Oleh: Ammar Fauzi

Sudah lama Filsafat diperkenalkan dan diupayakan pembudayaannya di tanah air oleh banyak guru, pakar dan tokoh melalui karya tulis, perkuliahan serta forum ilmiah. Tidak sedikit aliran, tokoh, teori dan pandangan filosofis, entah dari Barat dan Timur atau, secara khusus, dari Islam yang dipublikasikan di tingkat nasional, di bangku kuliah ataupun di jurnal dan buku, dalam bentuk karangan maupun terjemahan. Ini belum lagi ulasan-ulasan pengantar, singkat maupun panjang di media-media sosial dengan tingkat keseriusan beragam dan segmentasi bervariasi.

Pada faktanya, dari gugus relatif panjang upaya-upaya intelektual ini, apakah sudah ada karya ilmiah berbahasa Indonesia tentang Filsafat? Seperti menanyakan terangnya matahari, pertanyaan ini terkesan mengada-ada, tetapi boleh jadi terasa radikal dengan jawabannya yang juga radikal bila, sekali lagi, bila filsafat di sini diartikan secara teknis dan ketat sebagai ilmu yang menelaah hukum-hukum esensial Ada sebagai Ada. Sepengetahuan penyunting, definisi paling klasik dan tradisional ilmu Filsafat di Barat ataupun dalam peradaban Islam ini saja belum tersentuh kasar oleh sekian upaya teliti para tokoh domestik Filsafat dalam mendefinisikan ilmu ini.

Baru pada tahun 2002, kekosongan relatif ini diisi oleh inisiasi Penerbit Mizan menerbitkan buku terjemahan Filsafat Hikmah karya Murtadha Mutahhari lalu, satu tahun kemudian, disusul oleh terjemahan lain berjudul Buku Daras Filsafat Islam, dari karya berbahasa Persia: Inggris dan Arab. Sebagai disiplin ilmu dengan pengertian tadi, terutama dalam buku kedua ini, filsafat memuat masalah-masalah tradisional filsafat Islam dengan bahasa yang serbateknis, padat istilah dan definisi operasional. Buku ini sekaligus membentangkan peta suatu ilmu Filsafat sehingga terbaca dari mana memulai dan sampai di mana menamatkan studi formal atas ilmu ini. Buku ini juga menjadi alternatif teks ajar di satu-dua perguruan tinggi di tanah air.

Kitab Filsafat yang tak lama lagi di tangan Anda nanti hanyalah edisi terjemahan ulang yang berbasis pada terjemahan Buku Daras Filsafat Islam itu. Terjemahan kali ini diharapkan dapat menyempurnakan edisi terjemahan sebelumnya dengan mengacu langsung naskah asli Persia: Amuzesh-e Falsafeh (Belajar Filsafat). Selain itu, Kitab Filsafat juga dilengkapi dengan ringkasan dan pertanyaan latihan di akhir setiap daras sebagaimana di naskah aslinya. Selanjutnya, Kitab Filsafat ini diterjemahkan selengkapnya (dua jilid) sebagai konsekuensi dari kebutuhan pengajaran akademis-formal serta pembudayaan filsafat Islam di tanah air.

Amuzesh-e Falsafeh adalah karya Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, satu dari hitungan jari pengajar tingkat tinggi filsafat dan guru spesialis Asfār karya Sadrul Muta’allihin (1572-1640), buku ajar kasta tertinggi dalam strata pengajaran tradisional filsafat Islam. Cinta dan pengabdiannya pada ilmu pengetahuan begitu kompleks sekaligus padu. Tidak hanya berfokus pada kalangan terpelajar, kuliah umum dan karya-karya akhlaknya adalah kepeduliannya menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Pengalaman panjangnya mengkaji berbagai bidang pada guru-guru besar: Ayatollah Burujerdi, Imam Khomeini, Allamah Thabathaba’i, Muhammad Taqi Bahjat Fumani, turut mendukung-nya dalam meningkatkan laju studi-studi interdisipliner dan ilmu-ilmu humaniora sesuai kebutuhan aktual, tantangan komparatif serta peluang aplikatif filsafat Islam dan pengetahuan agamanya, seperti yang tampak pada sebagian karyanya seperti: Teori Politik Islam (2 jilid), Teori Hukum Islam (2 jilid), Filsafat Etika, Filsafat Manajemen, Agama dan Sains, Ideologi Komparatif, Masyarakat dan Sejarah dalam Alquran, Tafsir Tematik (10 jilid). Perbincangan seputar sistem sosial dan ideologi negara Republik Islam Iran seolah tidak tuntas tanpa menyinggung pandangannya yang khas.

Keseriusan Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dalam mengembangkan studi-studi keislaman, kefilsafatan, kemanusiaaan, interdisipliner dan intradisipliner secara komparatif dan aplikatif dikonkretkan bersama murid-muridnya dalam bentuk lembaga pendidikan dan penelitian di kota Qom, Institut Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, pada 1991. Saking terkenal dan bergengsinya, publik akademik di sana cukup menyebutnya dengan nama mu’asseseh, yakni institut.

Lahir di kota tua Yazd, Iran, pada 1934, Ustad Mishbah—begitu guru dan pelajar filsafat di sana menyebutnya—memulai pendidikan agama dan umum seperti: Fisika, Kimia, Fisiologi, bahasa Perancis, di Hauzah Ilmiah—nama dalam tradisi Syiah untuk pusat pendidikan Islam, Iran. Di lingkungan itu pula ia meraih gelar tinggi keulamaan “ayatollah” sebagai mujtahid di bidang Fiqih dan Tafsir. Di pusat yang sama ia dikenal sebagai logikawan Peripatetisian dan filosof Neo-Sadrian, sebuah transformasi paling mutakhir yang dipelopori oleh gurunya, Allamah Muhammad Hussein Thabathaba’i (1904-1981), dalam tradisi Kebijaksanaan Utama (al-hikmah al-muta‘āliyah).

Filsafat dan kefilosofan Ustad Mishbah menonjol dari kritik-kritiknya atas gurunya sekaligus atas Kebijaksanaan Utama. Sejurus dengan itu, pandangan-pandangan khasnya mengemuka, terutama, di bidang ilmu-ilmu kefilsafatan dan humaniora. Betapapun tajamnya kritik dan uniknya pandangan itu, filsafatnya tidak keluar dari arus utama dan paling mutakhir filsafat Islam, yakni Kebijaksanaan Utama. Semua kritik dan pandangan filosofisnya terangkum dalam karya pertamanya dalam Filsafat yang kelak terbit pada 1984 dengan judul, Ta‘līqah ‘alā Nihāyat al-Hikmah, sebagai hasil dari pengajaran tingkat menengah Filsafat berdasarkan buku ajar Nihāyat al-Hikmah karya sang guru, Allamah Thabathaba’i.

Tak lama berselang, Lembaga Dakwah Islam (Sazman-e Tab-lighat-e Islami) di Qom menerbitkan Amūzesy-e Falsafeh, karya magnum opus Ustad Mishbah dalam dua jilid yang terjemahannya di tangan Anda ini. Seperti yang tertuang di pengantar buku, kronologi buku ini berawal dari keprihatinan besarnya terhadap kondisi pendidikan agama dan, secara khusus, pembelajaran Filsafat. Bersama Dar Rāh-e Haqq (Institut Menuju Kebenaran), Qom, ia memulai pengajaran filsafat Islam sesuai metode dan sistematika khasnya pada rentang 1981-1982. Setiap sesi pengajaran dikasetkan lalu ditranskripsikan untuk kemudian ia sendiri meninjau ulang, menyelia isi serta bahasanya sebelum akhirnya diterbitkan pada 1984.

Sejak itu dan sampai sekarang, Amūzesy-e Falsafeh masih dipercaya relevan sebagai buku ajar filsafat Islam dalam skala nasional pendidikan agama dan universitas di Iran. Meski untuk tingkat pemula, buku ini justru kerap menyelundupkan kritik-kritiknya atas gurunya sekaligus ruang menyatakan pandangan-pandangan khasnya itu lantaran metode komparatif dalam membahas masalah filosofis. Metode itu pula yang memperkaya wawasan dan mempertajam ketelitian pembaca dalam menimbang teori-teori ontologis, epistemologis, logis, teologis bahkan metaetika dan filsafat hukum dalam dua arus besar filsafat: Islam dan Barat.

Perlu juga kiranya dicatat, buku ini sudah barang tentu sama sekali unik dalam tradisi literatur filsafat Islam tatkala memasukkan, kendati singkat, sejarah dinamika perjalanan filsafat di Barat dan Islam. Yang paling unik dan paling penting dari orientasi kesejarahannya tampak dalam upaya Ustad Misbah menggali latar belakang serta konteks yang menyertai terjadinya perbincangan seputar masalah filosofis tertentu.

Entah sudah berapa kali dicetak, buku Amūzesy-e Falsafeh tidak mengalami revisi dari penulisnya sejak awal kali terbit. Sebelum dikenal di tanah air, buku ini juga sudah lebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Al-Manhaj al-Jadīd fī Ta‘līm al-Falsafah, diterjemahkan oleh Abdul Mun‘im Haqani, diterbitkan dalam dua jilid oleh Dar al-Ta‘aruf li al-Mathbu‘at, Beirut 1990; dan dalam bahasa Inggris dengan judul Philosophical Instructions: An Introduction to Contemporary Islamic Philosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Legenhaussen dan ‘Azim Sarvdalir, dicetak dalam satu jilid oleh Global Publications, Binghamton University, New York, USA, 1999. Baru empat tahun kemudian, edisi terjemahan Bahasa Indonesia Buku Daras Filsafat Islam diprakasai oleh Penerbit Mizan, Bandung, pada 2003, lalu diterbitkan ulang oleh Shadra Press, Jakarta, pada 2010, mendahului penerjemahannya ke bahasa Bosnia (2012) dan bahasa Thai (2018). Tiga terjemahan terakhir ini sama-sama baru menuntaskan jilid pertama dari buku aslinya.

Kali ini, Kitab Filsafat hadir sebagai paket lengkap terjemahan Amūzesy-e Falsafeh. Kelengkapan ini, setidaknya, mengisi sisa kekosongan yang tercecar dari terjemahan sebelumnya sekaligus sebagai pelopor dan referensi primer disiplin ilmu filsafat tradisional Islam yang terpublikasikan dalam Bahasa Indonesia.

Free WordPress Themes, Free Android Games