Judul Buku, POTRET ISLAM DI TANAH PERSIA: Catatan short course
Penulis, Dr. M. Zainal Abidin, M.Ag
Penerbit, Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta
Cetakan Pertama, Mei 2016

Catatan Penulis: Dr. Zaenal Abidin

Tulislah apa yang kamu pikirkan, meski itu dianggap sampah, daripada menjadi sampah dipikiranmu. Tulislah meski tulisanmu jelek, daripada kamu jelek karena tidak menulis. Bahasa provokatif agar menjadi penulis produktif ini pernah saya baca dahulu di sebuah buku how to, dan menjadi salah satu nspirasi ketika saya berada di Tehran, rentang 1-20 Januari 2016 untuk membuat tulisan apa yang saya lihat, rasa, dan lakukan.

Memang, semangat untuk membuat sebuah tulisan sering turun naik, tergantung datangnya mood. Dulu, ketika masih kuliah di Yogyakarta, saya cukup sering membuat artikel opini di berbagai surat kabar, baik lokal maupun nasional. Tapi dulu itu, tidak mengenal istilah mood, karena memang desakan kebutuhan finansial. Keterdesakan kadang melahirkan energi tambahan. The power of Kepepet. Sedangkan stabilitas dan ke mapanan, kalau tidak hati-hati bisa berujung kepada ke-mandegan, dan hilangnya produktivitas dalam berkarya.

Sangat jarang memang saya membuat tulisan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar alasan klasiknya karena kesibukan dengan pekerjaan. Tapi, alhamdulillah semangat untuk menulis muncul kembali, bahkan di tengah padatnya kegiatan short course yang saya ikuti selama di Iran. Tulisan yang dihasilkan memang sangat sederhana dan singkat seputar pengalaman yang saya peroleh selama mengikuti berbagai kunjungan dan kegiatan lainnya, yang memberikan kesan khusus kepada saya dan kawan-kawan lainnya.

Buku ini berjudul Potret Islam di Tanah Persia: Catatan Short Course. Sebagai sebuah catatan perjalanan yang sifat-nya re!lektif, tentu subjekti!itas penulis sangat kuat di sini. Ada harapan besar melihat spirit keilmuan yang sangat kuat selama penulis berada di tanah Persia, maka Islam kembali meraih supremasinya di bidang ilmu. Spirit ilmu dan ukhuwwah kira-nya menjadi kata kunci penting dalam melihat fajar Islam di kawasan ini. Spirit ilmu saya dapati ketika berinteraksi dengan para Hujjatullah dan Ayatullah Iran yang sangat fasih bicara tentang tema-tema filsafat (hikmah). Berbagai kunjungan ke perpustakaan, lembaga !ilsafat, pusat ensiklopedia yang sebagian besarnya dapat dinikmati dalam buku ini adalah gambaran tentang spirit ilmu tersebut. Adapun sisi ukhuwwah (persaudaraan) seagama bisa kita rasakan dalam berinteraksi, diskusi, formal ataupun informal dengan narasumber dan peserta lainnya serta kunjungan ke lembaga Taqribul Mazahib, memberikan isyarat tentang itu semua.

Sunni dan Syiah memang ada perbedaan, itu kenyataan yang tidak perlu ditutup-tutupi. Tetapi persamaan antara keduanya jauh lebih banyak dari perbedaannya. Beberapa perbedaan dalam hal fiqh seperti sholat dan tradisi jumatan, tidak harus menjadi alasan untuk mengeluarkan Syiah dari Islam. Banyaknya prasangka kita, kalangan Sunni tentang Syiah, lebih karena pemahaman kita tentang mazhab ini sangat terbatas, dan umumnya kita warisi dari periode ketika persoalan politik banyak memasuki wacana keagamaan. Bahkan, sekarang pun ketika isu sektarian konflik Sunni-Syiah menguat, lebih karena politik Timur Tengah yang lagi tidak bagus, dan menjadikan persoalan sektarian ini menjadi jualan untuk saling mencari dukungan. Di tambah lagi, politik adu domba, yang dimainkan oleh mereka yang tidak menyukai Islam. Membuat konflik yang semestinya dapat diselesaiakn dengan cepat menjadi berlarut-larut dan sangat merugikan umat Islam secara keseluruhan. Semangat ini lah kiranya juga yang melandasi dari tulisan-tulisan sederhana ini, yaitu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi Iran masa kini, dan mengenal lebih baik tentang mazhab Syiah sebagai mazhab resmi negara Iran atau dahulu dikenal sebagai Persia.

Tulisan ini disusun dalam sub-sub judul sebanyak 20 buah. Dengan menggunakan model bercerita, tulisan ini diawali dengan undangan untuk mengikuti short course sampai kedatangan kembali ke Indonesia. Secara umum, ada empat jenis kegiatan yang kita ikuti. Pertama, tentunya kegiatan short course yang mengambil tema “ akal dalam pemikiran Ayatullah Jawadi Amuli, Syahid Baqir Sadr, dan Muhammad Abid Al Jabiri”. Kedua, kunjungan-kunjungan ke perpustakaan, museum, lembaga-lembaga keagamaan dan filsafat, serta pusat teknologi dan lainnya, baik di Tehran, Masyhad, Qum, maupun Isfahan. Ketiga, ziarah-ziarah ke berbagai maqam seperti Imam Ridha, Al Firdawsi, Al Ghazali, Fariduddin Aththar, Omar Khayyam, dan Khomeini. Keempat, acara santai seperti ke Taman Kota, nonton bioskop, renang, dan lainnya. Semua inilah, yang kemudian saya catat, meski sangat sederhana dan pribadi, dan niat awalnya sekadar kenang-kenangan, akhirnya menjadi tulisan yang bisa dibaca oleh khalayak pembaca.

Free WordPress Themes, Free Android Games