RENUNGAN SPIRIT BILANGAN MATEMATIKA
IKHWĀN AL-ṢAFĀ’
(Pendobrak Materialisme Matematika Modern)
Oleh: Ayu Lestari

Dahulu matematika merupakan ilmu yang sangat agung dan penting, yang merepresentasikan makna ketuhanan, kebijaksanaan, spiritualitas, dan kemanusiaan. Misalnya doktrin bilangan 1 yang menjadi sumber segala bilangan, ini merepresentasikan makna tauhid tentang keesaan Tuhan yang menjadi sumber segala ciptaan. Pola antara bilangan merepresentasikan persatuan dan kesatuan semua maujud di alam semesta. Satu saja bilangan hilang, hancurlah pola seluruh bilangan. Begitu juga dengan maujud di alam, satu saja hancur atau rusak, rusaklah semua maujud di alam semesta karena adanya kesatuan.

Keagungan matematika diekspresikan dalam berbagai pernyataan. Plato mengungkapkan semboyan terkenalnya di depan gerbang perguruan tinggi yang ia dirikan, Akademia. Semboyannya adalah Medeis Ageometretos Eisito, artinya adalah yang belum mempelajari matematika dilarang masuk. Hal ini karena begitu pentingnya telaah matematika bagi para pelajar yang akan mempelajari filsafat, sebuah induk dari seluruh ilmu pengetahuan (real sciences). Alī ibn Abī Thālib ra. mengatakan bahwa prinsip-prinsip yang ada dalam matematika, khususnya prinsip-prinsip bilangan mempunyai korelasi dengan berbagai dimensi fenomena-fenomena kehidupan (spiritual, sosial, alamiah). Isidore dari Seville menulis, “Ambillah dari segala sesuatu bilangannya, dan semuanya akan binasa.”

Kini, matematika sudah mulai terdegradasi dan hanya menjadi bagian dari sains modern yang menjunjung tinggi instrumen empiris mekanistik, epistemologi positivistik, dan pola pikir indriawi-materialistik saja, tanpa menjunjung nilai spiritualitas dan sakralitas. Paham dari empirisme, positivisme, dan materialisme lah yang menghilangkan unsur sakralitas dan spiritualitas. Hal ini bukan berarti sains tradisional tidak menjunjung tinggi instrumen ini. Sains tradisional atau klasik menjunjung pula instrumen ini, namun tetap berpegang pula pada unsur spiritualitas atau sakralitas dari sains.

Matematika hanya dikenal sebagaimana ilmu modern yang cenderung kering dan materialis. Khususnya bilangan yang menjadi bagian inti dari matematika, hanya dibahas dan dikorelasikan dengan ilmu modern seperti ekonomi, akuntansi, fisika, teknik, kimia, dan lainnya.

Keagungan matematika di era modern diekspresikan oleh Annemarie Schimmel dengan pernyataan bahwa semangat matematika adalah sebuah kekayaan primordial manusia yang selalu memperlihatkan dirinya dimanapun manusia hidup atau dimana ada sisa-sisa materi kehidupan sebelumnya. Schimmel menyatakan pula bahwa bilangan adalah penyusun segala sesuatu. Tanpa bilangan, segala sesuatu tidak ada karena penyusunnya tidak ada.

Heriyanto mengutip Thomas Goldstein dalam bukunya berjudul Dawn of Modern Science menyebutkan bahwa matematika sebagai an absolutely momentous one (sumbangan yang amat penting). Heriyanto mengatakan bahwa begitu penting mempelajari matematika, karena matematika adalah ilmu dasar yang harus dikuasai oleh para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Ilmuwan muslim pun menyadari bahwa tidak ada sains yang dapat berkembang tanpa matematika.

Hal di atas menunjukkan betapa agungnya matematika bagi sebagian orang, khususnya bilangan yang berkorelasi dengan kehidupan dan mengandung kunci-kunci untuk memecahkan misteri-misteri di alam semesta. Misalnya, misteri terbentuknya segala maujud di alam semesta sebagaimana terbentuknya bilangan dua, tiga, empat, dan seterusnya.

Para ilmuan di atas adalah jumlah minoritas dari para ilmuan modern yang mengagungkan matematika. Mayoritas dari masyarakat modern menghilangkan unsur spiritualitas dan sakralitas dalam matematika, sehingga yang tersisa hanya matematika yang kering, determinis, materialis, dan mekanis. Matematika kini dikenal hanya sebagai ilmu yang berisi bilangan yang terkait dengan bisnis. Matematika dijadikan alat untuk memperbanyak kekayaan dunia.

Pernyataan-pernyataan tersebutlah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji dan menggali matematika para filosof spiritualis, khususnya Ikhwān al-Ṣafā’. Bilangan secara mendalam dengan mengkorelasikannya dengan kosmologi, sehingga bisa ditarik representasi makna spiritual, ketuhanan, dan kemanusiaan.

Pernyataan Pythagoras yang menyatakan bahwa alam semesta ini tersusun atas bilangan-bilangan. Bilangan adalah sumber dan akar dari segala sesuatu. Bilangan adalah sebuah realitas kehidupan yang menutupi alam. Melalui bilangan, kita akan mampu menerima segala sesuatu secara lebih komprehensif.

Beralih ke masa klasik. Terdapat kelompok filsuf Muslim abad ke-10 yang sangat mengagungkan matematika, yaitu Ikhwān al-Ṣafā’. Matematika dijadikan sebagai basis dari seluruh pemikirannya yang tertuang ke dalam karya Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’, baik pemikiran tentang teologi, sosiologi, ontologi, maupun kosmologinya. Karya ini memiliki posisi yang unik dalam sejarah pemikiran Islam dan memiliki pengaruh yang besar terhadap elit intelektual muslim. Signifikansi simbol bilangan adalah jantung dari karya masterpiece ini. Sehingga hal ini berdampak pada pemikiran Ikhwān al-Ṣafā’ tentang kosmologi bahwa basis dari pemikiran kosmologinya adalah teori bilangan. Selain itu, pemikiran ilmu bilangan Ikhwān al-Ṣafā’ berada di dalam urutan pertama pemikiran ilmu filsafatnya, yang merupakan ilmu terpenting dibandingkan ilmu agama dan ilmu primer lainnya.

Ikhwān al-Ṣafā’ sangat mencintai ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, baik yang substansi maupun yang aksiden, nyata maupun abstrak, simpel maupun kompleks. Ikhwān al-Ṣafā’ sangat mendedikasikan diri mereka terhadap ilmu. Secara khusus, mereka membahas tentang klasifikasi ilmu setelah membahas tujuan ilmu dan sembilan kategori pertanyaan saintifik, seperti; Apa, Apakah, Berapa, Bagaimana, Yang mana, Dimana, Kapan, Kenapa, dan Siapa.

Kitab Rasā’il adalah bukti kecintaan dan dedikasinya terhadap ilmu. Menurut Callatay, seperti yang telah peneliti bahas dalam bab sebelumnya, bahwa ilmu menurut Ikhwān al-Ṣafā’ diklasifikasikan menjadi ilmu primer atau propaedeutik (al-riyādiyyāt), ilmu agama (al-shāri’at al-wad’iyyah), dan ilmu filsafat (al-falsafiyyat al-haqīqīyyah). Keseluruhan kategori ini terhimpun di dalam kitab fenomenalnya, Rasā’il.

Gambar 3.2 Klasifikasi Ilmu
Selain Ikhwān al-Ṣafā’, klasifikasi ilmu pun telah banyak dibahas oleh filsuf-filsuf lain, seperti Al-Khawarizmī dan Al-Farabī. Al-Khawarizmī mengklasifikasikan ilmu menjadi dua bagian utama, yaitu: pertama, terdiri atas ilmu fikih, ilmu kalam. ilmu gramatikal, ilmu kitab, ilmu syair, dan ilmu sejarah. Kedua, terdiri atas ilmu filsafat, ilmu logika, ilmu kedokteran, aritmatika, geometri, astronomi, musik, dinamika, dan kimia. Sedangkan Al-Farabī mengklasifikasikan ilmu menjadi tujuh cabang, yaitu aritmatika atau ilmu hitung yang terdiri dari ilmu teoritis dan praktis tentang bilangan, geometri yang terdiri dari geometri teoritis dan praktis, optika, ilmu perbintangan, astronomi, musik teoritis dan praktis, ilmu tentang beban, dan teknik.

Dalam klasifikasi ilmu Ikhwān al-Ṣafā’, ilmu primer atau propaedeutik (riyādiyyāh) mengajarkan kepada manusia tentang tata cara mengejar dan meningkatkan kehidupan di dunia. Kemudian ilmu agama atau ilmu syar’i (al-shāri’at al-wad’iyyah) mengajarkan tentang cara menyehatkan jiwa dan mengejar kebahagiaan di kehidupan setelah mati. Sedangkan ilmu filsafat (al-falsafīyyat al-haqīqīyyah) sangatlah spesial. Ilmu filsafat adalah kategori ilmu terpenting, karena ilmu filsafat berbicara tentang tujuan keberadaan ilmu, tidak hanya tentang tata cara untuk mengembangkan diri, tetapi tentang keberadaan itu sendiri (exist per se). Ini dikarenakan keberadaan akal yang merupakan anugerah Tuhan. Sehingga, klasifikasi ilmu Ikhwān al-Ṣafā’ didasarkan pada gradasi ilmu dari mulai intensitas rendah menuju intensitas yang tinggi. Ilmu yang tertinggi dan terpenting adalah ilmu filsafat.

Khususnya di dalam kategori ilmu filsafat, terhimpun segala macam ilmu, yaitu ilmu matematika, ilmu logika, ilmu fisika, dan ilmu teologi. Khususnya dalam struktur ilmu matematika, dibagi ke dalam empat macam ilmu, yaitu Aritmatika, Geometri, Astronomi, dan Musik. Aritmatika adalah pengetahuan tentang karakteristik khusus bilangan dan hal-hal yang sesuai dengannya, sebagaimana catatan Pythagoras dan Nicomachus, yang lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Sedangkan dalam Kamus Matematika, Aritmatika diartikan sebagai pengkajian bilangan bulat positif 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya dengan operasi pernjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, serta pemakaian hasilnya dalam kehidupan sehari-hari.

Geometri adalah ilmu tata ukur ruang dengan bukti yang tercatat dalam kitab Euclid. Sedangkan menurut Kamus Matematika, Geometri adalah ilmu mengenai bangun, bentuk, dan ukuran benda-benda; telaah atau sifat-sifat tetap (invarian) dari elemen-elemen yang diketahui.

Astronomi adalah ilmu perbintangan dengan bukti yang tercatat dalam buku Almagest. Sedangkan menurut Al-Farabī, sebagai perbandingan, astronomi adalah ilmu yang mempelajari tentang volume, ukuran, kuantitas orbit, planet, dan bintang, kuantitas susunan dan kecepatan gerak, rotasi, esensi karakter, dan pengaruh eksistensinya terhadap benda-benda lain. Jadi, astronomi membahas aspek teoritis dan praktis. Secara teoritis, astronomi membahas hukum-hukum teoritis. Dan secara praktis, astronomi membahas bentuk, ukuran, jarak, hubungan benda satu dengan benda lain, gerak benda-benda langit, dan bumi.

Dan terakhir, musik adalah pengetahuan tentang komposisi suara dan prinsip-prinsip melodi yang berasal darinya. Sedangkan menurut Al-Farabi, musik adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk melodi, susunannya, bagaimana cara menciptakannya, dan dalam keadaan apakah melodi tersebut bernada rendah dan bernada tinggi.

Dalam klasifikasi ilmu Ikhwān al-Ṣafā’, ilmu matematika menjadi ilmu terpenting karena tergolong ilmu filsafat. Disebutkan pula oleh Ikhwān al-Ṣafā’ bahwa mempelajari ilmu matematika dapat menghantarkan kita kepada ketuhanan yang menjadi tujuan utama dari para filsuf. Hal ini akan menghantarkan kita kepada pengetahuan-pengetahuan yang hakiki, seperti pengetahuan metafisik.

Ilmu matematika berada di tengah-tengah antara ilmu fisika dan ilmu metafisika. Sehingga sangat disarankan untuk mempelajari ilmu matematika terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu metafisika atau ketuhanan. Majid Fakhry menyatakan bahwa matematika adalah alat esensial untuk belajar filsafat, akar dari ilmu-ilmu lain, esensi kebijaksanaan, dan sumber segala makna. Hal ini dikarenakan dengan belajar matematika, pikiran kita akan dilatih untuk berpikir logis dan dibawa ke alam imajinal yang kedudukannya lebih tinggi dari alam fisik atau alam materi.

Seperti yang dikatakan oleh Ibn ‘Arabī pula bahwa matematika berada di alam imajinal atau alam barzakh yang terletak diantara dua alam, yaitu alam dunia materi dan alam dunia akhirat atau ruhani. Di satu sisi, wujud matematika berhubungan dengan wujud fisik. Di sisi lain, wujud matematika berdiri sendiri tanpa terkait wujud fisik. Contohnya, ketika kita mengabstraksi bilangan 3, kita harus mengkaitkan bilangan 3 tersebut dengan benda di alam fisik atau materi sehingga kita bisa memahaminya.

Hal ini telah mendapatkan justifikasi dari pernyataan Plato di depan pintu Akademia miliknya, Medeis Ageometretos Eisito, artinya adalah yang belum mempelajari matematika dilarang masuk. Maka dari itu, belajar matematika sangat penting, terutama mengenai ilmu bilangan. Sehingga Ikhwān al-Ṣafā’ membahas risalah mengenai bilangan dalam urutan pertama sebelum ilmu fisika dan teologi. Dalam buku The Enterprise of Science in Islam, dikatakan bahwa:

The aim and scope of this Epistle is training (riyada) the souls of the disciples of philosophy, those who ‘choose wisdom’ and who study the real (nature of the) things, and search after the causes of all things; in it, there is explained that the form of number in the souls corresponds to the forms of the beings in matter, being the models from the upper world. Through their knowledge, the novice is led on toward the other propaedeutical [riyādiyyāt, i.e., mathematical] and physical disciplines. Indeed, the science of number is the root of the sciences, the essence of wisdom, the foundation of knowledge and the (principal) element of all things [al-ma’ani, objects of the mind].

Tujuan dan jangkauan dari risalah ini adalah melatih jiwa-jiwa pengkaji filsafat, yang memilih kebijaksanaan dan yang belajar tentang realitas segala sesuatu. Bentuk bilangan dalam jiwa berkoresponden dengan bentuk wujud dalam materi, model dari dunia atas. Melalui pengetahuan bilangan, akan mengarahkan kita kepada ilmu primer seperti matematika dan disiplin-disiplin fisikal. Sungguh, ilmu bilangan adalah akar dari ilmu, dan esensi kebijaksanaan, fondasi pengetahuan dan prinsip dari segala sesuatu.

Ilmu matematika berada dalam ilmu filsafat yang merupakan ilmu terpenting karena berhubungan dengan metafisik. Struktur yang ada di dalam matematika, seperti bilangan adalah fondasi realitas yang bisa berhubungan dengan prinsip penciptaan dan prinsip realitas, seperti bilangan 4 yang dijadikan pedoman untuk jumlah musim, jumlah arah mata angin, jumlah cuaca, dan lainnya.

Macam-Macam Bilangan
Di bawah ini akan dibahas jenis bilangan, yaitu khusus untuk bilangan satu, terdapat klasifikasi bilangan satu secara hakiki dan majazi, bilangan bulat dan pecahan, bilangan ganjil dan genap.

1. Satu Secara Hakiki, Majazi, dan Pluralitas
Teori bilangan dalam matematika Arab dimulai pada abad ke 9 oleh Thabit ibn Qurra yang menerjemahkan teks matematika Yunani ke dalam bahasa Arab. Penelitiannya terpusat pada bilangan ekuivalen, bilangan sempurna, bilangan ekstra, dan bilangan kurang yang telah dikonstruksi mendalam. Sebelum masuk ke dalam teori bilangan dalam matematika, seperti karakteristik bilangan, bilangan bulat dan pecahan, bilangan ganjil dan genap, bilangan sempurna, tidak sempurna, pangkat, akar, kubik, dan lainnya, Ikhwān al-Ṣafā’ terlebih dahulu membahas wujud bilangan 1 yang hakiki dan majazi.

Sebuah kata menunjuk kepada makna, dan makna adalah nama-nama, sehingga kata adalah nama. Kata dan nama yang paling umum disebut sesuatu, baik jumlahnya satu maupun lebih dari satu. Kata dan nama kursi bisa dikatakan sesuatu. Kata dan nama meja bisa dikatakan sesuatu. Kata dan nama rumah bisa dikatakan sesuatu. Kata dan nama pensil bisa dikatakan sesuatu. Ini menunjukkan bahwa “sesuatu” adalah kata dan nama yang paling umum, baik jumlahnya 1 ataupun lebih dari 1. Misalnya, seperti 1 kursi maupun banyak kursi tetap bisa dikatakan sesuatu.

Bilangan 1 bisa dilihat dari dua sisi, yaitu secara hakiki dan majazi. Bilangan 1 yang dilihat secara hakiki adalah sesuatu yang tidak terbagi dan tidak memiliki bagian. Dan setiap yang tidak terbagi adalah sesuatu yang tidak memiliki bagian. Ia adalah dirinya sendiri tanpa disandarkan kepada sesuatu yang lain. 1 adalah 1 itu sendiri tanpa terbagi dengan bilangan yang lain. Dan 1 pun tidak memiliki bagian dari bilangan-bilangan lain. Bilangan 1 di sini adalah basīth, simpel.

Sedangkan bilangan satu yang dilihat secara majazi adalah kesatuan atau unitas, seperti sepuluh kesatuan, seratus kesatuan, seribu kesatuan. Wujud 1 itu 1 dengan kesatuannya seperti hitam itu hitam dengan kehitamannya. Kesatuan atau unitas di sini adalah sifat dari 1 seperti kehitaman adalah sifat dari hitam. Di samping bilangan 1, terdapat bilangan-bilangan lain setelahnya, seperti 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya. Bilangan-bilangan ini membentuk pluralitas, yang merupakan kumpulan dari bilangan 1.

Pluralitas yang pertama adalah bilangan dua, kemudian tiga, empat, lima, dan seterusnya secara tidak terbatas. Pluralitas dan multiplisitas muncul dari bilangan satu, yaitu dengan penambahan 1 dan 1 secara berurutan. Bilangan 1 ditambahkan dengan bilangan 1 menghasilkan bilangan 2. Bilangan 2 ditambah dengan bilangan 1 menghasilkan bilangan 3, dan seterusnya. Sehingga terbentuk pluralitas bilangan yang tidak terbatas.

Pluralitas ada dua macam, yaitu bilangan dan yang terbilang. Perbedaannya, bilangan adalah kuantitas bentuk sesuatu dalam diri bilangan. Sedangkan yang terbilang adalah sesuatu itu sendiri. Contohnya adalah 3 kursi. Bilangan 3 di sini adalah bilangan dan kursi di sini adalah yang terbilang. Bilangan 3 ini adalah bilangan plural karena merupakan hasil pertambahan dari bilangan 1. Dan bilangan 3 ini memiliki teman bilangan plural yang lain seperti 4, 5, 6, 7, 8, dan seterusnya. Lalu kursi pun plural karena ada banyak kursi dan benda-benda lain.

2. Bilangan Bulat dan Pecahan
Perhitungan dalam ilmu matematika adalah kumpulan bilangan dan kelompok-kelompoknya. Kelompok-kelompok bilangan ada dua macam, yaitu bilangan bulat dan bilangan pecahan. Bilangan 1 yang terletak sebelum bilangan 2 adalah asal dari semua bilangan dan merupakan sebuah permulaan. Semua bilangan, baik itu bulat maupun pecahan muncul dari bilangan 1. Bilangan 1 adalah tempat kembalinya seluruh bilangan. Sehingga dikatakan bahwa bilangan 1 yang real adalah sinonim dari terma “sesuatu” (thing, shay’) yang merupakan terma paling umum dan tidak bisa dibagi.

Bilangan bulat dikatakan memiliki keunikan fisik dan metafisik, sebagai tanda untuk memahami dunia, pengetahuan tentang jiwa, dunia spiritual, dan yang paling pokok adalah Tuhan. Bilangan bulat muncul dengan penambahan. Contohnya ketika bilangan 1 ditambahkan dengan bilangan 1 yang lain, maka menjadi 2. Jika ditambahkan 1 lagi, maka menjadi 3, jika ditambahkan 1 lagi, maka menjadi 4. Jika ditambahkan 1 lagi, maka menjadi 5, dan seterusnya. Inilah bentuknya: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Sebaliknya, jika bilangan 10 dikurangi 1, maka menjadi 9. Jika 9 dikurangi 1, maka menjadi 8. Jika 8 dikurangi 1, maka menjadi 7. Jika 7 dikurangi 1, maka menjadi 6, dan begitu seterusnya. Namun jika sudah tersisa 1, tidak bisa dikurangi lagi karena 1 tidak memiliki bagian. Sehingga benar pembuktian bahwa bilangan bulat muncul dan berasal dari bilangan 1.
Menurut Kamus Matematika, bilangan bulat dibagi menjadi bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Peano mendefinisikan bilangan bulat positif sebagai suatu himpunan unsur yang memenuhi postulat, yaitu:
• Terdapat suatu bilangan bulat positif 1
• Setiap bilangan positif a mempunyai suatu pengikut a+ (a dinamakan pendahuu dari a+)
• Bilangan bulat 1 tidak mempunyai pendahulu
• Jika a+ = b+, maka a = b
• Setiap himpunan bilangan bulat positif yang memuat 1 dan pengikut dari setiap anggotanya akan memuat semua bilangan bulat positif. Bilangan bulat positif 0 dipandang sebagai yang menyatakan “banyaknya” anggota suatu himpunan, dalam arti merupakan simbol yang menyatakan sifat suatu himpunan unsur ini; suatu himpunan dan himpunan lain yang mempunyai pedoman 1 – 1 dengan himpunan ini, mempunyai simbol sama.

Bilangan 0 yang digolongkan ke dalam bilangan bulat di ilmu matematika modern, sebelumnya tidak dikenal dalam sistem-sistem bilangan. Bilangan 0 dianggap tidak bermakna sesuatu pun kecuali menunjuk kepada bilangan-bilangan yang mendahului dan mengikutinya. Bilangan 0 dianggap bukan sebagai bilangan nyata. Dan dalam sistem visegimal Maya, bilangan 0 terletak di belakang bilangan 19.

Sedangkan bilangan pecahan adalah bilangan dengan ekspresi yang berbentuk pembilang atau penyebut, merupakan suatu besaran. Bilangan pecahan muncul dengan pembagian dari bilangan 1. Jika ingin melihat 1 dari bilangan 2, maka setengahnya. Jika ingin melihat 1 dari bilangan 3, maka sepertiganya. Jika ingin melihat 1 dari bilangan 4, maka seperempatnya, dan seterusnya. Ini membuktikan bahwa bilangan pecahan pun berasal dan muncul dari bilangan 1.

Bilangan bulat memiliki empat tingkatan, yaitu satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Satuan itu dari bilangan 1 sampai 9 (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9). Puluhan itu dari bilangan 10 sampai 90 (10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90). Ratusan itu dari bilangan 100 sampai 900 (100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900). Ribuan itu dari bilangan 1000 sampai 9000 (1000, 2000, 3000, 4000, 5000, 6000, 7000, 8000, 9000).

Empat tingkatan bilangan bulat di atas memiliki sepuluh kategori, yaitu: satuan ada dalam satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Sedangkan puluhan ada dalam puluhan, ratusan, dan ribuan. Lalu ratusan ada dalam ratusan dan ribuan. Dan ribuan hanya ada dalam ribuan.

Dan semua bilangan dalam tingkatan ini (satuan, puluhan, ratusan, ribuan) adalah tersusun dan berasal dari bilangan 1, 2, 3, 4. Misalnya, jika 1 ditambah dengan 4, maka menjadi 5. Jika 2 ditambah 4, maka menjadi 6. Jika 3 ditambah 4, maka menjadi 7. Jika 1 dan 3 ditambah, maka menjadi 8, dan seterusnya. Tidak hanya bilangan, tetapi juga huruf. Seluruh huruf juga berasal dari susunan bilangan 1, 2, 3, 4.

Sedangkan menurut para Pythagorean, bilangan bulat memiliki enam belas tingkatan, yaitu sebagai berikut:
Satuan 1
Puluhan 10
Ratusan 100
Ribuan 1000
Puluh Ribuan 10.000
Ratus Ribuan 100.000
Jutaan 1.000.000
Puluh Jutaan 10.000.000
Ratus Jutaan 100.000.000
Miliaran 1.000.000.000
Puluh Miliaran 10.000.000.000
Ratus Miliaran 100.000.000.000
Triliunan 1.000.000.000.000
Puluh Triliunan 10.000.000.000.000
Ratus Triliunan 100.000.000.000.000
Quadriliunan 1.000.000.000.000.000

Kemudian bilangan pecahan memiliki banyak tingkatan, karena memiliki satu bagian, dua bagian, atau beberapa bagian. Contohnya, bilangan 12 memiliki bagian; setengah, sepertiga, seperempat, seperenam, dan seperdua belas. Skema bagian ini selalu menurun. Setiap tingkatan lebih kecil dari sebelumnya. Ini karena bilangan pecahan selalu dimulai dari kuantitas terbesar, yaitu setengah. Dan bilangan setelahnya semakin kecil. Sedangkan bilangan bulat selalu dimulai dari kuantitas terkecil, yaitu satu. Dan bilangan setelahnya semakin besar.

3. Bilangan Ganjil dan Genap
Macam-macam bilangan yang terbagi ke dalam bilangan ganjil dan genap adalah macam-macam bilangan bulat (whole number). Bilangan ganjil adalah beberapa bilangan yang berada setelah 1 bilangan genap. Bilangan ganjil dimulai dengan bilangan 1, kemudian ditambah 2 secara terus-menerus. Misalnya sebagai berikut:
3 5 7 9 11 13 15 17 19
3 = 1 + 2
5 = 3 + 2
7 = 5 + 2
9 = 7 + 2

Sedangkan bilangan genap adalah beberapa bilangan yang dapat dibagi 2 sama besar. Bilangan genap memiliki dua bagian yang sama besar. Misalnya sebagai berikut:
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
2 = 1 + 1
4 = 2 + 2
6 = 3 + 3
8 = 4 + 4

Bilangan ganjil dibagi menjadi dua, yaitu bilangan prima dan bilangan campuran. Bilangan prima meliputi semua bilangan yang tidak berasal dari bilangan lain, seperti:
3 5 7 11 13 17 19 23

Bilangan prima tidak memiliki bagian pecahan, kecuali dirinya sendiri. Contohnya; bilangan 3 tidak memiliki bagian pecahan kecuali sepertiga dari 3 sendiri. Bilangan 5 pun sama, tidak memiliki bagian pecahan kecuali dirinya sendiri, yaitu seperlima dari 5. Dan begitu pula bilangan 7 yang tidak memiliki bagian pecahan kecuali sepertujuh dari bilangan 7.
Sedangkan bilangan campuran dibagi menjadi dua macam, yaitu bilangan yang diasosiasikan dengan bilangan 1 lainnya dan bilangan yang relatif prima. Bilangan campuran terdiri dari semua bilangan yang berasal dari bilangan lain, kecuali 1, seperti:
9 25 49 81 121 169

Pertama, bilangan yang diasosiasikan dengan bilangan 1 lain jika keduanya berasal dari bilangan yang sama, kecuali 1. Contohnya; 9, 15, dan 21 diasosiasikan karena berasal dari bilangan 3 semua. Sama halnya dengan bilangan 15, 25, dan 30 yang semuanya berasal dari bilangan 5.

Kedua, bilangan yang relatif prima jika dua bilangan lain yang berbeda asal, maksudnya adalah asal dari bilangan 1 berbeda dengan asal dari bilangan lainnya. Contohnya bilangan 9 dan 25 yang memiliki beda asal. Bilangan 9 berasal dari bilangan 3 dan bilangan 25 berasal dari bilangan 5.

Bilangan genap dibagi menjadi tiga macam, yaitu bilangan pangkat dua, sepasang bilangan ganjil, dan sepasang dari pasangan bilangan ganjil. Pertama, bilangan pangkat dua adalah semua bilangan yang bisa dibagi dua sama besar secara terus-menerus, sampai diperoleh bilangan 1 sebagai penghabisan. Contohnya; bilangan 64. Setengah dari bilangan ini adalah 32, setengah dari bilangan 32 adalah 16, setengah dari 16 adalah 8, setengah dari 8 adalah 4, setengah dari 4 adalah 2, dan setengah dari 2 adalah 1.
64 : 2 = 32
32 : 2 = 16
16 : 2 = 8
8 : 2 = 4
4 : 2 = 2
2 : 2 = 1

Dari contoh di atas, diperoleh:
1 2 4 8 16 32 64
Deretan bilangan ini pun memiliki keunikan lain, yaitu ketika dua bilangan lain dikalikan, maka hasilnya sama dengan perkalian dua bilangan yang sama. Maksudnya, 1 dikalikan 64 sama dengan 2 dikalikan 32 sama dengan 4 dikalikan 16 sama dengan 8 dikalikan 8.
Kedua, sepasang bilangan ganjil adalah semua bilangan yang dapat dibagi setengah, tetapi tidak diakhiri dengan 1. Bilangan ini pun diperoleh dari perkalian bilangan ganjil dengan 2. Contohnya:
6 10 14 18 22 26 30 34 38 42 46

Bilangan 6 adalah hasil dari perkalian 3 dan 2. Bilangan 10 adalah hasil dari perkalian 5 dan 2. Bilangan 14 adalah hasil perkalian 7 dan 2. Bilangan 18 adalah hasil dari perkalian 9 dan 2. Bilangan 22 adalah hasil dari perkalian 11 dan 2. Bilangan 26 adalah hasil dari perkalian 13 dan 2, dan begitu seterusnya.
Ketiga, sepasang dari pasangan bilangan ganjil adalah semua bilangan yang bisa dibagi lebih dari satu kali setengah, tetapi tidak mengarahkan kepada bilangan 1. Maksudnya adalah dibagi setengah dan dibagi setengah lagi dan setelahnya. Contohnya:
12 20 24 28 36 44 52 60 68

Setengah dari bilangan 12 adalah 6. Kemudian setengah dari bilangan 6 adalah 3. Setengah dari bilangan 20 adalah 10. Kemudian setengah dari bilangan 10 adalah 5. Setengah dari 24 adalah 12. Kemudian setengah dari 12 adalah 6. Kemudian setengah dari 6 adalah 3.
Setiap bilangan ganjil memiliki keunikan khusus yaitu jika dibagi ke dalam dua bagian, maka satu bagiannya adalah ganjil dan satu bagiannya lagi adalah genap. Contohnya:
5 = 2 dan 3, 1dan 4
9 = 4 dan 5, 1 dan 8, 3 dan 6
11 = 1 dan 10, 2 dan 9, 5 dan 6

Dan setiap bilangan genap memiliki keunikan khusus yaitu jika dibagi, maka bagian-bagiannya adalah keduanya sama-sama ganjil atau keduanya sama-sama genap. Contohnya:
8 = 4 dan 4, 3 dan 5
10 = 5 dan 5, 4 dan 6
12 = 1 dan 11, 6 dan 6

Kaum Pythagorean tertarik dengan pembagian dan perbedaan bilangan ganjil dan genap. Bilangan ganjil diasosiasikan dengan hal terbatas, maskulin, diam, lurus, cahaya, dan kebaikan. Sedangkan bilangan genap diasosiasikan dengan hal yang tak terbatas, keragaman, feminin, yang bergerak, kejahatan, kegelapan, dan setan.

Keunikan Bilangan
Keunikan bilangan secara umum menurut Ikhwān al-Ṣafā’ tidak murni konvensional atau konseptual, tetapi berasal dari hakikat sesuatu secara ontologi. Keunikan bilangan juga dikatakan sebagai paradigma keunikan dari segala sesuatu yang ada. Setiap bilangan memiliki satu atau lebih keunikan khusus.

Keunikan bilangan 1 adalah sumber dan asal usul semua bilangan, baik itu bulat maupun pecahan, baik itu genap maupun ganjil. Bilangan 1 menjadi sumber dan asal semua bilangan karena jika bilangan 1 dilepas atau diangkat dari wujud, maka tidak akan bisa. Namun jika bilangan setelahnya, seperti bilangan 2 diangkat 1, maka tersisa 1. Dan jika diangkat 1 lagi, maka tidak akan bisa terangkat. Bilangan 1 pun hanya memiliki satu bilangan yang berdekatan dengannya, yaitu bilangan 1. Dan bilangan 1 adalah setengah dari bilangan 2.

Keunikan lain dari bilangan 1 menurut Agrippa dari Nettesheim, seorang mistikus Jerman abad pertengahan adalah bahwa bilangan 1 menyebar ke semua angka. Bilangan 1 adalah ukuran umum dari semua bilangan. Bilangan 1 terdiri dari semua bilangan yang bersatu dalam dirinya. Bilangan 1 selalu sama dan tidak berubah, sehingga bilangan 1 adalah hasil dari perkalian dengan dirinya sendiri. Meskipun bilangan 1 tidak memiliki bagian, namun bilangan 1 bisa dibagi. Tetapi, jika dibagi, bilangan 1 tidak menjadi bagian, namun menjadi satuan baru. Dalam satuan ini, tidak ada yang lebih kecil atau besar dari keseluruhan satuan. Dan setiap bagian yang terkecil, menjadi bagian dari keseluruhannya. Dari sini, Kobel menyatakan bahwa bilangan 1 bukanlah sebuah bilangan, namun merupakan permulaan dan dasar dari seluruh bilangan.

Keunikan bilangan 2 adalah bilangan genap pertama dan menghasilkan bilangan setengah. Bilangan-bilangan adalah pluralitas dari bilangan 1. Dan bilangan plural pertama adalah bilangan 2. Buktinya; 1 ditambah 1 sama dengan 2, 2 ditambah 1 sama dengan 3, 3 ditambah 1 sama dengan 4, dan berlanjut seterusnya.

Keunikan bilangan 3 adalah bilangan ganjil pertama karena 3 berdekatan dengan bilangan 2 yang merupakan bilangan genap pertama. Dan bilangan 3 pun menghasilkan bilangan pecahan sepertiga. Dan jika bilangan 3 ditambah 3 secara terus menerus, maka hasilnya adalah bilangan genap dan ganjil secara selang-seling. Jadi bilangan 3 pun menjadi faktor dari bilangan ganjil ataupun genap. Contohnya sebagai berikut:
3 6 9 12 15 18 seterusnya

Bilangan 3 ditambah 3 menjadi 6 yang merupakan bilangan genap. Bilangan 6 ditambah 3 menjadi 9 yang merupakan bilangan ganjil. Kemudian bilangan 9 ditambah 3 menjadi 12 yang merupakan bilangan genap. Kemudian 12 ditambah 3 menjadi 15 yang merupakan bilangan ganjil lagi.

Keunikan lain dari bilangan 3 adalah sebuah kesatuan yang merangkul. Sehingga dapat membentuk sebuah geometris pertama, yaitu segitiga yang ditutup dengan 3 titik dan 3 garis. Hingga dikatakan bahwa Plato ingin membangun dunia dengan segitiga-segitiga.

Keunikan bilangan 4 adalah bilangan kuadrat yang pertama, karena hasil dari 2 dikali dengan dirinya sendiri. Beberapa bilangan yang dikali dengan dirinya sendiri adalah sebuah akar kuadrat dan hasil dari kuadrat. Contoh bilangan kuadrat adalah:
22 (2 x 2) = 4 32 (3 x 3) = 9 42 (4 x 4) = 16 52 (5 x 5) = 25

Bilangan 2, 3, 4, dan 5 ini merupakan bilangan akar (square roots). Selain itu, bilangan 4 pun dikatakan sebagai ilustrasi dari realitas berlipatan empat, seperti 4 musim, 4 arah angin, 4 kualitas primer dari fisika klasik, dan lainnya.
Keunikan bilangan 5 adalah bilangan yang berulang pertama, karena ketika dikalikan dengan dirinya sendiri, maka hasilnya pun mengandung dirinya sendiri, yaitu 5, begitu seterusnya. Bilangan 5 melestarikan dirinya sendiri dan apa yang diturunkan darinya. Contohnya:
5
5 x 5 = 25
25 x 25 = 625
625 x 625 = 390.625

Selain keunikan di atas, bilangan 5 berasal dari penjumlahan bilangan 3 dan 2, yaitu penjumlahan bilangan ganjil dan genap. Dan ini menandakan campuran dari kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan manusia.

Keunikan bilangan 6 adalah bilangan sempurna pertama (perfect number), karena pembagi-pembaginya jika ditambahkan akan menghasilkan dirinya sendiri. Contohnya; setengah dari 6 adalah 3. Kemudian sepertiga dari 6 adalah 2. Dan seperenam dari 6 adalah 1. Jika bilangan 3, 2, dan 1 tersebut ditambahkan, maka akan berjumlah 6. Hanya ada satu bilangan sempurna dalam satuan, satu dalam puluhan, satu dalam ratusan, dan satu dalam ribuan. Selain bilangan 6, bilangan yang merupakan bilangan sempurna selanjutnya adalah:
6 28 496 8128

Dan bilangan 6 memiliki keunikan yang sama dengan bilangan 5, yaitu selalu berulang. Bilangan 6 melestarikan dirinya sendiri. Contohnya:
6
6 x 6 = 36
36 x 36 = 1296

Selain keunikan di atas, bilangan 6 dikatakan sebagai bilangan sempurna karena merupakan hasil perkalian dari bagian atau faktornya. Contohnya, bilangan 6 adalah hasil perkalian dari 1, 2, dan 3.

Keunikan bilangan 7 adalah bilangan penuh pertama, karena bilangan 7 menyatukan bilangan-bilangan sebelumnya, baik itu bilangan ganjil maupun bilangan genap, bilangan asal dan bilangan utuh pertama. Contohnya; bilangan ganjil pertama adalah 3. Dan bilangan genap kedua adalah 4. Jika keduanya ditambahkan, maka hasilnya adalah 7. Kemudian bilangan ganjil kedua adalah 5 ditambahkan dengan bilangan genap pertama, yaitu 2, maka hasilnya adalah 7. Dan asal semua bilangan adalah 1 ditambah dengan bilangan utuh pertama, yaitu 6, maka hasilnya adalah 7. Keunikan ini tidak dimiliki oleh bilangan lain.
1 2 3 4 5 6 7
1 + 6 = 7
2 + 5 = 7
3 + 4 = 7

Keunikan bilangan 8 adalah bilangan kubus atau kubik pertama, karena jika bilangan kuadrat pertama dikali dengan bilangan kuadratnya lagi, maka hasilnya adalah 8, disebut bilangan kubus atau kubik pertama.
22 = 4 x 2 = 8

Selain itu, bilangan 8 adalah bilangan solid pertama, karena terdiri dari rangkaian sisi, dan sisi terdiri dari garis-garis yang berdekatan, dan garis terdiri dari setidaknya dua titik yang berdekatan. Bilangan solid diibaratkan sebagai sebuah bangun. Tidak bisa menjadi sebuah bangun yang solid tanpa sisi yang saling terkait atau terkoneksi dan tidak bisa menjadi sebuah sisi tanpa dua rusuk yang berdekatan. Dan tidak bisa menjadi sebuah rusuk tanpa titik-titik yang saling beraturan. Seperti yang dijelaskan dalam risalah Geometri. Sebuah bangun terbentuk dari panjang, lebar, dan tinggi. Bilangan kuadrat yang dikalikan dengan bilangan berapapun menjadi bilangan solid, karena terdiri dari tiga bilangan yang melambangkan panjang, lebar, dan tinggi.

Majid Fakhry dalam karyanya mengatakan:
Eight is a cubic number, since its root, which is two, multiplied by its double, which is four, makes eight. It may also be called the first solid number, because it consists of a series of planes, and the plane consist of adjacent lines. Now, the line consists of a minimum of two points, and the smallest body will consist of eight parts. For, if we multiply the line by itself, that is two by two, we would have a plane, which consists of four parts, and if we multiply the plane by one of its sides, we would have a solid, totalling eight parts, or two in length, two in breadth and two in depth.

Delapan adalah bilangan kubik, karena akarnya, yang mana 2 dikalikan 2 secara berulang akan menghasilkan 8. Itu mungkin juga disebut dengan bilangan solid pertama, karena terdiri dari bangun, dan bangun terdiri dari garis-garis. Sekarang garis terdiri dari minimal dua titik, dan badan terkecil terdiri dari 8 bagian. Ketika kita melipatgandakan garis dengan dirinya sendiri, yaitu 2 dengan 2, kita akan mendapat sebuah bangun, yang terdiri dari 4 bagian, dan jika kita mengalikan bangun dengan 1 sisinya, kita akan mendapatkan kesolidan, seluruh 8 bagian, atau 2 panjang, 2 lebar, dan 2 tinggi atau kedalaman.

Selain itu, para matematikawan Yunani Kuno menyatakan keunikan bilangan 8 sebagai bilangan keberuntungan atau bilangan bagus yang akan membentuk sebuah kubah. Jika setiap bilangan ganjil di atas 1 dikuadratkan, maka akan menghasilkan perkalian 8 ditambah 1. Misalnya, 52 = 25 = (3 x 8) + 1. Sehingga dihasilkan rumus n2 = (n x 8) + 1. Dan semua kuadrat bilangan ganjil di atas 1 saling berbeda, dengan selisih perkalian 8. Misalnya, 92 – 72 = 81 – 49 = 32, atau 4 x 8.
Keunikan bilangan 9 adalah bilangan kuadrat ganjil pertama, karena 3 dikali 3 hasilnya adalah 9. Dan bilangan 9 adalah bilangan tingkat satuan terakhir.
32 = 9

Keunikan bilangan 10 adalah bilangan puluhan pertama, seperti bilangan 1 yang menjadi bilangan satuan pertama. Dan bilangan 10 adalah setengah dari bilangan 20, sebagaimana 1 adalah setengah dari bilangan 2. Selain itu, bilangan 10 dikatakan sebagai dasar dari sistem desimal. Dikatakan oleh kaum Pythagorean bahwa bilangan 10 adalah bilangan yang dianggap sebagai ibu yang merangkul dan membatasi segala sesuatu. Bilangan 10 adalah jumlah dari empat bilangan pertama, yaitu 1+2+3+4.

Keunikan bilangan 11 adalah bilangan bisu pertama (deaf number), karena tidak memiliki bagian pecahannya. Bilangan bisu lainnya adalah:
13 17 23 29 31 37 41 43 47 53
59 61 67 71 73 79 83 89 91

Keunikan bilangan 12 adalah bilangan ekstra atau tambahan (excessive) pertama, karena jika pembagi-pembaginya (faktor-faktornya) ditambahkan, maka hasilnya selalu lebih dari dirinya sendiri, tidak seperti bilangan 6. Contohnya; setengah dari 12 adalah 6. Seperempat dari 12 adalah 3. Sepertiga dari 12 adalah 4. Seperenam dari 12 adalah 2. Dan seperduabelas dari 12 adalah 1. Jika ditambahkan maka hasilnya adalah 16.
6 + 3 + 4 + 2 + 1 = 16

Selain bilangan 12, bilangan ekstra lainnya adalah bilangan 20. Ada pula bilangan sebaliknya, yaitu bilangan kurang atau tidak sempurna karena jika pembagi-pembaginya (faktor-faktornya) ditambahkan, maka hasilnya selalu kurang dari dirinya sendiri. Contohnya bilangan 4, 8, 10, dan lainnya. Misalnya: setengah dari bilangan 8 adalah 4, kemudian seperempat dari bilangan 8 adalah 2, dan seperdelapan dari bilangan 8 adalah 1. Jika ditambahkan, 4 + 2 + 1 = 7. Dan bilangan 7 kurang dari bilangan 8.
Selain itu, bilangan 12 merupakan hasil perkalian dari bilangan 3 x 4, yang mengandung muatan spiritual dan material. Kemudian bilangan 12 merupakan hasil dari penjumlahan bilangan 5 + 7.
Dan kemudian keunikan beberapa bilangan adalah setengah dari hasil penjumlahan bilangan yang berdekatan. Contohnya sebagai berikut:
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Bilangan 5 adalah setengah dari hasil penjumlahan bilangan-bilangan yang berdekatan dengannya, yaitu 4 dan 6. Kemudian bilangan 6 adalah hasil dari penjumlahan bilangan yang berdekatan dengannya, yaitu 7 dan 5. Lalu bilangan 2 adalah setengah dari hasil penjumlahan antara 1 dan 3. Bilangan 3 adalah setengah dari hasil penjumlahan 2 dan 4. Bilangan 4 adalah setengah dari hasil penjumlahan 3 dan 5. Bilangan 7 adalah setengah dari hasil penjumlahan 6 dan 8, dan begitu seterusnya.

peneliti menyampaikan kesimpulan dari permasalahan-permasalahan yang sudah dibahas sebelumnya. Peneliti menarik beberapa kesimpulan dari tiga rumusan masalah yang sudah diutarakan dalam bab pendahuluan, yaitu teori bilangan menurut Ikhwān al-Ṣafā’, teori kosmologi menurut Ikhwān al-Ṣafā’, dan harmonisasi teori bilangan dan teori kosmologi.
Dari kajian permasalahan-permasalahan di atas, beberapa poin dapat disimpulkan:
1. Pemikiran Ikhwān al-Ṣafā’, khususnya pemikiran tentang bilangan dan kosmologi dipengaruhi oleh Pythagoras dan Neoplatonisme. Doktrin bilangan dan karakteristik bilangan yang dapat menjelaskan keseluruhan penciptaan, struktur alam, fenomena material, dan fenomena spiritual dipengaruhi oleh Pythagoras. Sedangkan dalam pemikiran hierarki emanasi yang diawali dari Pencipta, kemudian ke Akal Universal, kemudian ke Jiwa Universal dan Materi Pertama dipengaruhi oleh Neoplatonisme.

2. Teori bilangan Ikhwān al-Ṣafā’ berada dalam lingkup ilmu matematika dalam kategori ilmu filsafat, yang merupakan ilmu terpenting dan tertinggi menurut Ikhwān al-Ṣafā’. Teori bilangan menjadi basis dari seluruh pemikiran Ikhwān al-Ṣafā’, sehingga teori bilangan menempati risalah pertama. Bilangan dibagi ke dalam bilangan bulat, pecahan, ganjil, dan genap. Setiap bilangan memiliki keunikan masing-masing, antara lain bilangan 1 memiliki keunikan khusus yang menjadi sumber dan asal usul seluruh bilangan setelahnya. Bilangan 1 tidak terbagi dan tidak memiliki bagian. Bilangan 2 memiliki keunikan genap dan menjadi awal dari pluralitas bilangan. Bilangan 3 memiliki keunikan menjadi bilangan ganjil pertama dan penyebab dari bilangan genap dan ganjil secara berselang seling. Bilangan 3 didapat dari hasil pertambahan antara bilangan 1 dan 2. Bilangan 4 yang merupakan bilangan kuadrat pertama, memiliki keunikan khusus, yaitu ilustrasi dari realitas alam yang berjumlah 4. Bilangan 4 adalah hasil penjumlahan dari bilangan 1 dan 3.

3. Kosmologi Ikhwān al-Ṣafā’ dalam kitabnya mengkaji tentang alam yang di dalamnya mengkaji tentang segala aspek fisik maupun spiritual di alam. Alam adalah keseluruhan maujud, baik wujud spiritual di alam transenden maupun wujud fisik atau material yang mendiami seluruh alam atas dan alam bawah. Semuanya membentuk sebuah sistem kesatuan yang saling meliputi. Alam diibaratkan sebagai manusia besar yang memiliki akal partikular, jiwa partikular, dan badan material. Manusia pun diibaratkan sebagai alam kecil yang berisi kumpulan aspek spiritual berupa akal aktif universal, jiwa universal, dan materi pertama. Ketiganya membentuk sebuah sistem kesatuan yang saling terkait. Dalam kosmologi, khususnya membahas teori emanasi Ikhwān al-Ṣafā’, dimana penciptaan alam dimulai dari Tuhan, kemudian Akal Aktif Universal, Jiwa Universal, Materi Pertama, Materi Universal, dan seluruh maujud-maujud yang terdiri dari materi dan bentuk secara berangsur-angsur.

4. Teori bilangan sangat berkorelasi erat dengan teori kosmologi Ikhwān al-Ṣafā’. Teori bilangan berhubungan dengan hierarki wujud dalam teori penciptaan. Penciptaan alam keseluruhan dari Tuhan dihubungkan dengan munculnya keseluruhan bilangan dari 1. Sehingga bilangan menjadi dasar hikmah dari tauhid keesaan Tuhan. Misalnya munculnya bilangan 2 dari pengulangan bilangan 1 sebagaimana penciptaan Akal Aktif Universal dari Tuhan. Bilangan 3 munculnya dari 1 dan 2 sebagaimana Jiwa Universal munculnya dari Tuhan dan Akal Aktif Universal. Bilangan 4 munculnya dari 1 dan 3 sebagaimana penciptaan Materi Pertama dari Tuhan dan Jiwa Universal.

Tuhan menciptakan pluralitas maujud alam secara bergradasi sebagaimana munculnya pluralitas bilangan secara bergradasi dari pertambahan 1 secara terus menerus. Bilangan memiliki pola interelasi dan interdependensi antar satu dan yang lain. Pola ini menjadikan bilangan-bilangan berhubungan secara harmonis. Pola ini menjadikan seluruh maujud atau elemen alam berhubungan secara harmonis. Satu saja bilangan rusak, maka akan merusak pola seluruh bilangan yang lain. Begitu juga dengan alam, satu maujud atau elemen rusak, maka akan merusak seluruh sistem alam.

 

Free WordPress Themes, Free Android Games