Manakah derajat yang lebih tinggi: melihat Tuhan atau tidak melihat Tuhan? Salah satu jawabannya ada di sebuah hadis yang populer dengan nama Hadis Jibril. Umumnya, hadis ini dipahami dan diterangkan dengan menekankan melihat Tuhan itu lebih tinggi derajatnya daripada tidak melihat Tuhan.

Dalam mengulas adikarya Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, peneliti Filsafat Islam dan Tasawuf, Ammar Fauzi, justru memaknai sebaliknya; tidak melihat Tuhan adalah prestasi tertinggi yang mengungguli derajat manusia yang berhasil melihat Tuhan. Berikut uraiannya.

Hadis Jibril merupakan salah satu hadis masyhur di kalangan sufi, terutama bagi Muhyiddin Ibnu Arabi. Pembaca akan mudah menjumpainya hampir di setiap jilid adikaryanya, Al-Futuhat Al-Makkiyah. Lewat hadis ini pula ia dan para sufi yang lain mengajarkan makna ihsan, di samping islam dan iman.

Para imam besar hadis, termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim, meriwayatkan hadis Jibril dari Abu Hurairah. Dinamai Hadis Jibril karena menerangkan pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril. Pertemuan keduanya disaksikan para sahabat. Di pertemuan itu pula Nabi dan Jibril berbincang tentang iman, Islam dan ihsan. Karena itu, hadis ini juga dikenal dengan Hadis Ihsan.

Hadis ini cukup panjang. Setelah tanya-jawab tentang islam dan iman, Jibril bertanya definisi ihsan, Nabi menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Sabda Nabi ini dapat dipenggal menjadi dua bagian. Setiap bagian mencerminkan keadaan dan pengalaman seorang hamba.

Dua keadaan ini dialami dalam kerangka ibadah, yakni mengabdi dan membudakkan diri hanya kepada Allah. Bagi seorang muslim, seluruh hidupnya merupakan ibadah, “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah.”

“Diamnya adalah ibadah, geraknya adalah ibadah, bahkan tidurnya pun dapat diiisi dengan nilai ibadah,” kata Ammar dalam kajian Tasawuf di kanal Youtube Nurwala, 4 September 2019. “Artinya, setiap nafas yang ia keluarkan merupakan medan yang dapat diisi dengan nilai ibadah.”

Jika kehidupan ini semestinya diisi sepenuhnya dengan nilai-nilai ibadah, seorang muslim seharusnya menjadi hamba yang selama hidupnya dapat melihat Allah dengan mata batin. Ketika dalam hidupnya ia tidak melihat atau gagal melihat Allah, maka saat itu ia terdegradasi ke bawah derajat manusia, jatuh sederajat dengan binatang.

Sebaliknya, apabila seseorang berhasil melihat keagungan dan rahasia-rahasia Allah, maka hidupnya sederajat dengan “manusia khalifah”, layaknya Allah menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ketika itu, keagungan Allah tampak di hadapannya. Di sinilah tampak arti ihsan, yaitu mampu melihat manifestasi keagungan Tuhan.

Ini keadaan pertama. Adapun keadaan kedua yaitu pengalaman hamba yang beribadah dan menjalani hidupnya namun belum mampu mencapai level “seakan-akan melihat Tuhan”. Dalam keadaan ini, minimalnya, ia yakin bahwa Allah melihatnya. Demikianlah sebagian orang menafsirkan penggalan kedua dari sabda Nabi, “Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Berdasarkan tafsiran ini, keadaan orang yang tercermin pada penggalan kedua sabda Nabi berada di bawah level hamba yang disebutkan di penggalan pertama. Derajat orang yang tidak mampu melihat Allah berada di bawah orang-orang yang mampu melihat-Nya.

“Tapi uniknya, Ibnu Arabi memahami (penggalan kedua) hadis ini bukan penurunan [derajat], tetapi justru peningkatan”, kata Ammar. Yakni, bukan ketidakmampuan dan kegagalan hamba, tetapi keberhasilan dan derajat yang tertinggi manusia.

Dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, jilid 4, Ibnu Arabi menerangkan demikian dalam sepotong bait puisi yang mirip penggalan kedua sabda Nabi:

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ، تَرَهُ

“Jika engkau tidak ada, maka engkau melihat-Nya.”

Berdasarkan tafsiran ini, penggalan kedua justru berada di atas derajat penggalan pertama. “Ibnu Arabi menerjemahkan (penggalan kedua) lebih radikal lagi: jika dirimu berhasil lenyap atau tidak ada, maka di situlah kamu melihat-Nya,” katanya.

Jadi, di tahapan pertama, seorang mampu melihat Allah. Kemudian tahapan selanjutnya yaitu keadaan seorang yang tidak mampu melihat Allah. “Jadi, ada dua keadaan: melihat Allah dan tidak melihat Allah,” katanya.

Dibaca dalam teori Agnoseologi yang diamati Ammar di sepanjang karya-karya Ibnu Arabi, tampaknya ketidakmampuan melihat Allah, menurut Ibnu Arabi, adalah keberhasilan yang derajatnya lebih tinggi daripada derajat orang yang mampu melihat Allah. Dalam keadaan fana’ dan pengalaman wahdatul wujud, seseorang menyaksikan keberadaan Allah sebanding dengan ketiadaan dan kelenyapan dirinya, maka lenyap pula kesempurnaan apa pun yang melekat pada dirinya; dirinya kosong dan nol bukan hanya dari penglihatan dan pendengaran, bahkan kosong dari semua pengetahuan dan kehendak dirinya.

Gambaran derajat tertinggi ini juga terungkap dalam sabda Nabi yang kerap dikutip oleh Ibnu Arabi: “Aku tidak [sanggup] menghitung pujian bagi-MU. Engkaulah sebagaimana yang Engkau puja-puji terhadap diri-Mu Sendiri”. Sabda ini menerangkan bahwa esensi Allah tidak bisa dijangkau dan dideskripsikan oleh Nabi.

Begitu seorang mengklaim atau merasa diberi anugerah berupa kemampuan melihat rahasia-rahasia Allah, maka itu bukan pencapaian terakhir. “Perlu ditingkatkan lagi sampai pada derajat kita bisa menyadari bahwa ternyata keagungan Allah tidak bisa dijangkau oleh kita,” jelas Ammar.

Derajat itu seperti disampaikan oleh Khalifah Pertama, Sayidina Abu Bakar, “Ketidakmampuan mengetahui hakikat pengetahuan adalah pengetahuan itu sendiri.” Jadi, puncak pengetahuan ialah kesadarannya bahwa dirinya tidak tahu.

Doktrin Agnoseologi dalam tasawuf Ibnu Arabi Ini juga menjadi tafsir atas “Allahu Akbar”. Kalimat ini bukan berarti Allah lebih besar dari segala sesuatu, tetapi Allah lebih besar dan lebih agung dari kemampuan setiap orang dalam membandingkan-Nya dengan segala sesuatu. Dengan demikian, Allah bukanlah salah satu dari dua objek perbandingan.

“Sedemikian tingginya Allah, Dia tidak bisa diperbandingkan. Dia melampuai segala perbandingan,” katanya.

Dalam hadis Qudsi yang juga masyhur dari Imam Bukhari, seorang hamba dapat mendekati Allah dengan beribadah dan menjalankan kewajiban-kewajiban syariat. Ia bahkan dapat terus mendekatinya dengan ibadah-ibadah Sunah hingga Allah mencintainya.

“Bila Aku (Allah) telah mencintainya, Aku pun menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan,” demikian penggalan hadis ini.

Demikian Allah mengisi kekosongan seorang hamba dari keberadaan, pengetahuan dan kehendak. Ketika penglihatan kita sudah hilang, ketika kehendak kita lenyap, maka Allah mengisi penglihatan dan kehendak kita dengan penglihatan dan kehendak-Nya.

Dengan keterangan hadis ini, maka penggalan dan keadaan kedua hamba mengungkapkan pengalaman hamba yang dicintai Allah. Dia melihat dan menghendaki tidak dengan penglihatan dan kehendaknya sendiri, tetapi dengan penglihatan dan kehendak Allah. “Apabila kita mencapai derajat hingga tidak bisa melihat-Nya dengan pandangan kita sendiri lantaran begitu lemahnya pandangan kita, maka yang melihat adalah Allah saat kita melihat,” jelasnya.

Maka, makna ihsan dalam Hadis Jibril di atas juga dapat diuraikan berikut: hendaknya manusia beribadah kepada Allah dan menjalani hidupnya seakan-akan melihat-Nya. Jika kemudian ia berhasil hingga ia tidak mampu lagi melihat-Nya, ketika itulah Dia sesungguhnya menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat.

Sumber; islamindonesia.id

Free WordPress Themes, Free Android Games