Tema
Menggali Matematika Khawarizmi dan Ikhwanusafa
Latar Belakang
Matematika sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri masuk pada abad modern telah menjadi penopang kedigdayaan ilmu alam. Matematika yang semula sebagai perangkat memahami alam yang bersifat kontemplatif telah mengalami orientasi pratis. Daya dorong untuk memenuhi kebutuhan praktis manusia mengubah fungsi matematika sebagai pelayan tehnis aneka tuntutan kebutuhan manusia modern. Pada perkembangan selanjutnya kuantifikasi ilmu alam berjalan secara simultan dengan perkembangan matematika. Tidak hanya terbatas pada matematika, semangat memahami alam seiring dengan semangat manusia aufklarung (otonomi manusia) juga menular pada ilmu humaniora. Pada tahap terakhir ilmu alam dan humaniora dominan diukur semata dari standar ilmu alam dan telah menjadi ideologi yang mandiri (material).

Olehkarena itu perlu penggalian kembali matematika sebagai alat objektifikasi yang netral sehingga tidak tercerabut pada akarnya (sumber metafisika tauhid). Upaya ini pernah di lakukan oleh para pioner filsuf muslim abad pertengahan seperti Khawarizmi dan Ihwanusafa. Namun setelah masuknya abad modern, Barat maju pesat sebagai pewaris ilmu pengetahuan muslim secara sistematis menutup pohon ilmu yang bersifat integratif-saling terkait. Perenungan matematika secara mendalam adalah akses langsung terhadap alam, dapat bersinergi menambah kemurnian tauhid.

Upaya penggalian khazanah ilmu klasik Islam, seperti matematika Khawarizmi dan Ihawanusafa tidak menutup kemungkinan akan memberi inspirasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan muslim kontemporer, minimalnya mengembalikan roh matematika tidak hanya sebagai alat hitung tapi sebagai ketrampilan yang bersifat kontemplatif berpadu dengan pelajaran logika.

Matematika Kontemporer
Dalam dunia pendidikan, arah perkembang pembangunan nasional membuat matematika hanya sebagai alat penghitung, tidak sebagai alat yang bisa merangsang anak didik berpikir kontemplatif dan kreatif memecahkan kehidupan sehari-hari. Matematika yang dalam perkembanganya semestinya bersenyawa dengan logika simbolik maupun non simbolik semestinya dekat dengan permalasahan ilmu humaniora.Dalam kontek kontemporer, matematika yang seharusnya menjadi alat untuk memantik berpikir objektif, lambat laun seolah tidak berhubungan kecenderungan tren masyarakat yang berpikir relatifis dan agnostik.

Olehkarena itu matematika seharusnya bisa juga menjadi alat ampuh mendukung berpikir filosofis dan membangun keyakinan iman yang kokoh. Dalam kontek pembangunan Filsafat Islam dan teologi, Tuhan mengajak umatnya untuk selalu berpikir objektif dan adil. Sehingga peran matematika semestinya terus diberdayakan.

Olehkarena itu, berdasar pertimbangan diatas, Riset STFI Sadra perlu menggali lebih lanjut tradisi matematika yang dikembangkan oleh para filsuf muslim pada abad keemasan Islam untuk disumbangkan bagi perkembangan dunia modern. Olehkarena itu dalam Forum Temu Pakar (FTP) mengundang para peneliti internal STFI Sadra; Dr. Teguh (tesis dan disertasi Matematika Khawarizmi dan Ayu, S.Ag (skripisi-Matematika Ikhwanusafa) untuk memaparkan hasil temuanya.

Acara
Hari, Kamis, 7 September 2017
Jam, 09.00-12.00 Wib
Tema, Menggali Matematika Khawarizmi dan Ihwanusafa
Pembicara, Dr. Teguh (Menggali Matematika Khawarizmi)
Ayu, S.Ag (Menggali Matematika Ihwan Asafa)

Penanggap; Dr. Beny dan Cipta, BG

 

 

Free WordPress Themes, Free Android Games