Islamic Studies atau kajian Islam adalah program studi yang dimaksudkan mengkaji dimensi-dimensi yang ada dalam ajaran Islam. Seorang muslim dengan keyakinan kepada Islam ketika mendalami Islam maka dia tidak hanya sedang mengkaji, akan tetapi juga mengimani apa yang dikajinya. Akan tetapi seorang non muslim ketika mengkaji Islam, maka dia menjadikan Islam sebagai objek semata, sedang imanya bisa dimatikan dan dihidupkan sesuai dengan keyakinanya.

Sejarah perkembangan kajian “Islam Studies” di Barat memiliki akar historis yang berimpit dengan kepentigan kolonial. Bagaimana sejarah dan relasi Islam studies (orientalisme) dengan fenomena kolonialisme Barat terhadap dunia islam?. Forum Antar Pakar (FAP) Riset STFI Sadra berusaha menjawab dalam forum kajian bulanaan, Kamis 03/10/2019) di STFI Sadra.

Menghadirkan pembicara, Dr. M. Mesbahi (Director of Education Dept. of The Islami College, London), Dr. Hossein Mottaghi, Direktur perwakilan Mustafa International University (MIUT) Jakarta, dan Dr. Husein Heriyanto (Dosen Universitas Paramadina). Diskusi mengambil tema “Islamic Studies In Europe and Islamic World: Challenges and Opportunity”.

Dr. Hossein Mottaghi; Islamic Studies dan Orientalisme
Dr. Hossein Mottaghi, sebagai pembicara pertama menjelaskan dalam presentasinya berjudul Perkembangan “Islamic Studies” dan Tantangan Kontemporer berusaha mengkaji dari aspek historis.

Dikatakanya, “Islamic Studies” yang biasanya diajarkan institusi-intitusi Barat, kadang-kadang disebut sebagai “Orientalisme,” dimana kata ini memiliki resonansi negatif dengan dunia Muslim. Secara historis gerakan ini pada dasarnya anti-Islam dan memiliki akar yang jauh, hingga Perang Salib.

Sekitar sebelum paruh kedua abad ke-20, sebagian besar studi Barat tentang Islam berfokus pada retorika ideologis Kristen dan adanya upaya membuat benteng pertahanan melawan Islam. Tetapi sejak paruh kedua abad ke-20 dan setelahnya, lebih menggunakan pendekatan akademik, ilmiah dan bersifat non-kontroversial dan telah menjadi fokus utama penelitian Barat tentang Islam.

“Studi Islam” berarti studi tentang sebanyak mungkin dari seorang peneliti yang tidak memihak dan objektif. Dengan cara ini, peneliti menggunakan metode, sumber daya manusia, prestasi, mengenali fenomena seperti Alquran, hadis, Islam, dan sebagainya.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, konsep “Orientalisme”, seperti yang digunakan pada abad ke-18 dan 19, mengingatkan pada usaha “penginjilan” dan “kolonialisme”. Para pelaku tersebut dikenal sebagai cendekiawan Barat kontemporer, cendekiawan Islam di Barat atau cendekiawan Barat atau cendikiawan non-Muslim namun tidak menggunakan istilah Orientalis.

Setelah orang-orang Barat kontak dengan dunia Islam, mereka menjadi tertarik untuk memahami secara lebih baik tentang Islam tetapi untuk kepentingan kemajuan barat. Minat mereka tidak terbatas pada Islam. Mereka mengekplorasi negeri Cina, aspek geologi negeri timur dan tentang masyarakat Timur Tengah. Barat juga memiliki kecenderungan pada filologi, mengenali budaya lain melalui teks-teks kuno dan adanya dorongan untuk mengekplorasi tek budaya Islam dan juga budaya lain. “

Tetapi ada juga pandangan lain yang mengatakan, adanya upaya reformasi Kristen melalui Orientalisme dengan menggunakan “Studi Islam” hanyalah untuk kepentingan taktis dan tidak menunjukkan semata penelitian akademis. Oleh karena itu, kita harus menyelediki periode-periode tertentu bagaimana Kristen memahami Islam.

Peristiwa konversi Konstantinus “Kaisar Roma” menjadi misionaris Kristen membuat Gereja Katolik menjadi dogmatis dengan melakukan kegiatan penginjilannya di masyarakat non-Kristen. Akan tetapi fenomena kebangkitan Islam telah menyebabkan perubahan besar dalam pendekatan evangelis Gereja Katolik.

Olehkarena itu perlu penjelasan pendekatan evangelis Kristen Katolik dalam menghadapi Islam dalam periode yang berbeda beda:
1. Periode pertama: Periode pertemuan Kristen dengan kebangkitan Islam, memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Kristen mempelajari ajaran Islam untuk memperkuat kepentingan evangelis (misionaris).
b. Kelemahan dalam penginjilan berpengaruh pada ajaran Islam.
c. Menempatkan gerakan evangelis dalam posisi pasif.

2. Periode Kedua: Periode pertemuan Kristen dengan Islam memiliki beberapa karakteristik:
a. Menggunakan Kristen sebagai sarana militer untuk kegiatan evangelis.
b. Berusaha mengalahkan Islam dan akhirnya menjadi Kristen.
c. Meniup roh suci dalam perang melawan Muslim untuk mendorong orang Kristen memasuki perang melawan Muslim.
d. Melembagakan pendekatan destruktif terhadap Islam dan pendekatan budaya secara konfrontatif.

3. Periode ketiga: Periode pendekatan budaya di masa evangelikal yang karakteristiknya adalah:
a. Periode evangelis terpanjang dalam masyarakat Islam.
b. Gereja menggunakan berbagai metode untuk mengkonsolidasikan agama Kristen dan menghancurkan ajaran Islam.
c. Upaya untuk melembagakan pendekatan interaksi, dialog dan mengganti yang bersifat fisik dan destruktif.

4. Periode empat: Pengalaman Maksimal umat Islam:
a: Pembentukan Dewan Vatikan Kedua dan pengadopsian dokumen pengakuan Islam.
b: Memperkuat pendekatan dan perspektif dialog dengan Islam dengan orientasi evangelis.
c: Menggunakan praktik dan pendekatan invasif dalam bidang budaya yang acak untuk kepentingan evangelis.

Dr. Hossein Mottaghi lebih jauh menjelaskan, dikatakanya, penting untuk dicatat, bahwa di antara “Katolik” ada orang-orang yang menganggap “penerimaan dialog” sebagai melepaskan tugas penginjilan Kristen. Jika kita menerima anggapan ini, maka “dialog” tidak secara alami bermusuhan, tetapi, tujuan “dialog” dapat untuk mengeksplorasi kapasitas agama-secara bersama-sama untuk menilai dan untuk menyediakan konvergensi yang lebih besar antara agama Kristen dan Islam.

Setelah tinjauan tentang berbagai periode penginjilan Kristen muncul, beberapa hal perlu dipertimbangkan.
1. Munculnya Islam telah menjadi pukulan besar bagi agama Kristen dan sejauh ini belum mampu mencernanya. Tentu saja, alasan di balik wacana Islam dan ajaran Islam dalam menempatkan agama Kristen di posisi yang berlawanan sangat penting.

2. Upaya Kekristenan untuk memperoleh pengetahuan tentang Islam pada tahap awal kebangkitan Islam hanyalah untuk menemukan cara untuk melawannya, bukan untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Tentunya, dengan pengetahuan ini mereka telah memikirkan strategi evangelikal yang baru.

3. Mengorganisir “Kongregasi Evangelisasi antar Bangsa-Bangsa” dan membimbing gerakan-gerakan evangelis dalam suatu struktur yang sistematis dan saling terkait menunjukkan pendalaman penginjilan dalam kekristenan sebagai satu-satunya agama yang dapat menjamin keselamatan manusia.

4. Bersamaan dengan studi pemahaman Kristen tentang Islam, disimpulkan bahwa alasan di balik ajaran agama Islam yang memiliki wahyu dan dukungan yang kuat, tidak dapat dibandingkan dengan instrumen evangelis. Oleh karena itu, pada periode kedua, mereka dipaksa menggunakan cara militer untuk menghadapi Islam dan menyebarkannya, sehingga dasar-dasar kekristenan tidak terguncang.

5. Penggunaan kekristenan dalam mengejar tujuan-tujuan sakralnya juga dapat dievaluasi dan dianalisis sejauh Kekristenan mengizinkan dirinya untuk memenuhi tujuan-tujuan evangelikal melalui ajaran-ajaran Kristus dalam konteks perang. Dan pertumpahan yang berdarah memberikan sifat suci kepada orang-orang dengan harapan kekudusan

Setelah kurang lebih 30 menit presentasi Dr. Mottaghi kemudian bersuaha meringkas materinya. Kajian tentang “Islamic Studies” senantiasa diidentikkan dengan orientalis (ketimuran) dimana memiliki makna negatif bagi kaum muslimin di awal-awal kemunculannya. Karena motif awalnya tidak mengamalkan ajaran dan doktrin Islam, tapi hendak menguasai kaum muslimin. Dasar pemikiran kaum orientalis adalah dalam rangka menaklukkan Islam. Orientalis merupakan perpanjangan dari Perang Salib antara Kristen dengan Kaum Muslimin. Bahkan, sebagian orang masih menganggap “Islamic Studies” masih sama dengan orientalis yang merupakan kepanjangan dari Perang Salib. Pada sisi yang lain, sebagian kelompok beranggapan bahwa Islamic Studies telah berubah secara esensial dari citra yang negatif menjadi sesuatu yang dinamis dan positif-merupakan mediasi dalam pengembangan Islam itu sendiri.

Selanjutnya Dr. Mottaghi menjelaskan tahap tahap gerakan Kristenisasi dalam membungkam gerakan Islam. Namun, upaya Kristenisasi yang dilakukan dalam membungkam suara dan gerakan Islam mengalami kegagalan. Di era pertama, Kristenisasi mengalami kelemahan dan kegagalan. Di era kedua, berubah menjadi perang fisik. Mereka beranggapan bahwa perang terhadap Islam itu suci dan bagi yang gugur akan mendapat tempat di sisi Nabi Isa as. Meski demikian, Islam malah berkembang baik secara ideologis maupun jumlah pemeluknya. Di era ketiga, gerakan Kristenisasi berubah menjadi gerakan akademik dan keilmuan dalam masa terpanjang. “Setelah mengalami berbagai kegagalan pada akhirnya mereka mengakui Islam sebagai agama wahyu,” paparnya.

Dr. M. Mesbahi: Menjadi Insider Islam
Sementara itu, Dr. Mesbahi dalam presentasinya melihat kajian “Islamic Studies” mempunyai peran besar dalam membangun masyarakat dunia. Para mahasiswa yang mengambil bidang ini mempunyai tugas menyampaikan ilmu-ilmu ke-Islaman yang mereka pelajari kepada masyarakat. “Karena itu, para mahasiswa harus berperan di tengah masyarakat sebagai pendakwah dan ini merupakan tugas mulia,”. Karena dengan kita mengenal agama dan doktrin keagamaan Islam, kita akan menjadi orang terdepan dalam segala hal. Menjadi “Insider” hakiki merupakan pilihan yang tepat, bukan orang luar yang memahai Islam sebagai objek. Kita saksikan saat ini Islam sudah berkembang ke berbagai negara, baik Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dan lain sebagainya.

Adapun Dr. Husein Heryanto, memberikan tanggapan atas penjelasan kedua pemateri sebelumnya. Dikatakanya, banyak keluhan tentang objektifikasi orientalisme, persoalanya bukan motif non muslim belajar Islam, akan tetapi non muslim di Barat memiliki kelebihan metodologi yang bisa diandalkan dalam mengkaji Islam. Olehkarena itu Islam sebagai objek kajian tidak harus menuntut iman. Akan tetapi mengkaji Islam untuk menaklukan dunia Islam sebagaimana dilakukan para orientalis perlu diberi catatan buruk.

Dari ketiga pembicara dapat diambil kesimpulan, bahwa “Islamic Studies” bukanlah sebuah studi yang netral dari kepentingan kekuasaan. Secara historis, geneologi “Islamic studies” di barat berimpit dengan proses penaklukan pikiran (orientalisme) dalam rangka penaklukan kekuasaan dan teritori. Relasi kekuasaan dan pengetahuan ini memiliki titik pijak dari peristiwa perang salib. Adapun “Islamic Studies” juga memilik resonansi positif, sejauh dimensi ajaran Islam dipelajari dari dalam ajaran itu sendiri bukan dari perangkat pengetahuan barat yang hasilnya “Islam versi barat” (orientalis). Islam dalam frame instrumen pengetahuan Barat.

Tepat pukul 12.00 wib, diskusi di tutup. Forum Temu Pakar ini dihadiri sekitar 30 mahasiswa dan dosen di lingkungan STFI Sadra.

ditranskip ulang oleh; Muhammad Ma’ruf

 

Free WordPress Themes, Free Android Games