FAP; Kreatifitas Penerjemahan Dr. Winkel

Penerjemahan umumya dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Bukan sebuah pekerjaan yang dianggap penting. Namun, penerjemahan sebenarnya adalah bagian dari rangkaian penelitian.

Pekerjaan menerjemahkan memiliki bobot penting. Dapat menjadi fondasi pemikiran bahkan keberlanjutan peradaban tradisi ilmiah Islam. Seperti yang kita ketahui, tradisi keemasan Islam abad pertengahan banyak berutang pada Al-Kindi. Filsuf ini merupakan pionir- mengawali karirnya dengan banyak melakukan pekerjaan penerjemahan karya pemikiran dalam bahasa Yunani kedalam tek Arab. Berkat jasanya, dunia Islam dapat mengakses dan berdialektika dengan Filsafat Yunani. Setelah itu-dunia barat kemudian meneruskanya dan berutang besar pada penerjemahan para filsuf muslim.

Untuk menjadi penerjemah yang baik dibutuhkan beberapa syarat. Diantaranya, keahlian pengalaman bahasa, pembacaan horison penulis, pemahaman tek dan kontek.

Disamping tek filsafat, salah satu tek dengan tingkat kesulitan penerjemahaan tinggi adalah karya masterpiece para sufi bersumber dari ilham bukan dari akal diskursif. Sehingga yang dibutuhkan tidak hanya fokus pada tek gramatika dan memindahkan kata per kata, tapi juga memperhatikan kondisi fenomenologis spiritual penulis. Salah satu contoh tek tersebut adalah Al-Futuhat Al-Makkiyah karya Ibnu Arabi.

Bagaimana suka duka penerjemahan tek tersebut. Melalui program Forum Antar Pakar (FAP) Sabtu, 16/04, 2016, Riset STFI Sadra mencoba menjawab dengan menghadirkan seorang penerjemah Al-Futuhat Al-Makkiyah dari AS, Dr. Winkel. Sebagai penanggap, hadir Ammar Fauzi, Ph.D. Diskusi bertempat di STFI Sadra di lt.04 STFI Sadra.

Dr. Eric Winkel
Dr. Winkel lahir di Manhattan, Kansas. Tinggal di Jenewa, Swiss. Selama 7-11 tahun di Haverford, lalu Penn, kemudian University of South Carolina. Dia melakukan studi eklektik, kebanyakan agama pada awalnya, memusatkan perhatian pada masalah spiritual, kemudian termasuk ilmu politik, aneka bahasa untuk memungkinkan studi teks religius dan spiritual (bahasa Sanskerta, bahasa Yunani, bahasa Koptik, Tamil, Arab, lainnya, juga bahasa Prancis dan Jerman).

Sebagai ahli Ibnu Arabi, Dr. Winkel mengajar di Universitas Islam Internasional, Kuala Lumpur, Malaysia, dan merupakan Senior Fulbright Scholar di Islamabad, Pakistan. Dia juga Dekan Mahasiswa Institut Internasional Pengobatan China di Santa Fe, New Mexico. Dr. Winkel mendapatkan hibah Fulbright Specialist untuk mengadakan kursus Ibnu Arabi di STFI Sadra dari tanggal 5 – 19 April 2016.

Dr. Eric Abu Munir Winkel (nama Sufi: Shu’ayb Nur) mengatakan telah mempelajari Futuhat al-Makkiyah selama 23 tahun. Sejak tahun 2012 ia telah bekerja secara eksklusif dalam proyek enam tahun (2012-2018) untuk dapat menghasilkan terjemahan lengkap Futuhat al-Makkiyah ke dalam bahasa Inggris, yang berjudul Openings in Makkah.

Futuhat al-Makkiyah adalah sebuah magnum opus lebih dari 10.000 halaman, ditulis oleh master terhebat (syekh al-akbar), dari tangannya sendiri.
Isi Futuhat merupakan ekpresi spiritual Ibn al-Arabi, seorang sufi terkemuka di abad ke-11, yang mendapatkan ilham langsung dari Tuhan. Sebuah visi spiritual yang luar biasa saat berada di Mekkah.

Tentang penerjemahan Al-Futuhat Al-Makkiyah, Dr. Wingkel mengatakan, dibutuhkan banyak usaha dan pengorbanan. Untuk dapat menerjemahkan karya seorang sufi yang berasal dari ilham, maka sang penerjemah harus mengkondisikan sepertihalnya sang sufi.

Penerjemahan kata perkata tidak akan membantu memahami dengan baik tek Ibnu Arabi. Olehkarena itu setiap istilah diperlakukan secara berbeda dan membutuhkan kehati hatian. Selain pengetahuan kekayaan bahasa, seperti diakui Winkel, dia harus berusaha memahami tek melalui perenungan serius.

Diakuinya, Winkel sering mendapatkan peneguhan melalu mimpi ketika kesulitan menerjemahkan istilah tertentu. Dr. Winkel mengakui dirinya bertugas tidak hanya melakukan pekerjaan menerjemahan akan tetapi juga mentransmisikan.

Dr. Winkel memberi contoh, untuk dapat memahami tafsir keesan Tuhan Ibnu Arabi. Secara khusus Winkel mempelajari bidang matematika dan fisika yang relevan. Setelah merenungkan kata huwa lahu dan paralelisasi posisi biner angka 1 0…01..kemudian lewat mimpi Winkel berhasil menerjemahkan dengan baik. Dr.Winkel seperti diakuinya bekerja menerjemahkan dalam satu hari sekitar 8-10 jam.

Ammar Fauzi, Ph.D
Sebagai penanggap, Ammar mengawali dengan mengatakan, Dr. Eric Winkel adalah seorang penerjemah yang langka dan unik. Ketika kegiatan penerjemahan tidak dianggap sebagai bagian penelitian maka apa yang di lakukan oleh pk Winkel sangat istimewa. Kenapa demikian, dikatakan Ammar, karena pk Winkel telah mengikuti jejak para filsuf, seperti Al-Kindi yang memulai kegiatan penerjemahan, dilanjutkan dengan meneliti kemudian menghasilkan karya.

Dalam kontek penerjemahan dalam tradisi sufi, sebenarnya manusia dan alam selain Tuhan adalah tarjuman arrahman-terjemahan Tuhan. Olehkarena itu jangan berhenti menerjemahkan tapi melangkah tahap berikutnya-melakukan penelitian.

Kita sekarang di ruang ini, berdiskusi dalam tradisi modern. Sebagai mahasiswa sebenarnya tingkatanya lebih rendah dibanding murid. Tapi, dalam tradisi tasawuf Islam dalam bahasa arab hanya mengenal kata “murid’. Seseorang tidak pernah di kenal menjadi wujud sempurna dari “terjemahan Tuhan” kecuali menjadi murid. Sebagaimana kata “murid” adalah nama Tuhan, kita mengawali menjadi murid dan mengakhiri dengan menjadi murid.

Karena kita berbicara “murid” maka dalam tradisi timur kata “syeikh” dan “mursid” dipadankan menjadi guru. Tapi dalam dunia modern kita kenal dosen, doktor atau professor. Dalam radisi pengajaran sufi, penyebutan murid, syeikh, atau mursid penting untuk menjaga kualitas spiritual (kesalehan).

Ammar berusaha menjelaskan pentingnya memahami perbedaan tradisi tasawuf Islam dan dunia pendidikan modern untuk sedekat mungkin memahami horison kontek penerjemahan karya Ibnu Arabi.

Sebagaimana dikatakan Dr. Winkel kata Ammar, benar bahwa karya Ibnu Arabi adalah hasil ilham, waridad, masukan-masukan spiritual. Kata Tabatabai, kalau Futtuhat Al-Makkiyah itu daman daman (rincian-rincian), sedang Fushus Al-Hikam mush mush (bongkahan-bongkahan). Untuk dapat memahami karya hasil dari ilham-maka seyogyanya sang murid mengikuti anjuran sang penulis. Olehkarena itu, sebelum membaca tek seperti Futtuhat Al-Makkiyah, Hikmatul Isroq, maka sebelumnya murid harus melakukan laku spiritual.

Setidaknya menurut Ammar terdapat tiga tahap sebelum kita membaca dan meneliti karya hasil ilham. Pertama mendapatkan ijazah dari mursid, kedua murid (peneliti) seyogyanya mempunyai guru (mursid), ketiga pentingya aspek kualitas spiritual. Olehkarena itu butuh suatu bentuk eklusifitas. Tapi bukan berarti orang yang belum mendapatkan tiga hal tersebut tidak boleh/tidak bisa mengakses. Siapapun boleh saja mengakses, tapi ingat-sejauh tek berbunyi. Pesan Ammar.

Dalam Misbahul Hidayah, Imam Khomeini berpesan-bila kita tidak punya pengalaman bahasa yang di pakai kaum sufi, maka sebaiknya jangan pernah mengakses buku sufi-atau diam saja. Jika nekat mengakses kemungkinan akan salah paham, dan bisa mengakibatkan pertumpahan darah. Bahaya terbesar bagi para pemula adalah tidak bisa menahan rahasia gejolak spritual dan juga kosongya pengalaman bahasa (istilah) yang di pakai para sufi.

Berkenaan dengan istilah. Ammar memberi contoh bagaimana William Chittick dan Toshihiko Izutsu-dua orang yang sama-sama di Tehran, saling belajar memahamai Ibnu Arabi. Dalam kontek penerjemahan, Chittick mengkritik Itsuzu yang memadankan istilah a’yyan atsabitah dalam tradisi tasawuf yang berbasis tek Al-Quran diterjemahkan dengan arketipe-arketipe permanen dari tradisi plotinos.

Olehkarena itu dikatakan Ammar, sebisa mungkin ketika menerjemahkan karya Ibnu Arabi, sang penerjemah harus dalam horison Ibnu Arabi. Sebagaimana, jika kita ingin memahami tek al-Quran dan injil, kita harus masuk dalam dua horison dua kitab tersebut.

Chittick menyarankan, biar saja kata a’yyan atau istilah wujud di terjemahkan apa adanya. Akan tetapi ketika kita menerjemahkan-disesuaikan varian terjemahan sesuai dengan kontek. Seperti varian terjemahkan kata wujud; haqiqah, waqi’iyah, huwwiyah, atau objek nanti dipilih sesuai kontek.

Chittick memandang, Izutsu saat memahami Ibnu Arabi fokus pada Tuhan, sementara menurut Chittick, Ibnu Arabi fokus pada manusia (antropologi). Seperti halnya debat mufasir dalam menentukan subjek matter Al-Quran, apakah berbicara Tuhan atau manusia. Maka, ketika hadis berbunyi man arofa nafsahu faqod arofa robbahu (barangsiapa mengenal manusia, maka mengenal Tuhan). Kalau subjeknya Tuhan, melalui manusia mengenal Tuhan maka akan berhenti di Tuhan. Sedang jika subjek matternya manusia, maka akan sampai pada bagaimana Tuhan menafsirkan manusia.

Hubungan antara manusia-Tuhan bersifat dialektis, baik dalam kontek jika manusia mengenal manusia maka mengenal Tuhan, atau mengenal manusia melalui Tuhan, ujungnya akan sampai pada manusia.

Berkenaan dengan bab 500 dalam Futtuhat Al-Makkiyah seperti kata Dr.Winkel, Ammar melihat bahwa bab tersebut merupakan inti apa yang sudah ditulis dan akan di tulis Ibnu Arabi. Sedang jika kita ingin melihat jenis terjemahan Dr. Winkel, kemudian apa perbedaanya dengan tradisi model Khawajawi di Iran, tergantung konstruk pemahaman kita terhadap Ibnu Arabi.

Hingga tiga jam diskusi berjalan, terlihat peserta masih antusias. Diskusi kemudian di tutup oleh moderator sekaligus pengelola jurnal STFI Sadra, Andi Herawati.

 

Free WordPress Themes, Free Android Games