ICS 1: Konferensi Internasional Tasawuf: Membangun Perdamaian Dunia

Para pembicara ICS (International Conference of Sufism), jumat (18/11/016)

Tasawuf untuk Mengkounter Radikalisme, Mampukah?

Pertanyaan dari judul ulasan diskusi ini layak untuk diajukan?, bagaimana mungkin tasawuf yang sifatnya personal, penuh aroma rahasia, dan untuk ukuran Indonesia belum membudaya tampil sebagai disiplin ilmu bergengsi harus menjawab isu radikalisme. Baik radikalisme agama sebagai wahana wacana maupun dipraktekkan oleh para pelaku-yang biasanya dikaji dari data terukur; pelaku, efek bagi NKRI dan toleransi harus dipotret dengan tasawuf. Atau dengan bahasa lain bagaimana mungkin para sufi yang fokus pada perjalan “diri” dengan Tuhanya harus menyelesaikan ulah kaum intoleran dan teroris.

Dalam rangka untuk memperoleh jawaban yang utuh, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra berkerjasama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menyelenggarkana 1st International Conference On Sufism (ICS), dengan tema Buildin Love and Peace for Indoensian Society (Rahmatan lil alamin) Jumat, 18/11 2016, di Auditorium Notonagoro, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan; para pengamal tariqot, mahasiswa, dosen tasawuf dari Jakarta, Banten, Yogyakarta Surakarta.

Dibuka oleh Wibi Mahardika, salah satu alumni Filsafat UGM, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Disambut oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Dr. Arqom Kuswanjono. Dalam sambutanya Dr. Arqom menekankan akan pentingnya menggali kembali secara serius tema tasawuf (sufi), dikarenakan ruh Islam  akan lebih mudah kita pahami jika dengan pendekatan tasawuf.  Meskipun ajaran sufisme dipraktekkan dalam kehidupa sehari-hari, tapi jarang di kaji secara akademis. Harapanya konferensi sufi yang pertama kali diadakan ini akan membangun sintesa sesuai dengan tema, membangun masyarakat yang cinta damai untuk masyarakat Indonesia.

Sambutan kedua oleh Prof. Dr. Suratman, M.Sc, wakil rektor UGM mewakili rektor yang berhalangan hadir, menyampaikan akan pentingya mengkaji ilmu tentang kebahagiaan hidup, agar terjadi proses hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam semesta dan dengan sesama (Hamemayu Hayuning Bawono). Dikatakanya konferensi sufi kali ini merupakan pelengkap aktifitas  pusat kajian Laboratorium Filsafat Nusantara, dan Pusat Riset Pancasila dan Perdamaian. “Mari bergotong royong agar dunia tercipta kedamaian, kebahagiaan. UGM membangun visi baru yaitu Global Leadership. Dengan harapan tercipta pemimpin perdamaian dunia, pemimpin yang memiliki karakter, mempunyai kemampuan untuk menjadi tauladan dunia”.

Selanjutnya sebelum memasuki panel 1 dan 2, Dr. Khalid AlWalid, ketua Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra sebagai keynote speaker, memberi beberapa catatan penting akan kedalaman dan keluasaan hakekat manusia dari prespektif sufi.

Manusia modern telah mengalamai kejatuhan besar, yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai kejatuh Adam dan Hawa. Oleh karena itu secara fitrah, manusia ingin kembali kepada asalnya.

Manusia dalam prespektif sufi memiliki dimensi yang luas, bahkan seluruh nama-nama Tuhan terejawantahkan dalam alam semesta (makrokosmos) dan termanifestasikan dalam diri manusia (mikrokosmos).

Mengutip pandangan Ibnu Arabi, manusia memiliki dua naskah (tek); lahir (alam material) dan dhohir (batin). Problem yang terjadi pada manusia modern menghilangkan satu naskah batin dan hanya mengurusi tek lahir saja.

Tasawuf memberikan gambaran yang sangat luar biasa pada diri manusia. Tasawuf mengenalkan kembali hakikat manusia yang sesungguhnya. Alam semesta diciptakan oleh Allah untuk manusia. Manusia adalah ekstrak dari seluruh bagian alam semesta ini. “Ketika kita melihat manusia, maka kita seakan melihat alam semesta. Aliran darah manusia seperti aliran sungai, teriakan manusia seperti teriakan halilintar, kesedihan manusia seperti gelapnya bulan prunama. Kulit manusia yang tanpa rambut seperti padang sahara”.

Keistimewaan manusia ini digambarkan ketika protes Malaikat kepada Tuhan karena di suruh sujud pada Adam. “Apakah kau akan menjadikan makhluk yang menciptakan kerusakan, menumpahkan darah.”

Malaikat protes dengan Tuhan karena mereka tidak paham. Malaikat menempati hal yang bersifat parsial. Malaikat adalah bentuk parsialitas yang Tuhan ciptakan. Namun, ketika menciptakan manusia, seluruh bagian itu menjadi satu rangkuman, “Tuhan mengajarkan seluruh nama itu dimasukkan ke dalam diri manusia, sehingga manusia bisa apa saja, seluruh nama Allah ada pada Adam, maka dari itu malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam.”

Kebesaran manusia itu digambarkan oleh para sufi sebagai jantung alam. Sementara manusia modern menempatkan manusia hanya pada posisi parsial, padahal menjadi manusia tidak lebih dari mengikuti jejak Tuhan di muka bumi ini. Dr. Khalid mengajak memahami, bahwa problem kita adalah bagaimana cara kita mengembalikan kesadaran terhadap hal ini. Olehkarena itu tasawuf mempunyai peluang yang besar yang dapat menjawab radikalisme dalam agama, problem kita adalah mengembalikan fitroh manusia tersebut.

Dilanjutkan dengan panel 1, dipimpin oleh moderator  Farid Mustofa, M.Hum. Membuka dengan statemen; sufisme adalah sisi dalam, sisi batin, sisi rohani dari Islam. Para Sufi ingin hidup seperti yang di dalam hadis. Sufisme hadir seolah menjadi barang asing yang makin lama berkilau.

KH Dr. Dhiauddin Quswandi Azmatkhan (Head of Rabithah Azmatkhan, Mursyid tariqa Syatariah and Akmaliah, tariqa Tasawuf Nusantara Walisongo) sebagai pembicara pertama mengatakan kedudukan agama di dunia seperti ruh dan jasad. Selama masih ada orang menyebut nama Allah maka tidak akan ada kiamat. Jantung dari agama adalah cinta kepada Allah (hubungan vertikal) dan cinta kepada makhluk (hubungan horizontal). Banyak orang mengartikan Islam itu hanyalah yakin, jika kita hanya sekedar percaya, maka iblis adalah makhluk yang percaya, iblis pernah bermujaah. Iblis kafir padahal dia percaya bahwa Allah ada.

Dalam surat Al-Baqarah 165 “Orang beriman sangat cinta kepada Allah”. Sementara kecenderungan sekarang menurut Quswandi agama dibatasi kotak yang sangat tertutup. Sekarang, agama dibatasi kotak (eksklusif) sehingga menimbulkan disintegrasi secara struktural.

Tasawuf basisnya adalah cinta. Cinta sebagai inti dari keberagaman. Dalam pandangan sufi “cinta kepada Allah adalah tanpa syarat dan tanpa batas (unlimited) tidak peduli Allah memberi manfaat atau musibah. “Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan”, maka cinta Allah tanpa syarat dan tanpa batas, sehingga sufi tidak akan melukai sesama makhluk. Sekarang yang terjadi adalah ruh keislaman mengalami reduksi. Persaudaraan sebagai azas Islam hanya dibatasi sesama muslim.

Dalam tariqot Satariah, mencintai manusia itu tanpa sekat. Mengenalkan hakekat manusia dengan pertanyaan “Siapakah aku ini?, “Aku” dibagi menjadi “Aku” secara pribadi, dan aku secara universal, “Aku” bukanlah jasad ini. Walaupun sekarang besar dulu kecil, maka aku tetaplah aku yang dulu. Aku melampaui jasad, melampaui personaliti.

Dalam perjalanan menuju Tuhan, menaiki empat jalan; nanding saliro, ngukur saliro, tepo saliro, dan mulat saliro. Kedalaman manusia digambarkan dengan perumpamaan; manusia dengan es balok dan es lilin. Aku bukan kamu dan kamu bukan aku, dan ketika mereka menyelam dan mencair maka mereka akan berkata “aku” adalah “kamu” dan “kamu” adalah “aku”. Inilah ajaran tariqot Satariah. Inilah penjelasan metode filosofis mewujudkan cinta secara universal “aku adalah semua, semua adalah kita”

Sedang secara amaliah, ketika hati tumbuh rasa cinta, maka rasa menjadi tanda hidup.Sedang rasa memikili tiga jenis, pertama jasmani-halus kasar, panas dingin, pahit manis asam, rasa jenis ini bukan rasa sejati. Kedua,  nafsani: suka, benci, puas kecewa, ini juga bukan rasa sejati. Ketiga, rasa rohani:hati menimbulkan rasa damai, fuad, menimbulkan cinta tanpa syarat, lub, hati selalu merasakan kehadiran Tuhan, sir. Akan menimbulkan rasa manusia universal, sebagai tali hubungan manusia dengan Tuhan. Diteguhkan dengan “aku” adalah hidup, hidup adalah “aku”. Maka seperti yang disenyalir oleh Syekh Siti jenar “Roh itu hidup jika tersambung dengan Allah, yaitu disambungkan dengan dzikir”. Inti keimanan bukan hanya percaya tapi cinta kepada Allah. Nah inilah kebenaran dalam ajaran tariqot Satariah “ Kita adalah semua dan semua adalah kita “

KH Dr. Dhiauddin menambahkan terdapat jejak-jejak ajaran tasawuf dalam Peradaban Islam  Nusantara. Setiap agama termasuk di dalamnya ajaran tasawuf selalu meninggalkan jejaknya dalam setiap peradaban (tamaddun, civilization). Begitu juga jejak-jejak tauhid tasawuf dari Kesultanan di Nusantara.  Terdapat dua jejak tauhid tasawuf di Nusantara yaitu bidang nilai-nilai tradisi non-fisik yang dikenal sebagai kearifan lokal (local genius) dan karya budaya fisik sebagai peninggalan sejarah:

Nilai-Nilai tradisi non-fisik

  • Konsep Raja dalam pandangan budaya Jawa Islam diyakini sebagai Insan Kamil (Jalma Linuwih) dan Pusar Jagad atau pusat cosmos yang menjadi wakil Allah di muka bumi yang bertugas untuk memayu hayuning bawana (memelihara keselamatan dan kesejahteraan dunia). Oleh karenanya setiap Raja harus memiliki sifat-sifat mulia yang dimiliki Tuhan dan perintahnya harus dipatuhi secara mutlak yang terkenal dengan ungkapan “Sabda Pandhita Ratu, Tan Kena Wola Wali lan Kudu Den Ugemi”/Titah seorang Raja dan Wali tidak boleh berubah-ubah dan harus dipatuhi
  • Dalam sebutan diri, orang lain dan pemimpin masyarakat menyebut “diri” antara lain dengan “kulo” dari kata “kawula” (bahasa Jawa) atau “saya” dari kata “sahaya” (bahasa Melayu). Ini adalah pengaruh ajaran shufi yang selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai “hamba Allah” (Abdullah).

Menyebut orang lain dengan “sedulur” darikata “ludiro” (bahasa Jawa) atau “saudara” darikata “sedarah” (bahasa Melayu). Ke-2 kata ini adalah terjemahan dari bahasa Arab Ikhwan yang berarti saudara dari akar kata Akhun yang bermakna saudara kandung.

Menyebut para aparat Negara sebagai “pamong” yang berarti pelayan yang merupakan terjemahan istilah dari bahasa Arab “khadimul ummah” yang bermakna “Pelayan Ummat”.

  • Dalam sistem pendidikan yang dikenal dengan sebutan pesantren yang adalah mengikuti konsep praktek zawiyah dalam tashawuf di mana Guru dan murid tinggal dalam 1 asrama yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar melalui 3 proses ta’lim (pengajaran), tazkiyah (penyucian diri melalui mujahadah dan riyadhoh), dan suhbah (dengan bergaul dan khidmad kepada pada Guru dan teman sesama).
  • Dalam seni musik dikenal adanya tembang (nyanyian) yang umumnya berisi nasehat-nasehat tentang budi pekerti, bahkan tentang ajaran Tauhid termasuk ajaran wihdatul wujud. Dalam hal ini ada 9 macam tembang yang menggambarkan tahapan-tahapan perjalanan hidup manusia, dari mulai lahir sampai kembali pada Allah. Tembang-tembang yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  • Mijil bermakna kelahiran
  • Sinom bermakna masa anak-anak
  • Asmaradana bermakna masa remaja, yaitu masa di mana seorang mulai dilanda api cinta lawan jenis
  • Dandanggula melambangkan masa dewasa di mana seorang telah merasakan manisnya kehidupan (sukses)
  • Maskumambang melambangkan memasuki masa tua, ketika seseorang berhasil melepaskan kecintaan pada dunia
  • Pangkur melambangkan masa tua, ketika seorang sudah bisa ngungkur kadunyan/membelakangi dunia menghadap akhirat
  • Megatruh melambangkan seorang yang telah bisa mati sakjroning urip lan urip sakjroning mati, yang berarti kesahidan
  • Kinanti melambangkan masa penantian di alam barzah
  • Gambuh melambangkan kembalinya jiwa kepada Allah
  • Dalam pagelaran Wayang, meskipun cerita wayang diambil dari kisah Mahabaratha dan Ramayana tapi oleh Para Wali (khususnya oleh Kanjeng Sunan Kalijaga) digunakan sebagai media dakwah untuk mengajarkan nilai-nilai tashawuf Islam. Di mana bala-Pandawa dianggap melambangkan hati nurani dan bala-kurawa melambangkan nafsu angkara murka, perang Mahabaratha dimaknai sebagai pergumulan antara nurani dan hawa nafsu yang terjadi di padang kurusetra yang tak lain adalah hati dari tiap manusia itu sendiri.

Nilai-Nilai Kebudayaan Fisik

Contoh :

  • Dalam setiap bangunan yang penting seperti Masjid dan keraton, terdapat pintu yang disebut dengan Gapura dan tidak dinamai lawang, kori atau seketeng. Gapura adalah metamorfosa dari bahasa Arab Ghofuro yang berarti “ampunan”, ini mengandung makna yang mengajarkan bahwa sebelum orang itu mendekat pada Allah dan menghadap Raja sebagai wakil Allah di bumi, harus mensucikan diri terlebih dahulu melalui pintu pengampunan sebagai langkah pertama.
  • Dalam tata kota, di zaman Wali Songo setiap kota di Jawa dibangun sebagai miniatur macro-cosmos di mana Alun-alun (tanah lapang) ditempatkan sebagai pusat kota. Di sebelah barat Alun-alun terdapat Masjid, di sebelah timur terdapat Pendopo sebagai pusat pemerintahan, di sebela utara terdapat pasar, dan di sebelah selatan terdapat penjara. Tata ruang ini, dalam pandang tekno-shofi bermakna:
  • Alun-alun melambangkan Wujudullah
  • Masjid lambang sifat Kamal
  • Pendopo lambang sifat Jalal
  • Pasar lambang sifat Jamal
  • Penjara lambang sifat Qahar
  • Di setiap Alun-Alun di tengah kota ditengahnya ditanam pohon beringin, yang adalah jenis pohon yang berakar tunjang sehingga nampak meskipun satu tapi terlihat banyak, dan terlihat banyak meskipun hanya satu pohon. Ini adalah melambangkan pengalaman puncak tashawuf yang dikenal sebagai shuhudul wahdah fil kasroh wa shuhudul kasroh fil wahdah/menyaksikan yang Eka dalam aneka dan menyaksikan yang aneka dalam Eka
  • Bangunan Masjid berbentuk limas, beratap segitiga bertingkat melambangkan arkanuddin yaitu Islam, Iman , dan Ihsan.

Dari contoh tersebut Dr. Quswandi ingin mengatakan, ajaran tasawuf nusantara telah dipraktekan bahkan menyatu antara kehidupan pribadi dan sosial, antara hubungan hamba dengan Tuhan dan antara hamba dengan raja. Konsep manusia sebagai mikro kosmos, dan alam sebagai makrokosmos harmoni dalam tata kelola pemerintahan.

Selanjutnya Syeikh Rohimuddin Al-Nawawi al-Bantani, (Head of KUN-Kerukunan Ulama Nusantara, Khalifah Syadziliyah tariqa darqawiya and qadir) sebagai pembicara kedua, menjelaskan tentang pengertian istilah tariqot. Tariqat berarti madrasah. Tarikat adalah sebuah lembaga atau madrasah pendidikan etika atau karakter spritual Islam (Tarbiyah Ruhiyah), dimana para Ulama Tarikat (Sufi) sebagai guru pembimbing (Syeikh Mursyid) mendidik muridnya dengan program dan metoda praktis (Tasawuf) untuk mencapai tujuan hidup, yaitu mengenal Penciptanya (Ma’rifatullah), agar dapat melaksanakan ibadah dan muamalah di atas keyakinan yang benar dan sehat, sehingga menjadi manusia sempurna (khalifah) dan hidup penuh kedamaian serta kebahagiaan.

Syeik Rohimudin memberi penekananan bahwa manusia adalah patung Allah yang tidak boleh disakiti (merupakan Insan kamil dari aspek  kosmologi maupun ontologi).

Namun jika realitas ummat manusia sekarang penuh dengan permusuhan dan kekeringan kasih sayang penyebabnya mereka menjauhi ruhnya dan menyimpangkan ajaran dan metodanya yang sahih.

Manusia adalah manifestasi (tajalli) Allah. Allah menciptakan manusia untuk mengenal Allah. Dalam hadis qudsi “Aku adalah Dzat Yang Gaib, Aku suka agar dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal”.

Berkaitan dengan cinta, Syeik Rohimudin menjelaskan jika kita baca dalam literatur kaum Sufi, cinta itu identik dengan Tasawuf, oleh karena itu para Sufi disebut Ahlul Mahabbah (sang pencinta). Seluruh aktifitas agama dan kehidupan secara umum mesti berdasarkan cinta, tanpa cinta akan terasa berat dan jemu. bahkan mereka memandang bahwa manusia itu penjelmaan cinta kasih Tuhan. Sesuatu yang agung dalam pandangan manusia bijak dan berjiwa mulia adalah mencapai kebahagiaan abadi, kebahagiaan ini tidak bisa dicapai melainkan dengan cinta, dan cinta pun sulit untuk dimiliki melainkan tumbuhnya dari ma’rifat (kenal), sedangkan ma’rifat hanya bisa dicapai dengan jiwa yang bersih (Tazkiyah), maka tasawuf itu tazkiyatunnufus.

Cinta bukan sekedar sebuah karakter, bahkan cinta adalah sumber dari segala karakter mulia (Maqamat). Dengan sekedar mencintai seseorang maka seluruh karakter kekasihnya itu akan tertuang ke dalam jiwa dan menjadi karater pencintanya secara otomatis. Semakin mulia karakter seorang kekasih semakin bertambah sempurna pula pencintanya. Oleh karena itu seorang hanya mencintai kekasihnya apabila ia telah betul betul mengenalnya. Cinta adalah suatu karakter ajaib, hakikatnya hanya dapat dirasakan dan tidak bisa diungkap dengan kata-kata.

Kata Cinta adalah nama yang mencakup keseluruhan makna cinta. Namun seorang pencinta tidak terlepas dari salah satu dua kondisi; ia menguasai cinta atau dikuasai oleh cinta. Jika dia yang menguasai cinta dan masih memiliki upaya serta pilihan maka ia dinamakan pencinta sebagaimana umumnya. Jika dikuasai oleh cinta dan ia tidak lagi memiliki upaya, pilihan dan kepentingan dirinya maka kondisi ini dinamakan asyik (kasmaran cinta). Pencinta itu murid (subjek) sedangkan asyik itu murad (objek)

Dalam papernya Syeik Rohimudin menyimpulkan; Allah menciptakan dengan cinta, mengenalkan diriNYA dengan cinta dan menyiapkan hamba untuk menjadi kekasihNYA pun dengan cinta. Wahyu yang diturunkan itu adalah surat cinta dan dibawa oleh sang Cinta kekasihNYa. Maka Islam ini adalah agama cinta. Cinta akan melahirkan kebahagiaan dan kedamaian, bahkan pencinta dan kekasihnya adalah satu kesatuan yang hakiki, karena mereka mirip dan dekat. Itulah hak. Setiap ciptaan memiliki fungsi serta tujuan, apabila sesuatu itu telah mencapai tujuannya maka ia berfungsi aktif dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Akal fungsinya mengetahui, dan itulah tujuan diciptakannya, apabila akal telah mengetahui sesuatu maka ia akan merasakan bahagia, demikian indra yang lain. Akan tetapi hakikat manusia bukan akal, indra dan bagian anggota tubuhnya, melainkan adalah ruh. Maka apabila ruh itu mencapai tujuannya juga sebagai fungsinya yaitu mengenal Allah maka ia akan merasakan kebahagiaan abadi dan kedamaian.

Pembica ketiga Prof. Syukri Abdullah Yeoh (Profesor Manuskrip Melayu) melihat dari aspek sejarah. Islam masuk nusantara melalui hubungan perdagangan, bersamaan dengan peristiwa serangan Hulagu Khan kota Baghdad pada tahun 1258 Masehi (656 Hijriah). Begitu juga berdirinya kerajaan Islam Peurlak pada abad 8-9 m, dengan dasar pendekatan tarekat rohani, berinteraksi dengan para pedagang ahlullah dan proses perkawinan.

Para penganut tareqat (ahlillah) terutama penganut tareqat Satariah memainkan peranan penting dalam menghadapi perang jihad terhadap penjajah Barat yang membanjiri wilayah nusantara ini. Dikarenakan penjajah mencampuri banyak aspek; rohani, politik, displin ilmu, dan juga penguasaan ekonomi.

Memasuki panelis terakhir Prof. Dr. Ali. Mihbah, seorang sufi sekaligus peneliti mistisisme barat dan timur, putra dari Taqi Misbah Yazdi. Mengatakan bahwa “Pertemuan  ini mempunyai tujuan menciptakan masyarakat yang damai, tentram dan penuh dengan kasih sayang.” Kemudian pertanyaan apa kontribusi tasawuf dalam membentuk masyarakat tersebut. Dr. Ali memulai dengan menjelaskan pengertian tasawuf atau Irfan.  Irfan dalam bahasa arab berasal dari bahasa arafah dalam konteks ini yaitu pengenalan kepada Allah SWT. Pengenalan terhadap Tuhan tidak selamanya disebut Irfan. Irfan adalah jalan penyaksian rohanian.

Jalan ini merupakan jalan terdekat dalam upaya mengenal Tuhan. Puncak pengenalan Tuhan harus melalui Insan Kamil sebagai manifestasi paling sempurna. Karena itu misalnya dalam Firman Allah “Fitrah Allah yang Allah letakkan dalam diri manusia dan seluruh bagian manusia, dapat dimaknai dalam makna yang seperti ini” karena itulah, Allah SWT agar manusia ini tidak berada dalam kesalahan dalam proses pencarian Tuhan, maka Allah menurunkan nabi untuk mengajarkan cara mengenali Tuhan dengan ajaran dan metodenya yang berbeda dan karena itulah bahwa manusia kemudian, kadangkala membawa manusia ke dalam kekeliruan jalan sehingga memunculkan bentuk radikal atau ekstrimisme.

Olehkarena manusia dalam proses pengabdian, manusia dapat mencapai kemuliaan di atas kemuliaan karena mereka adalah mazhar (wadah) nama-nama illahi. Dan manusia hanyalah satu dari perwakilan Tuhan yang pada dirinya ini terkumpul nama-nama illahi, sehingga malaikat itu hanya gambaran bagian parsial nama-nama Tuhan. Dan sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran dalam penciptaan manusia.

Tujuan utama Tuhan menciptakan manusia adalah khalifah di muka bumi. Dan manusia pada hakikatnya memiliki seluruh nama itu dan kemudian mengaktualisasikan nama-nama itu kemudian dikenal dengan insani kamil (terwujud secara mutlak dalam diri Rasulullah SAW, jadi siapapun dalam tingkat apapun tidak terlepas dari bimbingan Rasulullah SAW).

 

Masuk pada panelis kedua, pembicara pertama Mukhtasar Syamsuddin Ph.D of Arts, mantan dekan Fakultas Filsasat UGM membahas tentang lokal sufisme sebagai kearifan lokal untuk menkounter radikalisme. Mukhtasar memberi contoh peran seorang sufi- Syekh Yusuf dari Makasar dalam menghadapi perlawanan terhadap penjajah.

Mukhtasar juga memberi data-data penelitian tahun 2011 yang masih relevan tentang fenomena terorisme secara spesifik yang terjadi di Yogyakarta. Radikalisme pada masyarakat Indonesia terjadi berbagai kalangan yang tidak hanya berpendidikan rendah bahkan yang berpendidikan tinggi, yang ekonominya tinggi maupun rendah, yang tinggal di  kota maupun desa- juga banyak dipengaruhi paham radikalisme.

Dalam pandangan Mukhtasar  fenomena radikalisme biasanya berisinergi dalam isu politik dan sosial. Narasi syariah hanya minor di Yogjakarta, hanya beberapa kalangan yang memiliki hubungan dengan pergerakan golongan Islam tertentu. Sedangkan ada juga narasi tentang ekstrimisme, yang berbeda dengan radikalisme karena ekstrimisme ini menginginkan kekerasan dan perubahan. Namun hal ini ditolak di yogja, sebab kita bisa melihat Yogya sebagai kota yang santun dan damai.

Olehkarena itu keberadaan sufisme di nusantara efektif untuk mengatasi radikalisme. Dalam sejarahnya sendiri sufisme sendiri sudah ada di nusantara dan berkembang. Salah satunya adalah Syekh Yusuf. Bagaimana mengelaborasi sufistik syekh Yusuf ini bisa dilacak dari nilai-nilai filsafat dan sufistik.

Kita bisa lihat dan mengembangkan salah satu prinsip kearifan lokal siri na pace: rasa malu dan harga diri pada masayarakat bugis Makasar dalam rangka menjaga stabilitas sosial dan agama.

Karena budaya siri merupakan bagian dari nilai agama, maka sufisme dalam ajaran Syeh Yusuf juga berkaitan dan beririsan dengan  nilai untuk menjaga stabilitas sosial dan agama. Sufisme nusantara merupakan sufisme yang lahir dari budaya bangsa kita ini, dan tidak bertentangan dengan pancasila.

Mukhtasar meneguhkan kembali hasil penelitianya, bahwa semua faktor penyebaran dan penerimaan narasi radikalisme biasanya bersinergi dengan perkembangan politik nasional maupun lokal. Untuk itu perlu orkestrasi pengembangan pendidikan dan diskursus anti-radikalisme yang dapat menyasar kunci-kunci pengembangan gagasan radikal baik di kampus-kampus, perkotaan dan pedesaan dan kantong-kantong jama’ah se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Olehkarena itu sufisme bisa bahan untuk dinarasikan.

Panelis kedua  Mohammad Reza Ebrahimi Kiapi, mengemukaaan poin penting kesamaan spiritualitas antara Iran dan Indonesia. Dimana landasan spirItalitas merupakan salah satu mekanisme yang bisa membangun pilar-pilar budaya dialog antar bangsa dan bisa mengurangi radikalisme, spiritualitas memiliki kekuatan yang bisa menaklukkan radikalisme itu.

Ada dua era dari sejarah umat manusia yang bisa kita pilah. Pertama tradisonal dan kedua modernis. Kita juga tidak bisa mengambil tesis bahwa era modern itu nyaman, sebab ada beberapa masyarakat juga nyaman dengan tradisional. Maka dari itu perlu ditentukan titik kenyamanan itu dilandasi dengan spiritualitas untuk mencapai hidup yang koeksisten.

Dalam dunia tradisional, ada pola hidup yang berbeda dengan modernis. Pola-pola hidup tradisional terdapat aspek ketuhanan. Sedangkan pola-pola modern yang berkembang pada abad modern aspek ketuhanan bergeser menjadi dialektis mengenai manusia.

Perkembangan pola pandang manusia mencapai titik temunya pada gerakan postivisme logis pada Barat di mana gerakan ini mencapai goncangan proposisi pada agama, etika dan filosofis. Sejauh proposisi itu tidak bisa diverifikasi secara empiris, maka hal itu tidak bermakna.

Baik tradisionalisme dan modernisme menjanjikan secara fisik pembangunan, dan juga kemerosotan agama. Dapat menghantarkan pada kesimpulan, inti dari spritulaitas Islam bagaimana Islam bisa menjadikan satu model spritualitas tentang realitas, hidayah dan tujuan tertinggi. Inilah yang perlu menjadi aspek diperhitungkan untuk membangun spiritualitas Islam yang sesuai Al-Qur’an dan hadis nabi. Sufisme harus berlandaskan sendi itu. Bila ditanamkan spritualisme dalam sufisme Islam akan banyak hal yang kita jumpai untuk menghadapi paham radikalisme.

Pembicara ketiga, panelis kedua Gus Mustafid (Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Aswaja Mlangi). Mempertanyaakan kembali tentang tema konferensi, seberapa efektif sufisme untuk menangkal radikalisme. Karena tasawuf itu batin, sedangkan radikalisme itu sesuatu yang bisa diukur.

Gustafied memaparkan mengutip dalam bukunya Hodgson tentang Tasawuf, tentang darimana tasawuf itu muncul. Pertama kemunculanya akibat penarikan diri dari kehidupan sosial karena adanya kehidupan umat Islam yang disokong kehidupan materialis dan hedonis. Sehingga hubungan antara Tuhan dan manusia mengalamani kelonggoran. Kedua, pengaruh tradisi  mititsisme Islam tumbuh karena dipengaruhi oleh mistis Kristen.

Olehkarena itu untuk mengatasi kesulitan peran tasawuf dalam mengkounter radikalisme, dikatakanya “Saya lebih suka tasawuf Arab-Islam untuk menyambungkan ke arah situ.” Filsuf Kontemporer Hasan Hanafi mendorong konstruksi ilmu kalam, rekonstruksi tasawuf, dan reorientasi pemikiran sejarah, yang berpijak pada empat realitas; pertama realitas internal dimana umat Islam dikepung oleh berbagai bidang, kedua orang cendurung pada konservatisme sosial. Ketiga penafsiran terhadap Islam dilegitimisi dalam kekerasan, sehingga panoraman Islam sekian buruk di mata global dan keempat untuk mengatasi tantangan global itu tadi maka; harus ada konstruksi teologis, di mana manusia harus satu kesatuan. Kemanusaan harus satu. Jika masih ada kaya-miskin, eksploitasi itu berarti perlu teologis prakis.

Adanya rekonstruksi tasawuf, jika nilai tertinggi itu mahabbah, maka nilai mahabbah itu diseret dalam konteks kemanusiaan. Jika tidak ada pada basis tasawuf yang memperhatikan realistis ini, maka itu bukan tasawuf.

Gustafied mengatakan lagi bahwa perlu nilai-nilai yang ada dalam sufi seharusnya bisa mengatasi kondisi persoalan-persoalan dari berbagai aspek kehidupan sehingga bisa menyatukan kemanusiaan dan itu bisa didapatkan dalam fakta empirisme.

Kemudian tentang tawaran tasawuf nusantara. Pertama, di dalamnya terdapat harmoni antara tradisi nusantara dan tasawuf. Yang kedua, beberapa perlawanan terhadap kolonialisme dipimpin oleh kaum sufi. Poin selanjutnya bahwa para sufi mutakhir memiliki peran yang luar biasa yang mampu metransformasikan realitas sosial menjadi kekuatan untuk umat.

Dalam paper bagian akhir, Gustafied menyimpulan, mistisisme sufi tidak terlibat dengan radikalisme. Konsentrasi sufisme membimbing manusia mendapat pencerahan batin dengan meditasi. Tujuannya adalah kejernihan spiritualitas, dan oleh karena dunia batin itu tak terkatakan mengingat keterbatasan bahasa verbal, sufi menggunakan bahasa simbol: Jalaluddin Al-Rumi menyebut Allah Swt dengan al-Haq. Selain keterbatasan bahasa, unsur selalu menjaga diri (agar selalu bersih hati) membuat ia tidak berani menyimpulkan secara langsung. Menyebut Allah Swt al-Haq merupakan bagian dari sikap kehati-hatian.

Mistisisme menyediakan penangguhan makna yang mampu membebaskan pelakunya dari unsur pemikat yang di luar fokus meditasinya. Proses moral itu mengandaikan dalam setiap jengkal sufi perlu menjaga hatinya tetap bersih: menghindari kemungkinan apapun yang dapat menghalangi ataupun pencerahan spiritualnya. Dari sini terlihat relevansi bahwa sufisme dapat memberikan counter terhadap gerakan radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Kesadaran palsu dan atau kepura-puraan karena radikalisme yang mengatasnamakan agama tidak lahir dari pencerahan agama. Kekerasan itu bukan dari saripati agama, tetapi yang sungguh ironi ekstremis begitu mudah mereduksi aksinya didorong niatan suci (agama). Radikalisme jauh dari mistisisme dan bukan dari refleksi keagamaan yang mendalam. Kaum radikalis ekstrem seperti ISIS memiliki target sasaran, sedang agama digunakan sebagai daya gedornya.

Setelah empat pemakalah selesai menyampaikan materinya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Terlihat antusias yang besar dari para peserta menanyakan sejumah fakta-fakta di lapangan yang berkaitan dengan tema konferensi.

Bagian akhir acara, moderator Ammar Fauzi, Ph.D membacakan sejumlah poin kesimpulan konferensi; pertama, cinta pada kesempurnaan absolut dan keindahan tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, cinta makhluk Tuhan yang menonjolkan keadilan dalam kemanusiaan sebagai adab dan hukum dalam mencintai Tuhan. Ketiga, cinta cenderung kepada persatuan dan penyatuan diri bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan manusia, dengan alam, dengan lingkungan, dengan tumpah darah dan tanah airnya sendiri. Keempat, cinta terlibat aktif di tengah masyarakat berdasarkan nilai-nilai kebenaran Ilahi dan kemaslahatan insani. Dan kelima, dengan kecintaan pada nilai keadilan, peran penyempurna sosial terlaksana secara bahkan lebih merata daripada nilai kedermawanan.

Lima poin ini adalah tidak lain dari butir-butir Pancasila. Tasawuf dapat dipastikan sebagai satu komponen penguat nilai-nilai asas kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Pengamalan butir-butir Pancasila berbanding langsung dengan membina diri dalam arus tasawuf. Demikian sebaliknya, pengalaman dalam bertasawuf akan berdampak positif pada pengalaman Pancasila. Tidak hanya kalangan sufi, semua orang pasti mencintai nilai ketuhanan, keadilan, keberadaban, persatuan, kebenaran, kebijaksanaan dan kemaslahatan.

Acara di tutup oleh Prof. Dr. H. Amsal Bakhtiar, MA (Director of Islamic Higher Education). Menekankan akan pentingnya acara konferensi sufi ini. Dr. Amstal mendukung penuh acara ini dan perlunya pembinaan dari kalangan akademisi, karena relevan dengan kondisis aktual. Tasawuf bisa membentuk karakter jujur, terbuka, saling menghargai, karenanya Konferensi Internasional Tasawuf ini seharusnya bisa dilaksanakan setiap tahun.(ma’ruf)

 

 

Share your thoughts