FAP; Agama dan Filsafat dalam Tradisi Islam dan Kristen

Hubungan Kristen dan Islam dengan filsafat memiliki dialektika yang unik dan khas. Masing-masing memiliki basis dan doktrin berbeda meski sama-sama sebagai agama ibrahimik. Respon dan perkembangan keduanya berbeda sesuai zaman dan kontek. Dari zaman klasik, modern dan posmodern baik Kristen dan Islam memiliki idealitas yang berbeda dan fenomena yang beragam-menggembirakan sekaligus mencemaskan.

Bagaimana Kristen dan Islam dilihat dari dalam dan sejauh mana filsafat berinteraksi dengan kedua agama tersebut. Bagaimana Kristen dan Islam merespon tantangan di dunia modern dan posmodern.

Inilah pokok pertanyaan fundamen yang mencoba di jawab dalam Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI, 16 mei 2016. Menghadirkan Prof. Dr Bambang Sugiharto dan Ammar Fauzi, Ph.D.

Setelah rombongan STFI Sadra dijamu makan siang di kafe mungil dan asri Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Filsafat Bandung. Angin Bandung yang hangat dan sejuk membawa umat dua agama besar berdiskusi, terlihat akrab dan senyap.

Prof. Dr Bambang Sugiharto
Dr. Bambang langsung pada statmen penting. Kristen sejak awal, oleh para muridnya, dalam mengespresikan pengalaman iman, banyak dipengaruhi oleh tradisi Yunani. Sejak awal Kristen telah menggunakan konsep-konsep Yunani, kemudian juga pada abad pertengahan. Olehkarena itu, hingga sekarang para pastor didik di seminari, salah satu materinya filsafat dan teologi. Banyak teologi yang sangat filosofis dan filsafat yang cenderung teologis.

Akan tetapi menurut Dr. Bambang, banyak unsur-unsur destruktif dalam agama-sesuai dengan judul presentasinya ”Unsur-unsur Destruktif agama”. Kenapa demikian?. Karena dalam agama terdapat banyak paradok.

Pertama, agama pembawa perdamaian sekaligus penyebab konflik dan separatis. Klaim agama, bahwa semua manusia sederajat akan tetapi faktanya terjadi superioritas yang diskriminatif, rasistik, chauvinistik. Agama menawarkan model ideal kematangan manusia, tapi banyak orang bermental kekanak-kanakan. Fokus agama adalah spiritualitas yang mendalam, tapi banyak fenomena agama hanya fokus pada hal material-simbol fisik. Agama dikenal memiliki sumber peradaban luhur, akan tetapi banyak fenomena agama justu sebagaia penghancur peradaban.

Agama di dunia modern dalam pandangan Dr. Bambang, banyak mendapat kritik dari kaum posmodernisme. Dalam dunia modern terjadi epistemologisasi agama, dibanding agama sebagai iman. Muncul pengetahuan yang benar, objektif, impersonal terhadap doktrin agama (R.Bellah, H.Smith). Persoalanya adalah, de facto agama tak selalu sejajar dengan ilmu, ada dimensi personal dan experiensial yangg hilang dalam ‘iman kognitif’. Dalam kenyataannya, ‘iman’ lebih tepat dilihat sebagai trust faith “percaya kepada/setia terhadap” soal sikap batin, bukan perkara ‘Pengetahuan’. Soal makna terdalam dalam pengalaman hidup konkrit dan personal.

Kedua, Agama-agama besar bersifat logosentrisme (berpusat pd ‘Firman’), kerap terkecoh, terperangkap dalam kerangka epistemologisasi, menjadi wacana besar, yang bersaing dengan science dan berbagai ideologi lain.

Masalahnya, ketika orang-orang intelektual menemukan bahwa sebagai ‘logos’ ternyata doktrin agama-agama justru sering tidak ‘logis’; dan sebagai wacana besar, ia sama opresif, manipulatif dan diskriminatifnya dengan ideologi-ideologi besar lainnya, maka dampaknya justru kontrapoduktif, yaitu terjadi fenomena atheisme.

Ketiga, dalam dunia modern, orientasi nilai dan perilaku individu dikelola oleh pribadi masing-masing. Istilah R. Bellah: Exoskeleton (pengawasan eksternal-sosial) bergeser ke Endoskeleton (pengelolaan internal-privat). Efek negatifnya: over self-consciousness –terjadi inflasi mental dan individu.

Olehkarena itu, agama-agama yang berorientasi kosmik secara psikologis menurut Bambang mungkin lebih sehat: agama :‘religio’/’religare’; mengembalikan keterkaitan primordial individu dengan alam semesta, dengan jagat yang tak sepenuhnya kita pahami, dengan misteri, dengan ‘ketakmungkinan’ (Derrida, Caputo), dengan ‘yang sublim’ (Kant). Pusat gravitasinya bukan individu, melainkan: alam semesta. Ranahnya bukan ‘kesadaran intelektual’ melainkan: supra-kesadaran, ranah pengalaman keterikatan yang sublim.

Keempat, akibat banyak tendensi kontradiktif menyangkut agama-agama besar, maka perspektif Postmodern mengubah pendekatan atas agama.

Kelima, agama-agama besar rentan menjadi sumber kecemasan dan kekerasan. Karena masalah: identitas, yang kehilangan batasan kekuasaan yang dalam globalitas jadi tak seimbang heterodoksi, yang mengakibatkan disorientasi. Maka spiritualitas yang non-dogmatik, dan non-logosentris, kini berpeluang memberi pencerahan, asalkan tetap berfokus pada kedalaman pengalaman spiritual otentik yang menggaris bawahi kesatuan dasar antar segala/ “ultimate belonging” (Huston Smith).

Manusia dan Agama
Agama menurut Dr. Bambang adalah ‘sistem’ (unsur: nilai inti, kitab suci, doktrin, pola ritual, pola organisasi, habitus). Nilai Inti dan kitab suci, nukleus. Doktrin, Pola ritual, organisasi, habitus. Artikulasi sistemik. Sistem ini dibentuk oleh manusia (sekurang-kurangnya sebagian), tapi juga membentuk manusianya, membentuk tendensi praksis khas.

Kontradiksi bisa terjadi antara tendensi praksis, artikulasi sistemik dan nukleusnya. Sejauh menyangkut kontradiksi, bila hal-hal inti dalam sistem tak perlu/ tak bisa diubah, maka faktor manusia/ praksisnya yang perlu dibenahi.

Dalam praktisnya, agama-agama menurut Bambang terdapat unsur-unsur destruktif
Pertama, agama menekankan berlebihan pada kebenaran doktrinal–proposisional, ‘Apa yang anda percaya’, bukan ‘apa yang anda lakukan’, apologetis, superioritas-diskriminatif. Sehingga mengakibatkan egosentrisme kelompok agama, akhirnya menjadi sumber konflik: shallow religion (Ken Wilber/Danah Zohar), “until there is peace between religions, there can be no peace in the word” (Thich Nhat Hahn).

Kedua, spiritualisme atau simbolisme berlebihan. Seakan keselamatan hanyalah urusan ibadah/sembahyang/simbol saja tidak berefek signifikan, tidak mengubah kualitas kehidupan nyata. Malah menjadi oversensitif dan ribut memerkarakan hal-hal yang tidak esensial (konflik soal rumah ibadah, pakaian simbolik, perusakan barang keramat, dll).

Terjadinya kekerasan dianggap sebagai kesalehan, heroisme, membela Tuhan. Sehingga kekerasan dibalas kekerasan. “An eye for an eye will make the word blind” (Mahatma Gandhi). Atau kata Dalai Lama, “ to bring peace to all, one must first dicipline and control one’s own mind’. Atau kata Martin Luther King, “darkness cannot drive out darkness; inly light can do that”

Ketiga, muncul image Tuhan yang judmental diskrimatif, hitam-putih, menuntut, mudah tersinggung, dan menakutkan, muncul spiritualitas ketakutan, hitam-putih, juga over-judgmental, sikap kekanak-kanakan & rawan kekerasan. Kata Jallaludin Rumi, “out beyond out ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I’ll meet you there’.

Keempat, agama fous pada surga-neraka dan keselamatan individual. Orientasi beriman yang hanya mencari jaminan agar diri sendiri masuk surga, mudah sekali membuat orang tak peduli pada keselamatan orang lain, atau justru menaklukan orang lain, mudah dimanipulasi oleh kekuasaan, agama menjadi alat penguasa yang menghimpun, kekuasaannya dari ‘ketaatan’/’voluntary slavery’/’control of the mind’/’corruption of the will’ para anggotanya (Alexander Herzen).

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena berharap masuk surga, tetapi karena cintaku kepadanya” (Rabi’ah Al-Adawiyah). Atau kata Mahatma Gandhi “when the power of love overcomes the love of power the word will know peace’.

Kelima, kesempitan wawasan agama de facto sering merupakan wilayah yang paling tidak dipikirkan. Maka berpikir dan berdiskusi menjadi takut teracuni pihak lain. Menyimpang dari dogma sama dengan dosa, akhirnya tidak menyadari praksis yang kontradiktif dan terbalik-balik, hingga seolah agama menjadi jahat/satanik. “Men never commit evil so fully and joyfull as when as when they do it for religions convictions’. (Blaise Pascal).

Deep Religion
Sebagai tawaran solusi, Bambang menimbang, bahwa seyogyanya agama-agama konsisten dengan nilai inti yang dijunjungnya: perdamaian. Perlu perubahan paradigma ke arah:deep religions. Pusat gravitasinya nilai-nilai inti. Kebenaran dokrinal-proposisional, ritual, dan simbol penting untuk ‘ke dalam’: sebagai bermacam cara khas kita untuk mendekati Tuhan dan meningkatkan kualitas rohani pribadi.

Image tradisional tentang Tuhan yang menghakim, maupun orientasi ‘Surga-Neraka’–yang menimbulkan sumber konflik-bukanlah satu-satunya pola penghayatan iman, dan bukan tak bisa diubah. Pengalaman iman yang matang dari pemeluk tiap agama memberi isyarat lain, yang seringkali lebih sehat, lebih konsisten dengan nilai-inti agama-agama tersebut, sekaligus lebih menjunjang perdamaian.

Untuk sikap ‘ke luar”, perlu perluasan wawasan dan melihat identitas secara relasional (bukan territorial), saya tumbuh dan memahami diri dan agama saya, hanya melalui relasi dengan pihak lain, dengan begitu, jiwa pun dibebaskan, diri diperluas agama. Sehingga “enlargement of the self/soul”. Tumbuh ke arah “universal compassion” (damai). Seperti kata Nelson Mandela “If you want to make peace, you have to work with your enemy”.

Ammar Fauzi, Ph.D
Giliran pada sesi kedua, Ammar melihat filsafat dalam dunia Islam. Filsafat dikatakan Ammar dalam posisi mazlum (tertindas). Ada semacam resistensi baik dari pihak teolog dan kaum fiqih terhadap filsafat. Tapi anehnya, tidak ada penolakan pihak filsof terhadap teologi. Filsafat tidak pernah menghancurkan teologi. “Bapak-bapak akan mendapati informasi di perguruan tinggi di tanah air, apa kata Imam Ghozali, tetapi jarang apa kata Ibnu Sina, Shuhrowardi, dan Mulla Sadra”. Ammar memberi contoh.

Mutakallim (teolog) adalah orang yang suka bicara, yang membentengi agama dengan teologi. Namun kalau filsafat dan teologi bertentangan dengan agama tidak segan-segan di kafirkan. Kata “sahid” yang biasanya di kenal dalam perang, dalam dilingkungan filsafat dan mistisisme juga ada. Shurowardi dalam dunia filsafat terkenal dengan si Maqtul (yang terbunuh/teraniaya). Atau Al-Hallaj, dalam dunia mistisisme, dikenal si “sahid”. Di Indonesia juga ada, Syekh Siti jenar.

Kenapa mereka menjadi martir tanya Ammar, karena sepertihalnya dalam teosis (Kristen), mereka ingin menjadi mirip Tuhan. Filsafat oleh Shurowardi dibawa-bawa ke tingkat kekuasaan. Menyerap ide-ide Plato, akan tetapi Shuhrowardi pada akhirnya dibunuh oleh Shalahuddin Ayubi. Di tulis oleh para fuqoha waktu itu, bahwa filsafat Shuhrowardi bisa mengancam kekuasaan Salahudin Al-Ayubi.

Jika dilihat secara strata menurut Ammar, teologi berada di bawah filsafat, dan filsafat dibawah tasawuf. Sering para teolog ditanggapi secara sinis oleh para filsof. Tapi dari bawah (kalam) para teolog mengkafirkan filsafat. Dari sisi paling atas (tasawuf), seperti Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi selalu mencemoh filsafat. Olehkarena itu hemat Ammar, jika ada filsafat berkembang di dunia Islam di era kontemporer, berarti ada keajaban.

Menanggapi fenomena agama dan relasinya manusia dan Tuhan, Ammar mengatakan, subjek Al-Quran ada dua. Pertama, berbicara tentang Tuhan (ayat tuhan), olehkarena itu Al-Quran mengajak bagaimana manusia agar misi hidupnya menjadi mirip Tuhan.

Kedua, Alquran berbicara pada dimensi manusia. Manusia sebagai ciptaan atau fitrah (bahasa arab), baqara (membelah), membelah biji, yaitu biji cinta. Sehingga menjadi cinta sempurna. Olehkarena itu manusia dikarunia cinta sekaligus benci terhadap kekurangan. Manusia juga sebagai anak hasil dari Tuhan (ciptaan Tuhan). Kemanapun gerak manusia maka selalu dalam kontek gerak cinta sempurna (nukleus).

Menurut Ammar, terdapat tiga karakter yang mirip antara manusia dan Tuhan.
Pertama, sifat otoriter-sebagai tahap awal, manusia ingin sempurna, olehkarena itu sifat otoriter dapat membawa ke diri sendiri. Kedua, manusia memiliki sifat liberal-maunya bebas. Ketiga, kecenderungan manusia ingin menikmati sepuas-puasnya, sifat hedonis. Inilah tiga sifat bawaan fitrah manusia.

Persoalan konflik (paradok) yang timbul seperti yang dipaparkan Dr. Bambang ketika tiga sifat karakter manusia itu diterapkan di dunia yang terbatas. Sehingga terlihat menjadi utopis dan seperti tidak relevan dalam dunia yang terbatas (dunia materi).

Olehkarena itu tantanganya adalah, dalam kontek Islam, bagaimana manusia dalam memenuhi kebutuhanya disesuaikan idealitas Islam. Bagaimana keterbatasan manusia menjangkau ketidakterbatasan Tuhan. Olehkarena itu dalam Islam, fokusnya ada di kehidupan setelah kematian.

Sebagai ilustrasi solusi, Ammar memberi contoh konkrit, bagaimana seorang Imam Khumaini memberi solusi pada problem kapitalisme dan sosialisme. Problem kapitalisme adalah menganggap dunia terbatas (SDA terbatas), sehingga solusinya siapa yang kuat dialah yang menang. Atau sosialisme, bagaimana semua orang mendapatkan makanan yang sama di satu piring.

Imam Khomeini memberi surat ke Gorbachev, dengan mengutus Jawadi Amuli. Dikatakan Imam Khomeni masalah anda bukan ekonomi. Jalan keluar yang anda tawarkan, seperti keluar dari mulut singa pindah ke mulut buaya. Problem anda bukan dari kapitalisme menuju sosialisme-komunisme. Problemnya ada pada pandangan hidup anda. Olehkarena itu, Imam Khomeini menawarkan dua kitab yakni filsafat Hikmah Mutaaliyah Mulla Sadra dan tasawuf Futtuhat al-Makkiyah Ibnu Arabi untuk dipelajari.

Menanggapi Dr. Bambang sebagai statemen terakhir Ammar, dalam agama memang ada unsur takut, harap, dan cinta. Ada orang beribadah seperti budak (takut), pedagang (harap) dan ada orang beribadah karena cinta. Semua ada pelakunya, tapi bergradasi, dan tuntutan Islam beribadah semata karena cinta.

Dari sekian banyak problem agama di dunia modern yang digugat kaum posmodernisme, Ammar memberi dua catatan. Agama memiliki masa depan cerah jika mengakui dua karakter sekaligus. Pertama, mengakui kompleksitas manusia, kedua mengakui seluruh potensi manusia. Tujuan tertinggi manusia versi Islam menjadi makhluk sempurna (insan kamil).

Setelah senja menjadi gelap diskusi ditutup. Rombongan dari STFI Sadra akhirnya pamit dan kembali pulang ke Jakarta. (ma’ruf)

 

Free WordPress Themes, Free Android Games