dr. Beny Susilo dalam disertasinya, bahwa realitas perbuatan luar biasa (khariq al-adat) tidak mungkin dapat dipungkiri, baik secara ‘aqli maupun naqli. Filosof muslim, seperti Ibn Sina dan Mulla Sadra, telah memberikan fondasi ontologis bagaimana seseorang dengan kualifikasi tertentu dapat mengeluarkan perkara luar biasa tersebut.

Sebagian perbuatan tersebut dapat dipelajari sehingga mungkin terjadi replikasi, sebagian lagi tidak dapat dipelajari. Yang disebut terakhir ini seperti mu’jizat para Nabi dan karamat para wali. Ada pun yang dapat dipelajari sehingga mungkin terjadi replikasi seperti sihir, talisman (ţalasim), Sha’badhah an nîranjât.Sebagaimana ditulis Dr. Beny Susilo dalam disertasinya, bahwa realitas perbuatan luar biasa (khariq al-adat) tidak mungkin dapat dipungkiri, baik secara ‘aqli maupun naqli. Filosof muslim, seperti Ibn Sina dan Mulla Sadra, telah memberikan fondasi ontologis bagaimana seseorang dengan kualifikasi tertentu dapat mengeluarkan perkara luar biasa tersebut.

Sebagian perbuatan tersebut dapat dipelajari sehingga mungkin terjadi replikasi, sebagian lagi tidak dapat dipelajari. Yang disebut terakhir ini seperti mu’jizat para Nabi dan karamat para wali. Ada pun yang dapat dipelajari sehingga mungkin terjadi replikasi seperti sihir, talisman (ţalasim), Sha’badhah an nîranjât.Ilmu huruf (‘ilm al-huruf) termasuk yang dapat dipelajari dan mungkin terjadi replikasi. Melalui ilmu ini praktisinya dapat mengeluarkan perbuatan luar biasa. Bukti-bukti empirik yang dilaporkan menyangkut perbuatan luar biasa yang ditimbulkan melalui ilmu ini, seperti yang dinyatakan oleh Ibn Khaldun (1132-1406) dalam al-Muqaddimah, telah mencapai derajat mutawatir.Ilmu  huruf pernah berkembang pesat dalam tradisi intelektual musilm. Haji Khalifa (1609-1657) dalam Kasyf al-Zhunun mencatat lebih dari dua ratus karya dalam ilmu huruf.

Dalam klasifikasi ilmu Jabir ibn Hayyan (712-815) menempatkan ilmu huruf pada sub divisi ilmu rasional (al-‘il al-‘aqliyyah). Hal yang sama kita dapati juga pada klasifikasi ilmu Ibn Khaldun.Akan tetapi sekarang ilmu huruf (‘ilm al-huruf) dihadang stagnansi. Meskipun ilmu ini tetap diparaktekkan sampai hari ini, misalnya pada sebagian ordo tarekat sufi, akan tetapi karya baru orisinal sudah tidak dijumpai. Di beberapa pesantren di Indonesia, secara informal para kyai mengajarkan ilmu ini pada murid-murid tertentu.

Kita dengan mudah dapat menemukan beberapa website dari manca negara menyebarkan ilmu ini. Meskipun demikian apa yang beredar di pesantren atau di website tersebut tidak ada satu pun yang baru, semua merujuk ke karya-karya klasik masa lalu seperti karya Ahmad ibn ‘Ali al-Buni (wafat. 1125/622 H)Muhammad ibn Khathir al-Din al-‘aththar (wafat. 960/1563 H), Ibn al-Haj al-Tilmisani al-Maghribi (wafat. 1340/737 H), ‘Ali Abu Hayy Allah al-Marzuqi dan lain-lain.Aspek eksternal yang diduga berkontribusi pada terhentinya perkembangan ilmu ini adalah anggapan sesat, kurafat, tidak saintifik, dan bid’ah bagi mereka yang mempraktekkan atau menyebarkan ilmu ini.

Adapun aspek internal yang menuntut respon adalah bagaimana menjelaskan relasi antara praktek tertentu dengan efek yang mungkin ditimbulkan melalui praktek tersebut. Isu ini tidak mungkin menjadi masalah (al-masalah) dalam ilmu partikular (juz’i) dan bersifat subordinat (adna) seperti ilmu huruf (‘ilm al-huruf) ini. Isu ini tentu harus diserahkan kepada ilmu universal (kulli) dan tertinggi (a’la) yaitu filsafat atau irfan teoritis.

Akan tetapi fondasi ontologis Falsafi yang diargumenkan oleh Ibn Sina dan Mulla Sadra hanya menjelaskan variabel jiwa sebagai sumber efek, adapun huruf sebagai sumber efek pada realitas konkrit eksternal tetap takterjelaskan.Oleh karena itu menurut Dr. Beny adanya perlu adanya pendekatan ‘irfani menyangkut fondasi ontologis cara kerja ilmu huruf. Pendekatan ‘irfani memungkinkan dilakukan dengan alasan, secara ontologis di dalam irfan teoritis:1. Penerimaan adanya berbagai derajat huruf, dari derajat Nama Ilahiyah sampai alam materi2. Penerimaan adanya alam imajinal terpisah (al-mitsal al-munfashil) yang diduga di sinilah huruf mengambil forma sedangkan secara epistemologis:1. Penerimaan adanya penyingkapan formal (al-kasyf al-shuri) dan penyingkapan maknawi (al-kasyf al-ma’nawi)2.

Banyaknya sumber-sumber naqli menyangkut reportase penyingkapan yang dialami oleh urafa berkaitan dengan huruf.Dr. Beny berusaha menggali ilmu ini dengan pendekatan perspektif Ibn ‘Arabi karena menurutnya, Ibn ‘Arabi adalah satu-satunya ‘arif yang menggambarkan secara terperinci huruf alam berbagai derajat manifestasi Ilahi. Hasil penelitian ini akhirnya berhasil menjadi sebuah tesis berbahasa Inggris dan lolos ujian tesis S2, ICAS Paramadina. Melalui program Forum Temu Pakar (FTP) Riset Sadra mengundangnya sebagai pembicara dan penangggap, Dr. Ikhlas Budiman untuk mengetahui lebih jauh dinamika penelitian tersebut. Berikut transkip diskusinya.

Diskusi
Pembawaanya tenang, dan fokus pada ilmu. Selalu punya waktu untuk menjawab pertanyaan siapapun dengan lengkap dan berisi,  Dr. Benny Susilo membuka diskusi dan  mengatakan bahwa yang akan dibahas terkait ilmu ini adalah hasil dari penelitian tesis. “Ini dilatar belakangi karena pertama, saya hidup di lingkungan di praktisi ilmu ini sehingga ketika kita melihat bagaimana cara mereka melakukan praktek-praktek tertentu menimbulkan efek yang menurut kebanyakan orang disebut efek yang khoriq al-adah (di luar kebiasaan)”. Terang Dr Beny. Sebagai peneliti kita menyatakan-apa relasi sebuah praktek tertentu dengan efek yang ditimbulkan. Contoh sederhana misalnya seseorang datang ke kyai, “Kyai,… amal apa yang harus saya lakukan?” Kyai menjawab, “Baca saja Laa ilaaha illallah”. “Berapa banyak kyai?” “Seratus enam puluh lima” Nah darimana angka 165 tersebut? Ini menurut Dr. Beny menggunakan metoda ilmu huruf, karena huruf dalam kalimat itu hanya ada tiga, huruf alif, lam dan ha. Alif nilainya 1, lam 30, ha itu 5. Jumlahkan saja huruf-huruf tersebut sehingga menghasilkan angka 165.

Mereka mengatakan dengan teknik ini kami telah menggabungkan antara ruh dengan jasad. Ruh itu adalah angkanya, jasad adalah lafadznya. Kalau digabungkan antara ruh dan jasad tersebut maka efeknya akan luar biasa. Itu yang sederhana. Sampai tingkat yang lebih rumit ketika mereka menggunakan tulisan tertentu dengan bahan tertentu pada wadah tertentu ditulis pada waktu tertentu, pada jam tertentu, ketika konstelasi bintang pada zodiak ini, kemudian bulan pada manzilah ini, maka menimbulkan efek tertentu.

Kemudian ketika menulis mereka membakar harum-haruman yang berelasi dengan zodiak ataupun manzilah bulan tertentu tersebut. Kemudian juga setelah itu, apa yang ditulis tadi ditempatkan di tempat yang munasabah, yang cocok dengan tabiat atau pun sifat dari huruf tersebut. Mereka membagi huruf menjadi empat golongan, ada huruf nariyah (api), ada huruf turabiyah (tanah), ada huruf hawaiyah (udara), dan huruf maaiyah (air). Kalau huruf yang dominan itu adalah huruf yang mengandung unsur air, maka letakkan tulisan itu di dalam air.

Kita melihat apa relasi praktek tersebut dengan efek yang akan ditimbulkan.Lantas kemudian Ibn Khaldun  dalam kitab Muqaddimah menyatakan bahwa praktek-praktek yang di luar kebiasaan yang ditimbulkan oleh para ahli huruf ini sudah mencapai derajat mutawatir, jadi tidak perlu diragukan lagi. Kemudian juga posisi ilmu huruf ini ada dimana? Apakah termasuk sihir atau termasuk talisman (nanti akan saya jelaskan), atau termasuk niron jaj atau syakbazah. Ini adalah istilah-istilah yang berlaku di kalangan ahli sihir. Ada tiga derajat sihir menurut Ibn Khaldun.

Satu adalah sihir yang paling tinggi, yaitu yang murni menggunakan kekuatan jiwa tanpa ada bantuan alat apapun juga. Ini paling kuat. Kemudian derajat yang kedua menggunakan bantuan alat, apakah itu benda-benda di bumi yang berelasi dengan falak atau menggunakan tulisan tertentu. Sihir yang pertama yang tertinggi ini diistilahkan dengan istilah sihir saja. Tapi yang derajat kedua, yang dibawahnya dengan bantuan alat ini disebut sebagai talisman. Sedangkan derajat yang paling rendah yaitu menggunakan kekuatan imajinasi kita, ini disebut sebagai syakbazah.

Ada lagi kemudian Ibn Sina membahas apa pondasi yang membuat terjadi perbuatan-perbuatan khariq al-adah tersebut. Ibn Sina memberikan tiga pondasi. Pondasi yang pertama adalah kekuatan jiwa. Ini bisa menjelaskan bagaimana dari seorang nabi melakukan perbuatan luar biasa dan wali keluar perbuatan luar biasa, bahkan dari tukang sihir keluar perbuatan luar biasa. Berarti penjelasan Ibn Sina merujuk kepada sihir pada urutan tertinggi menurut Ibn Khaldun. Sedangkan yang kedua menurut Ibn Sina adalah keistimewaan unsur-unsur yang ada di Bumi seperti misalnya magnet bisa menarik besi. Ini menjelaskan kenapa terjadi khariquladah pada niron Jaj.

Niron jaj ini sejenis teknik, mereka mengambil insting seperti yang ada pada film Harry Potter, misalnya hati kelelawar dicampur dengan otak badak menimbulkan efek tertentu. Karena hati kelelawar berelasi dengan konstelasi bintang tertentu, otak badak berelasi dengan konstelasi bintang tertentu. Kekuatan datang ketika keduanya digabungkan, yang menimbulkan perbuatan khariq al-adah, dinamakan dengan niron jaj. Sedangkan jenis khariq al-adah ketiga, yang diberikan Ibn Sina adalah Thalasim, yaitu dimana menggabungkan kekuatan-kekuatan yang ada di Bumi itu dengan kekuatan jiwa-jiwa falak.

Jadi ruhaniyah-ruhaniyah falak, mereka percaya bahwa falak memiliki ruhaniyah ini harus ada yang menerimanya di Bumi, yaitu jiwa para pelaku tersebut. Ini disebut sebagai thalasim. Kita bertanya pada Ibn Sina, “Wahai Ibn Sina dimana posisi huruf kalau begitu?” Ibn Sina memiliki tiga saja, jiwa, keistimewaan benda-benda bumi, atau percampuran antara ruhaniyah langit dan ruhaniyah bumi. Bagaimana, apakah ilmu huruf itu menempati posisi tertentu dari tiga tersebut? Tidak bisa, sebab kalau kita mengatakan ilmu huruf hanya dijelaskan hanya pada sistem talisman, kekuatan ruhaniyah langit dan bumi, bagaimana kekuatan huruf tersebut.

Dalam ilmu huruf Dr. Beny memiliki hipotesa, huruf menjadi sumber efek pada realitas eksternal. Argumentasi tersebut tidak mencakup ilmu huruf, sehingga kita mengatakan dimana posisi ini. Sementara problem esensial pada ilmu huruf adalah bagaimana menjelaskan relasi praktek tersebut dengan efek yang akan ditimbulkan, dan ini tidak mungkin dibicarakan pada ilmu huruf karena ilmu huruf adalah ilmu yang juz’i/partikular/ilmu derajat yang rendah, mustahil dia akan membahas hal-hal yang bersifat ada atau tidak tersebut sehingga diserahkan pada ilmu al-A’la (ilmu tertinggi). Dua kemungkinan yakni falsafah atau irfan.

Dari falsafah kita menemukan baik penjelasan Ibn Sina, maupun penjelasan Mulla Sadra ketika menjelaskan tentang terjadinya peristiwa yang luar biasa, itu tidak bisa mencakup apa yang ada di dalam ilmu huruf. Kemudian kita menoleh pada irfan yang kita anggap sebagai ilmu al-A’la, ternyata para arif membicarakan ilmu huruf, bagaimana huruf tersebut bermanifestasi mulai dari derajat asma ilahiyah sampai ke derajat yang paling terendah di alam materi. Ini kemugkinan akan menjelaskan bagaimana huruf sebagai sumber efek pada realitas eksternal. Ilmu huruf ini pernah mencapai kejayaan dan dicatat oleh Haj Khalifah dalam kasyful zuruf, itu lebih dari 200 karya di bidang ilmu huruf. Contohnya adalah kitab manba ushul hikmah, yang terkenal karangan Arif billah Sayyed abd Abbas Ahmad ibn Ali.

Kemudian Sirr al-Asrar fii ihdhari al-jan, Sirr al-asrar untuk menghasilkan jin karangan  Syaikh Muhammad al-Maghribi. Kemudian Abdur al-Manzhur, terkait sihir, thalasim dan sebagainya yang isinya ilmu sihir. Kemudian jawahir al-lamaah karangan al_marzuki. Jawahir al-Khamsh karangan Syed Muhammad khofirudin seorang mursyid Syattariyah. Kalau  kita perhatikan ada orisinalitas pada ushul hikmah berbeda dengan jawahir al-khamsh, berbeda pada manhaj dan metodanya.

Kemudian sumusul anwa karangan Ibn Has isinya tentan ilmu huruf. Ketika kita membandingkan kitab-kitab itu terlihat perbedaan metodanya. Ini yang dimaksud dengan karya orisinal, sedangkan pada zaman modern tidak ada yang orisinal, semuanya mengutip kepada kitab-kitab yang lama tesebut. Kemudian kawakib al-lamaah, tib al-ruhani, khazinah al-asrar tentang ayat-ayat Al-Quran. Ibn Arabi juga memiliki mujarrabat, majmuah, tentang waktu khasiyat waktu tertentu. Ibn sina diduga memiliki mujarabat, di sini sebut majmuah Ibn Sina al-kubra. Saya tidak tahu apakah Ibn Sina betul-betul menulis kitab ini tapi kitab ini menyatakan pengarangnya Ibn Sina.

Terang Dr. Beny. Ilmu itu masih tetap dipraktekkan sampai saat ini di Indonesia, di kalangan pesantren kyai mengajarkan kepada murid-murid tertentu bagaimana kaidah ilmu huruf, bagaimana cara melakukan. Dan juga dijual di pasar-pasar karya ilmu huruf. Saya sempat ke pasar Rawa Bening untuk meneliti, ada dijual di sana, ada benda terbuat dari kulit kambing misalnya ditulis beberapa wafaq dengan teknik ilmu huruf. Kemudian terbuat dari lempengan besi, ada juga dari kertas mengikuti posisi/konstelasi zodiak yang ada di langit.

Unik, kertasnya kalau kita pegang akan melengkung sendiri. Jadi ilmu ini dipraktekkan. Ketika kita mencari di internet, banyak yang ditulis dengan cara ilmu huruf. Kalau kita cari kabbalah, maka kita akan menemukan banyak rabi juga yang menulis azimat-azimat yang ditulis dengan ilmu huruf.

Pada waktu ke Iran saya sempat mengujungi perpustaaan Ayatullah Marashi. Di sana dalam sebuah tempat yang ipasang pakai kaca, mereka menulis surah al-Quran, di sampingnya ada magic squarenya, ada wafaqnya. Kemudian surat al-Ikhlas dihitung hurufnya berapa kemudian diisi pada bujur sangkar ajaib 3×3. Surah Al-Falaq juga demikian. Jadi dia menghitung seluruh surah Al-Quran tersebut ada berapa banyak hurufnya dan membuat magic squarenya. Sayang kita tidak boleh memfoto atau tidak boleh mengakses lembaran tadi, mungkin karena peninggalan. Jadi kita tahu bahwa ternyata ilmu huruf ini pernah betul-betul mengalami kejayaan, namun sekarang mengalami kemandegan. Apa yang menjadi penyebabnya? Sebab yang pertama bersifat eksternal, yaitu bersifat aksidental.

Anggapan bahwa ilmu huruf adalah bidah, khurafat, tidak saintifik, dsb. Sehingga ketika orang mempraktekkannya akan dicap kelenik, bidah, yang kemudian jarang orang meneliti secara ilmiah. Kedua adalah ada pada ilmu huruf sendiri yaitu bagaimana kita menjelaskan relasi antara suatu praktek dengan efek yang ditimbulkan dari praktek tersebut. Untuk pertanyaan kedua, masalah inilah yang saya jawab kemudian dalam tesis ini.

Saya memilih pandangan Ibn arabi karena Ibn Arabi satu-satunya orang yang menggambarkan bagaimana huruf tersebut memiliki berbagai jenjang atau derajat penampakan mulai dari nama-nama ilahiyah, kemudian alam jabarut, malakut sampai kepada alam kita ini.Mereka sama sekali tidak menuliskan apa “subject matternya”, apa pondasinya, apa masalahnya. Dalam tesis saya-saya menjelaskan apa “subject matternya”, apa pondasinya, apa masalah-masalahnya dalam ilmu huruf.

Baik itu pondasi tashawuriyah atau tashdiqiyah, untuk membuat kita sebagai ilmuwan kemudian memahami kita sedang berhadapan dengan ilmu apa ini?. Ini yang kemudian berusaha saya soroti melalui penglihatan Ibn Arabi. Ibn Arabi memiliki cara pandang sendiri tentang ilmu huruf. Cara pandang Ibn Arabi inilah yang kita pakai dalam mengamati ilmu huruf tersebut, apakah bisa atau tidak hipotesa bahwa huruf sebagai sumber efek pada realitas eksternal bisa diterima atau tidak?

Kita menggunakan kacamata Ibn Arabi, kalau ternyata Ibn Arabi melihat bahwa huruf dalam realitas eksternal bisa menjadi sumber efek, maka bisa ditegakkan hipotesa saya menyatakan bahwa bukan cuma jiwa yang menjadi sumber efek, tapi juga huruf sebagai sumber efek.Kita akan menggunakan kacamata Ibn Arabi memperhatikan ilmu huruf, bagaimana subject matternya, pondasinya, masalah-masalahnya, dan praktek-praktek dari ilmu huruf tersebut. Dalam definisi ilmu huruf, yang menjadi maudhu’ adalah huruf hijaiyah.

Tapi dia berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain dari haisiyah dari aspek yang diamati pada huruf tersebut, yaitu aspek kamiyahnya (kuantitasnya) dan kaifiyahnya (kualitasnya). Ada ilmu tentang huruf juga tapi tentang bunyinya, atau pun kemudian akar dari suatu kata, bagaimana hurufnya. Itu sudah merupakan ilmu yang berbeda. Ilmu huruf adalah ilmu yang mandiri. Ketika mereka mengatakan huruf alif adalah huruf nariyah bersifat api, itu kualitas dari huruf alif, nilai huruf alif adalah satu itu kuantitas dari huruf alif. Ini yang dipelajari di dalam ilmu huruf.

Level atau derajat bekerjanya ilmu ini pada derajat ruhaniyah, derajat falak, kemudian derajat pada benda-benda langit. Ini bisa diliat pada karya Daun al-Aghtaqi Tadzkirah al-Albab, beliau menjelaskan tentang ilmu huruf tapi itu kita berbicara tentang ilmu pengobatan, dia menjelaskan sedikit tentang ilmu huruf. Ini contoh misalnya ada anasir itu nar api, turab, hawa, maa (air). Kemudian dibagi maratib, kemudian ada darajah, ada daqaiq sampai kepada khamis. Ini huruf alif nilainya adalah satu. Alif satu, ba dua, jim tiga, dal empat.

Mereka menghafalnya habajadu hawazaun thayakalun manasaun fashakhorun syakataun dalzororfun. Jadi cara mereka menghafalnya. Jadi kalau misalnya angka sebelas mereka menyebutnya ya alif yaa. Kalau 21 berarti kaa dan alif. Kalau misalnya kita punya nama Allah al-Alim, ain lam ya mim. Maka mereka mengatakan ain itu huruf air, lam adalah huruf air juga, ya adalah huruf tanah dan mim adalah huruf api. Jadi yang dominan adalah huruf air, karena ada dua huruf air. Mereka mengatakan nama Allah al-Alim itu bersifat maaiyah, dingin, sejuk.

Bagaimana menjelaskan efek sejuk tersebut? Apa manfaatnya mereka mengklaim manfaat itu bisa melihat ruhaniyah yang bekerja di balik alam-alam materi, menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh medis, melihat objek dari tempat kejauhan/teropong, kemudian mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi, bahwa ada sebagian bisa mengeluarkan harta karun. Ini ilmu yang ajaib.Lalu siapa yang mendirikan ilmu huruf ini? Bahwa dipercaya yang mendirikannya adalah Nabi Nuh a.s., jadi orang yang pertama membicarakan ilmu ini adalah Nabi Nuh.

Kemudian kalau kita perhatikan rantai silsilah ilmu huruf yang ada dalam kitab Manba ushul Hikmah karya Ibn Abbas, rantai silsilahnya sampai pada Nabi saw. Dan juga ini dibuatkan syarkhul uyun Ayatullah Amuli. Kalau kita perhatikan punya karya tentang ilmu huruf, rupa-rupanya di dunia ahlul bait juga ilmu ini berkembang, dan saya menemukan mujarabah imamiyah. Di sana digunakan praktek ilmu huruf juga, Ayatullah Amuli mengatakan bahwa dari Ibn Arabi, beliau mengatakan Imam Ali mewariskan ilmu ini kepada putranya, Imam Hasan. Kemudian pada Imam Husein, kemudian pada Imam Ali Zaenal Abidin, kepada Muhammad al-Baqir kemudina Ja’far Ashadiq. Kalau kita lihat silsilah ilmu huruf banyak yang mengambil dari Imam Ja’far.

Apalagi dibuatkan statement Ibn Arabi bahwa orang pertama kali belajar mengenal huruf, setelah mengenal huruf kita mengenal kata, setelah mengenal kata kita mengenal kalimat, dari kalimat itulah kemudian datang ilmu-ilmu yang bersifat transmisi, ilmu riwayat.

Harusnya kita kembali lagi ke asalnya, yaitu huruf. Kata Ibn Arabi-huruf itu adalah ilmu yang khusus bagi keluarga Muhammad–dimana Nabi adalah kotanya dan Ali adalah pintunya. Jadi itu ilmunya keluarga Muhammad.Penjelasan Ibn arabi menyatakan bahwa kalau orang berbicara menggunakan kalimat itu adalah jelas-tapi terbatas. Contoh ketika kita mengatakan “saya makan nasi”. Kata makan ketika dihubungkan dengan nasi tidak ada pengertian lain. Sedangkan berbicara menggunakan kata makan, ini lebih tersembunyi, tapi eksplanasi lebih luas. Misalnya kata makan, bisa makan nasi, makan hati, atau makan riba. Bermacam-macam.Jadi kata lebih luas, kata Ibn arabi. Sedangkan berbicara dengan huruf, itu yang paling sempurna, paling banyak maknanya, dan itu dikhususkan bagi keluarga Muhammad. Karena itu tidak ada kata muqatha`ah, kecuali dalam Alquran. Kitab terdahulu tidak ada muqatha`ah. Ketika kita bicara “m”, bisa berarti makan, minum dan lain-lain. Jadi, huruf lebih kaya.

Pembicaraan lewat huruf adalah pembicaraan paling dalam. Seharusnya kita kembali kepada huruf. Ibn Arabi menulis kitab khusus tentang huruf, menyangkut semua huruf semua dan luar biasa. Dalam Futuhat pun ada. Jelas Dr. Beny.Dr. Beny pernah bertanya pada Prof. Mahmud Ghurab tentang ilmu huruf yang ada dalam Futuhat pada saat mengerjaan tesis. Dia mengatakan “saya meneliti puluhan tahun karya Ibn Arabi, namun begitu bertemu dengan pembukaan Futuhat dimulai dengan ilmu huruf itu saya seperti membaca huruf kanji, dan dibacanya bukan dari atas ke bawah tapi dari bawah ke atas. Membacanya saja tidak mengerti, persis seperti dalam Al-Quran alif, lam, mim yang tidak diketahui maknanya. Ibn Arabi menulis Futuhat persis seperti susunan al-Quran. Sekarang masalah yang dihadapi ilmu huruf adalah stagnansi, tidak ada karya yang baru.

Banyak tersebar di internet, tapi rujukannya kembali pada kitab-kitab klasik. Tidak ditemukan karya yang baru. Kemudian juga masalah aksidental, bahwa ilmu ini dianggap bid’ah. Kemudian masalah esensialnya yaitu bagaimana membuktikan relasi dari praktek dan efek yang ditimbulkannya.Dari kitab Sumusul Anwa, terdapat bagaimana menulis huruf jim yang tidak ditemukan dalam kitab yang lain. Ini kitab yang unik. Beliau mengatakan bahwa barangsiapa menulis pada sebuah wadah atau pun shahifah 100 kali huruf mim dengan tulisan seperti itu. sedangkan al qamar bulan pada manzilahnya rasya. kemudian dia menyebutkan huruf tersebut sedangkan bulan ada pada manzilah tersebut, sebanyak bilangan tersebut kemudian membakar bakhun yang disebutkan di bab sebelumnya oleh beliau.

Kemudian menyebutkan qasam,sumpahnya pada ruhaniyah huruf tersebut sebanyak 10000 kali. Kemudian di akhir sumpah tersebut dia mengatakan, “wahai falak ruhaniyah” yang diberikan tugas untuk menjaga perbendaharaan dan kekayaan dan engkau adalah pemimpin dari segenap penolong malaikat yang diberikan tugas untuk menjaga setiap perbendaharaan atau disebutkan kemudian dan seterusnya, maka kalau engkau melakukan hal tersebut dengan persyaratan tertentu dan sempurna, engkau akan melihat kemudian dirham-dirham. Kemudian dinar-dinar, dan berbagai batu mulia berupa mutiara tercurah seperti curahan hujan.

Kemudian engkau ambil sesuai keinginanmu, kemudian engkau setelah itu mengatakan wahai malaikat angkatlah semua ini seketika akan lenyap dari pandangan mata kecuali yang telah engkau pegang tersebut. Jadi saya kira ini karangan mereka, mereka benar-benar mempraktekkan dan berhasil melakukannya. Karena itu di dalam kitab tersebut mereka mengatakan bersumpah “Demi Allah apa yang saya tulis ini adalah yang benar-benar saya lakukan”. Ini luar biasa bagi orang yang belum paham. Maka dari itu Ibn Sina ketika menjelaskan pondasi perbuatan khariq al-adah, beliau mengatakan “hampir-hampir berlawanan dengan kebiasaan”. At-Thusi memberikan syarah “hampir-hampir berlawanan dengan kebiasaan” bahwa orang umum yang mengatakan perbuatan itu khariq al-adah, tapi orang yang mengerti dan tahu sebabnya tidak mengatakan itu khariq al-adah.

Oleh karena itu penelitian ini oleh Dr. Beny menggunakan pendekatan irfan, karena irfan mengakui ilmu hudhuri. Ilmu hudhuri hanya berhubungan dengan sesuatu yang maujud, tidak dengan sesuatu yang tidak ada. Jadi ketika seseorang mengalami sesuatu secara hudhuri, dia mengalami wujud itu sendiri. Kalau Ibn Arabi mempersepsi khasiat-khasiat huruf dengan ilmu hudhuri menunjukkan khasiat itu ada pada realitas eksternal.

Kemudian juga dalam irfan ini mereka mengakui bahwa huruf memiliki berbagai derajat/tajalli atau manifestasi. Kemudian juga mereka menerima adanya alam mitsal al-munfashil di luar imajinasi kita, misalnya kemudian makna itu mengambil bentuk berupa huruf. Jadi betul-betul di luar jiwa kita punya realitas eksternal dan memberikan efek eksternal. Kemudian juga bahwa laporan-laporan ahli ilmu huruf begitu banyak dalam kitab-kitab irfan. Sehingga kita tidak kesulitan dalam berargumentasi.Mengapa Ibn Arabi?

Seperi yang saya ungkapkan. Sekarang saya akan melihat hasil. Jadi hasilnya, yang pertama bahwa karena ada di idrak dengan ilmu hudhuri berarti betul-betul realitas eksternal yang riil, maka menunjukkan khasiat dan keistimewaan betul-betul ada pada realitas eksternal. Kedua, apakah huruf merupakan sumber dari efek. Ini dilawan dengan huruf bukan sumber dari efek. Ini pun kita buktikan dengan penjelasan Ibn Arabi bahwa demikian keadannya. Kemudian juga tentang relasi antara jiwa manusia dengan huruf, yaitu bagaimana huruf pada realitas eksternal bisa berelasi dengan jiwa manusia.

Manusia itu menyatu dengan ilmu dan amalnya, jadi kalau orang melakukan suatu amal, dan amal terkandung pada zahir dan batinnya jiwa itu maka akan menyatu dengan aspek lahir dan batin amal tersebut. Kemudian kekuatan apa yang diperoleh oleh orang yang menulis huruf?Ibn Arabi mengatakan,, jika terjadi goresan di alam ini- apakah oleh angin, binatang, dll. Maka Allah meniupkan ruh kepada goresan tersebut. Ketika goresan itu hilang, maka ruh akan naik ke alam barzakh dan dia senantiasa bertasbih dan bertahmid memuji Allah.

Ketika orang menulis huruf pada waktu tertentu atau pun pada saat bulan pada posisi tertentu, maka, pertama dia akan mendapatkan kekuatan berhubungan dengan esensi bulan, kedua dengan cahaya bulan, ketiga dengan stasiun atau manzilah bulan pada waktu itu, keempat adalah zodiak dimana bulan berada pada waktu itu. Jadi ada empat kekuatan yang dia peroleh ketika dia menulis huruf tertentu pada waktu tertentu ketika bulan pada posisi manzilah ini ketika pada zodiak ini. Inilah sedikit tentang ilmu huruf menurut Ibn Arabi.Setelah Dr. Beny selesai presentasi, kemudian di lanjutkan komentar dari Dr. Ikhlas Budiman sebagai penanggap.

Respon Dr. Ikhlas Budiman Dr. Ikhlas langsung membagi pengalamanya kepada peserta sebagai pengantar diskusi. Dikatakanya, “saya sendiri punya pengalaman tentang ilmu huruf. Saya pernah dapat huruf waktu saya keluar dari gontor. Saya pergi ke Mojokerto. Setelah saya di Mojokerto saya dibimbing oleh seseorang. “Anda harus pergi ke pedalaman di kota malang.” Saya cari ke Malang sampai ke pedalaman.

Di situ saya bertemu dengan seorang kyai, saya lupa daerahnya. Saya diberikan huruf saja. Saya simpan huruf itu. Sampai suatu ketika, saat saya di Iran saya ingin belajar ilmu huruf, tapi saya dilarang katanya nanti bisa  miskin. Akhirnya saya tidak mempelajari ilmu huruf. Menarik sebenarnya. Yang diberikan kepada saya itu angka dan huruf. Tapi sebelum kita kaji, saya mau bertanya lagi. Memang benar ilmu ini ajaib sedikit, tapi kita berupaya menggunakan akal kita. Dalam hadis ada empat orang nabi.

Kalau nabi yang dari Suryani adalah nabi Adam, Syis, Nuh dan Kham (Idris). Kemudian empat orang nabi yang berasal dari Arab itu, Hud, Soleh, Syuaib dan nabi Muhammad. Bani israil adalah Musa dan yang terakhir adalah Isa. Muncul pertanyaan, huruf yang kita bahas adalah huruf Arab, sementara zaman nabi Nuh dengan bahasa Suryani. Yang bahasa Arab adalah Hud, Soleh, Syuaib dan Muhammad.

Mengapa keajaiban itu tidak dalam bahasa Suryani? Kalau memang ilmu ini ajaib, mengapa harus dalam bahasa arab? Kalau angka mungkin dapat bertemu. Salah satunya mungkin kalau kita ketemu dalam ilmu huruf banyak angka yang ditulis. Kalau kita pergi ke Iran, atau ke ke Dutaan saja kita akan mendapati nomor 110. Kita lihat angka 110, pertama adalah huruf ain. Huruf ain 70. Kemudian lam, 30/ ya, 10. Ali itu bermakna alif. Maka katakanlah orang Syiah menggunakan ilmu huruf. Sehingga kalau kita ke Iran angka 110 yang ditulis. Jadi kalau kita menutup pintu rumah- tulislah 110 seakan-akan yang jaga rumah anda adalah Ali. Jika dalam ilmu huruf itu banyak angka, sebenarnya bukan untuk menghindari, tapi itu nama-nama Tuhan.

Mengapa ditulis angka? karena angka-angka itu adalah nama Allah supaya bagi yang tidak berwudhu tidak masalah. Dalam tafsir Ibn Arabi (takwil Kasyani) terdapat cara menggunakan huruf, yang juga digunakan oleh Nabi Zakariya. Di sini ada cara supaya orang tidak melihat kita, misalnya ada polisi yang ingin memeriksa STNK. Kita tidak bisa terlihat, atau ada masalah dalam urusan tertentu. Saya ingin menjelaskan ilmu ini yang juga digunakan nabi Zakaria. Huruf Kaf, Ha, Ya, Ain Shad, Ha, Mim, Ain, Sin, Qaf, jadi kalau kita ingin tidak terlihat bacalah huruf tersebut.

Menurut Ibn Arabi Kaf itu adalah nama Tuhan. mengapa al-Kahfi? mengapa nabi sulaiman membutuhkan huruf Kaf, karena pada saat itu dia berdoa untuk menjadi pewaris-Nya, dia panggillah al-Kafi tapi disebut dengan huruf Kaf. Setelah Maryam mengisahkan tentang nabi Zakaria. Kaf, Ha, al-hadi, perlu al-hadi karena seakan-akan nabi Zakaria merasa belum mendapatkan petunjuk, maka diberikan kelebihan selama 3 hari. Itu petunjuknya. Ya itu Syafi, dia hanya huruf belakangnya. Kenapa Syafi, karena istrinya lagi mandul ada yang bisa menyembuhkannya.

Saya ingin menjelaskan bahwa nama huruf-huruf itu sendiri adalah nama-nama Tuhan. Mengapa? Tanya Dr. Ikhlas.Ada yang disebut alam ahadiyah, ada yang disebut alam wahidiyah. Alam ahadiyah dimana nama-nama tuhan belum terurai, sementara di alam wahidiyah di situ nama-nama Tuhan mulai terurai. Dan disitulah terjadi apa yang kita kenal entitas-entitas permanen. Makanya di dalam Futuhat, yang saya kutip dari kita Kibritul ahmar fi bayani yang ditulis Abdul wahab Sya’rani yang merupakan ringkasan Futuhat. Menafsirkan ayat wama allamna syira wama yambagillah. Mengapa Allah tidak mengajarkan nabi syi’ir? Sya’ir adalah sesuatu yang ringkas tapi padat isinya.

Menurut Ibn Arabi ini adalah alat ijmal, belum terurai, sedangkan al-Quran harus diajarkan tiap tafsil. Sebenarnya kalau kita cari ijmalnya Quran ada di huruf muqatha’ah seperti alif, lam, mim, terurainya pada dzalika kitabula yang merupakan alam wahidiyahnya. Tapi ini dibantah oleh Syaikh Jawadi Amuli karena dia menolak sebenarnya semua isi Quran itu huruf muqattha’ah. Maka dzalika sama saja seperti alif, lam, mim. Karena harus begitu, karena semua adalah nama-nama Tuhan kalau pendekatannya tadi, bahwa huruf itu selalu mewakili nama-nama tuhan.

Tapi kalau kita melalui pendekatan muqatha’ah itu alam ijmalnya nanti uraiannya di dalam wahidiyah.Tapi sebenarnya sudah tidak berlaku lagi ketika alif, lam, mim adalah nama-nama Tuhan juga, tapi dia rinci, makanya ketika tidak dikenal, tidak jelas, walaupun nanti muncul dzalika.Olehkarena itu,  ketika kita membaca Quran, untuk tahu makna ayat al-Quran, itu nama apa yang termanifestasi dari ayat itu, lihat nama Tuhan di belakangnya.

Ketika ada ghafururahim, maka itu nama Tuhan untuk menjelaskan ayat yang sebelumnya. Sebenarnya ini bagus kalau kita masukkan ke teori psikologi, kalau kita ingin mendapatkan ilmu, maka panggil al-Hakim dan al-Alim. Jadi bagi saya huruf-huruf itu adalah nama-nama Tuhan, di satu sisi Ibn Arabi mengatakan bahwa huruf-huruf adalah nama-nama malaikat. Sebenarnya malaikat juga wujud dari nama-nama tuhan. Maka kalau itu pakai nama malaikat maka itu akan cocok dengan pembahasan. Huruf-huruf itu seakan-akan memberikan malaikat-malaikat yang harus menjaga saya. Karena huruf itu punya malaikat. Kita bertanya lagi mengapa huruf arab?

Apakah karena penulisnya orang arab jadi simbolnya adalah simbol Arab? ini mungkin agak kurang diterima-bagaimana kalau misalnya kita mengatakan ilmu huruf itu ada karena sebenarnya ini ilmu huruf arab.Dr. Ikhlas bertanya, bisa nggak kita pakai ilmu huruf Indonesia, seakan-akan dalam mukjizatnya harus sufi Indonesia dulu untuk menjelaskan ilmu huruf Indonesia sementara ini ilmu huruf arab. Argumen selanjutnya pertama, Allah tanpa bahasa, pada saat Allah tanpa bahasa maka nama al-hakim itu kan bahasa arabnya saja, yang jelas ada nama yang memberikan petunjuk. Tapi kalau dia sudah berfungsi sebagai al-hadi–maka sebagai huruf, itu menjadi pertanyaan. Karena ini huruf Arab, maka seharusnya hanya makna saja. Tapi mungkin juga karena nabi harus menjelaskannya di alam materi maka dia menjadi tulisan materi, jadi ketika di alam ahadiyah, ia tidak menjadi huruf ta, dia bukan huruf al-hadi, dia adalah sebuah entitas yang kita tidak tahu maknanya. Tapi kita harus menjelaskan karena harus disampaikan dalam bahasa manusia, karena nabinya adalah orang arab, maka nama-nama menjadi, al-hadi, al-kafi.

Dikusi Peserta dan PembicaraPesertaSesi selanjutnya diskusi dan tanya jawab peserta. Seorang peserta, Bidin, menayakan darimana nilai-nilai ini didapatkan? apakah hanya sekadar cocokologi atau bagaimana?. Kemudian Endang, menanyakan, mana yang lebih kuat pengaruhnya, apakah huruf atau orang yang mempraktekkan ilmu huruf? Apakah orang awam bisa juga mendapatkan efek dari mempraktekkan ilmu huruf? Jadi menurut Endang harus ada keseimbangan antara huruf dengan orang yang mempraktekkannya, karena orang-orang yang menulis ilmu huruf memiliki derajat spiritual yang tinggi. Menurut Allamah Thabathaba’i bahwa dimana kesempurnaan jiwa seseorang itu, sehingga ruh lebih mendominasi daripada jasadi, sehingga dia sangat mudah sekali, oleh karena itu kejadian luar biasa sudah biasa bagi orang yang tingkat spiritualnya tinggi dan untuk orang awam menjadi sebuah kejadian luar biasa.

Sebenarnya mana yang lebih power, person itu sendiri apa hurufnya? Endang mencoba mengulang pertanyaan.Dr. BenyKemudian dijawab oleh Dr. Beny merespon tanggapan Dr. Ikhlas, bahwa seluruh dari para masyais dari ilmu huruf ini tidak menyebutkan darimana silsilah ilmu huruf, mereka mengklaim bahwa ini sudah diajarkan pada nabi adam, turun ke nabi syis, nabi idris dan kepada kita. Jadi bahkan di zaman nabi Saw, orang yahudi sudah punya ilmu ini yang memungkinkannya meramal berdasarkan huruf muqathaah.

 Ibn Arabi juga menjelaskan, ada perbedaan sistem periodik ini, jadi ada sedikit perubahan pada yang paling ujung. Dan beliau orang yang di daerah Barat, beda dengan yang di daerah Timur. Tapi dia tau merujuk Barat atau Timur. Jadi ada tiga huruf yang berbeda. Dhad, zho, jim, untuk orang-orang yang di daerah timur. Sedangkan zhal, sin, jim untuk orang-orang barat. Ibn arabi sendiri memilih untuk sistem daerah Barat tersebut.Kemudian darimanakah kekuatan tersebut? Ibn Arabi menjelaskan bahwa yang menjadi sumber kekuatan adalah ruhaniyah, arwah yang ada di balik huruf tersebut. Sementara huruf tersebut adalah jasad bagi mereka. Apakah huruf itu adalah lafadz atau tulisan, maka ruhnya tersebut adalah malaikat sedangkan huruf adalah jasadnya.

Nama malaikat adalah nama huruf sendiri, ini adalah mazhab Ibn arabi. Jadi Ibn Arabi mengatakan bahwa huruf muqathaah ada 14 huruf. Kalau engkau mengatakan alif, lam, mim, maka ada tiga malaikat yang merespon kamu. Bahkan disebutkan oleh ibn Arabi apa yang didapatkan oleh malaikat tersebut ketika orang mengucapkan alif, lam, mim. Kemudian kita bisa menangkap dari penjelasan Ibn Arabi bahwa malaikat tersebut mempunyai kesadaran, bisa menanggapi perkataan kita, memiliki kecerdasan juga dan juga kemudian tidak pernah terpisah dari huruf tersebut. Apakah semua orang bisa tidak mendapatkan efek?

Dijawab, bisa kata Dr. Beny, tapi sesuai derajat jiwa dia. Misalnya jiwa dia derajat sekian, maka efek itulah yang dia peroleh. Sampai cuma berupa tulisan saja tanpa energinya, itulah derajat jiwa dia. Tapi ada orang derajat jiwa demikian tinggi, dia bisa mengakses lebih tinggi lagi. Sehingga menggunakan metode ilmu huruf ini -ada orang yang menggunakan riyadhah hanya sebentar. Dikatakan oleh Ibn Khaldun sebagai ahli thalasim, riyadhah mereka sebentar tapi huruf tersebut menjadi jembatan kontak dengan ruhaniyah-ruhaniyah benda-benda langit.

Tapi ada juga ahli asma yang riyadhah demikian panjang sampai  mereka sendiri menjadi manifestasi dari huruf itu. jadi kalau dia manifestasi huruf jim, maka semua khasiat huruf jim keluar dari dia. Jadi dia sebagai manifestasi dari huruf tersebut. Itu perbedaan antara ahli asma dan thalasim tersebut.Menyangkut apakah berlaku bagi huruf-huruf Ibrani dan sebagainya? menurut Dr. Beny berlaku juga, ada ilmu huruf yang berkembang di kalangan Yahudi yaitu ilmu dalam sistem Kabbalah mereka, hanya dalam penelitian ini -saya hanya membatasi pada huruf arab saja.

Rupanya Ibn Arabi juga hanya membatasi pada huruf Arab, dan argumentasi Ibn Arabi adalah berdasarkan nafas rahman. Jadi nafas rahman itu keluar dan urutannya dari yang makhrajnya paling dalam dari kita, dari hamzah sampai wau terakhir. Huruf terakhir ini kata Ibn Arabi mengandung kekuatan semua huruf, dan huruf terakhir itu adalah Insan Kamil. Jadi Insan Kamil mengandung seluruh kekuatan asma dan seluruh kekuatan ciptaan Allah

Kalau asma ism tertentu memiliki efek tertentu, sementara Insan Kamil memiliki seluruh efek. Karena itu kata beliau makhluk selain manusia adalah khalq, sedangkan manusia adalah khalq sekaligus al-haq. Karena sistem al-haq ketika nafas rahman tersebut urutan hurufnya tertentu, itu kemudian termanifestasi pada Insan Kamil pada kita.Kita ketika membawakan huruf mulai dari dari huruf khalaq misalnya, ain, ha sampai wau. Wau ini dianggap sebagai huruf yang paling kuat. Jadi kalau kita lihat pada nafas rahman, urutannya bukan abajadun tersebut.

Urutannya yaitu hamzah, ha, ain, ha, ghim, kha, qof, kaf, jim syin, ya dhad lam, mim, ra, tha, dal, ta, zai, sin, shad, zha, ta, zal, fa, ba, mim, wau. Jadi wau ini huruf yang paling powerful, mengandung semua huruf yang lain. hanya ada sedikit yang perlu dijelaskan-ternyata Ibn Arabi menganggap human being (insan) adalah huruf mim. Padahal dia menyatakan di tempat lain insan maqamnya adalah huruf wau. Kemudian dijelaskan oleh William Chittick bahwa wau tersebut kalau di dalam penjelasan Ibn Arabi adalah seluruh maqamat dan manazil adalah wau, sedangkan Insan adalah huruf mim.

Chittick mengatakan bahwa menurut Ibn Arabi wau adalah huruf terkuat dan itu adalah Insan Kamil, dan mengapa sekarang dia mengatakan maqamat dan manazil? Kemudian Chittick berusaha menjelaskan bahwa mim itu adalah Insan, tapi maqamat ahwal itulah jalan mereka kembali kepada Allah dan itu maqam insaniyah, semua dan orang akan terbedakan pada huruf wau tersebut, ada di maqam mana dia dalam perjalanan kembali tersebut.

Kemudian seorang peserta mengatakan, wau itu huruf yang paling menyeluruh, namun belum ada burhan untuk menjelaskannya. Apakah burhannya itu berhubungan dengan angka?Dijawab oleh Dr. Beny, sistemnya lain lagi. Kalau sistem nafas rahman itu sistem tersendiri, belum mencakup masalah relasi antara huruf dan angka. Tapi saat bicara soal angka, Ibn Arabi mengatakan iya, wau pada nafas rahman itu paling kuat, tapi untuk praktek di ilmu huruf dia lemah. Jadi lain lagi.

Mengapa demikian? Karena wau adalah huruf yang bersifat sejuk, dingin. Jadi kalau kita katakan ini hawa, huruf tanah yang dingin dan lembab. Sehingga kamu harus mengganti wau ini- menjadi jembatannya yaitu angka. Cari sifat yang berlawanan dengan wau tersebut, jadi api tapi nilainya nilai wau, enam angkanya. Tapi kemudian harus api. Ternyata itu adalah huruf ha. Ha itu adalah ha dan alif, jadi nilainya adalah enam tapi derajatnya api. Jadi kata Ibn Arabi kalau kamu praktek ilmu huruf, walaupun wau pada nafas rahman adalah yang paling kuat, tapi untuk praktek ilmu huruf dia bersifat dingin, tidak bagus untuk pengaktifan. Kamu harus cari unsur yang berlawanan dengan dia, tapi senilai dengan dia. Dan dia senilai dengan Ha. Jadi sistemnya beda. Kalau sistem nafas rahman, wau paling kuat. Tapi pada waktu pengamalannya tidak. Sebenarnya ada juga kalau pakai angkanya.

Dijelaskan syarh asmaul husnanya Sabziwari, sebagai pembenaran-pembenaran. Misalnya Adam, adam itu jumlahnya 45. Hawa itu jumlahnya 15. Ini digunakan oleh Sabziwari untuk pembenaran hadist bahwa hawa itu berasal dari tulang rusuk adam. Hawa itu sepertiganya adam. Mereka memperlakukan huruf ini persis seperti ilmu kimia dalam meramunya.Kemudian pertanyaan lain dari peserta, tentang kekuatan ilmu huruf yang  juga dipengaruhi oleh posisi bulan, bagaimana hubungannya?Dijawab Dr. Beny, jadi mereka memberikan posisi huruf dengan manzilah bulan tertentu. Contoh misalnya kaf itu dia menempati posisi manzilah bulan al-nasrah. Maksudnya kalau posisi bulan ada manzilah al-nasrah tersebut, kalau kita menulis huruf kaf pada waktu itu, kaf mencapai puncak power dia. Kemudian jim di tarfah. Ketika kita menulis huruf jim pada saat bulan pada posisi tarfah, maka jim mencapai puncaknya. Seperti yang dipraktekkan oleh Ibn Hash, huruf ghim posisinya pada rasya. Jadi kekuatannya pada waktu tersebut.Pertanyaan lain, kalau memang ilmu huruf ini sudah ada dari dulu dan ada di ratusan buku.

Apa yang menyebabkan ilmu huruf tidak ditekuni di zaman sekarang? Lalu mengapa para ilmuwan muslim tidak menekuni ilmu huruf untuk kesejahteraan manusia? Huruf itu kan banyak, tapi kok tidak memiliki efek? Lalu apa yang memberi efek?Dr. Beny menjawab, saya pikir bisa, tapi kendalanya ilmu huruf belum masuk ke ranah ilmiah. Usaha saya ini adalah memasukannya ke ranah ilmiah, kemudian kita mempelajari apa maudhunya, apa mabadinya, apa masailnya. Setelah masuk ke ranah ilmiah maka orang tidak akan mengatakan ilmu ini klenik, tapi akan disejajarkan dengan ilmu fisika, kimia dan biologi. Baru kemudian bisa dikembangkan bagaimana kemudian huruf ini digunakan untuk kemaslahatan manusia. Saya kasih contoh, kata Dr. Beny meyakinkan, orang di daerah perkampungan, menggunakan ilmu huruf bisa mengusir tikus. Jadi ditulis wafaq tertentu ditancap di tengah hingga kabur tikusnya. Mereka juga bisa memancing ikan dengan huruf nun.

Mungkin ilmu ini bisa dikembangkan setelah orang menerima ilmu ini, yaitu ilmu yang benar-benar bersifat ilmiah pondasinya secara metafisis dan bisa dijelaskan dengan pandangan Ibn arabi.Lalu mengapa, walaupun huruf itu banyak tapi tidak memberikan efek? Yaitu tadi, bahwa ada efeknya, kita melihat dia itu efek-efek dia. Hanya efek yang kita inginkan kalau itu bersifat khariq al-adah harus ada treatment tertentu selain hanya sekadar huruf tadi. Jadi kalau kita maksudnya efek yang khariqul adah maka harus ada tambahan tadi, yakni waktu tertentu, orang harus melakukan riyadhah tertentu, bahan-bahan tertentu yang menimbulkan efek tertentu.

Ditanggapi salah satu perserta, sebenarnya ini bukan khariq al-adah, karena ini sistem. Untuk menerima ilmu ini secara ilmiah harus ada penerimaan adanya sistem. Karena kalau sudah kita pelajari sistemnya, kemudian itu diterima, saya rasa ini bukan mukjizat. Mungkin secara ilmiah kita mengatakan apa-apaan ini huruf kok bisa jadi begini ya, katakanlah ini mukjizat, tapi menurut saya ini biasa karena ini ada sistem pengetahuannya. Setiap ilmu punya sistem dan metodenya. Jadi kalau kita ingin menganggap kalau ilmu ini bermanfaat maka kita harus masuk ke sistemnya, jangan membacanya dengan ilmu lain, kita harus pakai juga dengan caranya dia.

Bagaimana mengetahui ilmu ini harus kita pelajari. Kalau kita pakai metode positivisme untuk membaca ilmu ini, maka tidak akan nyambung. Seperti antibiotik, munkin orang pedalaman Irian jaya menganggapnya mukjizat. Antibiotik yang dapat menyembuhkan kerongkongan dalam waktu tiga hari. Padahal orang pedalaman membutuhkan waktu sebulan untuk sembuh. Bagi dokter- antibiotik itu biasa.Pertanyaan selanjutnya dari peserta, sebenarnya penemuan pada waktu tertentu, campuran tertentu itu didapat dari eksperimen atau darimana? Ada klaim- dari mukasyafah. Mereka melihat benda-benda tertentu memiliki relasi dengan angka tertentu, huruf tertentu.Diatanggapi Dr. Beny, bahwa dengan pendekatan Mulla Sadra, semuanya saling berkaitan. Kita semua terhubung dengan alam semesta. Mungkin kalau pendekatan harakah jauhariyah, seluruh alam semesta bukan benda satu-satu, ini semua berjalan, maka terjadi perubahan dari satu perubahan. Saling berkaitan satu sama lain. Mukasyafahnya hingga menjadi huruf dan angka memiliki sistemnya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, adakah huruf-huruf ini memiliki sifat maskulin dan feminin?, kemudian dijawab oleh pembicara, kalau sepanjang yang saya teliti, saya tidak menemukan adanya maskulin dan feminin. Hanya ada ketika mereka menafsirkan bintang daud, dua setiga digabungkan, ilmu huruf menghormati lambang itu sebagai nama Allah yang paling agung. Isinya satu segitiga, isinya ganjil, segitiga yang kedua isinya genap semua. Mereka menafsirkan itu seperti Yin dan Yang. Hanya saja bukan lingkaran tapi segitiga. Namun hal ini tidak mainstream dalam ilmu huruf.Ilmu sufi juga punya ilmu nahwu. Makrifat itu kenapa, nakirah itu kenapa, kenapa kata ini menjadi manshub, kenapa dhammah, kenapa jadi kasrah, itu ada ilmunya. Namanya adalah nahwu qulub disusun oleh Qusyairi. Jadi ada alasannya. Pertanyaan lain bagaimana dengan tradisi kearifan daerah yang sama-sama memiliki ilmu huruf? Apakah karakteristiknya sama? Universal, atau partikular- tapi apakah ada kesamaan?

Dijawab Dr. Beny, seperti buku mujarrabat jawa, ada juga energinya. Karena ada benda-benda tertentu jika ditulis huruf-huruf jawa memiliki energi. Seperti juga yang dilakukan rabi-rabi Kabbalah Yahudi. Namun sistemnya berbeda. Apakah sistemnya dapat dilakukan transliterasi ke bahasa Arab? ini perlu penelitian selanjutnya. Pertanyaan kemudian, bagaimana kita memastikan bahwa dengan ilmu huruf kita tidak memakai bantuan jin?

Direspon Dr. Beny, dalam ilmu huruf mereka tidak menjelaskan. Hanya berdasarkan pengalaman tergantung dari ijazah, rantai silsilah guru. Jika rantai silsilah itu terjadi kontrak perjanjian jin, maka ke bawahnya ikut. Kalau sejak awal sang guru mendapatkannya dengan riyadhah yang berat, maka energi ke bawahnya akan murni. Tapi tidak dijelaskan secara khusus apakah ada campur tangan jin atau tidak. Tapi silsilah sangat menentukan.

Setelah diskusi berjalan satu jam, moderator menyimpulkan dengan analogi pertanyaan, jika kita ingin menjadikan ilmu huruf itu rasional, maka bisa dikatakan bahwa ilmu ini dapat diakses semua orang. Pertanyanya kalau kita harus berwudhu atau riyadhah khusus, apakah tidak membuat ilmu ini eksklusif? Jawabanya bisa tidak-selama ilmu huruf menjadi diskursus akademik. (ma’ruf)

Free WordPress Themes, Free Android Games