Tafsir Al-Quran bagi sebagian filsuf muslim adalah bagian perjalanan pamungkas intelektual. Semacam peneguhan kesempurnaan setelah sebelumnya menuangkan gagasan filsafat, kalam dan irfan. Filsuf muslim seperti Ibn Sina, disamping menuangkan filsafat peripatetiknya juga menulis tafsir Al-Fatikah, Yasin dan Al-ikhlas.

Mulla Sadra menulis kurang lebih 12 surat; al-Hadid (QS: 57), al-Kursi (Q; 2;255), Al-Nur (QS 24;35), al-Sajdah (QS 32), AL-Fatihah (QS 1), Al-Baqoroh (QS 2), Ya Sin (QS 36), Al-Jumah (QS; 57), Al-Waqiah (QS 55), al-Thariq (86), al-Ala (87), al-Zilzalah (QS 99). Mulla Sadra selain ahli filsafat menurut Syyed Hossein Nasr juga mengenal dengan baik standar umum tafsir; Baidhawi, Thabari, Zamakhsyari dan Abu Futuh al-Razi. Dia juga memahami dengan baik, empat mazhab penafsiran Al-Quran yakni sufi, mazhab syiah, teologi dan filsafat. Bahkan tafsir Sadra hasil dari ilham Arsy illahi.

Pertanyaan kemudian muncul, sejauhmana dan bagaimana hubungan antara filsafat dan tek agama. Bisakah sepenuhya filsafat tidak berjarak dengan tek agama. Bagaimana kedudukan tafsir dhohir, tafsir batin dan sejauhmana latar belakang filsafat dan teologi seseorang filsuf akan berpengaruh terhadap produk tafsirnya.

Seorang peneliti STFI Sadra, Kerwanto MA akan menjawab tuntas pertanyaan tersebut. Forum Temu Pakar (FTP) 17/10/2017, sengaja mengundang ayah satu anak ini berbagi pengalaman hasil penelitianya. Kerwanto bertahun tahun secara khusus meneliti Filsafat dalam tafsir surat Al-A’la Mulla Sadra. Semoga penderitaan meneliti ini terobati dengan undangan diskusi ini, ungkap Ammar Fauzi, Deputy Riset STFI Sadra.

Hadir sebagai penanggap, Hashem Adnan (kandidat doktor tafsir) dan Ali Sibro Malisi (kandidat doktor tafsir) serta Dr. Beny. Dimoderatori Dede Jery-mahasiswa S1 tafsir.

Kerwanto
Sebagaimana dalam absrak tesisnya, Kerwanto berusaha menguji dan menganalisa bagaimana Ṣadrā menuangkan bangunan metafisika-nya yang genuin seperti kehakikian wujud (aṣālah al wujūd), gradasi wujud (tashkīk al wujūd) dan gerak substansi (ḥarakah jauhariyah) ke dalam kerangka (framework) teks-teks keagamaan. Penelitian ini sekaligus merupakan suatu upaya untuk membuktikan hipotesa ketidakberjarakan antara filsafat dengan teks-teks keagamaan.

Ṣadrā, sebagai salah satu filsuf muslim yang paling berpengaruh, telah diakui berhasil mensintesakan elemen-elemen penting dalam tradisi Islam–filsafat, mistik (irfān) dan teologi. Ia juga dikenal berhasil menuangkan pemikiran filosofisnya dalam beragam komentarnya atas sumber-sumber utama keagamaan, baik yang berkaitan dengan al Qur’an maupun ḥadīth.

Lewat penelitianya, Kerwanto berupaya untuk melakukan penelusuran secara mendalam untuk menuangkan kembali gagasan Ṣadrā tentang tasbīḥ (pensucian Tuhan). Melalui konsentrasi pada teks-teks Q.S. al ‘aʿlā, kita diajak untuk berpetualang menuju lapisan makna terdalam untuk mengenali ealitas mabda’, ṣirāṭ dan maʿād.

Selanjutnya melalui perenungan mendalam atas komentar Ṣadrā tersebut, kita juga diajak untuk membuka visi dan cara pandang baru akan pentingnya prinsip-prinsip filosofis dalam memahami kajian teks-teks keagamaan.

Peneliti membatasi ulasan pada tema-tema penting yang tertuang dalam Q.S. al ‘aʿlā seperti tentang ketuhanan (theology), alam (cosmology), manusia (anthropology), kenabian (prophetic) dan kebangkitan (escathology).

Penelitian ini merupakan suatu upaya untuk menggali manfaat dari aspek aspek penting dari sumber-sumber keagamaan yang tergali dari petunjuk al Qur’an yang berpadu dengan prinsip-prinsip rasional filosofis dan pengalaman mistik (intuitif) Ṣadrā.

Latar Belakang Penelitian
Dikatakan Kerwanto, hingga kini masih muncul kelompok yang memperdebatkan nilai pentingnya pemikiran filsafat. Sebagian kelompok pendukung gagasan al Ghazāli, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim menganggap ajaran-ajaran filosofis merupakan barang asing dan bertolak belakang dengan ajaran agama, khususnya al Qur’an dan sunah nabi yang ṣaḥīḥ; anggapan bahwa antara filsafat dan al Qur’an ada jarak yang tidak bisa disatukan. Bahkan secara mati-matian muncul sekelompok agamawan yang tak ragu megeluarkan statemen ‘kafir’ ataupun ‘zindiq’ kepada para para filsuf.

Cara pandang tersebut bersebrangan dengan pandangan para filsuf secara umum. Para filsuf muslim meyakini bahwa antara filsafat dengan wahyu (syariat ilahiyah) tidaklah bertentangan. Bahkan keduanya memiliki relasi yang sinergis. Bahkan, dalam beberapa hal, kaidah-kaidah filsafat (rasional) sangat berguna untuk memahami kandungan dan makna al Qur’an.

Terdapat beberapa filsuf yang menulis kitab tafsir. Salah satunya adalah Mullā Ṣadrā. Oleh karenanya, penting untuk dilakukan penelitian secara mendalam tentang muatan filosofis yang terkandung dalam kitab tafsîr al-Qurân al-Karîm karya Mullā Ṣadrā.

Hingga kini masih muncul kelompok yang memperdebatkan nilai pentingnya pemikiran filsafat. Sebagian kelompok pendukung gagasan al Ghazāli, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim menganggap ajaran-ajaran filosofis merupakan barang asing dan bertolak belakang dengan ajaran agama, khususnya al Qur’an dan sunah nabi yang ṣaḥīḥ; anggapan bahwa antara filsafat dan al Qur’an ada jarak yang tidak bisa disatukan. Bahkan secara mati-matian muncul sekelompok agamawan yang tak ragu mengeluarkan statemen ‘kafir’ ataupun ‘zindiq’ kepada para para filsuf.

Cara pandang tersebut bersebrangan dengan pandangan para filsuf secara umum. Para filsuf muslim meyakini bahwa antara filsafat dengan wahyu (syariat ilahiyah) tidaklah bertentangan. Bahkan keduanya memiliki relasi yang sinergis. Bahkan, dalam beberapa hal, kaidah-kaidah filsafat (rasional) sangat berguna untuk memahami kandungan dan makna al Qur’an.

Kenapa Tafsīr Q.S. al ’aʿlā ?
Tafsīr Q.S. al ’aʿlā selain singkat dan terstruktur, ia juga memuat tema-tema penting terkait doktrin-doktrin paling fundamental dalam agama. Ṣadrā mengulas doktrin-doktrin tersebut secara runut, yakni berawal dari ke-tahuid-an (al mabda’), kenabian (nubuwah) dan kebangkitan (maʿād). Walaupun tafsir ini relatif singkat, menurut peneliti, ia akan tetap relevan untuk dijadikan peta (map) untuk membaca peta pemikiran filsafat Ṣadrā dalam karya-karya tafsir lainnya.

Mullā Ṣadrā
Ṣadr al Dīn Mohammad Shīrāzī (979 – 1050/ 1571 – 1640), bergelar Ṣadr al Muta’ālihīn, dan dikenal juga sebagai Mullā Ṣadrā atau Ṣadrā, merupakan salah satu filsuf muslim terbesar, seperti Ibn Sīnā. Ṣadrā hidup pada masa dinasti Safāwī. Ia telah menulis sekitar 50 buah judul buku terkait dengan filsafat, tafsir al Qur’an dan hadīth. Karyanya yang paling terkenal dan fonumental adalah al Asfār al Arba’ah, yang terdiri dari sembilan jilid.

Ketika berposisi sebagai seorang mufassir, Ṣadrā mampu memegang jati dirinya sebagai seorang filsuf walaupun tetap berpegang kuat pada tradisi Syiah Imamiyah yang ia yakini. Ṣadrā juga sangat menekankan adanya suatu upaya dimana filsafat dan irfān mampu berkolaborasi guna menafsirkan teks-teks agama, khususnya al Qur’an. Bahkan diantara para filsuf yang mencoba untuk mengomentari Al Quran, Ṣadrā-lah termasuk yang terdepan dan memiliki tempat istimewa. Ketika menela’ah karya-karya tafsīr Ṣadrā maka elemen-elemen pemikiran filosofis dapat diidentifikasi dengan jelas.

Sejarah penulisan tafsir Mullā Ṣadrā
Ia memulai penulisan tafsirnya dari ayat kursī dan ayat al nūr. Tafsir ayat kursī ini diperkirakan ditulis oleh Ṣadrā pada tahun 1613, sedangkan tafsir ayat al nūr pada 1621. Dan selanjutnya pada tahun 1621 hingga 1632 ia melanjutkan penafsirannya pada beberapa surat al Qur’an, seperti: sūrah yāsīn, al ḥadīd, al wāqīʿah, al ‘a’lā, al ṭāriq, dan di akhir hidupnya menafsirkan Q.S. al fātiha dan beberapa Q.S. al baqarah (walaupun tidak selesai). Kedua tafsir ini (Q.S. al fātiha dan Q.S. al baqarah) ditulis pada tahun 1632 – 1634. Ṣadrā tidak merampungkan karya tafsirnya.

Secara umum, karya tafsir Ṣadrā bisa dikategorikan dalam dua jenis, yakni tafsīr atas sūrah dan tafsīr atas ’āyah. Beberapa sūrah al Qur’ān yang telah dikomentari Ṣadrā diantaranya; sūrah al fātiḥah, al baqarah, al sajadah, yāsīn, al ḥadīd, al wāqīʿah, al jumuʿah, al ṭāriq, al ’aʿlā dan al zilzāl. Sedangkan untuk kategori ’āyah ada tiga, yakni; ’āyah al kursī, al nūr dan Q.S. al naml (27): 88

Gambaran umum tentangg tafsir Mullā Ṣadrā
Dalam keseluruhan tafsirnya, Ṣadrā sepertinya tidak terlalu tertarik pada gagasan-gagasan para mufassir dan teolog pada masanya ataupun sebelumnya, karena ia lebih banyak berkonsentrasi pada upaya deskripsi dan pemaparan muatan-muatan makna al Quran yang berdasarkan pada intuisi personalnya. Dalam tafsir Q.S. al a’lā, misalnya, Ṣadrā hanya menyinggung dan mengkritik pemikiran teolog semisal dari golongan Mu’tazilah, Ay’ariyah dan filsuf hanya dengan enam baris kalimat saja.

Ia sepertinya tidak banyak memberikan perhatian pada sisi literal ayat walaupun dalam beberapa hal ia membahasanya dan terkadang menukil beberapa hadith sebagai penguat argumentasi. Dalam beberapa hal, dalam tafsirnya, Ṣadrā mengikuti gaya Ibn Arabi, yakni menggunakan metode simbolisme. Ṣadrā sangat jauh berbeda dengan filsuf maupun teolog sebelumnya yang masih terkesan apologetik ataupun terkesan teologis ketika menafsirkan al Qur’an.

Pakar tafsir seperti ‘Asadi Nasab memasukan tafsir Ṣadrā sebagai salah satu jenis dari tafsir isyari. Dalam bukunya, ia menyebut sebagai salah satu jenis tafsir isyari yang muktabar. Berdasarkan periodesasi perkembangan tafsir isyari, Rosihon Anwar memasukan Ṣadrā sebagai mufasir tafsir isyari yang lahir pada periode ketiga (abad VIII-X H). Dengan ciri-ciri: munculnya teosof syiah yang menulis tafsir seperti Haidar Amuli.

Mullâ Shadra dalam kitab tafsirnya menggunakan beberapa ungkapan seperti al-kasyf at-tanbîhî, al-kasyf al-ilhâmî, kasyf istifâdî, mukâsyafah qurâniah, mukâsyafah sirriah, mukâsyafah ilhâmiah dan ungkapan-ungkapn irfan lainnya untuk menunjukan sebuah penafsiran ayat-ayat Al-Quran dengan isyarat-isyarat batin yang bersandar pada mukâsyafah dan syuhûd.

Gambaran Umum Kandungan tafsir Q.S al A’lā Mullā Ṣadrā
Al tasbīḥ al awwal (Q.S. al a’lā: 1-3): mendeskripsikan hakikat tasbīḥ dan mendeskripsikan kesucian Dhāt Tuhan dengan menggunakan argumentasi ciptaan hewan dan kondisi jiwa hewan. Di dalamnya, Ṣadrā juga memberikan pemaparan philologi bahasa terkait dengan ayat, misalnya menjelaskan makna hakikat dari frase kata ‘ism rabbika al a’lā’ pada ayat 1, kata ‘taqdīr’ pada ayat ke-2 dan kata ‘taswiyah’ pada ayat ke-3.

Al tasbīḥ al thānī (Q.S. al a’lā: 4-5): Penjelasan tentang ināyah, ḥikmah dan kesucian Tuhan dengan menggunakan argumentasi keberadaan tumbuhan. Ṣadrā juga mengawali tafsirnya dengan penjelasan secara singkat akar kata ‘al mar’ā’ dan ‘aḥwā’ yang menjadi kata kunci pada kedua ayat tersebut.

Al tasbīḥ al thālith (Q.S. al A’lā:6-9): mengulas tentang karakteristik seorang nabi, khususnya tentang kesempurnaan yang dimiliki oleh nabi Muhammad saw. Ini menjadi ciri khas tafsir ini. Kesempurnaan yang dimiliki nabi merupakan kesempurnaan hakiki, yakni memiliki kesempurnaan dalam dua fakultas, teoritik (al quwwah al naẓariyyah) dan praktik (al quwwal al ʿamaliyyah); memiliki kemampuan untuk mengambil wahyu dari Tuhan, dan kemudian menyampaikannya kepada makhluk (khususnya manusia) dan membimbingnya untuk menuju proses perfeksi (takammul)

Al tasbīḥ al rābi’ (Q.S. al A’lā:10-13): Ṣadrā mengulas tentang tingkatan jiwa manusia, kebahagiaan dan deritanya ditinjau dari sisi capaian kesempurnaan ilmunya

Al tasbīḥ al khāmis (Q.S. al A’lā:14-16): ia mengulas tentang tingkatan kebahagian dan derita tersebut yang akan dialami oleh manusia di akherat kelak ditinjau dari sisi amalnya.

Al tasbīḥ al sādis (Q.S. al A’lā:17): Ṣadrā mengulas tentang perbedaan kondisi manusia ditinjau dari perbedaan ketetapan hatinya dalam pencarian kenikmatan. Jiwa yang hina dan rendah lebih mengutamakan dunia dan kenikmatan yang bersifat singkat, sedangkan jiwa yang berakal, mulia dan suci akan mencari kenikmatan ukhrawī nan abadi yang jauh lebih baik di akherat kelak nanti.

Al tasbīḥ al sābi’ (Q.S. al A’lā:18-19): Bab Penutup berisi tentang beberapa penegasan; bahwa perkara-perkara yang disebutkan dalam pembahasan-pembahasan pada bab sebelumnya, yakni: terkait dengan ketuhanan, kenabian dan hari akhir merupakan jalan Ilahi dan agama yang lurus. Pengetahuan-pengatahuan tersebut merupakan jalannya para nabi dan para wali.

Setelah di teliti, Kerwanto menemukan bahwa terdapat kandungan Filosofis dalam Tafsir Q.S al A’lā Mullā Ṣadrā diantaranya; 1.. Filsafat Ketuhanan: a. Keberadaan Dzat Tuhan, Inayah dan kekuasaan-Nya, b. Nama-Nama Allah (asmā’ Allah), c. Ilmu Allah. 2. Cosmology/ Alam: a. Kaidah al-Imkân al-asyraf, b. Tingkatan Eksistensi (Gradasi Wujud), c. Butuhnya Alam kepada Sebab. 3. Filsafat Kenabian; a. Karakteristik Nabi (Esensi, Sifat dan Substansinya), b. Fungsi Nabi. 4. Eskatologi; a. Kebahagiaan dan Tingkatannya, b. Ritual Ibadah dan Pengaruhnya terhadap Jiwa.

Terdapat banyak elemen-elemen filosofis dapat diidentifikasi secara jelas dalam tafsirnya. Terdapat hubungan yang interaktif antara ajaran agama dan filsafat, khususnya dalam masalah ketuhanan, alam, kenabian dan eskatologi.

Penanggap
Ali Sibro Malisi sebagai penanggap pertama memberi masukan pada pemateri bahwa akan terjadi kesulitan memahami tafsir Sadra jika frame yang diapakai pemateri menggunakan teologi bukan ahlulbyat karena Sadra menggunakan pola ushuludin Syiah. Berbeda dengan Dr. Beny sebagai penanggap ketiga, melihat jusru kita akan memahami tafsir Mula Sadra dengan baik, jika menganggap teologi sebagai benda asing dalam kontek tafsir Mulla Sadra.

Hashem Adan sebagai penanggap ketiga melihat bahwa hasil tafsir Mulla Sadra adalah proses riyadah, dan sang penafsir telah mengalami pencerahan. Kondisi tasbih adalah setelah musabah mengetahui yang di tasbihi, tidak mungkin terjadi kesaksian tanpa penyingkapan terlebih dahulu. Argumentasi ini lahir dari ilmu hudhuri.

Setelah diskusi berjalan 2 jam, akhirnya Dede Jery (moderator) menutup acara diskusi Forum Temu Pakar (FTP).

Terlihat antusias tinggi dari mahasiswa karena jarang Forum Temu Pakar mengambil tema tafsir.

 

Free WordPress Themes, Free Android Games