PROSIDING KONFERENSI
International Conference on Islamic Philosophy (ICIPh) 2019

Basrir Hamdani
Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA
Email: rierlucky@gmail.com

Abstract
The reality of human being is not only the self who possesses ‘will to power’ or free will to determine the contuinity of his life through fulfilling the biological needs, but also the self who is cosmological reflection of God, he is pervaded by divine values with active-participatorical and creative manner. This article attempts to disclose a construction of Muhammad Iqbal’s idea on humanism based on spiritual-anthropological perspective in understanding human being. This idea of him on humanism constitutes a response and synthesis, as well, to two views; first, the view that only emphasizes on physical-biological aspect and denies spiritual-metaphysical aspect of human being as what maintained by modern Western humanism. Second, the view that is exceedingly fixated on spiritual-theocentrical aspect and under estimates the antropological-sosiological aspects of human’s role as a living creature. The second one has afflicted mystical tradition in Islamic thought. By his philosophy of khūdī (ego), Iqbal proposes an holistic approach in understanding the reality of human being. He elaborates that human being is not only a creature that possesses privilege for actualizing his self potential in material cases by means of creative actions but also a spiritual creature who has substance (human soul) which is everlastingly as the manifestation of Cosmic Creator who is omni-Creative i.e., God as the Absolute Ego or the Perfect Self. This writing is proposed by means of analytical-descriptive method toward Iqbal’s philosophy in constructing the idea of humanism.
Keywords: Muhammad Iqbal, humanism, active-participatorical, sufism, anthropological aspect, ego (khūdī).

 Abstrak
Hakikat manusia tidak saja sebagai diri yang memiliki will to power, bebas berkehendak untuk menentukan keberlangsungan hidupnya melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis, tetapi juga diri sebagai cerminan Tuhan yang senantiasa diliputi oleh nilai-nilai Ilahiyah dalam pola aktif-partisipatoris dan kreatif. Artikel ini berupaya mengungkapkan bentuk gagasan humanisme Muhammad Iqbal yang dibangun di atas landasan spiritual sufistik-antropologis dalam memahami hakikat manusia. Gagasan humanisme Muhammad Iqbal ini merupakan sebuah respon kritis sekaligus sintesis terhadap gagasan-gagasan humanisme Barat moderen yang hanya berorientasi pada sisi fisis-biologis, melupakan sisi-sisi spiritual metafisis manusia, dan gagasan yang terlalu terpaku pada aspek spiritual-teosentris serta memandang sebelah mata aspek-aspek antropologis-sosiologis peran manusia sebagai makhluk hidup. Gagasan kedua ini masih mendera tradisi sufistik dalam peradaban Islam. Melalui fisafat Khūdī (ego), Iqbal menawarkan suatu pendekatan holistik dalam memahami manusia bahwa manusia tidak saja makhluk yang memiliki keistimewaan yang dapat mengaktualkan potensi dirinya secara material melalui tindakan-tindakan kreatifnya tetapi juga sebagai insan spiritual yang memiliki substansi (jiwa insaniyah) yang senantiasa sebagai manifestasi sang Pencipta Kosmik (Cosmic Creator) yang maha Kreatif, yaitu Tuhan sebagai Ego Mutlak (the Absolute Ego) atau Diri Sempurna (the Perfect Self). Tulisan ini diketengahkan melalui metode analisis-kritis-deskriptif terhadap filsafat Iqbal dalam mengkonstruksi gagasan humanisme.
Kata-kata Kunci: Muhammad Iqbal, humanisme, aktif-parsipatoris, sufisme, aspek antropologis, ego (khūdī).

 

Naskah Lengkap, Download PDF

Free WordPress Themes, Free Android Games