Antara Malang-Guilan, Ahmad Kholil, UIN Maliki Press, 2018

 

Sebuah karya memoar traveling, hasil pengalaman Dr. Ahmad Kholil, dosen pengajar dan peneliti, sepanjang kunjungannya ke negeri Persia. Bergaya diary style, buku ini dibubuhi pengantar dari sejumlah nama, di antaranya, Ammar Fauzi, Ph.D., kabid riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jakarta. Berikut pengantar selengkapnya.

Bahagia sekali saya mendapat kepercayaan penulis untuk membubuhkan kata pengantar di salah satu ruang terdepan dari karya ini. Rasanya seperti tuan yang hanya tinggal menunggu terima hasilnya. Buku ini adalah pengalaman ketiga saya menyertai tahap awal persiapan para pecinta traveling dari kalangan peneliti dan pengajar perguruan tinggi berkunjung ke Negeri Mullah. Dua karya sebelumnya adalah Potret Islam di Tanah Persia: Catatan Sortcourse (2017), karya Dr. M. Zainal Abidin, dan A Note from Tehran: Refleksi Perempuan Indonesia tentang Kebangkitan Islam (2013), karya sejumlah peneliti perempuan Indonesia diedit oleh Dina Y. Sulaiman dan Sirikit Syah.

Sekali lagi, saya katakan mereka para pecinta traveling dari kalangan peneliti dan pengajar perguruan tinggi. Kang Kholil dan para menulis dua buku lainnya melakukan traveling ke negeri Mullah, secara khusus, dalam kapasitas mereka sebagai peneliti dan dosen pengajar. Seperti dibubuhkan di pengantarnya, buku ini refleksi dari dua kunjungan penulis ke Iran: undangan Universitas Guilan pada 2014 dan pastisipasi dalam forum dialog Asia di Universitas Tehran pada 2018. Kalau bukan karena tujuan riset, tidak ada alasan berkunjung dan berwisata jauh-jauh ke sana. Tidak berlebihan bila karya-karya ini lahir dari pengamatan peneliti, meski dituangkan dengan ragam bahasa populer. Terutama buku ini lebih menonjolkan diary style dalam tradisi travel literature, aroma risetnya cukup kuat menyengat sensitivitas naluri penasaran pembaca.

Bergenre diary dan berisi memoar traveling, buku ini unik dengan detail informasi objektif sekaligus emosi subjektif. Karakter ini yang begitu saja mengingatkan, setidaknya, saya pribadi pada Prince of Moslems Travellers berkebangsaan Maroko, Muhammad bin Abdillah bin Muhammad al-Lawati al-Thanji (1304 – 1368), atau popoler dengan Ibnu Bathutha, nama yang sudah tidak asing dalam sejarah peradaban Islam. Ia menghabiskan sebagian besar usianya dalam perjalanan malang melintang ke berbagai belahan dunia. Tidak berhenti di benua negaranya dan negeri-negeri tetangga, ia bahkan berhasil menjangkau Indonesia. Tepatnya, pada tahun 1345, Ibnu Bathutha menginjakkan kaki di tanah Jawa dan Sumatera.

Setelah malang melintang “melipat jagad” selama nyaris 30 tahun, Ibnu Bathutha menuangkan rinci perjalanannya atas permintaan Sultan Abu Annan al-Marini dalam buku berjudul, “Hadiah Pemerhati Keunikan Negeri-negeri dan Keajaiban Perjalanan” (Tuhfat al-Nazdzdār fī Gharā’ib al-Amshār wa ‘Ajā’ib al-Asfār), atau lebih populer dengan nama “Pengembaraan Ibnu Bathutha” (Rihlat Ibn Bathūthah). Di kalangan ahli Antropologi, buku ini dikenal dengan gelar kehormatan “Mahkota Sastra Embara” (Tāj Adab al-Rahalāt).

Di dalamnya, Ibnu Bathutha membeberkan laporan serba-serbi sejarah, budaya dan tradisi penduduk, penguasa, tokoh masyarakat lokal, hingga bahkan remeh-temeh dapur setiap negeri seperti: jenis pakaian, ragam masakan dan cara memasak. Belum lagi cerita yang aneh-aneh. Sepertinya membuang-buang waktu! Dalam karya ini malah tidak ada detail angka nominal dan kalkulasi biaya perjalanan yang dihabiskan. Namun begitu, termasuk bagian krusial bagi Ibnu Bathutha adalah pengalaman mengembara itu sendiri. Pembaca dibuat merinding merasakan aneka jenis tantangan, ketegangan, termasuk ancaman kematian sepanjang perjalanan. Sebuah koleksium dari pengalaman yang sangat langka, seru dan pembelajaran.

Antara Malang-Guilan, Ahmad Kholil, UIN Maliki Press, 2018, sampul belakang

 

Catatan yang tampaknya juga tidak begitu penting ialah laporan Ibnu Bathutha tentang seberapa jarak yang dia tempuh dalam setiap perjalanan. Kesan ini segera berubah bila jarak-jarak itu dikalkulasi. Hasilnya, perjalanan Ibnu Bathutha mencapai 121.000 km. Ini, sekali lagi, dalam rentang waktu nyaris 30 tahun. Jarak tempuh satu orang ini baru dipecahkan rekornya oleh kendaraan bermesin uap 450 tahun kemudian. Bila dihitung oleh jarak tempuh pesawat Jakarta-Jeddah, orang sudah bolak balik naik haji 15 kali. Mungkin ini biasa-biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Tetapi, kalau kita hari gini diajak umroh setiap dua tahun sekali dengan kapal atau angkutan darat, lebih mungkin lagi jawaban kita hanya dua kata, insya-Allah!

Terlampau banyak dan besar resiko perjalanan Ibnu Bathutha, seharga dengan nilai hidupnya di dunia. Wajar bila kita menjumpai testimoninya terselip di pertengahan buku, “Saya telah mencapai, dengan puji syukur kepada Allah, cita-cita saya di dunia, yaitu mengembara di bumi, sehingga saya berhasil mencapai apa yang tidak dicapai oleh orang lain sejauh yang saya ketahui. Sisanya adalah harapan kuatku akan rahmat Allah dan maksud utama masuk surga.”

Testimoni ini dicatatkan Ibnu Bathutha dalam menguraikan perjalanannya dari Basrah (Iraq) ke Isfahan. Ia menggambarkan kota Iran ini sebagai salah satu kota terbesar dan terindah yang pernah dijumpainya. Di kalangan masyarakat Iran sendiri, Isfahan populer dengan nama Persia, Nishfe Jahān, Separuh Dunia, saking banyaknya artifek monumental dan dokumental peradaban serta kebudayaan Persia di situ. Kini, di era Iran Islam, kota ini dikategorikan UNESCO sebagai satu situs dari Warisan Dunia. Sementara ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organisation) mengukuhkannya sebagai Ibukota Kebudayaan Islam untuk tahun 2006.

Sebelum Ibnu Bathutha, ada nama besar lain seperti: Ibnu Jubair. Kebiasaan mereka ini sudah biasa dilakukan oleh kalangan ulama Muslim. Yang terkemuka dari antara mereka adalah imam-imam hadis, filosof dan sufi. Khususnya bagi sufi, perjalanan (safar) bukan sekedar doktrin esoterik, tetapi juga ajaran eksoterik para guru (syaikh mursyid) mencari murid dan, sebaliknya, murid mencari guru. Karena itu, lazim bila di kalangan sufi dikenal suatu strata elite sufi sebagai budalā’ atau abdāl, artinya kurang lebih para swaduplikator. Mereka ini para sufi yang punya kemampuan mengkopi-paste dan menggandakan diri. Mereka melakukan ini, di antaranya, saat mereka akan meninggalkan suatu negeri dan melanjutkan perjalanan sementara warga setempat tidak ingin kehilangan mereka.

Kendati belum berdialog langsung dengan penulis, saya bisa mengira-ngira dia akan keberatan disebut guru sufi. Dengan kerendahan hati yang sama, dia sangat mungkin menolak disebut murid sufi. Tetapi, terlepas dari sekedar masalah penyebutan, buku ini satu ekspresi serius dari kemauan kuat penulis melihat fakta dari dekat tentang kota Guilan. Kemauan kuat itulah murid, melihat fakta itulah musyahadah, dan Guilan itulah satu dari sekian kota Iran paling produktif melahirkan sufi besar.

Dalam peribahasa Persia, Syenīdan key buvad manande dīdan, sejak kapan mendengar itu sama dengan melihat. Betapapun tidak akan sama, melihat lebih terbatas ruang jangkaunya dari mendengar. Tentang hal-hal yang tak terjangkau mata, telinga lebih dahulu menyimak. Pribahasa Persia bermuatan ‘pedas’ bagi telinga yang hanya mendengar fakta yang bisa dilihat, atau bagi mata yang asal melihat. Meneruskan pendengaran ke mata berarti mengurangi sampai meniadakan perantara. Melihat berarti menyaksikan langsung tanpa media, tanpa intervensi, tanpa interpretasi, tanpa opini.

Meniadakan perantara dan melihat langsung, meski difasilitasi oleh berbagai alternatif tehnologi transportasi dan informasi, bukan tanpa biaya kecil. Terutama sekarang ini, dalam situasi keruh informasi dan pengaburan fakta, biaya moral justru lebih besar dan paling menentukan keputusan dan pilihan, apalagi kaitannya dengan Iran. Seolah gajah di pelupuk mata, negeri ini tampaknya bagi sebagian masyarakat Indonesia tidak sepopuler nama-nama Syah, Bakhtiar, Mardani, atau kata-kata serapan dari Persia seperti: anggur, bandara, bius, pahlawan. Lantaran framing media dan sumber berita di dalam atau dari luar negeri, Negeri Mullah ini justru jadi populer dengan pemberitaan aneh-aneh dan aneka kesan negatif, dari isu-isu politik, ilmu pengetahuan, teknologi sampai urusan keyakinan.

Kesan buruk ini sebenarnya juga tidak kuat-kuat amat, hanya beredar di kalangan terbatas. Apa pun nantinya, setiap keputusan ada resikonya yang, oleh buku ini, dapat diimbangi dengan kontribusinya bagi mereka yang ingin mencoba pengalaman penulis melihat dari dekat, tentu saja dengan kesiapan biaya moral standar yang sama ditegakkan Ibnu Bathutha: keberanian dan kejujuran. Hanya dengan dua komitmen ini, penulis mengungkap fakta dan pengalamannya seolah-olah sufi yang, sesuai kapasitasnya, menjadi badal yang berupaya menduplikasi pengamatan langsungnya dalam wujud tulisan, menggandakan Iran seidentik mungkin dengan realitasnya ke hadapan masyarakat Indonesia.

Free WordPress Themes, Free Android Games