Ammar Fauzi Heryadi

NGABUBURIT BERSAMA Dinas Kepemudaan Pemda Purwakarta dan Komunitas Welas Asih, IndonesiaBerfilsafat (IBF) melalui program Logika Literasi Publik (L2P) mendapat kepercayaan memandu forum diskusi online dengan tema “LOGIKA CORONA DAN CORONA LOGIKA” pada Senin (17/05/2020). Hadir sekaligus sebagai pemandu, maka banyak hal yang dirasa penulis masih relevan untuk dibincangkan.

Selama masa pandemi dua bulan ini, sudah banyak reaksi dan respon sosial, politik, moral, bahkan intelektual dan, tentu saja, keagamaan yang berkembang antara mengagumkan dan memprihatinkan. Kurva dinamika berikut kesan-kesan antagonisnya kemungkinan akan terus berjalan sebesar kemungkinan yang diberikan ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo bahwa orang Indonesia akan hidup selamanya dengan virus ini (Kompas.com 18/05/2020).

Sejak pertama kali Corona diangkat berita, banyak nama yang timbul-tenggelam: mulai dari nama kota, nama negara, nama orang, nama tumbuhan, nama obat, nama program, nama organisasi, nama binatang, sampai nama doa, nama nasi dan jenis telur. Apa lagi yang tidak disinggung; nyaris semua dibicarakan seilmiah dan seemosional mungkin. Reaksi dan perdebatan tidak berhenti bahkan ketika nama Tuhan dilibatkan, justru semakin genting dan seru.

Di Iran, misalnya, pemikir ternama Abdulkareem Shoroush tampak jengkel mengamati wabah corona di negaranya tidak membuat posisi Tuhan di sana tergugat. Bagi kalangan ateis seperti Richard Dowkins di Eropa, situasi kacau ini dianggap memuaskan klaim mereka selama ini bahwa Tuhan itu memang tidak ada! Sebaliknya, beredar tayangan penganut agama yang memaki tuhannya sambil mengobrak-abrik altar persembahannya. Sementara di kita, orang yang mengenakan masker atau bertemu-sapa dengan tangan di dada masih dipandang kurang imannya pada Allah.

Beda reaksi karena beda di kepala. Sepanjang hidup bersama virus ini, manusia Indonesia mencari dan menerima kebenaran mereka dari dua sumber: sains dan agama. Karena arus data sains, berbagai protokol dan kebijakan publik dibuat. Karena keterangan agama, corona dan penderitanya dinisbatkan kepada murka Tuhan dan Akhir Zaman. Ada juga yang menghubung-hubungkan dengan Imam Mahdi sambil menghitung prosentase tanda-tanda kedatangannya.

Selain ada kerja keras meyakinkan keseutuhan sains dan agama kepada publik, jangan juga dilupakan dua sumber lain kebenaran yang sama pentingnya bagi orang Indonesia: kekuasaan dan tradisi-budaya takhayul. Selain sains dan agama, aparatur negara menguasai instrumen instimewa hingga “berwenang” dan “mengatur” kebenaran.

Dalam kasus corona, pengaturan ini tampak dari upaya pemerintah memusatkan informasi Covid-19 di Kemenkes. Belakangan, oleh media nasional dipublikasikan pengakuan kepala pemerintah yang telah mengatur informasi fakta karena pertimbangan tertentu. Di tangan kekuasaan pula mudik dan pulang kampung yang asalnya sama bisa lantas jadi beda.

Ajaibnya, dengan segenap dukungan dua sumber sebelumnya: sains dan agama, masih saja terjadi ketimpangan kebijakan dan penanganan yang berasal dari berbedaan data di dalam lingkungan kekuasaan sendiri. Kericuhan dan ketegangan yang paling segar terjadi lantaran beda persepsi dan klaim antara data bansos di pusat dan di pemprov DKI.

Betapapun telitinya data sains, wibawanya pesan agama, dan ketatnya protokol negara, tidak sedikit warga yang lebih nyaman diatur oleh budaya takhayul. Di akhir Maret, ada pedagang sembako ketiban rezeki, telurnya diserbu warga untuk direbus dan harus dimakan antara 00:00 s/d 03:00 agar kebal corona hanya berdasarkan informasi yang viral, konon, dari anak yang baru lahir dan langsung bisa berbicara lalu berpesan demikian. Gegara informasi itu pula ada anak dan ibunya bertengkar.

Entah bagaimana data sains itu menggelembung dan mengalir deras hingga tak jarang membuat chaos dalam kebijakan dan penanganan. Entah bagaimana pemahaman agama ditempuh dan dituntaskan hingga, tidak boleh tidak, harus ditemukan nama corona dalam kitab suci. Dan entah bagaimana takhayul mendadak jadi ilham hingga ada perintah agar menggundul kepala bersama jajaran.

Perlu juga disinggung, dan barangkali ini paling menarik, hingga kini dan kemungkinan besar masih akan berlanjut entah sampai kapan ialah semangat ilmiah yang didorong, di antaranya, oleh tanggung jawab terlibat dalam menyelamatkan masa depan manusia. Hari-hari ini kita masih mudah menjumpai forum online yang membahas dunia pasca corona; isu seksi yang menggairahkan sejak Yuval Noah Harari dan Bill Gates membicarakannya.

Pada gilirannya, aneka reaksi, respon dan konsekuensi multidimensi di atas ini, entah karena faktor-faktor penyimpangan seperti alternative blindness ataukah magic bullet, kerap menjadi gejala post truth yang ditandai dengan dominasi emosi atas rasio, perasaan atas pikiran. Di sinilah “Corona Logika” tiba gilirannya melengkapi sepenggal tema di awal diskusi.

Corona logika sejenis virus yang menyerang pikiran dan nalar. Dengan ciri-ciri yang sama dengan COVID-19, virus pikiran makhluk gaib yang lebih tidak kasatmata, menular cepat dan menyebar massif sekalipun segenap protokal telah dipatuhi seketat-ketatnya, dan bisa mematikan korban meski tetap hidup bernapas senang; korbannya tidak sadar kalau jiwanya, pikirannya dan ruhnya sudah mati.

Dalam bahasa puitis Khalil Gibran, “Lihat pembunuh raga itu digantung, saat pembunuh ruh tak lagi disinggung.” Virus logika jauh lebih ganas dari sekedar COVID-19. Di tangan pembuat, pengendali juga pembawa corona logika, virus Corona bahkan firman Tuhan bisa tidak lagi berarti apa-apa sebelum akhirnya dijadikan komuditas sindiran dan lucu-lucuan.

Benar kata pepatah, satu peluru hancurkan satu kepala, satu kebohongan hancurkan seribu kepala. Seperti corona yang bermutasi dan beranak-pinak, kebohongan adalah spektrum yang menghimpun banyak varian, dari yang tipis hingga kental. Kejahatan virus bohong ini sudah tampak dari sekedar menyembunyikan atau mengalihkan fakta. Yang lebih ganas lagi tatkala menyampur kebohongan dengan fakta hingga tampak seolah-olah kebenaran sepenuhnya. Ini kian krusial bila seseorang memegang segenap sumber kebenaran.

Ketika tehnik berbohong semakin canggih dan spektrumnya kian luas serta halus, protokol perlindungan logika dan akal sehat bukan lagi karantina, isolasi diri, physical distancing, bukan juga semacam PSBB, melainkan lockdown dalam arti yang seketat-ketatnya. Dalam filsafat Ibnu Sina, orang yang menelan apa saja yang didengar sudah keluar dari kemanusiaan.

Lockdown akal sehat yaitu menjaga emosi tetap imbang; tidak berlebihan dalam ketakutan hingga tidak mau tahu atau putus asa, tidak mudah tersinggung hingga panik atau marah, gegabah dan tergesa-gesa, tidak pula gampang senang dan suka cita hingga membela diri dan kubu mati-matian. Lockdown akal sehat juga proteksi diri dari kepolosan menerima informasi dan kemalasan menguji berita. Keseimbangan emosi dan akal akan berdampak pada ketenangan, keterbukaan dan kesabaran.

Terhadap corona akal sehat, setiap orang adalah tenaga medis. Antivirus, vaksin dan cara berpikir benar sudah tertanam dalam diri masing-masing. Selanjutnya perlu alat pelindung diri yang supermurah berupa SOP berpikir, yaitu AAK: apakah, adakah dan kenapa? APD logika tradisional ini hanya bisa digunakan sesuai size orang yang, setidaknya, punya kemauan untuk tidak sudi malas atau polos. Jika masih saja terinveksi, tidak ada yang patut dicela dan disesali selain diri sendiri.

Free WordPress Themes, Free Android Games